
...***...
Perlahan-lahan ia membuka matanya, karena ia merasakan kesadarannya kembali. Meskipun kepalanya masih terasa sakit, namun ia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Saat itu matanya menangkap sosok seorang wanita tua masuk ke bilik itu, sambil membawakan minuman serta makanan.
"Syukurlah kau sudah bangun rangga dewa." Wanita itu tersenyum manis karena matanya menangkap sosok yang sangat ia rindukan.
"Terima kasih karena guru telah menyelamatkan saya. Maaf jika saya selalu datang pada saat terluka." Ia menerima secangkir air obat yang dapat menyembuhkan tenaga dalamnya. Setelah itu ia meminum obat itu, meskipun raut wajahnya agak berubah karena rasa pahit yang menyerang lidahnya.
"Kau ini bicara apa rangga dewa. Tentunya kau boleh datang kapan saja ke tempat ini." Ia menyodorkan air putih untuk menghilangkan rasa pahit yang dirasakan oleh Patih Rangga Dewa. "Kau itu tetaplah cucu kesayanganku. Cucu yang selalu aku banggakan dari dulu." Ia mencium puncak kepala Patih Rangga Dewa dengan sayang. "Kau tidak usah bersikap kaku padaku rangga dewa." Ada perasaan iba menyelimuti dirinya saat ini. "Aku sangat merindukanmu rangga dewa pangeran kesayangan ku." Nyai Lara Janti mengungkapkan kerinduan yang ia rasakan.
"Nenek." Patih Rangga Dewa memeluk pinggang Nyai Lara Janti yang ternyata adalah nenek dari Patih Rangga Dewa. Alasannya ia memanggilnya dengan sebutan guru karena dari kecil, Nyai Lara Janti yang mengajari Patih Rangga Dewa belajar ilmu kanuragan, hingga sampai sekarang ia dewasa. Bagi Patih Rangga Dewa, Nyai Lara Janti adalah wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya. Tempat ia mengadu keluh kesahnya semenjak ibundanya Lara Baraspati meninggal, hanya wanita itu yang peduli padanya.
"Kau tenang saja. Aku telah menggunakan tenaga dalam ku untuk membantumu menekan kekuatan jahat itu." Nyai Lara Janti melepaskan pelukannya. "Aku juga telah meningkatkan kekuatan segel gaib untuk memperkuat pedang roh suci. Jadi kau akan aman menggunakan pedang roh suci." Nyai Lara Janti mengusap sayang kepala Patih Rangga Dewa.
"Terima kasih banyak nenek. Nenek semakin cantik saja. Dan terlihat sangat muda." Matanya tidak pernah salah melihat penampilan neneknya yang kadang menipu.
"Ahaha. Kau jangan berkata seperti itu rangga dewa. Aku hanya mencoba beberapa ramuan awet muda yang aku pelajari dari orang-orang kitai nagari." Nyai Lara Janti malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Patih Rangga Dewa.
"Luar biasa seperti biasanya." Patih Rangga Dewa merasa kagum. Neneknya itu memang sangat pintar luar biasa. Sehingga banyak yang ingin belajar pada neneknya, tapi beliau malah menolaknya. Baginya ilmu kanuragan yang ia miliki hanya boleh dipelajari oleh Patih Rangga Dewa saja. Bahkan ia tidak menurunkan ilmu kanuragan yang ia miliki pada anaknya Prabu Maharaja Sura Dewa, atupun pada Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Sudahlah rangga dewa. Kau tidak usah banyak memujiku. Makan saja nasi ini supaya tenaga dalammu segera sembuh. Memuji ku tidak akan mengembalikan tenaga dalammu." Dengan malu-malu ia berkata seperti itu. Ia sodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk yang ia buat khusus untuk cucu kesayangannya itu.
"Wah, terlihat sangat enak. Terima kasih banyak ya nek." Patih Rangga Dewa dengan senang hati menerima piring yang berisi nasi. "Kebetulan aku sangat lapar sekali. Nenek tahu saja jika aku belum makan." Dengan senang hati Patih Rangga Dewa menyantap lauk dan nasi yang dimasak oleh Nyai Lara Janti.
"Hahaha!. Kalau begitu habiskan saja. Jika kau masih mau, aku telah masak banyak hari ini." Nyai Lara Janti tertawa geli, ia sangat mengetahui, dan masih hafal dengan makanan kesukaan Patih Rangga Dewa.
"Terima kasih nenek. Nenek memang terbaik." Patih Rangga Dewa mengacungkan jempolnya ke arah Nyai Lara Janti, sehingga menimbulkan gelak tawa baginya.Kasih sayang yang diberikan Nyai Lara Janti selalu tulus ia berikan Patih Rangga Dewa. Ia tidak akan mengajarkan Patih Rangga Dewa terluka. Karena itulah ia mempelajari ilmu pengobatan, supaya ia bisa mengobati cucu kesayangannya itu.
...***...
Sementara itu di kerajaan Betung Emas. Duri Kosambi telah mengantarkan surat yang diperintahkan Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Hormat hamba gusti prabu." Duri Kosambi menyerahkan surat yang ditulis oleh Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Untuk apa raja besar kerajaan trisakti triguna mengirim surat padaku." Prabu Dewata Sangara membuka surat itu dengan pelan, setelah itu ia membacanya.
