
...***...
Saat ini Prabu Maharaja Sura Fusena sedang mengobati adiknya. Mengatur kembali susunan dari segel gaib agar memperkuat tekanan kekuatan dari naga biru liar yang ada di dalam tubuh adiknya itu. Perasaanya sangat gelisah karena adiknya mengalami banyak luka. Jika ia tidak segera menekan kekuatan naga biru liar itu. Bisa saja adiknya tidak bisa diselamatkan sama sekali.
"Dinda patih. Aku yakin kau adalah orang yang sangat kuat. Bahkan disaat kau menerima kekuatan itu dinda. Aku mohon kau bertahanlah!. Aku telah berjanji pada ayahanda bahwa aku akan selalu menjagamu dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat mengkhawatirkan adiknya. Ia terus menyalurkan tenaga dalamnya. "Jika saja nenek datang ke istana ini. Aku yakin kau akan lebih cepat sembuh dinda." Perasaan gelisah itu semakin membuncah di dalam dirinya.
...***...
Sementara itu di luar bilik Patih Rangga Dewa. Ratu Dewi Saraswati, Pangeran Arya Fusena, pangeran Birawa Fusena, Putri Rara Wulan menunggu di luar dengan perasaan cemas. Mereka semua terkejut saat melihat Prabu Maharaja Sura Fusena menggendong Patih Rangga Dewa kembali ke istana dalam keadaan terluka parah. Mereka belum sempat bertanya apa yang terjadi pada Patih Rangga Dewa, karena saat itu Prabu Maharaja Sura Fusena sangat terburu-buru ingin segera mengobati adiknya.
"Apakah paman patih akan baik-baik saja ibunda?. Apakah paman patih bisa diselamatkan?." Pangeran Arya Fusena menahan tangisnya. Ayahandanya sangat lama sekali berada di dalam, sehingga menimbulkan perasaan cemas yang berlebihan di dalam hatinya.
"Aku sangat mengkhawatirkan keadaan paman patih ibunda. Apakah kami boleh masuk untuk melihat keadaan paman patih?." Putri Rara Wulan sudah tidak nyaman lagi sebelum ia memastikan sendiri, jika Patih Rangga Dewa baik-baik saja.
"Semoga saja paman baik-baik saja. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap paman patih." Pangeran Birawa Fusena sangat gelisah mengetahui jika Patih Rangga Dewa terluka setelah bertarung dengan seseorang.
"Tenanglah nak. Kita semua mencemaskan keadaan dinda patih. Ibunda harap kalian tetap bersabar. Jika kalian memaksa masuk, dan malah mengganggu ayahanda kalian yang sedang mengobati dinda patih." Ratu Dewi Saraswati mencoba untuk menenangkan ketiga anaknya meskipun ia sendiri terlihat sangat khawatir dengan keadaan Patih Rangga Dewa. "Ibunda sangat takut jika ayahanda kalian marah, karena merasa terganggu saat mengobati dinda patih." Ratu Dewi Saraswati sangat hafal bagaimana jika suaminya itu tidak suka diganggu jika sedang melakukan sesuatu. Apalagi jika ia sedang mengobati adiknya saat ini.
"Tapi ibunda-." Putri Rara Wulan masih saja belum mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Dewi Saraswati.
"Tenang saja nak. Percayalah pada ibunda." Ratu Dewi Saraswati memeluk putrinya dengan perasaan sayang. Meskipun bukan anak kandung, namun tetap saja Putri Rara Wulan adalah anaknya.
"Tenanglah yunda, ibunda benar. Kita jangan sampai mengganggu ayahanda prabu mengobati paman patih." Pangeran Arya Fusena mencoba untuk menenangkan kakaknya agar tidak membuat suasana menjadi tambah panas.
"Bersabarlah dinda rara. Kita semua semagat mengkhawatirkan keadaan paman patih. Aku juga tidak tenang jika belum melihat paman patih belum berdiri. Tapi kita harus menunggu ayahanda keluar. Mungkin akan menunggu waktu yang lama." Pangeran Birawa Fusena menepuk pelan bahu adiknya.
Mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaan Patih Rangga Dewa. Karena mereka semua menyayangi Patih Rangga Dewa. Apakah Prabu Maharaja Sura Fusena mampu mengobati adiknya?. Temukan jawabannya.
...***...
