
...***...
Prabu Maharaja Sura Fusena menggunakan jurus belah raga. Karena Patih Rangga Dewa melakukan perlawanan. Sehingga Prabu Maharaja Sura Fusena terpaksa menotok adiknya. Setelah itu ia arahkan pedang penyegar sukma. Pedang yang mampu menyerap hawa negatif dari tubuh seseorang. Tentunya tidak mudah baginya untuk melakukan itu, karena sangat membutuhkan tenaga dalam yang sangat banyak. Naga Biru Liar yang ada di dalam tubuh adiknya sangat tidak mudah untuk ditaklukkan begitu saja.
"Dinda patih. Aku mohon kau jangan banyak melawan." Prabu Maharaja Sura sedikit kesulitan saat mencoba menekan hawa murni jahat dari naga biru liar yang bersemayam di dalam tubuh adiknya. "Ayahanda prabu. Bantu Nanda untuk menyelamatkan dinda patih." Cukup memakan waktu yang lama untuk menyerap semua hawa jahat itu. Karena tidak mudah untuk menekan kekuatan naga biru liar itu. Bahkan ayahandanya Prabu Maharaja Sura Dewa mengalami kesulitan disaat adiknya dirasuki oleh Sukma naga biru liar itu.
"Sungguh kekuatan yang sangat luar biasa. Bahkan lebih kuat dari yang sebelumnya." Duri Kosambi sangat terpukau dengan kekuatan tenaga dalam yang dimilik prabu Maharaja Sura Fusena.
"Jika kau tidak bisa menguasai pedang penyegel Sukma, maka kau akan mati dengan kondisi yang mengenaskan." Suri masih ingat bagaimana Prabu Maharaja Sura Fusena melakukan itu.
"Adik kakak yang memiliki kekuatan yang berbeda. Tapi syukurlah mereka saling mendukung satu sama lain." Rati merasa terharu, dan hampir saja menangis melihat kasih sayang antara dua saudara yang saling melindungi satu sama lain.
"Semoga gusti prabu bisa menyelamatkan gusti patih." Rumi juga sampai menangis melihat Prabu Maharaja Sura Fusena yang sedang berjuang untuk menyelamatkan adiknya Patih Rangga Dewa.
Mereka semua mencemaskan keadaan Prabu Maharaja Sura dan Patih Rangga Dewa. Mereka tidak bisa membayangkan jika keduanya tidak bisa lagi melindungi istana ini. Maka kerajaan ini akan mudah ditaklukkan oleh kerajaan lain yang menginginkan kerajaan besar Trisakti Triguna. Tapi nyatanya masih banyak yang mengincar istana Kerajaan Trisakti Triguna, meskipun mereka sudah berusaha, namun tetap saja tidak bisa.
"Kau bisa lihat sendiri brama adijaya bodoh!. Bukalah matamu dengan lebar." Duri Kosambi menatap benci ke arah Pangeran Brama Adijaya yang juga melihat itu. "Jika kau tidak memiliki kekuatan yang setara dengan gusti prabu maharaja sura fusena. Kau harusnya menyadari jika kau tidak sebanding dengan mereka. Jadi jangan sia-sia kan nyawamu itu." Lanjut Duri Kosambi dengan geramnya. "Setelah ini kau bersiap-siap saja. Karena kau telah dua kali menyinggung adiknya. Berdoa lah pada dewata agung, supaya gusti prabu masih mengampuni mu." Duri Kosambi sepertinya memiliki dendam tersendiri pada pangeran Brama Adijaya, sehingga ia jadi cerewet seperti itu.
"Heh!." Pangeran Brama Adijaya hanya mendengus kesal, dan ia memalingkan wajahnya. Karena ia tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Agak memakan waktu yang lama bagi prabu Maharaja Sura Fusena menenangkan adiknya. Cukup memakan waktu dan tenaga dalamnya.
Brugh.
Patih Rangga Dewa tidak sadarkan diri. Namun tubuhnya sempat disambut Prabu Maharaja Sura agar tidak jatuh ke tanah. "Syukurlah dinda patih." Prabu Maharaja Sura Fusena sangat lega setelah ia berhasil menekan kekuatan adiknya yang sangat ganas. Prabu Maharaja Sura Fusena menggendong adiknya.
"Kau harus segera kembali rangga dewa. Itulah yang kau dapatkan jika kau tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan." Ada perasaan sedih saat melihat keadaan adiknya saat ini. "Kalian!. Bawa dia ke istana. Masukkan dia ke penjara. Jangan lupa kalian hilangkan tenaga dalamnya supaya tidak bisa melawan lagi. Akan aku urus dia setelah memastikan keadaan dinda patih baik-baik saja." Prabu Maharaja Sura Fusena menatap tajam ke arah Pangeran Brama Adijaya. Setelah itu ia berjalan duluan meninggalkan mereka semua.
