
...***...
Saat ini Pangeran Rangga Dewa sedang berhadapan dengan Pangeran Brama Adijaya yang terus berusaha untuk memancing kemarahan Pangeran Rangga Dewa.
"Kau itu tidak berguna sama sekali rangga dewa!." Dengan menggunakan belati serap jiwa itu. Ia terus menarik hawa naga biru liar. Hingga keluar semua hawa kemarahan yang luar biasa dari Pangeran Rangga Dewa.
Namun saat itu.
Kembali ke masa ini.
Duakh!.
Patih Rangga menjitak kepala Jamba dengan kuat. Sehingga ia tidak dapat melanjutkan ceritanya.
"Kenapa gusti Patih malah memukul kepala hamba?. Apa salah hamba?." Dengan wajah datar ia melihat ke arah Patih Rangga Dewa yang duduk di hadapannya saat ini. Mereka semua saat ini sedang berada di bilik Patih Rangga Dewa. Karena mereka akan menyusun rencana untuk besok.
"Kau terlalu lama bercerita. Aku bosan mendengarnya." Dengan nada cueknya ia berkata seakan ia memang bosan. Sedang Duri Kosambi dan Cadra Baka berusaha untuk menahan tawa mereka.
"Jangankan aku, gusti Patih saja bosan mendengarnya." Dalam hati Cadra Baka menertawakan Jamba. Meskipun sikap Jamba yang super kaku, namun ia suka bercerita tentang apa yang terjadi dimasa lalu. Hanya saja jika ia yang bercerita, durasinya sangat lama sekali. Sehingga mereka merasa bosan mendengarkannya.
"Baiklah. Karena keadaan ku sudah baikan. Juga masalah dengan pangeran bodoh itu sudah selesai. Maka kita akan menyelesaikan masalah yang sempat tertunda." Patih Rangga Dewa memulai rapat kecil yang ia adakan dengan orang-orang kepercayaannya. "Aku ingin besok kita memanggil semua penggawa istana yang tidak mau membela istana ini ketika dikuasai oleh orang-orang jahat." Sorot matanya menjadi lebih tajam dari yang sebelumnya. Dan kini ia telah membuat keputusan. "Aku ingin kalian membantu aku untuk menangani mereka semua."
"Sandika gusti patih." Mereka semua mengerti apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa, dan mereka tidak akan mengecewakan Patih Rangga Dewa.
"Lalu bagaimana dengan lanjutan cerita gusti Patih yang bertarung dengan pangeran brama adijaya?. Hamba juga ingin jadi sorotan gusti Patih." Sepertinya Jamba masih belum puas dal bercerita.
__ADS_1
"Sudah lah jamba. Lain kali saja, jika kau tidak dalam tugas yang aku berikan. Dan aku ingin istirahat setelah ini." Balas Patih Rangga Dewa. "Mungkin mereka berdua mau mendengarkan lanjutan dari cerita mu." Patih Rangga Dewa menunjuk ke arah Duri Kosambi dan Cadra Baka.
"Maaf gusti prabu. Hamba mau melakukan persiapan untuk besok. Jadi hamba tidak bisa mendengarkan lanjutan ceritanya. Hamba panit dulu. Sampurasun." Duri Kosambi segera menyingkir dari sana setelah memberi hormat pada Patih Rangga Dewa.
"Hamba mau melakukan sesuatu. Jadi maafkan hamba. Karena hamba tidak bisa mendengarkan lanjutan ceritanya. Hamba juga pamit gusti patih. Sampurasun." Cadra Baka juga meninggalkan tempat setelah memberi hormat pada Patih Rangga Dewa.
"Rampes." Balas Patih Rangga Dewa. Ia hanya menatap kepergian Duri Kosambi dan Cadra Baka yang sengaja menolak mendengarkan cerita Jamba mengenai perjanjian yang dibuat sepuluh tahun yang lalu.
"Maaf jamba. Aku ada urusan penting dengan kanda prabu. Jika kau masih mau melanjutkan cerita mu silahkan saja. Karena aku yang mengalaminya, jadi aku telah mengetahui jalan ceritanya bagaimana. Jadi kau tidak perlu lagi menderita padaku." Dengan perasaan bersalah, ia meminta maaf pada Jamba. Setelah itu ia meninggalkan tempat.
