
Apa boleh buat, orang tua Andre sekarang hanya bisa pasrah. Dia tak mau berita buruk itu tersebar cepat. Ayahnya dan ibunya Andre segera mendatangi keluarga Renata yang kebetulan tinggal di kota Medan. Keduanya akhirnya resmi menjadi suami istri.
Acara pesta digelar cukup mewah di hotel berbintang. Semua kolega dan handai taulan turut hadir untuk memberi restu. Tak ada satupun diantara keluarga dan kolega bahwa ini adalah pernikahan kedua Andre. Semua orang hanya tahu bahwa Andre baru menikah, kecuali Edward.
Semenjak Andre meminta bantuannya pada Edward untuk mencari Arini, Edwar menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi tentang siapa Arini. Dari sana dia tahu bahwa Arini telah menikah dengan Andre secara tertutup.
Di atas pelaminan ayah dan ibunya Andre tidak terlihat gembira. Kalaupun dia tersenyum, dia hanya terpaksa. Ada batin yang tidak bisa dibohongi oleh keduanya tentang pernikahan putranya ini. Mereka harus menerima takdir yang datang dan tak bisa ditolak. Semuanya berjalan di. luar dugaan.
Untungnya acara pesta diadakan di luar Jakarta, sehingga Arini dan ibunya tidak tahu menahu soal pernikahan keduanya. Bahkan Andre belum bicara apapun pada Arini, dia khawatir rencana pernikahannya akan terganggu jika Arini. diberitahu lebih dahulu.
Terlihat Arini sedang duduk di halaman terasnya yang asri. Beberapa hari ini hatinya seperti gelisah. Apalagi Andre tak ada datang berkunjung ke rumahnya. Padahal terakhir kali bertemu dia berjanji akan datang ke rumahnya.
Ah.. kenapa juga aku harus memikirkan dia. Toh dia pun tak pernah ingat aku.
...Arini bergumam sendiri....
"Eh.. kok anak umi melamun begitu? Nih ada pisang goreng kesukaan kamu! Kita ngopi aja biar kamu tidak banyak melamun." Ibunya Arini mencoba menghibur anaknya yang beberapa hari ini terlihat gelisah.
"Mmm.. enak mi." Ucap Arini sambil mengunyah pisang goreng yang masih hangat ditemani teh manis lemon yang biasa dibuat Umi Syarifah.
"Mmm.. tadi umi lihat di tukang sayur. Jadi ingat sama kamu." Terang umi Syarifah yang biasa belanja di tukang sayur yang biasa lewat.
__ADS_1
"Oh.. " Arini menatap ke depan dengan pandangan berharap-harap ada mobil yang berhenti di depan rumahnya. Meski satu sisi dia tak mengharapkan Andre, dan satu sisi lain dia memikirkan keberadaan Andre yang tanpa kabar sampai saat ini.
"Rin.. umi kok sudah beberapa hari ini lihat kamu sendirian terus? Kalian memang sedang bertengkar?" Tanya Umi Syarifah penasaran dengan keadaan anaknya.
Beberapa hari ini Arini selalu pulang ke rumah tapi Andre tak ada datang. Begitupun dengan mertuanya. Biasanya besannya itu suka datang dalam dua hari sekali. Tapi ini sudah hampir seminggu dia tak ada datang juga berkabar.
"Mmm.. Kalau Arini tinggal disini, apa umi keberatan?" Tanya Arini menoleh ke arah samping melihat pada umi Syarifah yang sama-sama sedang mengunyah.
"Tidak. Umi tidak pernah merasa keberatan. Asal Andre mengizinkan pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu. Ini rumah kamu, kapanpun kamu ingin tinggal, tinggallah. Yang penting suami ridlo." Ucap umi Syarifah tersenyum. Di balik senyuman nya tersimpan rasa penasaran yang dalam mengenai kondisi pernikahan anaknya yang terbilang baru satu bulan itu.
"Terima kasih mi. Arini minta maaf selalu merepotkan umi." Arini tertunduk. Wajahnya terlihat murung.
