
...***...
Patih Rangga Dewa dan Suci Putih baru saja sampai di desa Pande Warna. Namun sepertinya Patih Rangga Dewa agak ragu untuk masuk ke dalam, karena ia agak ragu. Apakah ia akan diterima dengan baik di sana atau tidak.
"Ada ada rangga dewa?. Apakah kau tidak mau masuk?." Suci Putih sedikit bingung.
"Maaf suci putih. Sepertinya sampai di sini saja. Rasanya aku tidak enak hati dengan mereka semua." Patih Rangga Dewa memperhatikan mereka semua yang saat ini berada di halaman padepokan. "Pakaian ku juga tidak cocok untuk masuk ke sana." Ucapnya lagi sambil memperhatikan pakaiannya.
"Apakah sebaiknya singgah sebentar saja?." Suci Putih tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa. Terima kasih." Balas Patih Rangga Dewa. "Aku tidak mau mereka berburuk sangka, saat mengetahui kau datang bersama seorang laki-laki. Apa yang akan mereka katakan padamu nantinya."
"Baiklah kalau begitu. Apakah kau akan kembali ke istana?."
"Ya. Akan kembali lagi ke istana. Setidaknya aku hanya ingin memastikan kau memang tinggal di sini."
"Berhati-hatilah saat kembali. Dan jangan sampai diserang musuh lagi." Suci Putih tertawa kecil. Begitu juga enak Suci putih.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Sampurasun."
"Rampes."
Patih Rangga Dewa meninggalkan tempat. Karena ia hanya tidak ingin Suci putih mendapatkan pandangan yang buruk. Hanya itu saja yang membuatnya ragu masuk ke padepokan itu.
"Kau adalah orang yang baik rangga dewa. Semoga saja kita bisa bertemu suatu hari nanti." Dalam hati Suci putih merasakan liar biasa berbeda dari yang sebelumnya. Apakah itu tadi cinta?. Bisa jadi seperti itu. Jangan sampai ketinggalan lanjutannya.
...***...
Di Istana Kerajaan Trisakti Triguna. Prabu Maharaja Sura baru saja menyambut kedatangan istri-istrinya. Ia sangat bahagia karena mereka semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
"Terima kasih aku ucapkan pada kalian yang telah membawa istriku kembali dengan selamat. Aku akan memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih ku pada kalian yang telah berjasa membantuku." Itu adalah ungkapan kebahagiaan yang ia rasakan pada hari itu.
"Kami melakukannya dengan senang hati gusti prabu."
"Benar gusti prabu. Kami melakukannya sebagai abdi yang baik. Semoga apa yang kami lakukan sangat membantu gusti prabu beserta keluarga."
"Tentunya sudah menjadi kewajiban kami sebagai abdi melakukan tugas untuk melindungi keluarga raja."
Mereka semua begitu tulus melakukannya. Sehingga sang prabu dapat merasakan kebaikan yang luar biasa itu dari mereka.
"Aku sangat beruntung memiliki orang-orang seperti kalian. Semoga kerajaan ini selalu diberikan keberkahan serta kebaikan oleh dewata yang agung." Rasanya ia tidak dapat menyembunyikan rasa harunya mendengarkan apa yang mereka katakan.
Namun saat itu, ketiga anaknya pun datang bersama dua orang kepercayaannya untuk menjemput mereka.
"Salam hormat kami ayahanda prabu." Ketiga anaknya memberi hormat padanya.
"Syukurlah kalian telah kembali dengan selamat. Aku sangat bersyukur atas kembalinya kalian ke istana ini dengan selamat." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat bahagia. Senyuman itu adalah senyuman penuh kebahagiaan. "Semoga sang hyang Widhi selalu memberi perlindungan pada kita semua." Ia menatap semua keluarga besarnya yang telah berkumpul, kecuali adiknya dan anak-anak dari selirnya.
...***...
Patih Rangga Dewa saat ini sedang dalam perjalanan menuju Istana Trisakti Triguna. Akan tetapi perjalanannya dihadang oleh seseorang. Seseorang yang terlihat sangat dendam padanya.
"Kiranya siapa yang datang menemuiku." Patih Rangga Dewa masih ingat dengan orang itu. Dulunya sempat bertarung mati-matian dengannya.
"Bagus!. Kalau kau masih ingat dengan aku!. Jadi aku tidak perlu susah-susah payah lagi mengingatkan kau!." Suara itu terdengar sangat marah.
"Heh!. Kau tidak mengeraskan suara mu jelekmu itu sangat menggangu pendengaran ku." Patih Rangga Dewa menatap tajam musuhnya. "Selain itu, aku belum tuli, sehingga kau berbicara dengan nada tinggi." Lanjutnya.
