
...***...
Patih Rangga Dewa terbangun paksa dari tidurnya, nyawanya seakan dipaksa untuk kembali ke jasadnya. Ia seperti orang yang sangat linglung ketika ia tersadar menatap dinding?. Tapi bagaimana itu bisa terjadi?. Dengan keadaan yang masih bingung, ia meraba pinggangnya yang terasa sangat sakit.
"Kau masih belum saja dinda patih?." Suara Prabu Maharaja Sura Fusena terdengar sangat berat. Dan ia menatap tajam ke arah adiknya itu. Emosinya memuncak karena adiknya belum juga bisa dibangunkan. Dan ia terpaksa membalikkan tubuh adiknya, dan menginjak kuat punggung adiknya hingga terdengar suara krak seperti ingin parah semua tulang belulang adiknya itu.
Patih Rangga Dewa membalikkan tubuhnya sambil melihat ke arah sumber suara. Matanya menangkap sosok kakaknya. "Tidak bisakah kanda prabu melakukannya lebih lembut lagi?. Padahal tadi aku hampir saja berbicara dengan ayahanda prabu." Patih Rangga Dewa memperbaiki posisi duduknya yang terlihat agak aneh. Punggungnya terasa sangat sakit, namun matanya masih belum bisa kompromi sama sekali. Sangat kantuk, tapi malah dipaksa bangun oleh kakaknya?. Sungguh terlalu sekali Prabu Maharaja Sura Fusena terhadap adiknya Patih Rangga Dewa.
"Rencana aku ingin melakukannya dengan lembut. Namum karena kau belum juga mau bangun, ya sudah. Aku memutuskan untuk menginjak pinggang mu, agar kau lebih cepat bangunnya." Sebenarnya ia sedang sangat cemas, karena adiknya belum kunjung bangun. Itulah alasan mengapa ia melakukan itu. Ia berharap adiknya akan segera bangun, dan itu sangat benar sekali.
"Setidaknya aku ucapkan terima kasih pada kanda, karena kanda telah mengobati aku." Patih Rangga Dewa mencoba untuk tersenyum walaupun agak terasa sangat kaku. Karena saat ini berusaha untuk menahan kantuk yang ia rasakan.
"Tentu saja aku akan mengobati dirimu. Kau tidak boleh tewas sebelum menyelesaikan masalah yang ada di kerajaan ini." Balas Prabu Maharaja Sura dengan nada yang sangat serius. "Kau harus menyelesaikan masalah yang terjadi, baru kau boleh tidur." Lanjutnya lagi.
"Hahaha!. Jadi begitu?. Terserah kanda prabu saja. Kalau begitu biarkan aku istirahat sebentar." Patih Rangga Dewa kembali rebahan sambil memeluk bantal guling miliknya. "Rasanya sangat lelah, lapar serta mengantuk." Lanjutnya dengan nada lemah. Ia tidak dapat menahan kantuk yang ia rasakan saat ini.
"Ya sudah. Tidurlah. Tapi janji besok, kita akan mengumpulkan mereka semuanya. Dan kau harus menjadi pengadil yang kejam untuk mereka semua." Prabu Maharaja Sura Fusena mengalami, dan ia tidak mau memaksa adiknya melakukan semua itu dirinya.
"Sandika kanda prabu." Dengan suara yang hampir saja tidak terdengar Patih Rangga Dewa menjawabnya.
"Selamat beristirahat dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena tersenyum kecil menatap adiknya yang telah memejamkan matanya, karena ia tidak dapat menahan kantuknya. Meskipun tadi telah dibangunkan secara paksa oleh Prabu Maharaja Sura Fusena, namun tetap saja masih mengantuk.
Prabu Maharaja Sura Fusena meninggalkan bilik adiknya. Akan tetapi saat itu, salah satu prajurit istana melaporkan padanya bahwa Prabu Dewata Sangara ingin bertemu dengannya.
