
...***...
Malam itu, Patih Rangga Dewa sedang berlatih ilmu kanuragan. Ia semulanya bersemedi, menyerap tenaga alam. Mengatur hawa murninya dengan baik. Setelah itu ia memainkan beberapa jurus yang telah ia pelajari dengan baik.
"Aku juga harus bisa menghancurkan pagar gaib ya g menyelimuti daerah itu. Aku ingin melihat, siapa saja yang ada di dalam sana." Dalam hatinya terus memikirkan cara untuk menghancurkan pagar gaib itu. Karena itulah malam ini ia harus menguasai jurus dari kitab perguruan ayahandanya. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia melakukan semuanya.
...***...
Sementara itu Prabu Maharaja Sura Fusena sedang menatap langit malam. Hatinya merasakan kegelisahan yang tidak biasa.
"Apa yang akan terjadi?. Mengapa hatiku tidak tenang malam ini." Kegundahan yang pernah ia rasakan, dan juga ia merasakan akan ada hal buruk menimpa dirinya. "Selain itu, kemana dinda patih?. Tidak biasanya ia tidak pulang, meskipun ia selalu keluar istana. Apakah terjadi sesuatu pada adikku?." Mungkin saja firasat buruknya mengarah ke sana. Rasa takut pada adiknya yang belum kembali.
...***...
Di sisi lain, Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan berada di pandopo. Mereka masih asik berbincang-bincang mengenai apa yang mereka lihat siang tadi.
"Katanya besok masih ada dinda arya. Bagaimana kalau besok kita ke sana lagi?."
"Yunda suka?. Kalau mau melihat lagi, aku akan menemani yunda untuk menonton pertunjukan itu."
"Tentu saja aku suka. Apalagi saat pawangnya itu menyemburkan api, benar-benar hebat."
"Benarkan?. Aku juga suka bagian itu yunda."
"Baiklah. Kalau begitu kita besok ke sana lagi."
"Baik yunda."
Mereka berdua terlihat sangat senang, karena melihat hiburan rakyat. Mereka sangat menikmati apa yang mereka lihat.
...***...
Keesokan harinya.
Jamba, itu nama pemuda yang saat ini sedang mengamati kumpulan orang-orang yang mencurigakan. Mereka mendekati para warga yang sedang melakukan aktivitas. Padahal masih pagi, namun mereka sepertinya tidak mengenal waktu untuk membuat keonaran.
"Hei, hei, hei. Kalian semuanya." Teriaknya dengan suara yang sangat keras.
Tentunya menjadi pusat perhatian mereka semua yang ada di sana. Karena orang-orang itu datang dengan rombongan yang sangat banyak. Apalagi mereka membawa golok yang tajam di tangan masing-masing.
"Hari ini kalian semua akan mati."
"Hari ini bos?."
__ADS_1
"Serang!."
Mereka semua menyerang para warga yang ada di sana, membuat mereka berlari ketakutan. Terutama wanita dan anak-anak yang tidak bisa melawan mereka. Sehingga suasana menjadi kacau. Sedangkan Jamba tidak akan diam begitu saja sambil mengamati apa yang telah mereka lakukan.
Jamba melompat menerjang mereka yang mengejar para wanita dan anak-anak. "Sungguh kurang ajar sekali apa yang kalian lakukan itu!."
"Hei!. Siapa kau?. Berani sekali kau ikut campur dengan apa yang kami lakukan!."
"Pergi kalian dari sini!. Kalian hanya menyusahkan gusti prabu, serta gusti patih." Matanya menatap tajam ke arah mereka yang siap siaga melayangkan golok tajam ke arahnya. "Sebaiknya kalian segera tinggalkan tempat ini!. Atau aku yang akan mengusir kalian dengan paksa!."
Namun mereka malah tertawa mendengarkan apa yamg dikatakan oleh Jamba. Seakan-akan apa yang dikatakan oleh Jamba adalah sebuah lelucuon yang membuat mereka patut untuk ditertawakan.
"Jadi kalian memilih melawan aku?. Akan aku tunjukan mantan pembunuh bayaran pada kalian. Sebagai orang kepercayaan gusti Patih yang telah menyelamatkan aku dari kubangan kelamnya darah." Tatapan mata itu semakin tajam, dan ia maju. Mengarang mereka semua dengan kemampuan yang ia miliki.
Pertarungan yang tidak sebanding dengan jumlah lawan, namun bisakah ia menghentikan aksi tindakan kejahatan itu?.
...***...
Pangeran Arya Fusena dan Putri Rara Wulan baru saja meninggalkan halaman istana. Karena keduanya sudah tidak sabar lagi ingin melihat acara itu, namun mereka akan bersabar menunggu sambil melihat-lihat yang lain dulu.
"Apakah kita tidak terlalu cepat perginya yunda?."
"Tidak apa-apa dinda. Lebih cepat lebih baik. Sambil menunggu, kita mungkin bisa menikmati hal yang menyenangkan lainnya."
"Yunda benar. Itu ide yang bagus."
Keduanya pergi dengan suasana hati yang sangat gembira. Namun mereka tidak menyadari, jika ada beberapa orang yang melompat ke halaman istana setelah mereka memasuki kota raja.
"Hei!. Siapa kalian?."
Prajurit yang melihat itu merasa ada yang ganjal dengan mereka semua. Karena orang-orang itu sama sekali tidak mereka kenali.