"Kenapa setiap aku mau bercerita, mereka selalu saja meninggalkan aku disaat ceritanya mau masuk puncak yang bagus." Rasanya Jamba ingin menangis karena mereka semua. "Apakah mereka tidak penasaran apa dengan lanjutannya?. Masa aku dibiarkan bercerita sendiri seperti orang gila?. Huh!. Mereka semua sangat jahat sekali padaku." Rasanya sangat sedih, dan akhirnya ia bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan bilik Patih Rangga Dewa. Karena ia tidak mau dianggap gila oleh mereka semua karena telah berbicara sendirian.
...***...
Ada beberapa petinggi istana lainnya seperti Senopati, dan bhayangkari yang sedang berunding. Mereka semua yakin, cepat atau lambat Patih Rangga Dewa pasti akan mencari mereka semua untuk menanyakan perihal masalah yang terjadi.
"Apa yang harus kita lakukan?. Tidak mungkin rangga dewa akan diam saja karena kita tidak mau membantunya untuk melawan Pendekar jahat yang menguasai istana waktu itu."
"Ya, kau benar. Aku yakin saat ini ia sedang memikirkan cara menyeret kita semua dan memberikan hukuman pada kita semua."
"Apakah kita perlu meninggalkan kerajaan ini dan mencari wilayah lain yang mau menerima kita?."
"Aku sangat takut sekali dengan sikap brutal rangga dewa jika dia marah. Kita semua telah mengetahuinya dengan baik bagaimana jika ia marah."
Sepertinya mereka semua sangat takut dengan apa yang akan terjadi. Patih Rangga Dewa tidak akan tinggal diam karena tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu Patih Rangga Dewa dan juga Prabu Maharaja Sura Fusena.
__ADS_1
"Surat panggilan telah sampai ke tangan ku, dan itu surat dari gusti prabu yang memerintahkan aku untuk datang ke istana besok siang."
"Aku juga mendapatkan surat panggilan dari gusti prabu. Rasanya sangat menyeramkan sekali karena mereka memanggilku dengan surat."
"Ya, mereka sepertinya ingin menghukum kita semua karena kita sebagai abdi kerajaan tidak membantu sama sekali."
"Tapi kalau kita tidak pergi besok, aku yakin kita semua akan diseret paksa oleh rangga dewa. Dan aku tidak mau dipermalukan oleh rangga dewa seperti yang dilakukan mereka waktu itu."
Mereka semua memiliki ketakutan tersendiri. Mereka sepertinya ingin lari dari tanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan?. Apakah mereka akan selamat dari amukan Patih Rangga Dewa dan prabu Maharaja Sura Fusena?. Temukan jawabannya.
...***...
Sedangkan Prabu Maharaja Sura Fusena saat ini sedang berunding dengan adiknya yang sudah sehat.
"Aku telah menyebarkan himbauan pada mereka semua bahwa mereka harus datang ke sidang besok siang. Aku ingin melihat siapa yang mau setia, atau memilih hukuman mati." Prabu Maharaja Sura Fusena terlihat sangat geram setelah apa yang dilakukan oleh mereka semua.
"Jika mereka masih saja mau membangkang dengan apa yang terjadi, tidak mau datang. Maka aku yang akan menyeret mereka semua dengan paksa kanda prabu." Patih Rangga Dewa terlihat sangat kesal. Amarahnya membuncah saat ia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rati pada saat itu.
"Aku sudah muak dengan mereka semua dinda Patih. Mari kita tangkap mereka semua dan mereka semua harus mengetahui, jika selama ini aku sangat marah dengan kelalaian yang telah mereka lakukan." Prabu Maharaja Sura Fusena menggenggam kuat kepalan tangannya. Ingin rasanya ia melumatkan mereka semua tanpa sisa.
"Tentu saja kanda prabu." Dengan senang hati Patih Rangga Dewa akan melakukan semua itu.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1