"Salam hormat untuk prabu dewata sangara. Semoga gusti prabu dan keluarga dalam keadaan sehat, serta dilindungi sang hyang widhi. Namun dalam surat ini, ada hal yang tidak ingin saya ungkit, namun saya ingin gusti prabu mengetahui. Bahwa adik gusti prabu pangeran brama adijaya telah melanggar janji yang telah kita sepakati, dan dia telah menyerang adik saya dinda patih rangga dewa. Saya akan melakukan apapun atas kesalahan yang telah ia perbuat. Jadi jangan salahkan saya, jika terjadi sesuatu pada adik gusti prabu. Karena ia telah melanggar aturan yang telah kita buat bersama. Semoga gusti prabu lebih bijak lagi dalam mengawasi adiknya. Salam hormat dari maharaja sura fusena."
__ADS_1
Itulah surat yang ia baca. Surat yang ditulis oleh Prabu Maharaja Sura Fusena. Ia menghela nafasnya dengan pelan, dan tidak menyangka akan dikirim surat dalam keadaan seperti ini?.
"Aku akan mengirim surat balasan dari raja mu. Aku harap kau menunggu barang waktu sejenak." Ada rasa kekecewaan yang biasa ia rasakan pada saat itu. Ia tidak menyangka jika adiknya akan melanggar perjanjian itu.
"Sandika gusti prabu." Duri Kosambi menunggu bagaimana keputusan dari Prabu Dewata Sangara. Duri Kosambi tentunya akan menunggu surat balasan dari Prabu Dewata Sangara.
...***...
Karena merasa bosan Putri Rara Wulan, Pangeran Arya Fusena dan Pangeran Birawa Fusena berlatih di halaman belakang istana. Mereka sama-sama mengasah kemampuan ilmu kanuragan yang mereka miliki.
Sedangkan Rumi, Suri, Lasmi, dan Rati memperhatikan mereka. Karena sudah menjadi tugas mereka untuk menjaga keselamatan anak-anak Raja, terutama pada pangeran kesayangan mereka. Pangeran Arya Fusena yang dari kecil telah menjadi idaman banyak orang.
"Luar biasa sekali ya. Sangat kompak dan menggemaskan." Rati merasa kagum.
"Nanti aku minta izin pada gusti Patih, jika aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai. Dan aku akan meminta pada dewata agung, untuk memiliki anak seperti gusti pangeran arya." Lasmi malah berkhayal jika memiliki anak nantinya. Membuat ketiga temannya tertawa cekikikan.
"Ekhm." Ada seseorang dari samping mereka. Dan ternyata itu adalah Prabu Maharaja Sura Fusena. Mereka langsung memberi hormat pada Raja mereka.
"Hormat kami gusti prabu."
"Saat ini dinda patih berada di lereng bukit naga. Aku harap kalian terus mengawasi anak-anakku."
"Mohon ampun gusti prabu. Maaf jika hamba lancang bertanya. Apa yang membuat gusti patih berada di sana gusti prabu?. Apakah salah satu dari kami perlu ke sana?." Rumi sebagai ketua dari mereka mewakili pertanyaan teman-temannya.
"Tidak. Aku yang akan ke sana. Aku akan menemui adikku ke sana besok." Jawab sang prabu. "Aku hanya ingin kalian mengawasi, serta menjaga istana ini. Jangan sampai ada para pemberontak yang masuk. Apalagi petinggi istana yang masih belum mau datang setelah aku memberikan surat panggilan pada mereka." Lanjutnya.
"Mohon ampun gusti prabu. Untuk memastikan keadaan gusti patih, hamba rasa suri bisa melakukannya. Akan berbahaya jika mereka mengetahui jika gusti prabu atau gusti Patih tidak ada di istana. Bisa jadi mereka akan semakin berani untuk menginjak istana ini, karena gusti prabu ataupun gusti Patih tidak ada di Istana." Rumi kembali mengeluarkan pendapatnya.
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba rasa itu lebih baik. Apalagi mengingat mereka yang sama sekali tidak mau patuh setelah kejahatan mereka terbongkar oleh gusti Patih. Hamba yakin mereka masih dendam gusti prabu." Rati sendiri dapat merasakan bagaimana sikap mereka.
Prabu Maharaja Sura Fusena terlihat sedang berpikir dengan apa yang dikatakan oleh mereka.
"Percayakan semuanya pada kami gusti prabu. Kami hanya tidak ingin gusti prabu semakin mendapatkan masalah, hanya karena para penggawa istana yang seperti itu sikapnya." Lasmi dan Suri juga bersuara.
"Baiklah. Aku percaya kan semuanya pada kalian. Aku harap kalian bisa aku andalkan." Prabu Maharaja Sura Fusena akhirnya menyerahkan masalah adiknya pada mereka.
"Sandika gusti prabu." Mereka telah bersumpah setia akan tetap membela keluarga Prabu Maharaja Sura Fusena. Karena itulah mereka akan melakukan apapun untuk keselamatan mereka. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...
nb jangan baca
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.
__ADS_1
hss ka d Eka dia wks r row kwbe kebei sijw iwjw wkwh wkshw kwbe ia sjww kahss usushs. uwiwhshs. eisue add. sis sueuw wjwhwbsuwh usus sis sjs sus soshd eks disv eisvsus usge euebsbjshs sjshsve sjshsgehus shsueve whhwbwbs shwhs eheheveuseyeue. euueuehe uehehegshs heheue.hwhshs hsheh hsushs. hsush w.