"Selama hormat hamba gusti prabu." Prajurit tersebut memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Katakan padaku ada laporan apa yang ingin kau sampaikan padaku." Prabu Maharaja Sura Fusena bertanya.
__ADS_1
"Di depan, ada gusti prabu dewata sangara. Beliau ingin bertemu dengan gusti prabu." Prajurit tersebut memberikan laporan pada Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Baiklah. Aku akan segera menemuinya. Kembalilah bertugas. Selain itu panggilkan aku duri kosambi dan teman-temannya di halaman belakang istana." Perintahnya pada Prajurit tersebut. "Aku yakin dia mau membahasa masalah adiknya. Tidak mungkin dia datang ke istana ini hanya sekedar bertamu saja." Prabu Maharaja Sura Fusena mencoba menebak apa maksud dari kedatangan Prabu Dewata Sangara ke istana kerajaan Trisakti Triguna.
"Sandika gusti prabu." Prajurit tersebut melakukan perintah rajanya. Sedangkan Prabu Maharaja Sura Fusena segera menemui tamunya. Hatinya mulai panas, apakah akan terjadi perang diantara mereka nantinya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Namun ketika mereka bertemu. Sebisa mungkin Prabu Maharaja Sura Fusena menahan amarahnya. Ia sangat marah karena Pangeran Brama Adijaya telah berani membuat adiknya sakit dan hampir saja ia tidak bisa membangunkan adiknya. Setelah itu Prabu Maharaja Sura Fusena segera menemui Prabu Dewata Sangara, mungkin ia bisa mendengarkan alasan mengapa ia menemuinya.
"Dinda prabu." Sedangkan Prabu Dewata Sangara terlihat sangat gelisah saat melihat kedatangan Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Silahkan duduk kanda prabu." Prabu Maharaja Sura Fusena mempersilahkan Prabu Dewata Sangara untuk duduk. Sementara itu, ia duduk di singgasana miliknya.
"Terima kasih dinda prabu. Terima kasih karena dinda prabu mau menemui aku." Untuk sementara waktu ia hanya menurut, meskipun hatinya tidak tenang sama sekali.
"Sepertinya kanda prabu ada urusan yang sangat penting, sehingga kanda jauh-jauh datang dari kemari." Prabu Maharaja Sura Fusena masih bersikap ramah. "Katakan saja padaku apa yang hendak kanda prabu katakan." Prabu Maharaja Sura Fusena ingin mendengarkan apa yang ingin disampaikan Prabu Dewata Sangara padanya.
"Maaf sebelumnya dinda prabu. Ini memang agak diluar dari yang sebelumnya." Ada bentuk keraguan dari sorot matanya itu. "Aku hanya ingin memastikan, jika dinda brama adijaya yang duluan menyerang dinda rangga dewa. Aku hanya ingin memastikan jika dinda brama duluan yang telah melanggar perjanjian itu." Lanjutnya dengan perasaan tidak menentu. "Aku mohon jangan hukum dinda brama adijaya terlalu cepat." Apakah hanya itu yang ingin dikatakan oleh Prabu Dewata Sangara?. Ia menginginkan kebebasan adiknya setelah melakukan kesalahan yang sangat fatal?.
"Salam hormat kami gusti prabu." Duri Kosambi, Suri, Rati, dan Rumi memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Silahkan duduk. Dan jelaskan pada kanda prabu apa yang terjadi saat kalian kembali ke istana ini." Prabu Maharaja Sura Fusena mempersilahkan mereka untuk mengatakan apa yang terjadi.
"Mohon ampun gusti prabu." Mereka kembali memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena dan Prabu Dewata Sangara.
"Pada saat kami kembali ke istana kerajaan trisakti triguna, kami diserang oleh pangeran brama adijaya. Saat itu ia bekerjasama dengan seorang pendekar tua. Mereka berdua terus berusaha untuk memancing gusti Patih untuk mengeluarkan kekuatan naga biru liar yang ada di dalam tubuh gusti Patih." Duri Kosambi yang bercerita. Ia masih ingat bagaimana kejadian waktu itu.
