
...***...
Saat ini keadaan Istana telah aman telah terjamin dengan baik. Mereka semua telah berangkat masing-masing yang telah diberikan Prabu Maharaja Sura Fusena. Suci Putih juga telah mengobati luka yang dialami oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. Dan Kini hanya Patih Rangga Dewa dan Suci putih yang saat ini masih bersama mereka.
"Lalu bagaimana dengan keempat penjahat yang telah membuat kejahatan di istana ini dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena merasa penasaran.
"Keempat penjahat itu sudah aku atasi dengan baik kanda prabu." Jawabnya. "Setelah pertarungan itu selesai, anak buah paman durya pati datang. Makanya aku meminta bantuan mereka untuk mengantar penjahat busuk seperti mereka menuju pulau buangan." Lanjutnya. "Namun sebelum mereka sampai di pulau buangan. Aku menyuruh mereka untuk menghilangkan kekuatan tenaga dalam mereka. Supaya mereka tidak bisa melarikan diri dari pulau buangan itu kanda prabu."
"Memang aku yang meminta bantuan dari paman durya pati. Surat itu aku titipkan pada nanda pangeran birawa. Karena kau tidak kunjung kembali ke istana ini." Prabu Maharaja Sura ingat sekarang. "Tapi aku tidak menyangka jika kau malah memberikan perintah seperti itu pada mereka."
"Maaf kanda prabu. Saat itu, mungkin aku sedang berhadapan dengan keempat kawan mereka yang lainnya." Balasnya. "Itulah alasan mengapa aku tidak bisa kembali." Ia mengingat kejadian itu. "Sebelumnya aku melakukan semedi, karena ada sebuah tempat yang sangat aneh. Karena tempat itu dilindungi oleh pagar gaib." Jelasnya.
"Pagar gaib?." Prabu Maharaja Sura Fusena merasa heran.
"Benar kanda prabu. Pagar gaib yang sangat kuat. Tapi setelah aku berhasil menghancurkan pagar gaib itu, dan menghancurkan makhluk gaib di sana. Aku sempat menerima serangan mereka." Patih Rangga Dewa terlihat geram mengingat apa yang ia alami waktu itu. "Mereka main keroyokan kanda prabu. Sehingga aku terpaksa menggunakan racun kalajengking merah dari goa selatan. Namun aku sempat meminum ramuan penawarnya." Patih Rangga Dewa menjelaskan keadaannya waktu itu. "Saat aku tidak sadarkan diri, suci putih mengatakan jika aku hampir saja dihabisi wanita siluman ular itu kanda prabu. Dan aku masih beruntung karena diselamatkan oleh suci putih." Patih Rangga Dewa memperkenalkan kembali wanita cantik yang saat ini sedang duduk bersamanya.
"Terima kasih karena nini telah menyelamatkan adik saya. Jika tidak ada nini, mungkin saya tidak akan bertemu dengan adik saya saat ini." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat berterima kasih untuk kebaikan Suci Putih.
"Sudah menjadi kewajiban sesama manusia untuk membantu mereka yang berada dipihak baik gusti prabu." Balas Suci putih.
"Kenapa nini bisa seyakin itu, jika adikku adalah orang yang baik?. Bagaimana jika setelah ditolong oleh nini, ia malah balik menyerang nini." Prabu Maharaja Sura Fusena ingin mengetes Suci putih.
"Kanda prabu. Jangan berkata seperti itu." Patih Rangga Dewa terlihat protes. Namun Prabu Maharaja Sura Fusena hanya tertawa melihat raut wajah adiknya itu.
__ADS_1
"Hanya yakin saja gusti prabu. Hanya Allah SWT yang mengetahui, dan maha pemilik hati yang menggerakkan tangan hamba untuk menolong gusti Patih saat itu." Suci Putih hanya tersenyum kecil. "Hamba hanya tidak suka dengan tindak pengecut, menyerang seseorang ketika sedang dalam keadaan terluka. Hanya itu saja gusti prabu." Lanjutnya.
Prabu Maharaja Sura Fusena dan Patih Rangga Dewa merasa senang mendengarkan ucapan Suci putih. Jawaban dari seorang pendekar yang berjalan di tempat kebaikan.