"Heh!. Tidak usah kau banyak bicara Rangga dewa!." Laki-laki itu semakin kesal. "Aku menemuimu bukan untuk untuk mengajakmu bicara!. Tapi aku menemui mu untuk membunuh mu bedebah!." Emosinya semakin memuncak.
__ADS_1
Akan tetapi, Patih Rangga Dewa justru malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapan itu. "Sudah lama tidak bertemu. Aku pikir kau sudah lama membusuk dimakan cacing brama adijaya. Ternyata kau menemuiku hanya untuk mengatakan hal yang tidak berguna padaku." Tawanya itu sangat merendahkan pangeran Brama Adijaya.
"Bangsat!. Mulutmu itu masih saja kurang ajar rangga dewa!. Hari ini akan aku bunuh kau!. Hyah!." Pangeran Brama Adijaya tidak tahan lagi dengan ucapan Patih Rangga Dewa yang sangat menyakitkan hatinya. Sehingga ia langsung menyerang Patih Rangga Dewa dengan ganasnya.
Pertarungan antara dua orang putra Raja sudah tidak bisa dihindari lagi. Antara mempertahankan harga diri, serta tahta yang mereka miliki.
...***...
Sementara itu, di sebuah tempat. Ada seseorang yang sedang melakukan senedi. Seorang pemuda yang sedang memasuki alam sukma. Di di dalam alam sukma itu ia sedang berlatih bersama seorang kakek tua. Pemuda itu terus menirukan gerakan-gerakan yang dilakukan kakek tua itu.
"Lanjut kan latihan mu. Jangan dengarkan suara apapun di luar sana. Abaikan saja apa yang terdengar oleh telinga mu." Kakek tua itu menghentikan gerakannya, dan membiarkan pemuda itu melanjutkan gerakan dari jurus rajawali berburu di hutan. Jurus yang katanya sangat luar biasa hebatnya.
"Anak muda ini memiliki tekad yang kuat juga." Dalam hati kakek tua itu merasa kagum dengan anak muda itu. "Hampir satu purnama ini dia melakukan semedi. Hingga akhirnya ia bertemu dengan aku." Ia tersenyum kecil menatap anak muda itu melakukan gerakan dari jurus yang ia ciptakan.
"Lakukan terus sampai kau benar-benar mahir. Jangan buka matamu sebelum aku menyuruh kau bangun. Bersabarlah untuk beberapa hari lagi. Maka kau kau akan mendapatkan kesempatan jurus yang pelajari sekarang." Ucapnya sambil terus memberikan arahan pada pemuda itu.
"Aku harus lebih menjadi kuat lagi. Rangga dewa!. Tunggu saja pembalasan dariku. Aku akan datang padamu dan membunuhmu." Itulah tekad dari pemuda itu saat ini. Tekadnya dalam mempelajari ilmu kanuragan itu adalah untuk membunuh Patih Rangga Dewa?. Dendam apa yang ia miliki?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke pertarungan Patih Rangga Dewa dan Pangeran Brama Adijaya. Mereka mengadu kesaktian yang mereka miliki. Keduanya masih sama-sama dalam keadaan baik-baik saja. Karena saat ini kekuatan mereka masih seimbang. Keduanya saling menyerang satu sama lain. Hasrat ingin menjatuhkan lawannya sangat besar, sehingga pertarungan itu terlihat sangat bertenaga dan penuh tekanan. Namun setelah itu mereka saling menjauh, karena tidak ada tanda-tanda dari mereka akan mengalah, atau merasa kalah dari musuhnya.
"Boleh juga kau rangga dewa." Ucapnya setelah ia mengatur tenaga dalamnya. Namun setelah itu ia memasang siaga untuk bertarung."Kau masih hebat seperti dulu rangga dewa." Ia mendengus kesal. Kepalan tangannya yang sedang menggenggam belati kecil saat ini pun masih bersih. "Aku belum bisa menyentuhmu, ataupun menguliti mu dengan baik."
"Kau tidak usah banyak memuji brama adijaya." Patih Rangga Dewa menyeringai lebar. "Pujian yang kau berikan padaku tidak akan membuatku mengalah padamu, atau pun meminta kau untuk mengasihani mu." Lanjutnya. Kali ini ia mengeluarkan pedang Roh suci. Pedang yang selalu ia bawa kemana saja saat melakukan pertarungan tingkat dua. Ia mengamati Pangeran Brama Adijaya yang juga menatap dirinya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya.
...***...
__ADS_1