Sedangkan Duri Kosambi, Rumi, Rati, dan Suri malah tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kebodohan yang dilakukan oleh Pangeran agung dari kerajaan Betung Emas.
"Tamatlah riwayat kau pangeran bodoh!. Kau akan dikuliti hidup-hidup oleh prabu maharaja sura fusena!. HAHAHA!." Suara Duri Kosambi yang paling keras terdengar diantara mereka. Rasa bencinya pada Pangeran Brama Adijaya yang telah membuat Patih Rangga Dewa kehilangan kendalinya.
"Kau akan berakhir menyedihkan pangeran sombong. Kau akan mati dalam keadaan menyedihkan. Kau seharusnya tidak berurusan dengan gusti prabu maharaja sura fusena." Suri menyeringai lebar, senyuman yang sangat mengerikan. Tidak enak untuk dilihat oleh manusia normal.
"Itulah yang akan kau terima jika kau berani bermain-main dengan raja hebat. Kau mencari mati rupanya. Seharusnya kau tidak melanggar perjanjian sepuluh tahun yang lalu pangeran bodoh!. Dan kau rasakan sekarang akibat perbuatan bodoh mu itu!." Rati juga menjadi saksi bagaimana perjanjian yang mereka buat pada hari itu.
"Kau telah salah dalam perhitungan hidupmu. Aku harap gusti prabu mau mengampuni orang tidak berguna seperti kau brama adijaya." Rumi juga menyeringai lebar. "Jika aku jadi prabu maharaja sura fusena, akan aku penggal lehermu. Nyawamu yang tidak berguna itu tidak dibutuhkan sama sekali di dunia ini." Rumi bersiap-siap.
__ADS_1
Setelah itu mereka mengalirkan tenaga dalam mereka ke ujung jari mereka, menakan ke titik-titik bagian tertentu di tubuh Pangeran Brama Adijaya. Mereka benar-benar melakukan sesuai dengan perintah Prabu Maharaja Sura Fusena. Menghilangkan semua kekuatan serta tenaga dalam yang dimiliki oleh Pangeran Brama Adijaya. Sehingga ia tidak dapat lagi bertarung. Pangeran Brama Adijaya hanya berteriak kesakitan, ketika tenaga dalamnya dicabut paksa oleh keempat orang yang tampak berambisi ingin menghabisi Pangeran Brama Adijaya.
"Itulah yang kau dapatkan, karena kau telah berani membuat gusti patih mengeluarkan kekuatan naga biru liar." Kali ini Duri Kosambi menatap tajam ke arah pangeran Brama Adijaya.
"Kau memang mencari mati brama adijaya." Suri menatap benci pada Pangeran Brama Adijaya. "Kau telah membuat prabu maharaja sura fusena marah."
Mereka semua tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Patih Rangga Dewa. Bagi mereka dulu hingga sekarang. Bahkan sebelum mendapatkan pangkat Patih. Rangga Dewa adalah pangeran kesayangan mereka semua. Karena pangeran Rangga Dewa yang telah menyelamatkan hidup mereka dari kubangan kegelapan di masa lalu. Sebagai balasannya, mereka berjanji akan menjadi abdi setia pangeran Rangga Dewa, hingga menduduki tahta sebagai Patih. Mereka masih tetap setia. Bahkan mereka yang sangat mendukung Pangeran Rangga Dewa untuk menduduki tahta itu disaat mereka semua takut akan kekuatan pangeran Rangga Dewa.
...***...
Sementara itu, Prabu Dewata Sangara hampir saja memasuki perbatasan Kerajaan Trisakti Triguna. Ia hanya ingin memastikan adiknya masih baik-baik saja. Ia sangat cemas akan keselamatan adiknya, meskipun ia telah menuliskan kata pasrah pada surat yang ia tuliskan untuk Prabu Maharaja Sura Fusena. Namun karena kata-kata yang diucapkan oleh Patihnya itu, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke istana Kerajaan Trisakti Triguna.
"Aku hanya tidak ingin dibohongi oleh siapa saja. Aku tidak mau dibodohi oleh siapa saja." Dalam hati Prabu Dewata Sangara merasakan kecemasan yang luar biasa. "Dinda brama. Aku harap kau tidak melakukan kesalahan. Aku mohon kau masih mau mendengarkan aku, jika kau masih sayang dengan nyawamu. Aku tidak mau lagi bersujud dihadapan rangga dewa, hanya untuk menyelamatkan nyawamu lagi dinda brama." Suasana hatinya memang telah dipenuhi perasaan yang bercampur aduk. Suasana hatinya sangat keruh memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi ketika ia sampai di istana Kerajaan Trisakti Triguna nantinya.
