
"Maaf nona, yang punya vila ingin uang tunai katanya." Pak Surya tak mengerti, kenapa juga sang pemilik menginginkan uang tunai. Padahal sekelas orang kaya jarang sekali menginginkan uang tunai.
Aneh
Pak Surya agak mengerutkan dahi.
"Ya sudah pak, nanti bapak antar saya ke mesin ATM yang dekat! Mudah-mudahan bisa narik sejumlah sepuluh juta. Biasanya sih ada batas limit sih." Arini tak mau berdebat dengan yang punya villa.
"Baik. Nona. Aneh-aneh aja den Andre itu." Gerutu pak Surya sambil menyebut satu nama.
Arini langsung mengernyitkan dahi ketika pak Surya menyebut satu nama yang tidak asing baginya.
Ah mungkin ada nama yang lain selain dia. Yang nama Andre kan banyak
Arini mengalihkan pikirannya tak mau berprasangka.
"Oh iya ongkos saya berapa pak?" Arini belum membayar sejumlah ongkos taxi yang tadi dikemudikan oleh pak Surya.
"Ini nona Arini. Maaf.. bisa dilihat di Argo." Pak Surya memutar mesin Argo agar bisa dilihat oleh Arini.
"Oh iya Pak. Ini saya kasih lebih buat anak istri." Arini memberi uang empat lembar uang merah. Padahal dalam Argo hanya tertera 200 ribu saja.
"Waduh Terima kasih non Arini. Ini kebanyakan non. Saya gak enak kalau menerima uang terlalu banyak, kasihan para penumpang." Pak Surya tak tega menerima kelebihan uang yang diberikan Arini.
"Gak pa-pa pak. Saya ikhlas kok." Jawab Arini.
"Iya Terima kasih ya non kalau begitu. Semoga Allah balas kebaikan nona Arini dengan berlipat ganda." Pak Surya pun mengucapkan terimakasih dan mendoakan Arini.
"Aamiin." Arini pun turun dari taxi berbarengan dengan pak Surya.
"Saya ingin melihat istri bapak yang sakit dulu, boleh?" Tanya Arini terpanggil untuk melihat pasien.
__ADS_1
"Boleh.. boleh." Jawab pak Surya terlihat senang ada yang peduli dengan keadaannya yang serba sulit.
"Mari masuk non!" Mempersilakan Arini masuk ke rumah panggungnya.
"Assalamualaikum." Ucap Arini. Dia mengamati seisi rumah yang nampak bersih dan rapih terawat. Meski rumahnya kecil, tapi kalau terlihat bersih enak juga dipandang.
"Waalaikumsalam. Ari... bawa minum ada tamu." Pak Surya memanggil salah satu anaknya untuk menyuruh Arini minum.
"Wah gak usah pak! Jangan merepotkan! Saya ingin menjenguk ibu. Dimana sekarang istri bapak?" Arini tak mau berlama-lama duduk, ingin segera melihat keadaan istrinya dulu.
"Oh... sebelah sini non! Maaf ya.. kamarnya berantakan." Pak Surya agak malu-malu memperlihatkan kamar pribadinya. Terlihat seorang perempuan tergolek lemah di atas kasur dengan mata sayu melihat ke arah pintu kamar. Dia tersenyum meski lemah.
"Selamat sing bu. Apa yang ibu rasakan saat ini?" Arini duduk di tepian kasur yang ranjangnya sudah berderit karena lapuk.
"Maaf sebelumnya saya memberanikan diri masuk ke kamar ibu. Kata bapak tadi ibu sakit." Arini tersenyum sambil membuka isi tasnya mengeluarkan stetoskop miliknya.
"Nona Arini ini seorang dokter?" Mata pak Surya terbelalak ketika Arini mengeluarkan stetoskop dari dalam ranselnya.
"Iya Pak. Cuman lagi liburan. Tapi kemana-mana saya selalu membawa alat-alat saya. Karena namanya pasien tidak mengenal kata libur." Jawab Arini.
Istri pak Surya meringis, ketika Arini menekan-nekan bagain lambungnya.