Duri Kosambi saat ini menemui kedua temannya. Jamba dan Cadra Baka yang masih saja memantau keadaan wilayah kerajaan Trisakti Triguna. Ia hanya ingin menyampaikan pada kedua temannya, bahwa saat ini keadaan Patih Rangga Dewa sedang sakit. Setelah bertarung dengan Pangeran Brama Adijaya. Saat ini mereka berada di sebuah desa yang tak jauh dari mereka berkumpul seperti biasanya.
"Kau sudah kembali duri kosambi. Lama juga kau kembali. Memangnya apa yang terjadi?." Jamba sedang menikmati kue lepat pisang yang disajikan oleh pemilik warung.
"Lalu apa yang kau dapatkan?. Apakah gusti patih baik-baik saja?. Sehingga kau lama sekali kembali." Cadra Baka ingin mengetahui alasan
"Saat itu firasatku tidak salah. gusti Patih terluka setelah bertarung dengan pangeran brama adijaya." Duri Kosambi menjawab pertanyaan kedua temannya. Sehingga keduanya menatap ke arahnya.
"benarkah?. Terus?. Bagaimana keadaan gusti Patih saat ini?." Jamba sangat terkejut sekali mendengarnya.
"Apakah si pangeran bodoh itu sudah ditangkap?." Cadra Baka tidak percaya jika Patih Rangga Dewa akan berhadapan dengan Pangeran Brama Adijaya untuk yang kedua kalinya?. "Sudah dua kali." Cadra Baka memainkan jarinya membentuk angka dua. "Sepertinya dia tidak ada kapok-kapoknya berurusan dengan prabu maharaja sura dewa." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Hei, duri durian. Kau tadi belum menjawab pertanyaan kami. Apakah Keadaan gusti Patih baik-baik saja?." Jamba tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan Patih Rangga Dewa.
Duri Kosambi menatap tajam ke arah Jamba, membuat Jamba merinding melihat betapa seramnya raut wajah Duri Kosambi saat ini. "Gusti Patih saat ini sedang diobati oleh gusti prabu maharaja sura fusena. Karena cuma gusti prabu yang bisa mengobati adiknya. Jurus penyegel sukma tingkat dua yang diajarkan mendiang gusti maharaja sura dewa. Karena rasanya aku sama sekali tidak berguna di sana. Makanya aku akan ke sini untuk sementara waktu." Duri Kosambi dengan nada aneh menjawab pertanyaan dari Jamba. "Tapi nanti malam aku akan kembali ke istana. Karena aku yakin setelah itu gusti prabu sangat membutuhkan tenagaku dari pada kalian berdua." Setelah itu ia berbicara normal. Ia melanjutkan makannya, ia tidak mau memikirkan terlalu banyak hal buruk tentang Patih Rangga Dewa. "Beberapa hari ini aku harus bolak-balik dua istana. Trisakti triguna ke Betung emas untuk mengantar surat. Setelah itu aku kembali menjemput gusti Patih. Tapi sayangnya patih rangga dewa lagi-lagi bertarung dengan brama adijaya laknat itu!. Sehingga gusti Patih kembali sakit. Rasanya aku ingin membunuh pangeran bodoh itu." Duri Kosambi merasa bersalah, karena tidak bisa membantu Patih Rangga Dewa saat itu.
"Jadi begitu ya. Aku harap gusti Patih cepat sembuh." Jamba yang paling sedih, karena ia ingat dengan kebaikan Patih Rangga Dewa saat itu. Ia tidak menyangka hidupnya akan diselamatkan oleh seorang bangsawan. Padahal ia sangat membenci orang-orang agung.
Kembali ke masa itu.
Jamba, itulah nama pemuda yang bekerja sebagai prajurit disebuah kerajaan. Akan tetapi kemampuannya sangat diremehkan oleh orang lain karena wajahnya yang sangat jelek?. Pada saat itu Jamba sudah menunjukkan jurus-jurus yang ia miliki akan tetapi mereka malah menertawakannya. Ia hampir saja putus asa, dan ia merasa sakit hati. Hingga timbul perasaan ingin membunuh siapa saja yang telah berani menghina dirinya. Banyak prajurit yang meninggal tanpa alasan pada saat itu.
Bukan hanya sampai di situ saja, bahkan ada beberapa bangsawan yang pernah menghina dirinya pun tak luput dari incarannya. Masalah itu bagaikan teror di kerajaan Buatan Dewa Bumi. Prabu Bumi Negara sangat murka, karena mereka sama sekali tidak mengetahui siapa yang melakukan perbuatan busuk itu.
