PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN

PATIH RANGGA DEWA & PANGERAN KESAYANGAN
CHAPTER 54


__ADS_3

...***...


Malam itu, Duri Kosambi baru saja sampai di lereng Bukit Naga. Kesayangannya disambut baik oleh Patih Rangga Dewa. Selain itu ia menyampaikan pesan penting dari Prabu Maharaja Sura Fusena. Saat ini mereka berada di depan pondok itu sambil duduk di kursi yang tersedia di sana. Mereka menikmati dinginnya malam yang menyapa kulit mereka. Mencoba untuk bersantai sejenak sebelum mereka kembali pada tugas mereka masing-masing.


"Kau kembali lagi duri kosambi." Ucap Patih Rangga Dewa melirik ke arah Duri Kosambi yang duduk di sampingnya. "Apa yang membuatmu kembali, setelah kau pergi?. Apakah ada kabar penting yang ingin kau sampaikan padaku?." Patih Rangga Dewa merasa penasaran dengan kedatangan Duri Kosambi.


"Mohon ampun gusti Patih. Hamba datang ke sini karena perintah dari gusti prabu." Jawabnya. "Gusti prabu sangat mengkhawatirkan gusti Patih. Karena itulah hamba serta suri datang ke sini." Lanjutnya lagi.


"Perintah dari kanda prabu?. Tapi kenapa?." Keningnya sedikit mengkerut aneh seperti itu. "Tidak biasanya kanda prabu menyuruh kau menemui aku."


"Gusti prabu menyuruh gusti Patih untuk kembali ke istana. Gusti prabu melarang gusti patih untuk bertarung dengan pangeran brama adijaya." Jawab Duri Kosambi sambil mengeluarkan gulungan yang mungkin berisi surat alias pesan dari prabu Maharaja Sura Fusena.


"Jadi kanda prabu telah mengetahui jika kau bertarung dengan brama adijaya?. Apakah kau yang mengatakannya?." Patih Rangga Dewa menatap tidak suka ke arah Duri Kosambi.


"Maafkan hamba gusti patih. Hamba hanya tidak mau gusti patih mengalami kesulitan karena pangeran bodoh itu." Duri Kosambi memalingkan wajahnya, karena ia sangat takut dengan tatapan Patih Rangga Dewa.


"Ya sudah." Patih Rangga Dewa membuka gulungan surat itu dengan kesalnya. "Yang terhormat dinda patih. Aku harap dinda patih baik-baik saja. Aku sangat cemas ketika duri kosambi mengatakan jika dinda patih bertarung dengan pangeran brama adijaya. Aku sangat takut, jika dinda patih kembali lepas kendali seperti dulu. Aku harap dinda segera kembali ke istana. Sebaiknya dinda jangan berniat untuk meladani pangeran brama adijaya. Aku telah mengirimkan surat pada prabu dewata sangara. Ia mengatakan untuk menyerahkan hukuman padaku karena adiknya telah melanggar janji itu. Karena ada yang lebih penting dari pada menanggapi pangeran brama adijaya, lebih baik dinda patih segera kembali. Karena kita harus menuntut penggawa istana yang menolak membantu kita saat terjadinya penaklukan istana meskipun sangat singkat. Jika dinda patih tidak kembali besok pagi. Jangan salahkan aku ketika pulang nanti, aku telah menyiapkan hukuman gantung untukmu. Jangan langgar apa yang telah aku perintahkan padamu." Itulah bunyi surat yang dituliskan Prabu Maharaja Sura Fusena untuk adiknya yang susah untuk diajak berbicara dengan baik-baik.


Brakh!.


Patih Rangga Dewa membanting surat itu dengan kerasnya. Saat ini ada kemarahan yang memuncak di dalam dirinya. Membuat Duri Kosambi terkejut dan hampir saja melompat dari tempat duduknya saking terkejutnya apa yang dilakukan oleh Patih Rangga Dewa.


"Ada apa gusti Patih?." Dengan pelan Duri Kosambi bertanya. "Kenapa malah marah-marah setelah membaca surat dari kakaknya sendiri?." Dalam hati Duri Kosambi merasa heran.


"Kurang ajar!. Kenapa malah main ancam segala. Awas saja kau sura fusena. Saat tiba di istana nanti akan aku buat kau tidak bisa lagi mengancam aku!." Patih Rangga Dewa terlihat sangat marah, tidak terima dan merungut kesal.


