
...***...
Saat ini Pangeran Arya Fusena sedang berbincang-bincang dengan Kakaknya Pangeran Birawa Fusena. Ia juga heran, mengapa kakaknya ini tiba-tiba saja mau berbicara dengannya?. Sementara itu, Patih Rangga Dewa dan Putri Rara Wulan sedang menguping pembicaraan mereka dari tempat yang aman. Karena mereka juga penasaran, apa yang akan disampaikan oleh Pangeran Birawa Fusena. Mereka tidak bisa mendekat, karena diusir, dan tidak boleh ikut campur dalam pembicaraan mereka.
"Ada apa kanda?. Apakah ada hal penting yang ingin kanda sampaikan padaku?."
"Menurutku ini sangat penting dinda. Karena sikapku yang selama ini sangat tidak baik padamu."
"Memangnya kanda mengapa tiba-tiba membahas masalah ini?. Ada apa sebenarnya kanda?."
"Aku hanya tidak ingin terkena penyakit hati. Paman Patih mengatakan jika penyakit hati sangatlah tidak baik."
"Penyakit hati?." Pangeran Arya Fusena sedikit bingung dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Sedangkan Putri Rara Wulan menatap aneh ke arah Patih Rangga Dewa. Sementara itu orang yang ditatap juga bingung, apakah Pangeran Birawa Fusena telah berubah?.
"Paman hanya tidak ingin nanda pangeran birawa bermusuhan terus dengan nanda arya. Jadi paman mengatakan tentang penyakit hati padanya." Bisik Patih Rangga Dewa. Agar hanya Putri Rara saja yang mendengarkan apa yang ia katakan.
"Oooh jadi begitu." Putri Rara Wulan mencoba untuk mengerti apa yang dikatakan pamannya tentang penyakit hati. Mungkin ia akan bertanya lebih lanjut lagi ke pamannya jika ia sudah mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Kembali pada Pangeran Arya Fusena yang masih penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Birawa Fusena.
"Memangnya apa yang paman Patih katakan pada kanda, tentang penyakit hati?."
"Paman Patih mengatakan, jika seseorang melihat iri atau dengki pada orang lain, serta merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki orang lain. Kita merasa sakit hati, sehingga membenci orang tersebut. Itu namanya penyakit hati dinda. Itulah yang dikatakan oleh paman Patih padaku."
"Ooo jadi paman Patih berkata seperti itu pada kanda?."
"Karena itulah aku tidak mau memiliki penyakit hati seperti itu dinda. Aku tidak mau hatiku jadi hitam, hanya karena perasaan ku yang seperti itu."
"Lalu apa yang akan kanda lakukan?."
"Aku hanya ingin minta maaf padamu dinda arya. Aku merasa bersalah, karena telah bersikap jahat padamu. Telah iri dan dengki padamu. Aku tidak mau memiliki penyakit hati seperti itu. Aku tidak mau menjadi orang dengan hati yang hitam. Apa kata ayahanda jika mengetahuinya."
__ADS_1
Pangeran Arya Fusena, Patih Rangga Dewa dan Putri Rara Wulan hampir saja tertawa tersembur, jika tidak melihat situasi yang serius dari Pangeran Birawa Fusena. Kata-kata penyesalannya hampir saja membuat mereka semua tertawa. Tapi mereka berusaha untuk menahan tawa itu, agar tidak menyinggung perasaan Pangeran Birawa yang sedang berusaha untuk bersikap lebih baik. Jadi mereka sebisa mungkin menahan diri, agar tidak membuat Pangeran Birawa Fusena jadi benci.
"Tentu saja kanda. Kita ini adalah saudara. Dan aku juga tidak mau terkena penyakit hati. Sepertinya itu sangat berbahaya kanda."
"Terima kasih dinda. Terima kasih karena kau mau memaafkan apa yang telah aku lakukan padamu."
"Aku juga minta maaf, jika aku telah membuat kanda marah-marah selama ini."
"Kita saling memaafkan."
"Ya. Kanda benar."
Pangeran Arya Fusena sangat senang, karena kakaknya Pangeran Birawa Fusena telah meminta maaf padanya. Ia tidak menyangka jika kakaknya ini akan bersikap baik padanya?. Patih Rangga Dewa dan Putri Rara Wulan sangat senang mendengarnya. Mereka juga tidak menyangka, jika Pangeran Birawa Fusena akan meminta maaf pada adiknya?. Sepertinya kabar baik sedang menyelimuti suasana hati mereka saat ini. Apakah Pangeran Birawa bersungguh-sungguh meminta maaf pada adiknya?. Atau hanya sandiwara saja?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu Sang Prabu sedang bersedih hati, karena selirnya mengatakan hal yang sama sekali tidak ia duga. Selirnya mengatakan jika ia sedang mengandung anak dari Senopati Yudhasoka?. Apakah tidak ada ucapan lain yang bisa mengobati hatinya yang masih terluka karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Selir Triwulan Prayatma padanya?.
"Sebaiknya dinda kembali ke kamar dinda. Kanda tidak ingin berkata banyak, atau melihat air mata dinda saat ini. Kanda ingin menenangkan diri. Kanda tidak ingin melakukan hal gila, hanya karena apa yang dinda ucapkan."
"Tapi kanda prabu-."
"Kali ini dengarkan apa yang aku katakan!. Atau aku akan marah dan menghukum dinda. Aku tidak ingin bersikap kalap padamu dinda."
"Baiklah kanda prabu. Dinda pamit. Sampurasun."
"Rampes."