Arini hanya tertunduk. Dia tak bisa mengatakan apapun di hadapan ibunya.
"Umi tahu kalian pasti berat untuk menerima perjodohan ini. Tapi.. umi tidak mau memaksa kalau seandainya kamu tidak bahagia, Andre pun begitu, mending kalian terus terang saja! Kalau dipaksakan pun malah nanti akan jelek untuk kalian." Umi Syarifah mengelus-ngelus lembut punggung Arini.
Arini menoleh melihat ibunya. Apakah ini saat yang tepat jika dia bicara soal perceraiannya dengan Andre.
"Mi.. apa umi tidak kecewa sama Arini?" Arini menatap wajah ibunya dengan ragu.
"Tidak. Selama ini umi tidak pernah kecewa sama kamu. Apapun yang datang pada kita, baik dan buruknya sudah diatur sama yang di atas." Umi Syarifah dengan bijak menasehati Arini tentang masalahnya.
__ADS_1
"Sebenarnya dari awal pernikahan, mas Andre sudah punya pasangan. Dia berjanji akan menceraikan Arini dalam satu bulan ini. Mungkin mas Andre sekarang sudah mengajukan perceraiannya di pengadilan." Arini dengan hati yang berat akhirnya harus jujur dengan keadaan pernikahannya.
"Astaghfirullahalazim.. " Umi Syarifah mengusap dadanya. Dia tak menyangka, putrinya harus menahan masalahnya selama itu. Dia sangat merasa berdosa atas keputusannya menjodohkan Arini dengan Andre.
"Maafkan aku umi.. " Arini langsung duduk bersimpuh di bawah lutut umi Syarifah. Dia merasa kecewa dan sedih harus memberitahukan hal ini pada ibunya.
"Gak nak... kamu tidak bersalah. Kamu tidak usah minta maaf. Justru umi yang harus meminta maaf pada kamu nak.. maafkan umi sama abi yang telah menjodohkan kamu sama Andre. Kalau tahu begitu, umi mungkin akan menolak lamaran keluarga Andre. Umi yang salah sayang.. maafkan umi." Umi dan Arini saling berpelukan. Mereka menumpahkan segala kesedihannya menjadi satu. Ibu dan anak itu saling menguatkan dalam satu pelukan.
Tanpa mereka sadari sepasang mata dari tadi sedang memperhatikan keduanya. Dia tidak tega untuk melihat adegan kesedihan itu. Di balik kaca mata hitamnya, dia ikut mengembun.
"Tuan.. apa anda ingin melanjutkannya atau.. " Sang sopir sekaligus asistennya bertanya. Karena sejak tadi tuannya hanya duduk di kursi belakang tanpa mau turun dari jok yang didudukinya.
"Kita pulang saja! Aku tidak jadi bertamu." Edward menginterupsi sang asisten untuk membawanya ke rumahnya.
"Baik." Sang asisten pun melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Dia membawa majikannya kembali ke rumah setelah tadi hampir setengah jam hanya berdiam di tepi jalanan tepatnya di seberang rumahnya Arini.
Edward menatap ke depan jalanan. Bunga buket bersama paket buah yang telah dibelinya kini tergeletak di samping tempat duduknya.
Niatnya ingin bertamu diurungkannya setelah momen mengharukan tadi jadi tontonannya. Dia memilih untuk pergi dan mencari waktu yang tepat untuk kembali bertamu ke rumah Arini.
Sejak pertemuan di Bali. Hati Edward selalu saja terpaut dengan Arini. Berbeda perasaannya dengan wanita-wanita yang pernah dia kencani. Semuanya hanya dasar nafsu sesaat saja. Tapi dengan Arini, dia seperti magnet yang terus saja menarik hati serta pikirannya. Tidak bertemu sehari saja sepertinya dia akan gila. Makanya setelah keluar dari rumah sakit dia sering mencuri-curi pandang bahkan sering mengirimkan makanan ke rumah sakit hanya untuk melihat Arini.
__ADS_1