PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 39


__ADS_3

...***...


Patih Rangga Dewa terbangun, karena ia merasa haus. Namun saat itu ia melihat Suci Putri sedang melaksanakan sholat subuh. Patih Rangga Dewa masih merasa asing dengan apa yang dilakukan oleh Suci Putih, wanita yang telah menyelamatkannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Sepertinya Suci Putih selesai melaksanakan sholat subuh, ia berdoa. Setelah itu ia mengaji, membacakan Al-Qur'an.


"Sungguh, suara yang sangat merdu sekali. Tapi aku tidak mengerti sama sekali apa yang sedang ia bacakan saat ini. Mungkin nanti aku akan bertanya ia membacakan apa. Apakah aku bisa belajar darinya?." Dalam hatinya bertanya-tanya karena merasa penasaran dengan apa yang ia dengarkan.


...***...


Sementara itu, Lasmi memutuskan untuk kembali ke istana. Ia akan melaporkan pada Rumi, bahwa ia tidak menemukan keberadaan Pangeran Arya Fusena, dan juga putri Rara Wulan.


"Maafkan aku rumi. Mungkin saat ini gusti pangeran, juga gusti ayu sudah berada di tempat yang aman. Aku harus kembali." Ucapnya dengan pelan. Sudah sampai pagi ia mencari keberadaan Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan, namun ia belum juga menemukan keberadaan mereka. Kepalanya juga terasa sakit, karena belum bisa tidur, jika belum bertemu dengan kedua anak Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Maafkan aku sekali lagi rumi." Ia merasa takut, jika ia akan dimarahi oleh Rumi, atau bahkan dimarahi oleh Patih Rangga Dewa. "Mungkin aku akan meminta bantuan mereka untuk mencari gusti pangeran, juga gusti ayu. Ya, semoga saja mereka mau membantuku." Dengan langkah yang sedikit berat, ia mencoba kembali ke istana kerajaan Trisakti Triguna.


...***...


Sementara itu, di istana Kerajaan Trisakti Triguna. Rahaja Dwipa, Retma Aji, Paman Telaga dan Paman Raga menemui Prabu Maharaja Sura Fusena yang masih berada di dalam penjara.


"Dengarkan aku sura dewa. Saat ini istanamu telah menjadi milikku. Dan kau akan terkurung selamanya di sini."


"Cepat atau lambat, adikku rangga dewa akan ke sini. Persiapkan diri kalian untuk menghadapinya!."


"Ya, kau benar. Kami memang telah melakukan persiapan untuk menyambut kedatangannya."


"Kau dan dia harus mati. Terutama adikmu yang kurang ajar itu telah membunuh istriku. Aku akan membunuhnya terlebih dahulu, setelah itu, baru aku membunuhmu sura dewa. Sama seperti ketika aku membunuh ayahandamu."


"Kau memang laknat retma aji. Kau akan dikutuk dewata agung, karena telah berbuat keji pada keluarga sura dewa." Hatinya terasa sangat sakit, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Retma Aji.


Sedangkan Retma Aji malah tertawa puas melihat bagaimana kemarahan yang ditunjukkan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena saat ini.


"Mari kita lakukan penyambutan. Pasti akan sangat menarik nantinya paman guru."


"Tentu saja. Dan kalian berdua, lakukan sesuai dengan rencana."


"Baik kakang." Keduanya menjawab dengan semangat, dan kompak. Mereka mulai bersemangat karena mereka telah merencanakan hal yang paling mengejutkan setelah ini.


...***...

__ADS_1


Sesuai dengan janji, Suci Putih akan menemani Patih Rangga Dewa untuk kembali ke istana Kerajaan Trisakti Triguna. Namun saat itu, keduanya merasakan ada orang yang mendekati mereka.


"Rangga dewa, sepertinya ada seseorang yang sedang mendekat ke arah sini."


"Kau benar. Kita lihat saja, siapa yang datang."


Orang tersebut menggunakan jurus meringankan tubuh, sehingga langkahnya tidak bisa didengar. "Gusti patih." Dari kejauhan ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan Gusti Patih?. Buru-buru ia mendekati wanita itu, yang tak lain adalah suri.


"Ssh, jangan panggil aku gusti Patih. Lihat siapa yang ada bersamaku."


"Ma-maaf gusti-."


"Sssh."


