Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Dibalik kemiskinan


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang telah pak Andre lakukan? Kenapa bapak senekad itu? Apa untuk menikahi Renata bapak sengaja menyelewengkan dana itu?" Gery agak kesal dengan kelakuan atasannya itu. Apalagi sampai melibatkan dirinya untuk menggelapkan dana perusahaan. Itu bukan perkara kecil jika dibawa ke ranah hukum. Bisa-bisa dia menghabiskan masa mudanya di balik jeruji besi. Untung pak Irvan hanya meminta untuk mengembalikan dana itu dan tidak menuntut ganti rugi apalagi melaporkannya ke pihak berwajib.


Berbeda dengan Andre, dia mendapatkan hukuman berat. Selain diturunkan dari jabatan direktur, semua haknya kini diambil oleh tuan Irfan. Dia dikeluarkan dari perusahaan dan sekarang dalam keadaan tak mempunyai uang sepeserpun.


"Sudahlah Ger.. elu pergi sana! Gue mau tidur!" Andre yang sekarang bergelar pengangguran itu diam di apartemennya. Dia bingung harus apa dan harus bagaimana.


"Baiklah! Saya akan kembali ke perusahaan, dan mengurus kekacauan yang pak Andre buat." Gery bangun dari sofa hendak meninggalkan apartemen Andre.


Andre hanya memejamkan mata menahan denyut di bagian pelipisnya. Mungkin dia pusing memikirkan nasibnya sendiri. Ternyata kemiskinan nya datang lebih cepat dari perkiraannya. Dan bodohnya dia mengikuti saran Renata untuk mengambil kekayaan ayahnya dengan cara tidak wajar.


"Aku lapar." Teriak Andre, yang masih bisa didengar Gery.


"Bukannya isi kulkas anda penuh? Anda harus belajar mandiri sekarang!" Gery melengos tak menghiraukan Andre. Kemarin tuan Irfan menyuruh Gery agar membiarkan Andre mandiri. Tuan Andre melarang Gery memberikan apapun pada Andre agar dia bisa berpikir sendiri. Karena perjodohannya dengan Arini tidak membawa perubahan baik pada diri Andre, makanya tuan Irfan sengaja membiarkan anaknya sepeti itu. Dia hanya memberikan apartemen dan mobilnya saja sebagai fasilitas yang bisa dipakai Andre. Semua kartu debit dan kredit langsung ditarik ayahnya, juga aset-aset berharga lainnya agar tidak disalahgunakan oleh Andre.


"Ish... awas ya kamu Ger! Mentang-mentang gue miskin, kamu jadi berani menghina gue." Dengan kesal Andre melempar bantal sofa ke arah Gery.


Gery tak mau mendengarkan ocehan mantan bosnya itu. Dia langsung keluar dari apartemen meninggalkan Andre sendirian.


Karena perutnya perih, Andre bangkit dari kursi sofa dan menuju pantry. Dilihatnya satu persatu rak dalam kitchen dan semua isi kulkasnya. Semuanya lengkap dari makanan kering cepat saji, cemilan, beras, juga aneka mie lengkap ada. Tapi Andre yang tak pernah sekalipun mengolah makanan kebingungan. Bagaimana caranya harus mengolah makanan itu agar bisa mengisi perutnya.


Arini yang waktu itu menguras dompet Andre sengaja membelanjakan uangnya untuk isi dapur juga barang-barang berharga lainnya. Awalnya itu untuk mengerjai Andre, tapi sekarang malah bermanfaat bagi Andre yang sedang jatuh miskin.


Dibawanya sebuah kotak nasi instan dari lemari. Dibacanya petunjuk dalam bungkus makanan nasi siap saji itu dengan teliti.


Andre juga tak lupa mengambil daging olahan instan dari dalam freezer untuk dihangatkan ke dalam microwave bersamaan dengan nasi instan yang baru saja diambilnya.


Setelah menunggu lima menit, suara pemberitahuan di microwave menyala bahwa makanan yang dihangatkan sudah siap santap.

__ADS_1


Andre membawa sebuah piring dan menaruh nasi juga daging siap saji itu di atas piring.


