
...***...
Patih Rangga Dewa menghentikan tawanya. Kini sorot matanya terlihat sangat serius dan sangat menusuk ke arah lawannya. Dan kini seakan sedang mendominasi keadaan, sehingga musuhnya merasa terancam dengan tatapannya itu. "Kau itu yang suka ingkar janji pangeran bodoh!." Patih Rangga Dewa melewati Duri Kosambi dan Suri. Ia sangat tidak suka dengan sikap sombong mereka. Setelah ia maju dengan langkah yang sangat yakin.
"Apa kau bilang rangga dewa?!. Berani sekali kau mengatasi aku ingkar janji?. Coba kau katakan padaku janji mana yang telah aku ingkari!." Pangeran Brama Adijaya juga maju ke depan. Ia tidak suka mendengarkan apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa.
"Apakah kau lupa brama adijaya?. Sepuluh tahun yang lalu. Sebelum aku menjadi seorang Patih. Kau dan aku pernah bertarung, dan kau hampir saja tewas!. Jika saja kanda prabu maharaja sura dewa tidak menghentikan aku!." Patih Rangga Dewa mengingatkan kembali pada hari itu. "Untuk menyelamatkan nyawamu yang tidak berguna itu!. Kanda prabu dewata sangara bersujud padaku!. Dan sekarang kau malah mengingkari janji itu!. Kau pikir kau laki-laki hebat, hah?!." Setelah berkata seperti itu, Patih Rangga Dewa langsung menyerang Pangeran Brama Adijaya. Ia benar-benar geram melihat tingkah laku pangeran Brama Adijaya. "Aku sama sekali belum lupa dengan janji itu brama adijaya." Ucapnya dengan perasaan benci.
Sedangkan Suri dan Duri Kosambi juga melompat tinggi untuk melindungi Patih Rangga Dewa dari serangan licik yang dilakukan oleh Sareh Wiyono. Setelah menerima terjangan dari Duri Kosambi dan Suri, Sareh Wiyono menapakkan kakinya. Menatap tidak suka ke arah keduanya, seakan kebencian baru telah lahir di dalam dirinya. Karena kedua anak buah Patih Rangga Dewa berani ikut campur dengan masalahnya. "Berani sekali kalian ikut campur!." Sareh Wiyono sangat benci dengan keduanya.
"Tidak akan aku biarkan kau melukai gusti patih. Dasar kakek tua pecundang!. Bisanya main licik!." Duri kosambi sangat marah, dan tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Sareh Wiyono.
"Kau tidak usah berkata seperti itu padaku!. Menjatuhkan lawan dengan berbagai cara di dunia persilatan itu sah-sah saja. Jadi kau tidak perlu tercengang atau marah-marah padaku." Sareh Wiyono malah tertawa kecil melihat raut wajah Duri Kosambi yang sedang marah. Ia berhasil menghindari semua serangan yang datang padanya, dan itu membuat Suri dan Duri Kosambi semakin panas.
"Sepertinya kakek tua ini harus segera kita tangkap. Aku sangat tidak suka dengan kelakuannya itu. Hanya menyusahkan saja!." Suri bahkan menatap muak ke arah Sareh Wiyono. Ia mengeluarkan pedang kecil yang diberikan Patih Rangga Dewa padanya.
"Baiklah. Aku tidak keberatan sama sekali. Dengan senang hati aku akan melakukannya." Duri Kosambi mengeluarkan celurit panjang. Itu juga hadiah dari Patih Rangga Dewa, ia sangat suka menggunakan senjata itu.
Duri Kosambi dan Suri maju bersamaan. Akan tetapi Suri menggunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga ia melayang terbang ke arah Sareh Wiyono. Tentunya laki-laki tua itu terkejut, mundur beberapa langkah. Sayangnya ia tidak sempat melompat lebih jauh lagi, sehingga ia harus meladani Duri Kosambi yang menyerang dengan Celurit, dan menangkis serangan pedang Suri di udara. Kecepatan, jika ia tidak menyeimbangkan kecepatannya. Bisa jadi salah satu dari musuhnya bisa mengoyak tubuhnya dengan senjata yang ada di tangan mereka.
Sementara itu, Patih Rangga Dewa dengan jurus dasar cakar naga, yang merupakan aliran dasar kekuatan naga biru liar yang ada di dalam tubuhnya. Jurus cakar naga cukup membuat Pangeran Brama Adijaya. Sedangkan Pangeran Brama Adijaya mencoba untuk menangkis serangan itu dengan mengalirkan tenaga dalamnya, menepis semua serangan itu.
