Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Dia kan bukan single?


__ADS_3

"Mas... bagaimana kalau aku pulang saja ke umi? Aku gak enak merepotkan kamu." Satu sisi Arini senang melihat Andre mau mengurusnya, satu sisi dia juga tidak enak merepotkan Andre. Karena hari ini pun dia memutuskan untuk tidak masuk kerja dan akan membawa pekerjaannya di rumah.


"Kamu pengen tahu umi, kalau aku bukan suami yang bertanggungjawab? Apa nanti yang akan dikatakan umi kalau melihat aku tidak mengurus kamu? Kamu senang jika namaku jatuh di hadapan mereka?" Andre tidak mau image buruknya terlihat di hadapan mereka.


"Mmm.. enggak sih mas. Cuman aku tidak enak, karena mas Andre mengurus aku sampai tidak masuk kantor." Jelas Arini.


"Kamu diam aja! Aku pusing nih pengen tidur lagi." Andre tak mau berdebat dengan Arini.


"Iy iya.. mas Andre tidur aja! Aku mau menelpon dulu di luar." Arini keluar dari kamar Andre dan membiarkan Andre tidur lagi setelah tadi mengurusnya mandi.


"Mmm.. kasian juga dia. Padahal dia tahu dia jijik sama kotoran-kotoran. He he.. Ada hikmahnya juga aku seperti ini. Aku bisa merasakan kebaikan mas Andre yang romantis. Ah... bagaimana dengan Renata yang bertahun-tahun bersama mas Andre? Pastinya dia bahagia mendapatkan perhatian mas Andre selama ini." Arini bicara sendiri sambil duduk di sofa.


Arini membawa benda pipih itu ke atas meja. Lalu mencari nomor yang akan dihubungi nya.


Setelah mendapatkan nomor itu Arini menghubunginya.


"Assalamu'alaikum, dokter Damar?"


"Iya waalaikumsalam. dokter Arini." Jawab dokter Damar asisten pak Julio di rumah sakit.


"Mohon maaf pak! Saya sepertinya dalam beberapa hari ini tidak bisa masuk rumah sakit karena kecelakaan. Saya mohon bantuan bapak untuk mereschedul lagi jadwal operasi juga mencari pengganti saya untuk beberapa pasien." Ucap Arini menerangkan keadaannya.


"Mmm.. iya kemarin saya dengar dari dokter Herman dan dokter Jaka. Katanya tangan kamu cedera. Saya sudah bicara pagi ini dengan pak Julio. Kebetulan putra beliau yang baru pulang dari luar negeri juga sama dokter bedah. Jadi beliau bisa menggantikan mu untuk sementara." Ujar dokter Damar yang sudah mengantisipasi lebih awal.


"Oh.. duh maaf saya telat laporan sama dokter. Kemarin handphone saya mati belum sempat di charger. Jadi baru pagi ini saya mengabari dokter." Arini lupa kalau batre handphonenya kemarin kehabisan daya dan tidak segera mencharger nya.


"Iya tidak apa-apa. Semoga cepat sembuh ya dokter Arini. Kami menantikan mu secepatnya!" Ucap dokter Damar ramah.

__ADS_1


"Iya Terima kasih dok. Assalamualaikum." Arini mengakhiri panggilan.


"Waalaikumsalam." Jawab dokter Damar di seberang telepon.


"Barusan dokter Arini?" Tuan Julio melihat ke samping.


"Iya pak. Beliau izin tidak masuk kerja. Laporan kesehatannya telah dikirim dari kemarin oleh dokter Jaka dan dokter Herman pada saya." Lapor dokter Damar.


"Wah sayang sekali. Padahal selama dia bekerja di rumah sakit kita, dia tidak pernah mengambil cuti kalau bukan karena libur dan tanggal merah. Dia rajin sekali orangnya. Baru kali ini dia tidak masuk kerja gara-gara cedera." Tuan Julio seperti kecewa karena dokter Arini tidak ada.