"Bagaimana bisa kejadian mengeri ini menimpa kerajaan ini?!." Prabu Bumi Negara sangat marah. "Banyak prajurit yang tewas, serta dharmapati, Senopati, bahkan pangeran serta anak-anak bangsawan lainnya!. Apakah kalian tidak bisa memberikan pengawalan yang baik terhadap negeri ini!." Hatinya sangat panas, bahkan ia sendiri tidak bisa mengatasi masalah ini dengan baik.
"Mohon ampun gusti prabu. Kami telah berusaha untuk menyelidikinya, namun hasilnya sama sekali tidak kami ketahui. Kami hanya melihat sekelebat bayangan saja." Salah satu senopatinya memberikan keterangan.
"Benar gusti prabu. Kami sangat kesulitan menghadapinya."
"Ampuni kami gusti prabu."
Mereka semua telah menyerah dengan masalah itu. Sementara itu, Jamba malah tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya sambil memperhatikan bagaimana mereka yang kewalahan menghadapi serangan ganas yang telah ia lakukan pada saat itu.
"Maaf prajurit. Mengapa penjagaan istana di sini begitu ketat?. Apakah ada sesuatu yang terjadi di sini?." Patih Rangga Dewa bertanya, Karena ia merasa penasaran.
"Memangnya Kisanak orang mana?." Jamba balik bertanya.
"Oh, saya seorang pengembara. Saya tadi dicurigai oleh prajurit yang menjaga gerbang masuk ke kota raja-."
Kembali ke masa ini
Duri Kosambi dan Cadra Baka langsung bangkit dari duduknya. Membuat Jamba merasa heran, dan bertanya-tanya pada kedua temannya.
"Kenapa?. Aku kan belum selesai bercerita?. Ceritaku belum sampai pada puncaknya." Jamba masih bingung dengan sikap kedua temannya.
"Aku lupa. Aku harus segera kembali ke istana. Jadi maaf saja. Aku tidak bisa mendengarkan cerita mu sampai akhir." Ucap Duri Kosambi sambil merogoh kantong uangnya. "Nyai?. Saya mau bayar." Duri Kosambi melangkah ke dalam dan membayar.
"Aku juga mau bayar, soalnya aku sudah kenyang." Cadra Baka juga ikut Duri Kosambi. "Ceritamu tidak akan selesai sampai besok pagi, jadi aku duluan saja. Kau boleh lanjutkan ceritanya." Cadra Baka malah memberikan beberapa koin uang ke tangan Jamba.
Sedangkan Jamba malah bengong, karena tidak mengerti sama sekali. Ia belum selesai bercerita, namun ditinggalkan begitu saja oleh kedua temannya.
...***...
__ADS_1
Sementara itu, di halaman istana kerajaan Trisakti Triguna. Prabu Dewata Sangara telah sampai di istana. Namun sebelum ia masuk, ia dicegat oleh prajurit jaga. Karena sesuai peraturan, bagi yang ingin masuk ke dalam istana ini harus diperiksa terlebih dahulu. Karena mereka takut dengan bawaan mereka. Jadi sudah menjadi hal yang wajar jika mereka banyak bertanya sebelum masuk ke istana Kerajaan Trisakti Triguna.
"Aku ingin bertemu dengan junjungan kalian. Cepat!. Antar aku untuk menemuinya." Prabu Dewata Sangara tidak nyaman lagi berlama-lama menunggu kabar bagaimana keadaan adiknya.
"Mohon ampun gusti prabu." Prajurit memberikan hormat pada Prabu Dewata Sangara. "Saat ini gusti prabu sedang tidak ingin diganggu. Karena beliau sedang mengobati gusti patih yang sedang terluka." Lanjutannya menyampaikan alasan mengapa Prabu Maharaja Sura Fusena tidak bisa ditemui.
"Memangnya apa yang terjadi pada dinda patih?. Sehingga ia diobati oleh dinda sura fusena?. Katakan padaku jika kau masih sayang dengan nyawamu!." Suara keras itu berasal dari Prabu Dewata Sangara sangat penasaran apa yang menyebabkan Patih Rangga Dewa mengalami luka yang sangat serius seperti itu?.
"Mohon ampun gusti prabu. Setelah kembali dari lereng bukit naga, katanya gusti Patih diserang oleh pangeran brama adijaya. Itulah kabar yang hamba dapatkan, sehingga sekarang gusti prabu bersama gusti Patih." Prajurit tersebut menjelaskan kenapa Prabu Maharaja Sura Fusena mengobati adiknya.
