
...***...
Dua hari telah berlalu. Keadaan Pangeran Arya Fusena dalam keadaan baik-baik saja, seperti yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa. Mereka semua merasa lega, karena pangeran kesayangan telah beraktivitas seperti biasa. Akan tetapi sepertinya masalah baru akan segera muncul. Pagi itu Patih Tangga Dewa baru saja keluar dari biliknya. Namun, tiba-tiba saja kerah bajunya ditarik oleh seseorang. Tentunya ia sangat terkejut, karena tarikan itu lumayan kuat.
Belum sempat keterkejutannya, Patih Rangga Dewa justru dibanting ke lantai oleh seseorang. Sehingga punggungnya terasa sakit.
"Khaaagkh."
Belum cukup rasanya sampai di sana, Patih Rangga Dewa malah mendapatkan sebuah pukulan. Akan tetapi ia berhasil menahan pukulan itu. Begitu ia mencoba melihat siapa yang menyerangnya, matanya membulat sempurna. Karena yang menyerangnya adalah kakaknya sendiri, Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Kanda prabu?. Apa yang kanda prabu lakukan?."
"Kau penghianat rangga Patih!. Berani sekali kau mengkhianati aku!."
DUAKH!!!.
Sebuah pukulan kuat hampir saja mengenai dada Patih Rangga Dewa, jika ia tidak menggulungkan tubuhnya ke samping. Pukulan kakaknya itu sangat kuat, bisa jadi dadanya akan remuk. Bahkan bisa hancur jika ia tidak menghindarinya.
"Apa maksud kanda prabu berkata seperti itu?. Tenangkan diri kanda prabu. Jangan asal menyerang aku. Apa kesalahanku, sehingga kanda prabu menyerang aku?."
"Kau telah bermain api rangga Patih!. Aku akan membunuhmu!." Dengan amarah yang memuncak, Prabu Maharaja Sura Fusena menyerang Patih Rangga Dewa. Serangan bertubi-tubi ia arahkan kepada adiknya yang tidak mengerti apa kesalahannya, sehingga ia diperlakukan seperti itu?.
Sepertinya Patih Rangga Dewa tidak bisa menghindari serangan yang mengarah padanya. Tubuhnya hanya pasrah ketika dihajar oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia dihajar sampai keluar halaman istana. Beruntung belum ada prajurit jaga yang ada di sana.
__ADS_1
Dan kebetulan Pangeran Arya Fusena yang melihat itu terkejut. Padahal ia sudah janji dengan Patih Rangga Dewa untuk latihan pagi ini, namun apa yang ia lihat?. Ayahandanya sedang menghajar pamannya?.
"Ayahanda Prabu. Apa yang ayahanda prabu lakukan?. Mengapa ayahanda prabu malah menyerang paman Patih?."
Prabu Maharaja Sura Fusena yang sedang dikuasai oleh amarah, menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya. Hingga hawa murninya mengalir dalam bentuk kekuatan. Ia menyerang Putranya Pangeran Arya Fusena dengan tenaga dalamnya itu.
Tapi beruntung, Pangeran Arya Fusena menyadari serangan itu. Ia dapat menangkis serangan yang datang ke arahnya, sehingga hanya hembusan angin yang cukup kencang melewati tubuhnya.
"Nanda pangeran uhuk, uhuk, uhuk." Patih Rangga Dewa sangat terkejut melihat serangan itu. Ia tidak percaya, jika Prabu Maharaja Sura Fusena menyerang anaknya sendiri?.
Sementara itu, Pangeran Arya Fusena terpaku ditempat. Setelah mendapatkan serangan itu. Saking tidak percaya apa yang ia dapatkan, ia malah menatap kosong ke arah ayahandanya yang terlihat masih marah.
"Kanda prabu. Apa yang kanda prabu lakukan?. Hah?!." Patih Rangga Dewa merasa geram, sehingga ia segera berdiri, mendekati Prabu Maharaja Sura Fusena dengan geram, sambil mencengkram kuat baju kakaknya itu.
"Lepaskan!." Prabu Maharaja Sura Fusena menepis kuat tangan Patih Rangga Dewa. Dan disaat yang bersamaan, Ratu Dewi Saraswati melihat itu. Ia segera menghampiri anaknya yang masih terpaku di tempat.
Namun tidak ada jawaban dari Prabu Maharaja Sura Fusena, karena ia sedang menahan amarah yang membuncah di dalam dirinya. Karena kepalanya terasa sakit, ia pergi tanpa berkata apa-apa dari sana. Ia tidak mau kalap terlalu jauh. Jadi untuk saat ini ia memilih untuk menjauh sementara waktu.