"Sehebat apa sih dia? Sampai papih terlihat kecewa begitu?" Dokter Kris yang ada di sampingnya juga penasaran pada profesionalisme dokter Arini. Sampai-sampai dari sejak kedatangannya di rumah sakit, ayahnya terus-menerus memuji dokter Arini, padahal batang hidungnya saja tidak muncul ketika acara penyambutan.


"Kamu tidak tahu keahliannya dalam menangani pasien, sampai-sampai dia dijuluki dokter jagal." Ucap tuan Julio pada dokter Kris anaknya.


"Mmm.. emang dia berhasil menyembelih pasien gitu? Sampai disebut jagal." Dokter Kris seperti iri dengan keahlian dokter kebanggaan rumah sakit ayahnya itu. Dia membayangkan mungkin dokter Arini usianya sudah tua, ya.. minimal seumur dengan dokter Damar yang sudah senior di rumah sakit itu.


"Apa?? Papih mau menjodohkan aku sama dia?" Dokter Kris kaget. Dia tak bisa membayangkan kalau dirinya harus menikahi perawan tua dokter Arini. Dia tak mau nasibnya seperti itu.


"Kenapa? Gak mau?" Tanya dokter Julio agak melebarkan matanya melihat dokter Kris.


"Gak.. gak mau. Kasih saja buat Herman. Dia lebih cocok menikah dengan perawan tua." Dokter Kris menolak mentah-mentah. Karena dia menyangka dokter Arini adalah perawan tua. Biasanya kalau jam operasinya tinggi, itu pasti dokter senior.


"Apa? Siapa bilang dokter Arini perawan tua?" Sekarang tuan Julio yang kaget mendengar dokter Kris mengatakan dokter Arini perawan tua.


Dokter Damar yang masih duduk disitu, menutup mulutnya karena ingin tertawa.


"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" Tuan Julio menangkap asistennya sedang menertawakan dirinya.

__ADS_1


"Eh.. tidak pak." Dokter Damar kembali memasang wajah serius. Padahal dalam hatinya dia ingin tertawa sekencang-kencangnya mendengar hal lucu di pagi hari ini dari dokter Kris.


"Kamu tuh.. belum juga lihat orangnya main serah saja. Si Herman pastinya kebagian rejeki nomplok kalau papih jodohkan sama dokter Arini." Ketus tuan Julio merasa kesal dengan penolakan anaknya.


"Dokter Kris ini profil dokter Arini." Dokter Damar memberikan sebuah tablet yang memperlihatkan profil dokter Arini.


Dokter Kris segera mengambil tablet yang diberikan dokter Damar padanya.


Matanya langsung tertuju pada layar tablet.


"Ya ampun.. " Pekik dokter Kris kaget.


"Kenapa?" Dokter Damar jadi ikut kaget melihat reaksi dokter Kris yang hampir meloncat dari kursi yang didudukinya.


Begitupun dengan tuan Julio. Matanya langsung melotot melihat dokter Kris.


"Kamu kenapa bikin kaget papih?" Tuan Julio menegur dokter Kris.


"Ini beneran dokter Arini yang kalian sebut tadi?" Dokter Kris masih tidak percaya melihat foto di dalam layar tablet milik dokter Damar.


"Memangnya ada dokter Arini lagi di rumah sakit kita?" Tuan Julio mengubah cara duduknya, kesal sekali melihat sikap putranya yang so tahu.


"Tapi ini beneran dokter Arini? Dia masih perawan? Eh.. maksudku masih single?" Dokter Kris melihat ayahnya lalu beralih melihat dokter Damar.


"Heh.. kamu Kris! Kamu disekolahin sampai S2 bisa baca tidak sih? Itu di profilnya bisa kamu baca! Sejak kapan kamu jadi bodoh begitu?" Dokter Julio jadi marah-marah.


"Tapi.. setahu aku... dia... " Dokter Kris menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Kamu sudah kenal sama dia?"


__ADS_2