"Wanginya menggoda." Ucap Andre sumringah. Ini kali pertama Andre mengolah makanan di dalam apartemen. Dia tidak sadar bahwa dia sudah mengabaikan bau masakan yang sudah menyeruak di dalam apartemennya.


Rasa lapar dan miskinnya sudah mengalahkan semua kebiasaannya selama ini. Dengan hati yang senang dia duduk di ruang makan sambil menikmati nasi instan dan daging olahan yang baru selesai dihangatkan nya.


"Untung saja Arini memenuhi isi pantry dengan stok makanan, kalau tidak? Aku bisa kelaparan berhari-hari." Ucap Andre senang. Diakuinya apa yang Arini lakukan mendatangkan keberuntungan baginya.


Setelah selesai makan, Andre membersihkan piring bekas makan lalu menyimpan kembali di rak.


Andre membuka kulkas yang berisi aneka minuman juga buah-buahan yang sudah tersusun rapih tanpa pernah disentuh setelah Arini waktu itu mengisinya.


Mata Andre berbinar-binar.


"Sepertinya stok makanan di apartemen ini cukup untuk berbulan-bulan. Jadi aku tak usah khawatir akan kelaparan. Tapi.. " Andre langsung merenggut. Apalah artinya dia menjadi pengangguran? Karena stok makanan nanti pun akan habis, dan dia tetap harus bekerja untuk bertahan hidup ke depannya.


"Aku harus mencari kerja. Aku harus menunjukkan pada daddy bahwa aku bisa berdiri di kaki sendiri tanpa bantuan darinya." Gumamnya.


"Tapi bagaimana dengan Renata? Dia pasti akan datang kesini? Bagaimana kalau dia tahu kalau aku seperti ini?" Andre memikirkan bagaimana jadinya kalau Renata tahu bahwa dirinya sekarang miskin.


"Ah.. aku akan bilang padanya bahwa aku pergi ke luar negeri disuruh daddy, agar dia jangan dulu datang kesini sebelum aku sukses." Ide itu terbersit begitu saja dalam pikiran Andre.


Dia segera mengambil benda pipih dan mengetikkan suatu pesan untuk Renata agar dia jangan dulu datang ke apartemennya.


Pesan pun terkirim. Lalu tak lama kemudian sebuah notifikasi terdengar di handphone nya bahwa pesan sudah sampai.


Tak lama kemudian, sebuah panggilan dari Renata memanggil. Andre hanya bisa menatap layar handphonenya tanpa bisa mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


Setelah tiga panggilan diabaikannya, Renata tak lagi memanggil.


Andre bisa bernafas dengan lega untuk sementara waktu. Hari ini dia ingin menikmati waktu luangnya sebagai pengangguran tanpa ingin diganggu oleh siapapun.


Tanpa terasa mata Andre pun terpejam dan dia meringkuk di atas sofa. Dia begitu terlihat damai menikmati hari pertama kemiskinannya. Apa yang selama ini Andre khawatirkan ternyata tidak terlalu menakutkannya juga. Bahkan pikirannya pun bisa sedikit tenang sekarang.


Andre bisa setenang itu tak mungkin datang begitu saja. Semua itu ada campur tangan Arini juga di dalamnya. Untungnya Arini sudah menyetok banyak makanan di apartemen.Bisa dibayangkan jika Andre sekarang tidak memegang uang sepeserpun harus kelaparan? Bukankah keberadaan Arini adalah sebuah keberuntungan?


Kring


Kring


Kring


Suara panggilan kembali masuk.


Andre segera mengambil benda pipihnya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Hah pak Surya? Ada apa dia menelponku?" Gumam Andre agak terkejut. Dia menggeser tanda hijau untuk mengangkat panggilan.


"Iya halo." Andre menyapa terlebih dahulu.


"Maaf den.. pak Surya menganggu den Andre." Ucap Pak Surya basa-basi.


"Iya ada pak?" Tanya Andre agak heran.


"Ini den.. ada temen bapak mau menyewa vila aden, apa boleh vilanya disewakan?" Ucap Pak Surya meminta izin.

__ADS_1


"Oh.. boleh pak." Jawab Andre begitu senang begitu mendengar ada yang mau menyewa vilanya.


__ADS_2