"Kalian semua. Cegat mereka agar tidak masuk ke dalam istana. Aku akan melaporkan kedatangan mereka pada gusti prabu maharaja."
Prajurit yang lainnya segera melakukan apa yang dikatakan oleh ketua prajurit. Mereka menghadang orang-orang yang ingin masuk ke dalam istana.
"Berhenti!. Kalian siapa?. Orang asing dilarang masuk!."
"Kalian ini hanyalah prajurit biasa. Jadi jangan sok mau melawan kami. Sekali sentil saja kalian sudah kalah."
"Apakah mereka pantas untuk kita hadapi kakang?."
"Tunggu saja sampai sura fusena keluar dari kandang kucing, baru kita lawan dia. Jangan buang-buang tenaga hanya untuk menyingkirkan ikan teri yang menghalangi langkah kita."
__ADS_1
"Hooo nasehat yang bagus seperti biasanya kakang. Aku setuju sekali."
"Heh!. Jangan berlebihan. Anggap saja itu hanyalah pemanasan saja. Kau muak karena terus menunggu!."
"Sabarlah bibi. Benar apa yang dikatakan paman telaga. Bersabarlah sebentar, aku yakin sebentar lagi raja itu akan muncul."
Mereka semua menghiraukan prajurit yang dari tadi mengacungkan senjata pada mereka. Merasa tidak terganggu sama sekali dengan apa yang prajurit Istana.
...***...
Patih Rangga Dewa baru saja selesai berlatih. Terlihat peluh yang membasahi tubuhnya. Dan ia telah membuat tekad, bahwa kali ini ia harus berhasil menghancurkan pagar gaib yang melindungi daerah itu.
"Baiklah. Tanpa membuang waktu lagi, aku harus segera ke sana. Memeriksa apa yang tersembunyi di dalam sana. Aku ingin mengetahuinya." Dalam hati Patih Rangga Dewa mulai bersemangat. Karena ia merasa bisa memperkuat tenaga dalamnya. Dengan sangat yakin ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu menuju tempat yang ia curigai.
...***...
Kembali ke istana Kerajaan Trisakti Triguna. Prabu Maharaja Sura Fusena datang setelah menerima laporan dari prajurit, bahwa ada orang asing yang masuk ke istana.
"Kau?. Bukankah kau adalah retma aji?. Dan kau adalah rahaja dwipa?."
"Bagus, kau masih ingat dengan kamu sura fusena. Jadi kami tidak perlu buang-buang waktu lagi hanya untuk mengakan kami ini siapa." Dengan santainya ia maju beberapa langkah ke depan. Gak lupa ia memamerkan kukunya yang cantik meskipun dia adalah seorang laki-laki.
"Kau masih hidup rupanya sura fusena. Aku kira kau sudah tewas bersama ayahandamu."
"Prajurit. Tolong bawa semua ratu kalian sini. Jika sampai terjadi sesuatu padaku, aku tidak jamin mereka akan selamat. Juga katakan pada putraku pangeran birawa untuk meninggalkan istana ini."
"Sandika gusti prabu."
Tiga orang prajurit melaksanakan perintah Prabu Maharaja Sura Fusena. Mereka langsung masuk ke dalam istana, untuk mengabari berita buruk itu.
"Heh!. Apakah kau takut kejadian yang sama akan terulang kembali sura fusena?. Makanya kau menyuruh mereka semua meninggalkan istana ini?."
Mereka semua tertawa saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. Mereka memandang lemah pada sang Prabu yang mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.
"Dasar lemah!. Ahahaha!."
"Raja kok lemah!. Ahahaha!."
"Diam!. Aku hanya tidak mau merugi hanya kecurangan yang kalian lakukan." Prabu Maharaja Sura Fusena terlihat sangat marah. "Kau!. Retma aji. Apakah kau tidak malu?. Dimasa lalu kau hampir saja terdesak, dan kebetulan ada adikku rangga dewa di sana. Aku tidak akan mengampuni atas apa yang telah kau lakukan terhadap adikku waktu itu. Dan kau dengan kejamnya membunuh ayahandaku!." Ada perasaan emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Karena mengingat apa yang terjadi dimasa lalu.
Sedangkan Retma Aji malah tertawa terbahak-bahak mengingat bagaimana dengan perasaan bangga ia berhasil membunuh salah satu Raja besar. "Itu karena lemah. Perasaan lemah yang ia miliki sehingga dia terbunuh. Kau juga akan bernasib sama jika kau memiliki hati yang lemah sura fusena!."
"Kau memang tidak bisa aku ampuni retma aji. Tua bangka tidak tahu malu. Akan aku balas kematian ayahandaku, juga luka yang telah kau torehkan ke tubuh adikku." Prabu Maharaja Sura Fusena menyerang Retma Aji.
__ADS_1
Namun sepertinya pertarungan itu bukan hanya miliki mereka berdua saja. Melainkan Rahaja Dwipa yang ikut dalam pertarungan itu, selain itu masih ada dua yang lainnya. Sehingga dalam pertarungan itu, satu melawan empat orang sekaligus. Prabu Maharaja Sura Fusena tidak akan gentar meskipun yang ia lawan adalah pendekar golongan hitam semua. Baginya tidak ada pilihan selain melawan mereka semua. Karena ia mengetahui bagaimana sikap para pendekar golongan hitam. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...