"Hyah!. Hyat!." Gerakan cakaran itu bukan hanya sekedar cakaran saja, melainkan kekuatan tenaga dalam yang dilepaskan ke arah musuh, sehingga menimbulkan ledakan yang membuat sekitar tempat itu dikuasai tenaga dalam Patih Rangga Dewa yang mendominasi.
"Hyah!." Pangeran Brama Adijaya melompat ke arah pohon. Tubuhnya sedikit sakit akibat dampak ledakan itu. Ia tidak boleh terlalu lama menerima serangan itu, jika ia tidak mau tenaga dalamnya terkuras habis. "Kurang ajar!. Kau rangga dewa!. Jurus cakar naga yang kau miliki tidak akan membuat aku tumbang!. Sebelum aku berhasil membunuhmu!." Emosi yang ia rasakan semakin bergejolak, dan ia sangat marah karena tidak berhasil melumpuhkan Patih Rangga Dewa. Malah ia merasa kewalahan menghadapi Patih Rangga Dewa.
Patih Rangga terkekeh kecil, ia mengatur tenaga dalamnya. "Kau itu memang bodoh!. Melawan aku saja kau kewalahan. Kau masih saja bodoh!. Kau itu bukan lawan yang sepadan denganku brama adinata bodoh!." Patih Rangga Dewa menertawakan Pangeran Brama Adijaya. Ia tidak melihat perubahan sama sekali yang dialami oleh musuhnya itu.
"Kegh!. Kurang ajar!. Bagaimana caranya aku bisa mengalahkannya?." Pangeran Brama Adijaya melompat turun sambil menyerang Patih Rangga Dewa. Ia benar-benar telah terbakar oleh emosi yang bergejolak. Dengan menggunakan belati serap raga, serta dilambari dengan jurus yang diajarkan Sareh Wiyono, Pangeran Brama Adijaya menyerang Patih Rangga Dewa.
"Kurang ajar!. Aku tidak akan terpengaruh oleh jurus yang sama lagi. Akan aku gunakan jurus pedang roh suci yang telah diajarkan oleh nenek padaku." Patih Rangga Dewa mengeluarkan pedang roh suci. Ia tidak akan membiarkan Pangeran Brama Adijaya memancing kekuatan jahatnya mengalir dalam tenaga dalamnya. "Majulah brama adijaya. Jangan hanya pandai berbicara saja!. Jika kau mampu, kalahkan aku. Keluarkan semua ilmu kanuragan yang kau miliki." Dalam amarah yang hampir saja memuncak, Patih Rangga Dewa malah menantang Pangeran Brama Adijaya.
"Aku akan menerimanya dengan senang hati rangga dewa!. Mari kita bertarung sampai mati!." Pangeran Brama Adijaya juga terlihat bersemangat, dan ia juga sedang terbakar amarah serta emosi yang berlebihan di dalam dirinya.
Pertarungan yang sangat kuat, dan tidak bisa dihentikan begitu saja. Pertarungan yang tidak ada habisnya. Mau sampai kapan mereka akan menyimpan permusuhan seperti itu. Apakah menunggu salah satu dari mereka mati baru mereka akan berhenti bertarung?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...
Di sebuah Desa masih wilayah kerajaan Trisakti Triguna. Jamba dan Cadra Baka saat ini sedang berjalan-jalan sambil melihat desa. Tugas mereka memang menjaga keamanan desa sambil menemukan hal-hal yang mencurigakan.
"Ternyata luas juga wilayah kerajaan trisakti triguna ini ya." Cadra Baka mengamati sekitar. Matanya tertuju pada wanita-wanita yang sedang memilih pakaian yang cocok untuk mereka kenakan.
"Aku tahu itu, jadi kau tidak usah banyak bicara. Aku sudah bosan dengan apa yang kau katakan." Jamba juga sedang mengamati sekitar. Mungkin ia bisa menemukan hiburan untuk menghilangkan rasa bosan yang menghinggapinya saat itu.
"Ayolah jamba. Jangan kaku begitu. Kita sudah cukup lama meronda kadang diberi tugas oleh gusti Patih kemana saja. Sesekali mari kita hibur diri kita. Jika kita terus menerus melakukan tugas tanpa diselingi hiburan, penampilan kita akan cepat tua." Cadra Baka malah menyeringai sambil menatap Jamba. "Seperti kau misalnya." Lanjutnya tanpa rasa takut.
Namun Jamba merasa tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Cadra Baka. "Kau akan aku laporkan pada gusti Patih." Suara Jamba terdengar sangat aneh. Itu karena ia sedang menahan gejolak emosinya. Sementara Cadra Baka menatap takut, seolah-olah tubuh Jamba membesar berkali-kali lipat darinya. Meskipun itu adalah hanya bayangannya saja yang takut pada Jamba yang super menakutkan.