"Apakah akan terjadi perang antara aku dengan dinda sura fusena nantinya?. Hah!. Rasanya sangat melelahkan sekali. Hanya karena ingin memastikan adikku yang bersalah atau tidak." Hatinya sangat sakit membayangkan jika memang adiknya yang terbukti melakukan kesalahan itu. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu di Istana Kerajaan Trisakti Triguna. Pangeran Birawa Fusena dan juga adiknya saat ini sedang berbicara dengan ibundanya Ratu Ayusari. Keduanya sangat heran dengan sikap ibundanya yang tidak sama sekali menyukai Ratu Dewi Saraswati, juga anaknya Pangeran Arya Fusena.
"Ibunda tidak mau kalian terlalu akrab dengan nanda arya." Hatinya saat ini sedang dipenuhi oleh kebencian yang seakan tak pernah tersampaikan. "Ibunda harap kalian mengerti apa yang ibunda katakan." Lanjutnya lagi.
"Katakan pada kami alasannya ibunda. Katakan pada kami supaya kami mengerti, dan tidak lagi bertanya pada ibunda. Sebab selama ini kami yang justru membenci dinda arya." Pangeran Birawa Fusena juga ingin mengetahui alasan mengapa ibundanya berkata seperti itu.
"Pokoknya kalian harus mendengarkan apa yang ibunda katakan. Jangan membantah, karena ibunda tidak suka kalian bantah. Apakah kalian mengerti dengan apa yang aku katakan pada kalian?." Jawab Ratu Ayusari dengan nada kesalnya. Mengapa anak-anaknya ini suka sekali bertanya jika ia mengeluarkan kata-kata.
Pangeran Birawa Fusena dan Putri Rara Wulan hanya saling bertatapan satu sama lain. Setelah itu mereka menghela nafas dengan pelan. Rasanya percuma saja membantah apa yang telah diucapkan oleh Ratu Ayusari.
"Baiklah ibunda. Kami mengerti dengan apa yang ibunda katakan." Putri Rara Wulan memberi hormat pada ibundanya. Begitu juga dengan Pangeran Birawa Fusena.
"Turuti saja dulu dinda. Jangan buat ibunda marah, bisa gawat jika ibunda marah." Pangeran Birawa Fusena memberi Koda pada adiknya Putri Rara Wulan agar tidak membatah, atau menyanggah ucapan ibundanya.
"Baiklah kanda. Aku mengerti." Putri Rara Wulan mengangguk. Ia sangat faham dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Birawa Fusena.
"Baguslah kalau begitu." Ratu Ayusari sangat senang mendengarnya. Ia hanya tidak ingin anaknya terpengaruhi oleh Ratu Dewi Saraswati ataupun Pangeran Arya Fusena untuk membencinya.
Sementara itu, disisi lain. Pangeran Birawa Fusena dan Putri Rara Wulan hanya tidak ingin membuat Ratu Ayusari marah. Hanya pasrah saja dengan apa yang dikatakan oleh Ratu Ayusari daripada melawan. Bahkan dari dulu ibundanya selalu berkata agar tidak mendekati Ratu Dewi Saraswati ataupun Pangeran Arya Fusena. Mereka sangat heran dengan jalan pikiran ibunda mereka dengan sikap seperti itu. Bukankah mereka itu adalah keluarga?. Tapi kenapa bisa saling membenci satu sama lain?.
__ADS_1
"Kalau begitu kami mau keluar dulu ibunda." Pangeran Birawa Fusena kembali memberi kode pada adiknya. Untuk segera meninggalkan ruangan pribadi ibundanya.
"Memangnya apalagi yang akan kalian lakukan?." Ratu Ayusari merasa curiga dengan apa yang akan dilakukan oleh kedua anaknya.
"Kami mau latihan ibunda. Tadi kami mengatakan pada pelatih kuda untuk menunggu kami. Jadi rasanya tidak enak jika kami terlalu lalu lama meninggalkan orang yang telah menunggu kami. Bukankah itu benar dinda?." Pangeran Birawa Fusena memberikan alasan pada ibundanya agar tidak curiga, meskipun tawanya agak mencurigakan.
"Benar sekali ibunda. Kasihan pelatih kami yang kami suruh menunggu. Nanti kami malah dicap anak raja yang tidak menepati janjinya. Nama baik ibunda juga dipertaruhkan. Apakah ibunda mau itu terjadi?." Putri Rara juga pandai mencari alasan untuk kabur dari ibundanya.
Ratu Ayusari mengenal nafasnya dengan pelan. "Baiklah kalau begitu. Tapi ingat apa yang ibunda katakan tadi." Ratu Ayusari ingin kedua anaknya melanggar apa yang telah ia katakan tadi.
"Kami pamit dulu ibunda. Sampurasun." Putri Rara Wulan dan Pangeran Birawa Fusena memberi hormat pada ibundanya. Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat.
