Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Bukti mulai terbuka


__ADS_3

Rasa sesak juga sakit menyelimuti perasaan Andre. Hatinya serasa tercabik-cabik setelah melihat adegan kemesraan yang diperlihatkan dalam rekaman CCTV yang telah dicurinya.


Andre meremas rambutnya kasar. Rasa lelah selama telah dia abaikan hanya untuk memenuhi kebutuhan sang istri tapi apa balasannya sekarang? Pengkhianatan.


"Apakah ini karma?" Andre hanya bergumam sendiri. Dia tidak lantas menyalahkan Renata, tapi lebih ke dirinya sendiri. Setelah melihat dan mendengar dari dua bukti yang ada, dia merasa frustasi.


Andre teringat akan pepatah ibunya juga sikapnya selama ini yang selalu melawan kedua orang tuanya. Menyesal sekarang bukanlah saatnya. Dia pun merasa malu pada dirinya sendiri yang terlalu bodoh dan juga buta akan cinta.


Malam semakin larut, Andre tak berani pulang ke apartemen nya.


"Ed..apakah malam ini aku bisa menginap di rumahmu?" Andre sebenarnya malu sekali harus merepotkan sepupunya itu.Dia malah menelpon Edward untuk bermalam di rumahnya. Entahlah malam ini rasanya langkah Andre begitu berat terasa. Dia khawatir emosinya tidak terkontrol pada Renata. Apalagi dia sedang hamil muda.


"Mmm.. kamu lagi dimana memang?" Suara serak Edward terdengar di telinga Andre. Rupanya Edward sudah tertidur malam itu, tapi karena mendengar panggilan dari handphonenya, Edward terpaksa bangun khawatir ada hal yang penting.


"Aku.. sudah ada di depan rumahmu?" Jawab Andre sambil melihat ke arah pintu pagar rumah Edward.


"Mmm... sebentar aku telepon satpam untuk membukakan pagar untukmu." Edward menutup panggilan lalu menghubungi security di depan rumahnya untuk membuka pagar untuk Andre.


"Aneh.. kenapa dia malam-malam dia datang kesini? Apa sedang terjadi angin ribut di sana? Sungguh membuatku susah!" Edward turun dari ranjang sambil menggerutu akan kedatangan sepupunya di tengah malam dini hari.


Edward turun dari kamarnya yang ada di lantai 1 untuk menemui sepupunya.


Setelah pintu pagar dibuka, Andre pun memarkirkan mobilnya di depan rumah Edward.


Edward pun menyalakan lampu lalu membuka pintu utama untuk sepupunya itu.


"Gak salah bertamu jam segini?" Edward langsung mengomentari kedatangan Andre.


"Aku bukan bertamu, aku hanya ingin menginap disini." Jawab Andre dengan wajah lelahnya.


"Mmm.. bukankah hotel masih banyak buka 24 jam?" Edward duduk di sofa sambil mengamati Andre.

__ADS_1


"Sudahlah.. kamu tahu sendiri aku tak punya uang untuk membayarnya. Jadi aku mencari yang gratisan saja." Andre pun merebahkan diri di sofa sambil memejamkan mata.


"Ya sudah.. kamu pergilah ke kamar tamu. Pelayan akan menyiapkan baju untukmu untuk ganti. Jika kamu butuh makan dan yang lainnya tinggal bilang ke pelayan. Aku akan melanjutkan tidurku kembali." Saat ini Edward tidak mungkin bertanya kenapa Andre menginap di rumahnya. Selain sudah malam, dia tak ingin pusing dengan masalah sepupunya yang cukup memusingkan dirinya juga.


"Iya terimakasih." Andre membuka matanya lalu menegakkan badannya.


Edward berdiri dari duduknya lalu kembali ke dalam kamarnya di lantai 1.


Seorang pelayan langsung menyiapkan kebutuhan Andre sesuai permintaan majikannya. Dia tak mungkin menolak karena itu sudah tugasnya. Meski waktu sudah menunjukkan dini hari.


Andre pun membersihkan diri lalu berganti pakaian dan membaringkan diri di atas kasur. Pikiran Andre melayang-layang masih memikirkan video yang tadi dilihatnya. Bahkan saat ini dia tak mau menghubungi istrinya, Renata karena hatinya masih kacau.