"Berani sekali kau menghina wajahku. Apakah kau sudah bosan hidup, hah?." Jamba memang sangat menyeramkan jika ada yang menyingung wajahnya. Ia akui ia jelek, tapi jangan pernah menghina dirinya hanya karena penampilannya.
Namun pada saat itu mereka mendengarkan suara teriakan maling. Ada beberapa orang yang mengejar orang yang diteriaki maling. "Sepertinya ada yang sedang membutuhkan tenaga kita." Cadra Baka mencoba mengalihkan perhatian Jamba. "Mari kita bantu mereka. Karena memang tugas kita untuk membantu orang-orang yang butuh bantuan. Mari, nanti saja marahnya ya. Mengerti?. Ahaha!." Cadra Baka mencoba untuk menghilangkan perasaan takutnya.
"Setelah ini aku akan mencincang daging mu. Karena kau telah berani menghina diriku. Kali ini kau masih selamat cadra baka." Jamba menatap mata Cadra Baka dengan tatapan yang sangat menusuk. Membuat Cadra Baka merinding takut. Setelah itu Jamba jalan duluan, karena ia tidak akan membiarkan maling itu melarikan diri. Ia tidak akan mengampuni maling yang mengganggu dirinya untuk menghajar Cadra Baka agar tidak lagi menghina wajahnya.
"Ya, terserah kau saja. Jika itu memang membuat kau merasa puas jamba." Dengan perasaan tidak ikhlas, disertai dengan keterpaksaan. Cadra Baka mengikuti Jamba yang juga ikut menangkap maling tersebut.
"Terima kasih karena kalian mau ikut denganku." Patih Rangga Dewa menatap mereka semua. "Aku tahu kalian semua adalah pendekar hebat. Namun sepertinya aku tidak bisa mempekerjakan kalian dihadapan umum. Karena aku takut diantara kalian ada yang tersinggung mengenai penampilan mereka." Pangeran Rangga Dewa mengamati mereka semua.
"Untuk kau duri kosambi. Penampilanmu sangat bagus. Namun yang harus aku waspadai adalah sikapmu yang cepat marah. Aku tidak mau kau cepat terpancing kemarahan oleh siapa saja saat berhadapan dengan penggawa istana." Patih Rangga Dewa tidak bermaksud untuk membedakan mereka semua.
"Hamba mengerti gusti pangeran." Balas Duri Kosambi menerima apa yang dikatakan oleh Pangeran Rangga Dewa.
"Dan kau cadra baka. Kau termasuk laki-laki gagah. Tapi sayangnya kau agak sedikit centil." Pangeran Rangga Dewa berusaha menahan tawanya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Hehehe. Hamba faham gusti pangeran." Cadra Baka malah cengegesan saat dibilang seperti itu oleh Pangeran Rangga Dewa. "Maksud gusti pangeran, jika hamba bekerja di dalam istana, nantinya hamba suka menggoda para emban atau malah menggoda ratu raja." Ia mencoba menebak apa yang akan dikatakan oleh pangeran Rangga Dewa padanya.
"Ya, itu salah satunya." Pangeran Rangga Dewa tidak menyangkal sama sekali. Dan kali ini ia menatap Jamba yang sama sekali tidak bersahabat.
"Hamba pasrah saja mau dimana. Karena gusti pangeran tidak ingin hamba mengamuk lagi, dan akhirnya membunuh siapa saja yang menghina wajah hamba." Tanpa disuruh berbicara Jamba menebak sendiri apa yang akan disampaikan Pangeran Rangga Dewa padanya.
"Betul. Itu sangat betul sekali jamba. Ternyata kau sensitif juga orangnya." Ucap Pangeran Rangga Dewa, membuat mereka semua tertawa cekikikan. "Aku tidak mau kau membunuh semua orang yang ada di istana ini. Tapi kau tenang saja. Jelek itu bukanlah aib, jadi jika kau ingin terlihat tampan. Maka kau harus rajin membersihkan wajahmu dengan obat-obatan yang membantu wajahmu terlihat tampan." Ucap Pangeran Rangga Dewa tersenyum kecil. Namun saat itu tidak menyinggung perasaan Jamba sama sekali. Karena Pangeran Rangga Dewa memberikan saran yang baik. "Tugas kalian bertiga adalah menjadi bayanganku. Karena aku yakin mereka semua sangat tidak suka dengan apa yang aku lakukan." Pangeran Rangga Dewa ingat bagaimana kelakuan mereka semua padanya.
__ADS_1
"Sandika gusti pangeran." Duri Kosambi, Jamba, dan Cadra Baka memberi hormat.