"Sakit ya bu?" Tanya Arini pada istri pak Surya.
Dia hanya mengangguk lemah. Bahkan untuk bersuara saja istrinya pak Surya sudah tak ada tenaga.
"Coba saya lihat matanya bu!" Arini melihat bagian mata istri ak Surya. Selain warna pucat pasi, ada kuning di sekitar bola mata putihnya.
"Coba julurkan lidahnya bu!" Arini melihat sekitar lidah pasien. Semuanya memutih tanda peredaran darahnya memang terhambat.
Arini membawa alat tensi untuk mengukur tekanan darah pasien. Dengan telaten Arini melihat angka-angka yang naik turun di alat itu.
__ADS_1
"Rendah sekali bu. Sebaiknya ibu dirawat di rumah sakit pak! Sekalian diperiksa lebih detail mengenai penyakitnya. Kalau hanya menebak-nebak pasti larinya sakit lambung. Tapi ketika dikasih obat lambung malah tidak berpengaruh, tandanya ada penyakit lain yang ibu derita." Ucap Arini menjelaskan penyakit istri pak Surya.
Pak. Surya nampak bingung. Bukan tidak mengerti dengan penyakit istrinya, tapi bingung karena biaya yang akan ditanggung nya pasti tidak sedikit. Darimana dia harus mencari biaya untuk istrinya.
"Pak Surya." Panggil Arini.
"Eh.. iya iya." Gugup pak Surya.
"Besok kita ke rumah sakit saja dulu! Untuk diperiksa. Mungkin nanti bapak bisa mengusahakannya dengan BPJS kalau punya, atau surat keterangan tidak mampu." Arini ternyata membaca kebingungan pak Surya tentang penyakit istrinya.
"Baik bu dokter."
"Saya boleh minta antar ke ATM pak?" Disini apa ada supermarket terdekat?" Tanya Arini ingin membayar sewa vilanya.
"Ada.. bu dokter. Biar Ari yang antar pakai motor. Bu dokter jangan khawatir anak saya bisa antar bu dokter kemana aja. Dia juga suka ngojeg bu." Pak Surya sangat senang sekali kedatangan Arini.
"Baik. Saya pengen istirahat dulu pak. Nanti setelah mandi saya berangkat ke atm." Terang Arini.
"Baik bu dokter. Saya antar! Lewat samping saja! Anak saya Ari dan Marni tidur di vila tiap hari. Dia yang suka bersih-bersih. Jika bu dokter perlu apa saja tinggal bilang saja!" Terang pak Surya.
"Wah vilanya enak juga ya pak. Gak terlalu besar tapi enak pemandangannya." Arini mengagumi vila sederhana yang berada di samping rumahnya.
"Iya bu dokter. Dulu yang punyanya adalah pelanggan saya kaya bu dokter. Pas nyari-nyari hotel katanya pengen beli rumah aja biar kalau sewaktu-waktu ke Bali dia gak pusing cari hotel. Ya saya tawarkan saja tanah saya yang ini bu. Eh dia mau. Ya akhirnya dia bangun sendiri vilanya, dia pengusaha kontruksi bu dokter." Terang pak Surya memberitahu sang punya vila.
"Oh begitu pak." Jawab Arini.
"Ya sudah saya tinggal dulu ya bu dokter. Kantin kalau ada apa-apa tinggal panggil Marni. Dia tinggal di belakang di kamar pembantu. Jadi bu dokter jangan takut sendirian di sini."
"Baik pak. Saya ucapkan Terima kasih atas bantuan bapak." Ucap Arini.
Dan setelah menyelesaikan mandinya Arini pun diantar Ari anaknya oak Surya ke sebuah supermarket terdekat. dia mengambil uang tunai juga berbelanja keperluannya.
__ADS_1
Di lain tempat di rumah sakit, Edward sudah siuman. Dia sudah ditempatkan di ruang VIP perawatan.
"Mih.. pih.. bisa tolong bantu Ed gak menemukan seseorang?" Tanya Edward pada kedua orangtuanya.