"Kanda prabu!. Apa yang kanda prabu lakukan?!." Bahkan suara Patih Rangga Dewa tidak dihiraukan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. "Apa yang terjadi pada kanda prabu sebenarnya?." Menjadi sebuah tanda tanya bagi dirinya. Mengapa tiba-tiba saja kakaknya itu menyerang dirinya?. Apakah tidak ada cara lain yang bisa digunakan kakaknya untuk menyampaikan sebuah perasaan?.
"Nanda pangeran arya." Sambil meringis sakit, ia mencoba menepis rasa penasarannya. Patih Rangga Dewa menghampiri Ratu Dewi Saraswati, yang sedang berusaha menenangkan anaknya yang sedang dalam keadaan shock. Sepertinya mentalnya sedang sedikit terganggu, karena mendapatkan serangan dari ayahandanya.
"Nanda arya. Dengarkan ibunda nak. Tenangkan dirimu nak. Nanda arya." Perasan cemas seorang ibu, melihat keadaan anaknya yang masih shock. Hatinya merasa iba melihat kondisi anaknya saat ini.
__ADS_1
"Yunda ratu dewi. Sepertinya kita harus membawa nanda pangeran arya ke dalam biliknya. Yunda ratu dewi harus bisa menenangkan nanda pangeran arya."
"Dinda patih. Apa yang terjadi sebenarnya?. Mengapa kanda prabu menyerang dinda patih juga nanda arya?." Ratu Dewi Saraswati menangis, karena ia tidak sanggup melihat keadaan anaknya.
"Tenanglah yunda ratu dewi. Setelah ini aku akan mencari tahu kebenarannya. Namun aku harap, yunda ratu dewi untuk saat ini tetaplah bersama nanda pangeran arya."
"Baiklah dinda patih. Aku mohon cari tahu kebenarannya. Aku tidak mengerti, mengapa kanda prabu malah bersikap aneh?. Padahal sebelumnya tidak."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan membawa nanda pangeran arya ke biliknya."
Patih Rangga Dewa menggendong di depan Pangeran Arya Fusena. Sungguh, ia sangat tidak tega melihat keponakan kesayangannya yang saat ini dalam keadaan setengah sadar karena keterkejutannya tadi. Apakah yang terjadi?. Mengapa Prabu Maharaja Sura Fusena mengamuk?. Menyerang adik dan anaknya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Sedangkan Prabu Maharaja Sura Fusena yang saat ini sedang dikuasai amarah. Hatinya sedang panas. Sudah banyak yang membicarakan tentang adiknya?. Apa lagi yang mereka katakan tentang adiknya?. Adiknya melakukan kejahatan?. Tidak!. Buka itu.
Apakah adiknya melakukan penyeludupan barang?. Tidak!. Bukan itu juga. Apakah adiknya melakukan pembunuhan?. Tidak!. Bukan itu. Lalu mengapa ia begitu sangat marah?. Dan malah mengatakan adiknya seorang pengkhianat?. Bukankah adiknya selalu mengatakan, jika ia tidak akan mungkin melakukan pengkhianatan pada dirinya. Lalu apa?. Apa lagi kali ini?. Apa hal yang membuat dirinya begitu marah, sehingga sulit mengendalikan dirinya?.
Ia mendapatkan kabar buruk tentang adik yang sangat ia percayai. Kabar yang mengatakan jika adiknya telah mengambil wanita yang ia sayangi. Yaitunya Ratu Dewi Saraswati, dan kabar itu juga mengatakan bahwa, Pangeran Arya Fusena adalah anak dari hasil perbuatan serong keduanya.
Apakah karena itu, alasan ia menyerang Pangeran Arya Fusena tadi?. Ya, bisa jadi seperti itu. Karena memang seperti itu hatinya yang sedang dikuasai oleh kemarahannya.
"Keterlaluan!. Apakah istana ini hanya diisi oleh orang-orang yang tidak beres?. Bahkan adikku juga mencoba mengkhianati aku?. Dinda dewi saraswati juga ingin menikam aku dari belakang?. Mengapa kalian begitu mudahnya menyakiti perasaanku!."
__ADS_1
Hatinya benar-benar panas, dan ia tidak bisa lagi mengendalikan perasaannya. Apalagi setelah ditinggalkan oleh Selirnya yang saat itu sangat memohon agar tidak dipisahkan dari Senopati Yudhasoka. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...