Perasaannya sangat kacau, dan hatinya bergemuruh sakit. Sejauh mana hubungan mereka hingga sampai mengandung?. "Oh dewata yang agung. Berikan lah aku kesabaran untuk menghadapi semua ini." Kepalanya berdenyut sakit setelah apa yang ia dengar?. Siapa yang tidak pusing mendengarkan kabar seperti itu?. Saat itu Ratu Dewi Saraswati masuk ke dalam, karena ia khawatir.
__ADS_1
"Maaf kanda prabu. Apakah dinda boleh masuk?."
"Silahkan dinda. Masuklah."
Ratu Dewi Saraswati duduk bersimpuh dihadapan suaminya, tak lupa senyuman manis, meskipun matanya menatap kegelisahan yang dimiliki oleh suaminya Prabu Maharaja Sura Fusena. "Sepertinya kanda prabu memiliki banyak masalah. Semoga saja dinda dapat mengurangi beban yang kanda prabu rasakan." Ucapnya dengan lembut, sambil menepuk pelan pahanya, agar suaminya bisa bersandar di sana.
Entah kekuatan apa yang menariknya, sehingga sang Prabu menurut, dan membaringkan kepalanya di pangkuan istri keduanya. Ia menatap manik hitam itu dengan lekat, dan mencoba untuk tersenyum walaupun pahit. "Kanda prabu boleh membagikan rasa sakit yang kanda prabu rasakan. Jika kanda memendamnya seorang diri, dinda takut terjadi sesuatu pada kanda prabu nantinya." Tangannya mengusap pelan kepala suaminya dengan sayang, dan tak lupa kecupan singkat di kening suaminya. Sehingga sang Prabu merasakan kenyamanan dari istrinya.
"Kanda hanya menginginkan semangat dari dinda dewi. Karena kanda telah dikecewakan dinda triwulan."
"Karena ia terbukti telah bermain api dengan senopati yudhasoka?."
"Bukan hanya itu saja dinda. Bahkan ia saat ini sedang mengandung anak dari senopati yudhasoka."
Ratu Dewi Saraswati menghela pelan nafasnya. Pantas saja raut wajah suaminya begitu sangat sedih. "Apakah kanda prabu telah memastikannya sendiri?. Apakah kanda prabu menyelidikinya?. Bahwa ia sedang mengandung anak dari senopati yudhasoka?."
"Kanda hanya menyelidiki masalah hubungan kedekatan mereka yang tidak wajar. Namun siapa sangka, ia mengakui bahwa ia memang sedang hamil. Hati kanda sangat marah dinda." Rasa sesak itu terasa begitu dalam, sehingga ia sulit untuk bernafas. "Kanda tidak terima dengan apa yang telah ia perbuat, dan ia mengatakan jika menginginkan yang muda. Apakah kanda sudah terlihat tua di matanya?."
Kembali Ratu Dewi Saraswati mencium kening suaminya meskipun singkat. Dan ia mencoba untuk menjernihkan pikirannya, juga pikiran suaminya. "Kanda tetap lah seperti yang dulu. Tua atau muda, kanda prabu tetaplah gusti prabu maharaja sura fusena. Kesatria yang dengan berani melamar seorang anak putri raja yang dalam keadaan perang. Kanda adalah kesatria kebanggaan dinda."
Prabu Maharaja Sura Fusena memejamkan matanya, mencoba menyerap setiap kata yang diungkapkan istrinya. Ia mengingat bagaimana ketika ia melamar Ratu Dewi Saraswati dalam keadaan yang memanas. "Lalu apa yang harus kanda lakukan dinda?. Apakah kanda adalah lelaki lemah yang tidak bisa memutuskan sebuah masalah?. Sehingga salah satu istrinya berani bermain api di belakangnya?. Kanda tidak mengerti sama sekali mengapa mereka berani melakukan itu."
"Kanda jangan berkata seperti itu. Tanyakan pada diri kanda prabu. Ini adalah masalah hati. Jadi kanda yang harus putuskan. Jangan ada yang kecewa dengan keputusan yang kanda buat. Kanda harus tegas, dan jangan sampai terpengaruh dengan apa yang dinda katakan. Semua keputusan kanda, nanti akan dijalani oleh kanda sendiri, juga orang yang akan menerima keputusan dari kanda. Jangan sampai kanda prabu menyesali apa yang telah kanda prabu putuskan." Senyuman itu, senyuman yang sangat tulus. Hingga dapat meluluh lantakkan hatinya yang sedang bersedih saat ini. Meskipun menangis tanpa suara, namun air matanya mengalir menetes di sudut matanya.
"Terima kasih dinda dewi. Karena dinda dewi selalu berkata hal yang membuat kanda mampu memutuskan sesuatu dengan baik."
"Itu semua demi kebahagiaan kanda. Dinda akan melakukannya. Tanpa harus menjatuhkan yang lainnya. Manusia ini sebenarnya egois kanda. Dan kadang bermuka dua. Semoga saja dinda tidak mengecewakan kanda prabu dalam memberikan saran pada kanda prabu." Lagi, ia mencium kening suaminya meskipun singkat.
Namun kecupan singkat itu, dapat dirasakan oleh Sang Prabu. Betapa sayangnya Ratu Dewi Saraswati padanya. Dalam keadaan apapun, istri keduanya ini selalu ada untuknya.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bisakah sang Prabu memutuskan apa yang sedang terjadi?. Temukan jawabannya di halaman berikutnya. Jangan lupa komentarnya ya pembaca tercinta.
...***...