"Kalau begitu segera pertemukan aku bersama gusti prabu maharaja sura fusena setelah ia berhasil menyembuhkan adiknya." Prabu Dewata Sangara akan menunggu, meskipun agak lama. Ia juga tidak bisa menunggu terlalu lama.
"Sandika gusti prabu." Prajurit tersebut mengiringi kuda milik Prabu Dewata Sangara. "Apa yang harus aku lakukan jika dinda brama adijaya terbukti telah melanggar janji itu?. Dia yang memulai pertarungan itu?." Di dalam hati Prabu Dewata Sangara merasakan perasaan yang sangat cemas luar biasa. Ia tidak memiliki pegangan yang kuat untuk membela adiknya jika memang itu yang terjadi.
...***...
Sementara itu di alam bawah sadar Patih Rangga Dewa. Rasanya saat ini ia sedang berjalan di halaman belakang istana. Kakinya melangkah menuju tempat yang tidak asing menurutnya. Saat itu juga ia melihat sosok yang sangat ia rindukan. "Ayahanda prabu." Rasanya ingin ia memeluk ayahandanya dan mengadu semua yang ia rasakan. Namun saat itu ia melihat dirinya yang masih anak-anak berlari, menerjang tubuh ayahandanya. Bergelayut manja dengan ayahandanya.
"Ayahanda prabu."
"Ada apa putraku?. Apakah ada yang ingin kau sampaikan pada ayahanda?." Senyuman ayahandanya sangat menawan, sehingga terlihat wajah tampan ayahandanya saat itu.
"Nanda ingin belajar bersama nenek lara janti. Apakah nanda boleh belajar banyak hal dengan nenek lara janti?." Dengan polosnya ia meminta izin lada ayahandanya.
Prabu Maharaja Sura Dewa tertawa agak keras sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang. "Tentu saja kau boleh belajar apa saja dari nenek lara janti. Asalkan nanda mau menuruti apa saja yang dikatakan oleh nenek lara janti. Apakah nanda sanggup melakukan itu?." Prabu Maharaja Sura Dewa hanya ingin memastikan tekad anaknya.
"Tentu saja ayahanda. Nanda sangat yakin bahwa nanda bisa melakukannya." Pangeran Rangga Dewa saat kecil sangat percaya diri dengan kemampuan yang ia miliki. Sehingga membuat ayahandanya tidak bisa menahan gelak tawanya melihat tingkat kepercayaan diri anaknya yang tidak biasa.
"Kau memang pangeran kesayangan ayahanda." Prabu Maharaja Sura Dewa menimang anaknya, bercanda tawa dengan riangnya. Pangeran Rangga Dewa adalah pangeran kesayangan semua orang dimasa itu.
"Ayahanda prabu." Rasanya Patih Rangga Dewa ingin menangis mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahandanya. Bahwa ia adalah pangeran kesayangan ayahandanya?.
"Jangan menangis nak." Suara itu adalah suara ayahandanya. Patih Rangga Dewa membalikkan tubuhnya, dan ia melihat ayahandanya berdiri di belakangnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Jangan menangis. Ayahanda percaya kau adalah pangeran kesayangan ayahanda yang sangat kuat." Senyuman itu. Senyuman yang selalu menguatkan dirinya. "Jangan sampai goyah hanya karena kau tidak bisa mengendalikan kekuatan yang ada di dalam tubuhmu nak." Prabu Maharaja Sura Dewa sepertinya menyemangati anaknya. "Kemarilah nak. Kemarilah. Sini ayahanda peluk, agar kau merasa lebih baik lagi." Prabu Maharaja Sura Dewa yang tidak terlibat tua sama sekali itu merentangkan kedua tangannya. Seakan-akan ia ingin menyambut kedatangan anaknya agar menuju pelukannya.
"Ayahanda." Rindu yang sangat kuat telah melemahkan perasaan dan suasana hati Patih Rangga Dewa. Hingga tanpa sadar ia melangkah pelan, karena langkahnya terasa sangat berat. Akan tetapi ia memaksakan dirinya untuk mendekati ayahandanya.
DUAKH!.
Akan tetapi ia merasakan tubuhnya di terjang oleh seseorang dari belakang hingga ia hampir saja terjungkal jika ia tidak bisa menguasai dirinya. Rasanya sangat sakit sekali karena punggungnya barusan seperti ditendang dengan sangat kuat oleh seseorang. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1