
...***...
Patih Rangga Dewa memainkan jurus andalannya. Namun kali ini agak berbeda, karena keris arwah naga merah miliknya dibubuhi racun berbahaya. Sehingga energi yang dihasilkannya lebih berat lagi. Paman Renggas, bibi Centauri, Nini Petik Setangkai dan Juga Nini Ketuk Pipit berhati-hati saat berhadapan dengan Patih Rangga Dewa. Karena jika terkena sedikit saja goresan keris itu, maka mereka akan mati seketika.
Patih Rangga Dewa terus menyerang mereka berempat, ia menggunakan kecepatan yang ia miliki untuk menyerang mereka satu persatu, sementara yang lainnya juga menyerangnya. Saling menyerang, dan saling ingin membunuh. Menunjukkan siapa yang paling kuat diantara mereka.
"Hyah! Hyah!." Patih Rangga Dewa mengayunkan keris ditangannya sambil terus menyerang Bibi Centauri. Kanan kiri, kadang dari atas, keris itu seakan menari mengikuti gerakan tangan Patih Rangga Dewa.
"Kurang ajar!. Dia malah mengincar aku!." Dalam hati bibi Centauri merasa kesal, dan ia menggunakan jurus meringankan tubuh. Tubuhnya melayang di udara, mundur terus untuk menghindari serangan itu. Namun Patih Rangga Dewa tidak akan membiarkan musuhnya lepas begitu saja. Ia juga menggunakan jurus meringankan tubuh, sehingga keduanya sama-sama melayang di udara.
"Tidak semudah itu kau lari dariku!. Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan padaku!."
Namun saat itu ia menyadari ada cahaya putih yang hendak menghantam dirinya, dengan cepat ia melompat lebih tinggi ke atas. Cahaya putih yang merupakan aliran tenaga dalam itu, malah mengenai bibi Centauri.
DUAKH!
"Kghaaaak!."
Bibi Centauri terjajar lumayan jauh setelah terkena hantaman tenaga dalam itu. Tubuhnya terjerembab di tanah, dan mengalami luka yang sangat dalam.
"Sial, malah kena dia!." Paman Renggas, dialah yang telah melepaskan tenaga dalam itu.
"Kurang ajar kau renggas. Ke arah mana kau menyerang" Sayup-sayup Nini Centauri dapat mendengar suara itu. Namun sayangnya karena tenaga dalam itu terlalu kuat, ia tidak bisa menahannya.
"maafkan aku nini."
Sedangkan Patih Rangga Dewa yang masih berada di atas, ia perlahan-lahan turun. Menapakkan kakinya melihat bagaimana mereka terhadap temannya. "Menghajar teman sendiri. Sungguh pemandangan yang sangat indah."
"Diam kau rangga dewa!. Aku tidak akan mengampunimu!."
"Kau jangan senang dulu, hanya karena kesalahan yang baru saja kami lakukan."
"Aku siap melawan kalian yang sudah tua. Aku tidak akan melupakan apa yang telah kalian lakukan padaku dimasa lalu!."
"Nini, mari kita habisi anak sura dewa itu. Sangat kurang ajar!."
__ADS_1
"Mari."
"Aku pasti akan membunuhnya."
Mereka semua memberi kode untuk menyerang Patih Rangga Dewa. Mereka langsung menyerang dengan gerakan yang sangat cepat, tapi beruntung masih bisa diatasi oleh Patih Rangga Dewa.
...***...
Sedangkan di Istana. Setelah kepergian Pangeran Birawa Fusena, Prabu Maharaja Sura Fusena dan Duri Kosambi berhadapan dengan keempat orang Pendekar golongan penjahat tersebut. Pertarungan itu masih berlanjut, meskipun mereka telah luka-luka.
Telah banyak tenaga dalam yang mereka gunakan untuk menjatuhkan lawannya. Namun belum juga membuat mereka menyerah.
"Sura dewa!. Sebaiknya kau menyerah saja!. Biarkan aku yang menjadi raja di kerajaan ini!. Hyah!." Ia kerahkan tenaga dalamnya ke arah Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Kau jangan mengada-ada!. Aku tidak akan menyerahkan kerajaan ini pada kalian!." Prabu Maharaja Sura Fusena membalas serangan itu.
Sedangkan paman telaga, raga, dan Paman Retma Aji sedang berhadapan dengan Duri Kosambi. Namun ketika mereka hendak menyerangnya, mereka dikejutkan oleh ledakan serangan tenaga dalam. Mereka menjaga jarak dari Duri Kosambi, jika tidak ingin terluka oleh serangan mematikan itu. Saat itu ada dua orang yang datang dengan menggunakan jurus meringankan tubuh.