Suri langsung menutup mulutnya. Ia mengetahui jika Patih Rangga Dewa saat ini sedang menyamar. Namun yang tidak ia sangka adalah, ia malah bersama seorang wanita cantik. Ingin rasanya Suri mengutuk Patih Rangga Dewa, karena ia telah mencarinya namun malah bersama seorang wanita?.


"Ada apa rangga dewa?. Apakah kau mengenali wanita ini?."


"Ah iya." Mendadak Patih Rangga Dewa merasa gugup. Sedangkan Suri merasa heran dengan sikap Patih Rangga Dewa. Dan telinganya menangkap hal yang aneh.


"Dia hanya menyebut rangga dewa tanpa hormat sedikitpun?." Rasanya Suri tidak percaya sama sekali dengan apa yang ia dengar.


"Maaf tuan. Saat kami melihat istana. Saat itu istana terlihat kosong, kami tidak melihat siapapun, termasuk gusti prabu."


"Apa?. Kita harus segera ke istana. Aku takut terjadi sesuatu dengan gusti prabu."


"Mari tuan."


Mereka segera menuju istana kerajaan Trisakti Triguna. Karena Patih Rangga Dewa sangat mengkhawatirkan keadaan kakaknya. "Semoga saja kanda prabu baik-baik saja." Dalam hati Patih Rangga Dewa sangat berharap keselamatan Prabu Maharaja Sura Fusena.


...***...


Di tempat Durya Pati. Saat ia menuju halaman rumahnya, ia melihat ketiga cucunya itu sedang latihan bersama. Ia sangat senang melihat mereka bersama. Padahal sebelumnya, ia mengetahui, jika Pangeran Birawa Fusena sangat membenci adiknya itu.


"Wah, semangat sekali."


"Kakek?. Selamat pagi."


"Selamat pagi kakek."

__ADS_1


"Selamat pagi kakek."


Ketiganya menyapa Durya Pati dengan raut wajah yang penuh senyuman bahagia, membuat Durya Pati merindukan anak-anaknya yang saat ini sedang berada di luar karena melakukan pengembaraan.


"Selamat pagi juga cucu-cucu kakek yang luar biasa hebatnya." Ia merasa terharu dengan sikap ramah mereka bertiga.


"Hehehe kenapa kakek malah sedih seperti itu?."


"Jangan sedih saat pagi kakek."


"Oh iya kek. Tolong ajari kami jurus-jurus yang kakek miliki. Turunkan pada cucu kakek yang baik hati ini."


"Walah. Ucapan nanda arya membuat kakek merasa muda lagi."


Ketiganya malah tertawa cekikikan mendengarkan ucapan Durya Pati.


"Baiklah. Persiapkan diri kalian, mungkin kakek bisa mengajari kalian satu atau dua jurus."


"Baik kakek." Ketiganya mulai bersemangat, langsung berbaris dengan rapi. Karena Durya Pati akan mengajari mereka ilmu kanuragan.


...***...


... ...


Ketika Patih Rangga Dewa, Suci Putih, dan juga Suri hendak memasuki kota raja. Mereka bertiga dikejutkan Rati yang menangis sedih. Ia bersujud dihadapan Patih Rangga Dewa.


"Ampuni hamba gusti. Hamba telah melakukan sebisa mungkin."


"Rati?. Apa yang terjadi padamu?." Suri langsung mendekati Rati yang sedang menangis dengan sejadinya. "Bukankah kau ditugaskan rumi untuk membawa pasukan untuk menuju istana?. Kenapa kau malah menangis di sini bodoh!." Suri berbisik pada Rati.


"Ada apa rati?. Apa yang terjadi?. Katakan padaku?. Apakah ada hal yang bahaya tentang kanda prabu?." Bisik Patih Rangga Dewa.


Sedangkan Suci Putih melihat heran ke arah mereka bertiga yang terlihat mencurigakan.


"Hamba ditugaskan rumi untuk membawa penggawa istana seperti para senopati, dharmapati, ataupun penggawa istana lainnya untuk menyelamatkan istana, juga gusti prabu. Akan tetapi mereka semua menolaknya gusti. Hati hamba terasa sakit atas penolakan yang mereka lakukan."


Bahkan Patih Rangga Dewa merasa geram mendengarnya. Hatinya terasa panas mendengarkan cerita dari Rati. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2