"Sedangkan kalian berempat." Kali ini ia melihat ke arah empat orang wanita yang cantik. Mereka yang memiliki masa lalu yang cukup kejam untuk mereka sebagai seorang wanita. "Rumi, suri, lasmi, dan kau juga rati." Pangeran Rangga Dewa menyebut nama mereka satu persatu.
"Hamba gusti pangeran." Mereka memberi hormat pada Pangeran Rangga Dewa.
"Tugas kalian adalah menjaga pangeran kesayanganku yang masih kecil. Ia selalu saja menjadi incaran banyak orang. Aku ingin kalian yang menjaganya. Aku ingin kalian menjadi dayang yang selau bersamanya. Aku yakin kalian bisa melakukan itu." Pangeran Rangga Dewa menatap mereka. "Dan yang akan menjadi ketuanya adalah kau, rumi." Pangeran Rangga Dewa menunjuk ke arah Rumi. "Dan kalian harus
"Sandika gutsi pangeran." Rumi, Suri, Lasmi, dan Rati memberi hormat.
Itulah tugas mereka selama ini. Kembali ke masa ini.
...***...
Di Kerajaan Betung Emas. Prabu Dewata Sangara sangat khawatir. Ia sudah pasrah dengan keadaan adiknya. Ia tidak tahu bagaimana bisa adiknya itu melanggar janji yang telah dibuat?. Pikirannya sangat kusut karena memikirkan keadaan adiknya yang katanya menyerang Patih Rangga Dewa?.
"Mohon ampun gusti prabu. Sepertinya gusti prabu terlihat sangat gelisah sekali. Apa yang gusti prabu pikirkan?." Patih Surya Jaya dari tadi memperhatikan raut wajah Prabu Dewata Sangara yang terlihat sangat kusut.
"Aku gelisah karena adikku lagi-lagi berulah surya jaya." Jawabnya dengan menghela nafasnya dengan pelan. Begitu berat ia bernafas, hingga lupa bagaimana caranya memperlihatkan senyumannya.
"Memangnya apa yang terjadi pada pangeran Brama adijaya?. Kepada siapa lagi ia berbuat ulah gusti prabu." Patih Surya Jaya bertanya. Ia memang mengetahui bagaimana adik dari Prabu Dewata Sangara.
"Dia telah menyerang dinda patih rangga dewa. Dua hari yang lalu dinda sura dewa yang memberikan aku surat, dan mengatakan jika dinda brama adijaya telah melanggar perjanjian yang telah dibuat sepuluh tahun yang lalu." Jawabnya dengan perasaan semakin gelisah. Ia sangat takut jika adiknya memang telah melakukan kesalahan yang sangat besar pada kerajaan Trisakti Triguna.
"Bisa saja itu hanya akal-akalan gusti prabu maharaja sura fusena hanya untuk membunuh pangeran brama adijaya gusti prabu." Ucap Patih Surya Jaya merasa aneh dengan surat yang dituliskan oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. "Bisa jadi rangga dewa yang mengkhianati perjanjian itu, dan malah menuduh pangeran brama adijaya gusti prabu." Patih Surya Jaya malah memberikan pikiran yang lain pada Prabu Dewata Sangara.
"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi adikku memang orang yang suka melanggar janji." Prabu Dewata Ini terlihat sedang berpikir. Jadi ia tidak yakin jika adiknya yang telah memulai pertarungan itu. Bahkan dulu ia harus bersujud di hadapan Patih Rangga Dewa agar membebaskan adiknya.
"Bisa jadi itu hanya akal-akalan mereka saja gusti prabu. Supaya jika mereka membunuh gusti pangeran, mereka tidak akan merasa kerpotan berhadapan dengan kita. Hanya cukup mengatakan jika pangeran brama sangara yang memulai pertarungan, tapi sebenarnya dia hanya ingin menjebak gusti pangeran untuk melakukan hal yang sama sekali tidak mereka ketahui." Patih Surya Jaya memberikan sugesti pada Prabu Dewata Sangara. Meyakinkan yang terjadi itu adalah rekayasa dari Patih Rangga Dewa.
"Lantas apa yang harus aku lakukan Surya jaya?. Aku telah mengatakan pada dinda sura dewa, untuk menyerahkan masalah ini pada mereka." Ia sangat bingung dan putus asa sehingga ia mengirim surat itu pada Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Itu sungguh sangat disayangkan gusti prabu. Tidak seharusnya gusti prabu pasrah menerima ke hidup. Hamba yakin mereka akan melakukan pesta besar jika berhasil menyingkirkan adik gusti prabu." Patih Surya Jaya terus mempengaruhi pikiran sang prabu. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1