"Mengerikan. Tidak kakak, tidak adik sama-sama orang-orang yang mengerikan jika marah." Dalam hati Duri Kosambi merinding melihat raut wajah Patih Rangga Dewa yang sedang dikuasai oleh kemarahannya sendiri. "Sudah lah gusti Patih. Tidak ada gunanya melawan. Itu karena gusti prabu sangat mencemaskan keadaan gusti patih. Sebagai seorang kakak, mungkin gusti prabu tidak ingin terjadi sesuatu pada gusti patih." Duri Kosambi mencoba memberikan pengertian pada Patih Rangga Dewa. "Kerajaan saat ini sangat membutuhkan gusti patih. Mari kita hukum orang-orang yang tidak mau membantu kita disaat istana sedang dikuasai oleh orang-orang jahat." Duri Kosambi sedikit memberi pancingan pada Patih Rangga Dewa. "Hamba yakin tangan gusti Patih sudah gatal ingin menghajar mereka semua." Duri Kosambi tersenyum kecil, ia berusaha meyakinkan Patih Rangga Dewa.


Patih Rangga Dewa menghela nafasnya dengan pelan. "Baiklah, jika memang itu yang diinginkan kanda prabu. Maka aku akan kembali." Patih Rangga Dewa terpaksa mengiyakan ajakan Duri Kosambi. Ia juga tidak mau melawan Prabu Maharaja Sura Fusena.


"Terima kasih atas pengertiannya gusti Patih." Duri Kosambi sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan Patih Rangga Dewa. "Setidaknya aku selamat dari amukan gusti prabu. Jika aku gagal membawa adiknya kembali." Dalam hati Duri Kosambi merasa bersyukur karena terselamatkan.


Sedangkan di dalam pondok.


Nyai Lara Janti juga mendapatkan surat dari Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia membacanya dalam diam, karena sudah lama ia tidak mendapatkan kabar dari cucunya yang kini menjadi raja. Surat yang dituliskan Prabu Maharaja Sura Fusena untuknya.


"Salam sejahtera untuk nenek tercinta. Setelah sekian lama tidak terdengar kabar, semoga saja nenek selalu diberikan kesehatan oleh dewata agung. Saya mendengar kabar dari duri kosambi. Orang yang telah mengantar dinda patih ke tempat nenek. Saya sangat khawatir dengan keadaan dinda patih. Namun, melalui surat ini saya sangat berharap, nenek mau diajak ke istana bersama dinda patih. Mari kita berkumpul seperti dulu lagi. Saya sangat merindukan nenek. Ada banyak hal yang ingin saya bagi dengan nenek. Saya harap nenek mau iku dengan dinda patih nantinya. Salam cinta saya untuk nenek."


Itulah bunyi dari surat yang dituliskan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena untuk Nyai Lara Janti. "Jadi dia masih ingat denganku?." Dalam hati Nyai Lara Janti tidak percaya jika Prabu Maharaja Sura Fusena masih ingat dengannya?. Ia hanya tersenyum kecil, setelah itu ia simpan surat itu. Ia bekum menanggapinya sama sekali. Karena ia masih betah berada di sini. Karena itulah ia belum bisa mengambil keputusan.


...***...


Paginya.

__ADS_1


Patih Rangga Dewa, Duri Kosambi, dan Suri pamit pada Nyai Lara Janti. Ia tidak mengatakan jika ia ikut dengan mereka. Ia tidak mengatakan pada Patih Rangga Dewa bahwa Prabu Maharaja Sura Fusena memintanya untuk datang bersama mereka ke istana. Nyai Lara Janti tidak mengatakan jika ia mendapatkan surat dari Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia hanya ingin belum kembali. Ia tidak mau menambah beban pada cucunya untuk sementara waktu ini. Lebih tepatnya tidak mau membebani Patih Rangga Dewa. Cucu kesayangannya.


"Maaf nenek. Setelah masalah istana selesai. Aku akan kembali ke sini. Aku ingin mengajak nenek kembali ke istana." Patih Rangga Dewa tersenyum lembut.


"Tidak usah. Aku lebih betah berada di tempat ini. Bagiku tempat ini adalah rumah yang paling aku cintai. Dan kau juga pernah aku besarkan di tempat ini." Nyai Lara Janti mencoba untuk menguatkan hatinya agar tidak memperlihatkan kesedihan yang ia rasakan.


"Mungkin bagi nenek ini adalah tempat yang nyaman saat ini. Sehingga nenek tidak mau kembali ke istana. Di tempat ini juga, nenek menggembleng aku dengan berbagai ilmu kanuragan. Serta mengajari aku banyak hal." Patih Rangga Dewa sangat hafal dengan sifat neneknya itu, sehingga ia tidak mau memaksa neneknya untuk segera kembali ke istana. "Tapi bagaimana pun juga, istana kerajaan trisakti triguna adalah rumah nenek juga. Rumah yang telah membesarkan nenek menjadi pendekar yang hebat." Senyuman Patih Rangga Dewa terlihat sangat tulus. "Nenek adalah seorang wanita hebat, yang telah melahirkan raja hebat. Raja hebat yang bernama sura dewa. Dan sekarang ia memiliki dua anak yang juga dibawah asuhan nenek. Apakah nenek tidak rindu rumah nenek sendiri?." Lanjut Patih Rangga Dewa. "Aku selalu ingin nenek kembali dan berkumpul bersama kita semua. Pasti sangat membahagiakan sekali jika nenek ada diantara kami semua."