"Kurang ajar!. Siapa lagi yang ikut campur!.
"Berisik. Aku tidak suka mendengarkan suara tawamu itu cadra baka."
"Elele. Ketus amat."
"Hei!. Siapa kalian?." Rahaja Dwipa mendekati ketiga orang itu, begitu juga dengan Prabu Maharaja Sura Fusena yang penasaran siapa yang membantunya.
"Gusti prabu." Ketiganya memberi hormat pada Prabu Maharaja Sura Fusena.
"Kalian ini siapa?. Mengapa kalian membantu saya?."
"Hamba jamba gusti prabu. Orang kepercayaan gusti patih rangga dewa."
"Hamba duri kosambi gusti. Juga orang kepercayaan gusti Patih."
"Hamba cadra baka gusti prabu. Juga orang kepercayaan gusti Patih."
__ADS_1
"Jadi begitu?. Pantas saja aku tidak pernah melihat kalian." Prabu Maharaja Sura Fusena tidak menyangka akan dibantu oleh orang kepercayaan adiknya.
"Hoo, jadi begitu?. Kalau begitu lawan kita seimbang." Rahaja Dwipa dan yang lainnya mengerti saat menyimak apa yang ketiga orang itu katakan. "Kalau begitu, mari kita adu lagi kesaktian yang kita miliki." Dengan santainya ia berkata seperti itu. "Mari kita bermain-main. Dan menentukan siapa yang pantas memegang tahta kerajaan ini."
"Aku tidak akan menyerahkan kerajaan ini pada siapapun. Kalian harus mempertanggungjawabkan atas kematian ayahandaku."
"Kita lihat saja sura fusena. Siapa yang kalah, dan siapa yang akan menang."
Sepertinya pertarungan masih berlanjut, dan mereka semua masih bisa bertarung untuk memperebutkan sebuah kekuasaan.
...***...
DUARRR
Terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat, arena pertarungan itu dipenuhi asap yang bercampur racun. Sebelum racun itu menyebar kemana-mana, Patih Rangga Dewa telah meminum ramuan obat penawarnya. Agar racun itu tidak membahayakan dirinya. Namun karena ledakan dahsyat itu, ia terpental dan membentur pohon.
"Kgehfh." Kepalanya terasa sakit, begitu juga dengan punggungnya. Akan tetapi kesadarannya hampir menghilang, setelah ia memuntahkan darah segar. "Kanda prabu. Maafkan aku." Setelah itu Patih Rangga Dewa benar-benar tidak sadarkan diri.
Sementara itu keempat musuhnya juga sedang terluka parah setelah ledakan itu. Mereka semua terkena racun mematikan dari keris arwah naga merah milik Patih Rangga Dewa tadi.
"Kurang ajar si rangga dewa itu." Paman Renggas merasakan betapa sakit tubuhnya saat ini. Dan ia tidak bisa bergerak lagi, setelah ledakan dahsyat dari jurus pelebur cakar naga milik Patih Rangga Dewa.
Sedangkan bibi centauri, dan kedua temannya yang lainnya tidak sadarkan diri. Antara hidup dan mati, itulah mereka saat ini. Karena racun itu sangat ganas. Namun tak selang berapa lama, ada seseorang yang melompat tempat dihadapan Patih Rangga Dewa. Tatapannya penuh kebencian.
"Akhirnya aku bisa membunuhmu dalam keadaan seperti ini rangga dewa!." Di tangannya ada sebuah pedang yang sangat tajam, siap untuk ia tikam ke tubuh Patih Rangga Dewa. Akan tetapi, ada seseorang menahan tangannya dengan menendangnya. Membuat ia terkejut, dan segera menjaga jarak.
"Kurang ajar!. Siapa kau berani ikut campur dengan urusanku!."
"Kau sungguh tidak beradab. Tidak berjiwa kesatria sama sekali. Memanfaatkan keadaan seseorang yang sedang tidak sadarkan diri."
"Heh!. Apa peduliku?. Dia adalah musuhku. Dia harus mati dalam keadaan apapun."
"Aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu. Aku sangat benci pada seorang pengecut seperti kau!."
"Banyak bicara!." Wanita itu sangat benci, karena ada seseorang yang menghalangi niatnya. Ia menyerang orang yang telah menggagalkan rencananya itu. Pertarungan terjadi di sana, dan mereka bertarung karena mempertaruhkan apa yang mereka anggap itu benar.
__ADS_1
...***...