"Apakah itu benar?. Kalian tidak berbohong padaku, kan?." Sepertinya Prabu Dewata Sangara masih ragu, dan belum percaya.
"Mohon ampun gusti prabu." Rumi memberi hormat pada Prabu Dewata Sangara. "Jika gusti prabu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh teman hamba duri kosambi. Saya bisa menunjukkan pada gusti prabu apa yang terjadi saat itu." Rumi tidak suka ada orang yang tidak percaya pada Duri Kosambi.
__ADS_1
"Bagaimana caranya kau menunjukkan pada kanda prabu?. Katakan padaku rumi." Prabu Maharaja Sura Fusena ingin mengetahuinya. Rasanya sangat mustahil melakukan itu, bahkan ia tidak mengetahui caranya.
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba memiliki kemampuan untuk melihat kembali kejadian itu dengan kekuatan yang hamba miliki. Jika gusti prabu bersedia ingin melihatnya, maka akan hamba perlihatkan gusti prabu." Jawab Rumi.
"Baiklah, itu menarik juga. Katakan padaku bagaimana caranya kau memperlihatkannya pada kami." Balas Prabu Maharaja Sura Fusena merasa tertarik dengan apa yang dikatakan Rumi.
"Sandika gusti prabu." Rumi memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena. "Mari ikuti hamba gusti prabu." Rumi mempersilahkan kedua raja tersebut untuk mengikutinya.
Mereka semua menuju halaman istana. Apa yang akan mereka lakukan dengan berada di istana?. Mereka semua melihat Rumi membuat lingkaran di tanah agak lebar. Setelah itu ia lukai tangannya, dan ia teteskan darah ke lingkungan itu.
"Mohon maaf gusti prabu. Silahkan duduk di tepi lingkaran itu." Rumi mempersilahkan kedua raja tersebut untuk duduk di tanah?. "Jika di lantai, caranya tidak akan berkerja. Mohon maaf jika hamba bersikap kurang ajar." Rumi mengerti mereka tidak mau pakaian mewah yang mereka kenakan akan kotor. Tapi Prabu Maharaja Sura Fusena dan Prabu Dewata Sangara penasaran bagaimana mungkin wanita itu bisa menunjukkan pada mereka apa yang terjadi saat itu.
"Jika kalian ingin melihatnya, kalian boleh ikut bergabung." Rumi mempersilahkan mereka untuk ikut juga.
"Kau ikut?." Suri bertanya pada Rati. Mungkin temannya itu mau ikut dengannya.
"Baiklah." Rati mengangguk setuju. Rati Penasaran bagaimana caranya Rumi menunjukkan kemampuan hebatnya pada mereka semua.
"Lalu bagaimana denganmu duri kosambi?. Apakah kau mau ikut?." Rumi bertanya pada temannya Duri Kosambi.
"Kalian saja. Aku menunggu saja." Duri Kosambi malas untuk ikut, karena ia percaya bahwa Patih Rangga Dewa tidak bersalah sama sekali. Dan ia ingin menjaga raga mereka. "Jika kita pergi semuanya, aku takut akan ada musuh yang menyerang tanpa kita undang, dan itu sangat berbahaya nantinya." Lanjut Duri Kosambi mencoba mencari alasan yang kuat kenapa ia tidak ikut dengan mereka semua.
"Baiklah. Kalau begitu mari kita pejamkan mata. Pusatkan pikiran, dan jangan ada yang bergeser dari lingkaran ini." Rumi memberi arahan pada mereka semua. Agar mereka tidak salah dalam menuju alam sukma, memperhatikan kejadian masa lalu yang tejadi pada mereka semua. Akan berbahaya jika mereka sampai kelas dari lingkaran itu. Apalagi tidak mudah untuk masuk ke alam sukma.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bisakah Rumi menunjukkan pada mereka semua apa yang akan terjadi di alam sukma penglihatan mereka pada kejadian Patih Rangga Dewa diserang oleh Pangeran Brama Adijaya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1