Nyai Lara Janti mengusap pelan air matanya yang mengalir begitu saja. Hatinya sangat iba mendengarkan apa yang dikatakan Patih Rangga Dewa. "Jemput aku, jika kau telah menyelesaikan masalah di sana." Nyai Lara Janti berusaha menahan tangisnya. "Aku terlalu tua untuk berjalan jauh menuju istana. Jadi kau yang harus menjemput aku nantinya."


Patih Rangga Dewa memeluk sayang Nyai Lara Janti. "Tentu saja nek. Aku janji akan menjemput nenek setelah aku menghajar mereka semua." Ia juga masih ingin bersama nyai Lara Janti. Akan tetapi banyak hal yang harus ia lakukan di istana.


"Siapa sangka gusti Patih memiliki sifat lembut juga. Rasanya aku hampir saja mau menangis mendengarkan apa yang ia ucapkan. Oh gusti Patih. Kau sangat baik sekali." Dalam hati Suri merasa terharu mendengarkan apa yang dikatakan Patih Rangga Dewa.


"Pintar juga gusti Patih membujuk nyai lara janti agar kembali ke istana. Sungguh liar biasa sekali." Dalam hati Duri Kosambi juga mengagumi apa yang dilakukan oleh Patih Rangga Dewa.


Patih Rangga Dewa melepaskan pelukannya, ia menatap neneknya dengan senyuman lembut. "Kalau begitu aku pamit dulu nek. Jaga keselamatan serta kesehatan nenek selama di sini."


"Berhati-hatilah di jalan. Sampaikan salam maaf ku pada kakakmu, aku akan datang jika kau yang menjemput ku." Nyai Lara Janti sedikit cemberut. Entah mengapa ada leebe begitu sikapnya pada kedua cucunya itu. Padahal mereka sama-sama dari ayah yang sama, ibu yang sama. Anak dari Prabu Maharaja Sura Dewa, anak kandungnya bersama Prabu Maharaja Sura Jayarasa.


"Baiklah kalau begitu. Akan aku sampaikan pada kanda prabu." Patih Rangga Dewa terkekeh kecil. Ia mengerti apa yang dikatakan oleh neneknya itu. Mungkin neneknya juga mendapatkan surat dari kakaknya, namun rasanya enggan untuk kembali ke istana. Karena kakaknya mungkin tidak meyakinkan untuk membawa neneknya ini untuk kembali ke istana. "Kalau begitu kami pamit dulu. Sampurasun." Patih Rangga Dewa memberi hormat.


"Kami pamit dulu gusti. Sampurasun." Duri Kosambi dan Suri memberi hormat pada Nyai Lara Janti.


"Rampes." Balas Nyai Lara Janti.


"Padahal aku masih ingin lama ia berada di sini." Ia menghela nafasnya dengan pelan. "Tapi sepertinya sura Fusena masih membutuhkan bantuannya. Aku yakin ia tidak akan bisa menggerakkan tahta kerajaan trisakti triguna tanpa bantuan dari rangga dewa." Dalam hatinya merasakan kegelisahan. Ia yakin begitu berat masalah yang dihadapi mereka saat ini. Karena itulah ia tidak mau mengganggu mereka saat ini.


...****...


Pangeran Brama Adijaya dan Sareh Wiyono, nama laki-laki tua itu. Mereka kembali ke tempat dimana mereka membuat janji dengan Patih Rangga Dewa. Namun orang yang mereka tunggu tidak datang?.


"Bedebah!. Memang kurang ajar si rangga dewa itu. Berani sekali dia menipuku!." Pangeran Brama Adijaya sangat marah. Ia tidak terima jika dirinya dipermainkan seperti itu.


"Ternyata dia orang yang suka ingkar janji." Sareh Wiyono mendengus kecil. "Ternyata dia pengecut, dan tidak jantan sekali. Aku tidak menyangka dia malah takut setelah berhadapan denganmu." Matanya tidak melihat kehadiran siapapun di tempat ini. sehingga ia mengambil kesimpulan seperti itu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan guru?. Apakah kita hanya diam saja menunggu si bedebah itu datang?." Pangeran Brama Adijaya bertanya pada gurunya.


"Kita harus mencari keberadaan rangga dewa sampai dapat. Dendam ku masih membara padanya." Sareh Wiyono mengepal kuat tangannya. Ada perasaan berkecamuk di dalam dirinya saat ini.