"Aku hanya tidak ingin kalian mendekati mereka. Mereka itu memiliki akal yang sangat licik. Aku hanya tidak mau kalian menjadi penjilat seperti saraswati. Aku sangat benci pada wanita ular itu." Dalam hatinya merasa benci sejak Prabu Maharaja Sura Fusena membawa Ratu Dewi Saraswati dan memperkenalkannya sebagai istri kedua. Ia tidak akan pernah rela, dan tidak akan sudi. Apalagi selir yang lainnya, ia sama sekali tidak menganggap mereka semua.
...***...
Sementara itu, Pangeran Arya Fusena saat ini sedang bersama dengan Ratu Dewi Saraswati. Ia selalu betah bersama ibundanya, yang kini berada di pendopo istana. Keduanya kadang saling bercerita satu sama lain. Kedekatan anak dan ibu yang membuat iri penghuni istana. Bagaimana sikap manja yang ditunjukkan pangeran kesayangan mereka semua pada Ratu Dewi Saraswati.
"Ibunda. Apakah hari ini ibunda akan merangkai syair lagi untuk nanda?." Pangeran Arya Fusena baru mengetahui jika ibundanya memiliki kepandaian dalam merangkai kata yang indah. Saat ini ia tiduran dipangkuan ibundanya, begitu saking manjanya ia pada ibundanya. Apalagi karena keempat dayang yang selalu bersamanya sedang ditugaskan oleh ayahandanya menjemput Patih Rangga Dewa, jadi ia tidak melakukan kegiatan apapun. Dan kesempatan ini ia gunakan untuk bermanja-manja dengan ibunda tercintanya.
"Nanda bisa melakukannya, jika nanda mau belajar." Ratu Dewi Saraswati mengusap sayang kepala anaknya. Menatap sayang anaknya.
"Kalau begitu nanda mau belajar dari ibunda. Mumpung mereka tidak ada di sini." Ucapnya dengan nada cerita.
"Baiklah. Ibunda akan mengajari nanda. Tapi nanda harus janji pada ibunda akan belajar dengan serius." Ratu Dewi Saraswati sangat senang melihat semangat yang ditujukkan oleh putranya.
"Tentu saja nanda akan belajar dengan serius ibunda." Pangeran Arya Fusena bangkit, dan duduk di samping ibunda. "Bagaimana caranya ibunda?. Nanda mau belajar sekarang juga." Pangeran Arya Fusena semakin semangat membara.
Ratu Dewi Saraswati tertawa kecil melihat semangat anaknya. "Baiklah. Kalau begitu yang perlu nanda perhatikan adalah, untuk merangkai kata-kata itu sebenarnya sangat mudah." Ratu Dewi Saraswati mulai menjelaskan pada anaknya. "Pertama itu tergantung suasana hati. Kata-kata akan keluar saat menggambarkan suasana hati saat itu. Seperti bahagia?. Maka syair yang ia ungkapkan juga kebahagiaan. Jika sedih, maka isi dari syair yang ia ungkapkan juga tentang kesedihan." Lanjutnya sambil menjelaskan pada anaknya agar mudah dimengerti anaknya.
"Oh, suasana hati ya." Pangeran Arya Fusena menangkap sedikit apa yang dijelaskan oleh ibundanya. "Tapi tetap saja agak terasa sulit ibunda." Ia menatap ke arah ibundanya dengan harapan ibundanya akan menjelaskan kembali tentang syair.
"Syair, adalah rangakaian kalimat indah. Kalimat yang menggambarkan bagaimana suasana hati seseorang saat ia menulisnya. Entah itu sedang bahagia, sedang sedih, sedang gelisah, atau bahkan sedang termenung sekalipun." Ratu Dewi Saraswati mengerti jika anaknya belum faham. "Misalnya suana hati yang bahagia itu." Ratu Dewi Saraswati mencoba membayangkan dirinya sedang bahagia. "Awan putih, menatap aku dengan senyuman. Seakan ia berkata padaku. Wahai anak yang baik, apakah kau saat ini bisa mendengarkan nada kebahagiaan yang tertiup angin sepoi-sepoi?. Apakah kau bisa merasakan bagaimana nanda bahagia yang aku kirimkan melalui udara agar kau senantiasa bernafas dengan kesejukan alam yang mencintai dirimu?. Aku sangat bahagia saat kau dapat merasakannya. Pesan cinta awan putih untuk insan yang dicintainya." Itulah syair yang dibacakan oleh Ratu Dewi Saraswati.
Pangeran Arya Fusena terkesan dengan syair yang dibacakan oleh ibundanya. Hingga tanpa sadar ia malah tepuk tangan. Akan tetapi disisi lain, Pangeran Birawa Fusena dan Putri Rara Wulan juga tidak sengaja mendengarnya. Mereka juga tepuk tangan sebagai ungkapan ekspresi kekaguman dari mereka semua.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...