
"Telepon dia! Jangan sampai kita kehilangan dokter hebat seperti dokter Arini. Aku tidak mau ada alasan apapun." Tuan Julio dengan menahan marah memerintah pada dokter Damar.
"Iya pak." Dokter Damar langsung bingung.
Kemana aku mencarinya? Di rumah sakit ini tak ada satu pun yang dekat dengannya.
"Saya permisi dulu pak Julio." Dokter Damar pamit keluar dari ruang kerja pak Julio. Bos besarnya hanya melirik sebentar tak menjawab apapun. Dia merasakan kebingungan yang sama. Beberapa pelanggan VIP nya terancam keluar dari rumah sakitnya jika dokter Arini tak ada. Otomatis penghasilan rumah sakit ini pun akan berkurang banyak.
Di lain tempat dokter Herman hanya termenung di dalam ruangannya.
"Kenapa dok? Kok kaya lemes tak bersemangat begitu?" Tanya salah satu perawat yang biasa membantu pekerjaannya.
"Mmm.. Tahu aku bingung San... Nyari dokter Arini kemana ya? Nomornya susah dihubungi." Dokter Herman mengungkapkan isi kepala nya pada Santi. Dia sudah akrab sejak lama dengan perawat sekaligus asistennya itu.
"Ternyata semua orang sedang membicarakan dokter Arini. Hebat dia tuh dok! Ada dan tidak adanya selalu saja jadi trending topic di rumah sakit ini." Ucap Santi sambil mengumpulkan data pasien yang siap diperiksa dokter Herman.
"Oh ya? Kamu ada kabar gak? Kira-kira ada yang tahu keberadaannya gak?" Tanya dokter Herman penasaran. Mungkin dari salah satu obrolan gosip yang sedang beredar ada yang mengetahui keberadaan Arini.
"Mmm.. sayang dokter Arini tidak punya teman. Jadi tak ada satupun yang tahu. Aku tuh heran ya dok, kok ada ya orang yang seperti dokter Arini yang wataknya nyeleneh dan penyendiri. Apa. tidak bosan gitu gak punya teman?" Santi merasa heran ada orang yang betah tak punya teman. Padahal manusia diciptakan sebagai makhluk sosial.
"Dia bukan tidak punya teman, kitanya saja mungkin sulit berteman dengan tipe dokter Arini." Bela dokter Herman.
"Mmm... dokter naksir dia kan? Iya kan?" Santi menggoda dokter Herman.
"Kalau iya kenapa memang? Kamu iri?" Dokter Herman balik bertanya.
__ADS_1
"Yey.. siapa lagi yang iri. Cuman sayang saja.. dokter kapan pe de ka te nya? Orang dia cool gitu susah didekati." Ucap Santi yang sudah tahu karakter dokter Arini yang cuek, nyeleneh, juga aneh.
"Ya.. lagi nyari kesempatan sih! Tapi malah keburu kabur." Sesal dokter Herman.
"Hhmmm... emang dokter suka apanya sih sama dokter Arini?" Santi penasaran dengan ketertarikan dokter Herman dengan dokter Arini.
"Dia unik. Tidak seperti perempuan lainnya. Dia juga pintar, cantik, juga.. tidak pasaran. Banyaklah kelebihannya." Dokter Herman yang sudah lama mengagumi dokter Arini hafal betul apa. kelebihan Arini.
"Wah.. sebegitu perfect nya dimata dokter. Lalu kekurangannya apa dok?" Santi masih penasaran dengan pendapat dokter Herman.
"Apa yang kamu sebutkan tadi. Tapi masih tatap wajar lah.. Aku suka dengan semua yang ada di. dirinya." Dokter Herman senyum-senyum sambil menerawang membayangkan dokter Arini sejauh mata memandang.
"Wah... parah nih! Dokter lagi bucin. Aku keluar dulu dok. Mau panggil pasien yang sudah mulai antri." Santi keluar ruangan karena persiapan dalam ruangan sudah selesai. Dia siap-siap akan memanggil para pasien untuk diperiksa.