"Lalu apa yang akan nini lakukan setelah ini?." Prabu Maharaja Sura Fusena bertanya. "Jika berkenan, saya bisa mengangkat nini sebagai pendamping Patih. Saya yakin kedudukan itu sangat pantas untuk nini."
"Maaf gusti prabu. Bukan hamba bermaksud untuk menolak kedudukan yang gusti berikan." Suci Putih memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena. "Rasanya hamba tidak pantas mendudukinya. Hamba hanyalah seorang pengembara." Lanjutnya.
"Me-." Prabu Maharaja Sura dan Patih Rangga Dewa bersamaan ingin bertanya. Namun keduanya terhenti karena bersamaan seperti itu. Namun Patih Rangga Dewa memberi kode, mempersilahkan kakaknya Prabu Maharaja Sura Fusena yang bertanya dengan kode yang sopan.
Prabu Maharaja Sura Fusena menganggukkan kepalanya. "Memangnya nini berasal dari daerah mana?. Dan mengapa nini mengembara?. Apakah nini tidak takut saat melakukan perjalanan jauh?." Itulah pertanyaan yang terlontar dari Prabu Maharaja Sura Fusena yang mewakili perasaan adiknya Patih Rangga Dewa.
"Masalah keselamatan, hamba serahkan semuanya pada Allah SWT. Hanya kepada Allah SWT tempat meminta perlindungan gusti prabu." Jawab Suci Putih dengan yakin. "Hamba berasal dari desa pande warna. Hampir memasuki wilayah kerajaan ini gusti prabu." Suci Putih mengatakan dimana ia tinggal.
"Sepertinya kita memiliki kepercayaan yang berbeda nini. Tapi aku ucapkan terima kasih kepada nini. Karena nini membantu kami tanpa membedakan kami." Prabu Maharaja Sura Fusena merasa bersyukur karena kebaikan Suci Putih tidak membedakan kepercayaan yang mereka anut.
"Toleransi dalam agama tentunya ada gusti prabu. Kita memiliki kepercayaan masing-masing yang kita bawa sejak lahir. Dan hamba yakin itu adalah anugerah yang kita dapatkan sejak kita hadir di dunia ini." Suci Putih memaklumi apa yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Jadi nini akan kembali mengembara atau kembali ke sana?." Prabu Maharaja Sura Fusena sedikit penasaran.
"Untuk sementara waktu hamba akan kembali ke sana gusti prabu. Karena hamba tidak ingin membuat ayah dan ibu hamba merasa cemas." Jawabnya.
"Kalau begitu biarkan aku yang mengantarmu ke sana suci putih." Patih Rangga Dewa menawarkan dirinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa gusti patih. Hamba bisa-." Ucapnya terputus karena disela oleh Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Antar kan sampai ke rumahnya dinda patih. Ini adalah perintah." Prabu Maharaja Sura Fusena memberikan peluang pada adiknya untuk berdekatan dengan Suci Putih.
"Tapi gusti prabu-." Ucapnya terhenti.
"Tidak apa-apa nini. Tidak perlu merasa sungkan. Lagian dinda patih saat ini sedang tdiak ada tugas. Jadi, biar ada pekerjaan. Izinkan dinda patih untuk mengantar nini." Ucap Prabu Maharaja Sura Fusena dengan nada bercanda. Membuat mereka tertawa aneh.
"Apa yang kanda prabu katakan. Jangan berikan kesan buruk tentangku pada suci putih." Dalam hatinya merasa miris dengan apa yang dikatakan Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Lakukan tugas mu dengan baik. Jangan sampai kau lalai menjaganya dinda patih." Itulah perintahnya.
"Sandika kanda prabu." Patih Rangga Dewa sangat senang mendengarnya. Sementara itu Suci putih tidak dapat membantahnya.
Prabu Maharaja Sura Fusena sedikit menangkap, jika adiknya menyukai wanita yang telah menyelamatkan dirinya itu. Tapi apakah kali ini akan berhasil?. Hanya waktu yang akan menjawab semua dari ikatan takdir diantara mereka yang sedang menyatukan benang merah untuk hidup bersama.
"Kapan kau akan pulang ke sana suci putih?. Aku siap mengantarmu kapan saja." Patih Rangga Dewa bertanya.
"Hari ini. Setelah solat zuhur nanti. Supaya kita tidak terlalu malam sampai di sana." Jawabnya.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu siang ini." Patih Rangga Dewa siap dengan tugasnya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...