Di lain tempat Renata sudah kembali di apartemen nya karena takut suaminya lebih dahulu pulang. Dia segera membersihkan diri dari sisa percintaannya dengan laki-laki yang tadi ditemuinya.


Malam. semakin larut, Renata masih membuka mata sambil memainkan handphonenya.


"Kemana dia? Ini sudah jam 1 malam tapi dia belum juga pulang." Gumam Renata sambil melihat ke arah jam yang ada di dinding kamarnya.


Beberapa kali Renata menekan nomor Andre, tapi anehnya nomor itu tidak juga mengangkat panggilannya.


"Kemana dia sih?" Renata menggerutu karena panggilannya tak kunjung diangkat.


Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan datang dari Andre.


"Malam ini aku menginap di rumah Edward. Jadi jangan tunggu kepulanganku!" Pesan dari Andre pun dibaca Renata.


"Mmm.. tahu gitu aku tidak akan pulang." Ucap Renata melemparkan asal handphonenya. Lalu dia pun berniat untuk memejamkan matanya untuk tidur.


Andre masih membuka mata, entahlah matanya tak bisa segera terpejam padahal malam semakin larut. Baru setelah menjelang waktu subuh Andre baru bisa tertidur.


Pagi pun datang. Edward seperti biasa telah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Penampilannya pagi ini seperti biasa sudah rapih dan necis. Dia pun turun dari lantai 1 lalu melangkah ke ruang makan untuk sarapan.

__ADS_1


Edward menarik kursi lalu duduk mendaratkan bokongnya di atas kursi makan.


Roti dengan selai kacang dan sebuah telur sengah matang sudah tersedia di atas meja. Tak lupa susu hangat dengan rasa original selalu setia sebagi sarapan pagi Edward tiap harinya.


Edward menyeruput susu hangat yang sudah terhidang lalu meletakkannya kembali di atas meja. Lalu memotong roti dengan pisau dan garpu agar potongan roti tadi tidak sulit untuk di masukan ke dalam mulutnya.


"Sepupuku belum bangun?" Edward bertanya pada kepala pelayan.


"Belum tuan." Jawab kepala pelayan yang sedari pagi belum melihat pintu kamar tamu terbuka.


"Mmm... siapkan baju kerjanya. Mungkin dia butuh baju ganti untuk berangkat bekerja." Ucap Edward pada kepala pelayan.


"Baik tuan. Nanti akan saya siapkan." Jawab kepala pelayan sigap memenuhi perintah majikannya.


"Dan katakan padanya jika sudah bangun, untuk segera menemui di kantor sebelum pergi ke lapangan!" Edward memperkirakan bahwa pagi ini Andre akan masuk kerja kesiangan karena dia tahu semalam Andre dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Baik tuan. Nanti akan saya sampaikan." Jawab kepala pelayan patuh.


Edward berdiri setelah menghabiskan sarapannya. Lalu melangkah ke garasi untuk pergi ke kantornya seperti biasa.


Sesampainya di kantor ternyata sang paman sudah berada di dalam ruangannya tanpa diduga.


"Selamat pagi paman. Tumben pagi-pagi sudah berada disini." Ucap Edward yang merasa aneh dengan kehadiran pamannya itu. Mungkin kehadiran pamannya ada kaitannya dengan Andre yang menginap. di rumahnya.


"Mmm... paman sengaja datang lebih awal. Khawatir kamu keburu sibuk." Jawab paman Edward yang tak lain adalah ayahnya Andre.


"Oh begitu. Ada hal penting paman?" Tanya Edward melihat serius pada pamannya itu.


"Mmm... paman tak mungkin datang kesini kalau tidak serius." Jawabnya ayah Andre sambil menyeruput teh yang sudah disuguhi sang sekertaris Edward.


"Baiklah. Kalau boleh tahu apa kepentingan paman sampai harus paman datang kesini? Padahal paman bisa saja menelpon ku untuk datang ke kantor paman." Ucap Edward merendah.

__ADS_1


"Apa Andre menginap di rumahmu?" Ayah Andre kini menatap serius Edward.


__ADS_2