"Kalau begitu kita pergi ke istana kerajaan trisakti triguna. Aku yakin dia ada ada di sana."


"Mari."

__ADS_1


Mereka bergegas menuju Istana Kerajaan Trisakti Triguna. Apakah mereka akan bertemu dan bertarung dengan Patih Rangga Dewa?. Temukan jawabannya.


...***...


Istana Kerajaan Trisakti Triguna.


Prabu Maharaja Sura Fusena masih khawatir, dari tadi ia menunggu kedatangan adiknya. "Semoga saja dinda patih datang bersama nenek lara janti. Aku harap nenek mau datang ke istana ini." Sang Prabu hanya berharap mendapatkan kabar baik.


"Kanda prabu." Ratu Dewi Saraswati mendekati suaminya yang tidak biasanya pergi duluan ke pendopo depan istana. "Apa yang membuat kanda prabu begitu cemas?." Dengan suara lembut Ratu Dewi Saraswati bertanya pada suaminya.


Prabu Maharaja Sura Fusena duduk di samping istrinya. "Kanda sedang menunggu kepulangan dinda Patih yang ternyata berada di lereng bukit naga." Jawabnya dengan perasaan cemas.


"Lereng bukit naga?." Ratu Dewi Saraswati sedikit terkejut. "Bagaimana mungkin dinda patih sampai ke sana kanda prabu?."


"Beberapa hari yang lalu, ia bertarung dengan pangeran brama adijaya. Dinda patih terluka, dan dibawa ke sana oleh duri kosambi." Jawabnya.


"Pangeran brama adijaya adiknya prabu dewata sangara?. Jika dinda tidak salah." Ratu Dewi Saraswati mencoba untuk mengingat siapa Pangeran Brama Adijaya.


"Dinda benar. Tidak salah lagi." Prabu Maharaja Sura Fusena membenarkan ucapan istrinya. "Dia telah melanggar janji yang telah dibuat bersama. Jika terjadi sesuatu pada dinda patih. Aku tidak akan mengampuni pangeran brama adijaya. Aku akan membunuhnya. Jika dia berani membangkitkan lagi kekuatan naga biru liar yang ada di dalam tubuh dinda Patih." Geram, ia sangat geram mendengarkan kabar itu. "Duri kosambi mengatakan jika dinda Patih terluka karena menekan kekuatannya dengan menggunakan pedang roh suci." Perasaannya semakin gelisah, karena ia belum juga melihat kedatangan adiknya.


"Kenapa kanda prabu tidak menyusulnya ke sana. Memastikan keadaan dinda Patih." Ratu Dewi Saraswati menyarankan pada suaminya.


"Duri kosambi, juga suri yang menjemputnya ke sana."


"Semoga saja mereka cepat kembali kanda. Kalau begitu bersabarlah menunggu kanda prabu." Ratu Dewi Saraswati menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Ia berusaha untuk menenangkan suaminya agar tidak terlalu khawatir.


...***...


Patih Rangga Dewa, Duri Kosambi, dan Suri hampir saja memasuki kota Raja. Namun saat itu mereka mendapatkan serangan tenaga dalam. Membuat ketiganya melompat menjauh dari serangan itu. Patih Rangga Dewa melihat dengan jelas, siapa yang telah menyerangnya dengan cara tidak jantan seperti itu.


"Mau kemana kau rangga dewa." Tatapan matanya begitu tajam, dan seakan ingin menelan Patih Rangga Dewa.


"Gusti Patih." Duri Kosambi dan Suri melompat mendekati Patih Rangga Dewa. Mereka bersiaga untuk melindungi Patih Rangga Dewa.


"Heh!. Sangat memalukan sekali. Sampai harus dikawal oleh Pendekar kelas teri seperti mereka." Sareh Wiyono menatap rendah ke arah mereka.


TAP!


Patih Rangga Dewa menepuk pundak Duri Kosambi dan Suri dengan kuat. Menahan mereka berdua agar tidak menyerang Sareh Wiyono. "Tahan emosi kalian. Tidak usah meladani perkataan pak tua yang bau tanah itu." Patih Rangga Dewa menyeringai lebar.


"Kurang ajar kau rangga dewa!. Berani sekali kau menghina aku!." Sareh Wiyono sangat marah, hingga menunjuk ke arah Patih Rangga Dewa.


"Orang yang suka ingkar janji, tidak pantas menghina guruku." Pangeran Brama Fusena mendengus kesal.

__ADS_1


Akan tetapi bagaimana dengan tanggapan dari Patih Rangga Dewa?. Ia justru malah tertawa terbahak-bahak. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka akan bertarung lagi?. Apakah akan ada darah yang tumpah lagi?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2