Sementara itu dokter Damar keluar dari parkiran akan menuju rumah dokter Arini. Dia mengemban tugas akan membujuk dokter Arini agar kembali bekerja di rumah sakit lagi.
Karena ini jam kerja, jalan agak macet ke arah alamat ini.
Dokter Damar turun dari mobil. CR-v nya. Dia berdoa dengan menaruh harap, dokter Arini mau kembali bekerja. Ditatap rumahnya yang asri. Dia masih mengingat almarhum ayahnya dokter Arini yang pernah bekerja juga di rumah sakit yang sama. Dia bahkan beberapa kali pernah mengunjungi rumah ini.
"Assalamualaikum." Ucap dokter Damar.
"Waalaikumsalam. Dokter Damar ya?" Kebetulan Umi Syarifah sedang berada di depan halaman rumah sedang menggunting daun-daun kering tanaman hias miliknya. Untuk mengisi waktu umi Syarifah sengaja menanam banyak anggrek juga tanaman hias di sekitar halaman rumahnya.
"Betul umi. Saya dokter Damar. Sudah lama ya kita tidak berjumpa?" Dokter Damar beramah tamah.
__ADS_1
"Iya lama banget. Waktu itu masih suka ketemu waktu masih ada abi. Ah.. lama banget kan? Mari masuk! Saya akan membersihkan kedua tangan saya dulu." Umi Syarifah mempersilahkan dokter Damar untuk masuk ke dalam. rumahnya. Sementara dia pergi ke belakang untuk mencuci tangannya.
Tak lama kemudian dua orang muncul dari dalam. Salah satu Art rumah membawa nampan berisi cangkir teh dan cemilan. Dan umi Syarifah membawa buah-buahan.
"Wah umi.. jangan repot-repot! Saya cuman mampir sebentar." Ucap dokter Damar basa -basi.
"Gak pa-pa. Kebetulan semuanya ada kok! Umi cuman tinggal sendiri jadi jarang kemakan. Mari dicicipi dulu! Kayanya enak nih makan yang seger-seger." Uni Syarifah membuka buah jeruk untuk menemani tamunya. Dia tahu dokter Damar adalah kepercayaan tuan Julio. Dia tak mungkin datang sekonyong-konyong kalau tidak disuruh atasannya alias bos besarnya.
"Iya mi." Dokter Damar mengambil teh lalu menyeruput air itu. Tenggorokannya terasa segar, karena air tehnya sudah dicampur lemon dan madu.
"Wah.. seger banget teh nya. Umi masih tahu kesukaan saya." Ucap dokter Damar yang memang menyukai teh lemon madu.
"Iya. Alhamdulillah.. Kebetulan semuanya ada dokter Damar. Jadi sekalian umi bikin untuk menyegarkan tenggorokan yang kering." Umi Syarifah pun meneguk cangkir miliknya.
"Maaf umi.. saya datang menyita waktu umi." Dokter Damar ingin segera menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke rumah Arini.
"Tidak.. Tidak menganggu. Justru umi senang dokter Damar mau mampir. Mungkin ada yang bisa umi bantu?" Umi Syarifah pun langsung membaca maksud dari kedatangan dokter Damar.
"Begini umi.. saya...ingin bertemu dengan dokter Arini. Itupun kalau umi tidak keberatan." Dokter Damar melihat umi Syarifah dengan serius memohon.
"Oh.. Arini. Kenapa? Apa dokter Damar tidak bertemu di rumah sakit? Atau.. sebentar mungkin Arini sudah pulang ya?" Umi Syarifah yang tidak tahu dokter Arini sudah absen beberapa hari dan sekarang sudah keluar, masih menganggap putrinya bekerja di rumah sakit.
"Maaf umi.. sebenarnya dokter Arini sudah absen hampir satu minggu karena cedera. Lalu tadi pagi dia melayangkan surat pengunduran diri. Kami, juga tuan Julio kaget atas sikap dokter Arini. Saya berharap ingin bertemu dengannya untuk berbicara mengenai pembatalan surat pengunduran dirinya.
Deg
__ADS_1
Umi Syarifah terhenyak mendengar berita itu. Tak disangka kalau anaknya terkena cidera dan mengundurkan diri.