Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Kembali


__ADS_3

Malam sepi menyelimuti penghuni bumi. Tapi di ruangan Edward dirawat sepertinya sedang ada kehangatan. Tak lain karena dirinya sedang ditemani Arini.


Arini yang tidak mengambil pusing akan sikap Edward yang manja, dia menuruti saja. Toh besok dia tidak bakal bertemu lagi.


Arini pun tidur di sofa dengan tenangnya. Dia sudah terbiasa nyaman tidur dimana pun berada.


Edward menatap Arini dari ranjang tidurnya.


Ada hubungan apa kamu sama Andre? Sampai dia rela mencarimu. Tapi takkan kubiarkan laki-laki itu merebut hatimu. Aku tahu dia sudah punya pacar yang sejak dulu diinginkannya. Masa iya juga mendua. Kalau aku sih bebas-bebas saja. Karena aku tak pernah mengikat satu wanita pun, kecuali kamu yang ingin aku ikat.


Edward bergumam dalam hati lalu dia pun memejamkan matanya ikut pergi ke peraduan menemui bunga-bunga tidurnya di sana.


Di malam yang sama di tempat yang berbeda Andre baru pulang kerja. Dia yang ditempatkan di proyek lapangan sangat terlihat lelah. Terpaksa semua pekerjaan yang diberikan bibinya dia jalani, karena tak ada perusahaan yang senyaman perusahaan saudaranya ini. Bisa saja Andre melamar di perusahaan lain, tapi pastinya harus melalui test dan ujian terlebih dahulu. Andre paling malas untuk berkompetisi dengan pekerja yang lainnya. Entah gengsi, entah kenapa. Yang jelas bekerja di perusahaan Edward masih terbilang nyaman meski dia ditempatkan di bagian lapangan.


"Ah.. sepertinya kulitku akan cepat gosong." Andre bicara sendiri di depan cermin sambil mengamati wajahnya.


Setelah mandi dia segera memakai pakaian santai dan bergegas ke pantry. Perutnya agak terasa perih. Tadi dia tak sempat makan karena banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakannya. Kembali dia mengambil nasi kotak instan dan mengahangatkan nya dengan daging olahan yang sudah di stok Arini di dalam freezer khusus. Arini membeli dua kulkas tambahan untuk menyetok bahan makanan yang pernah dibelinya. Awalnya Andre sangat marah melihat Arini semena-mena merubah apartemen nya. Tapi kini malah dia yang merasa diuntungkan.


"Kamu dimana Arini?" Di sela dia menyuapkan nasinya Andre bergumam. Entah kenapa hatinya seperti ada kehampaan. Apartment nya serasa sepi tanpa Arini. Padahal baru beberapa hari saja Arini bersama dirinya. Tapi ada yang aneh yang dirasakan Andre. Pikirannya tiba-tiba melayang melamunkan Arini yang kemarin sempat diurusnya. Seumur hidupnya baru pertama Andre mengurus pasien seintim itu. Baru beberapa hari saja Arini bersamanya dia mampu mengubah beberapa kebiasaannya.


Andre membersihkan bekas makan dan mencucinya. Setelah itu dia duduk di sofa untuk menonton televisi. Karena kelelahan dia akhirnya tertidur dengan posisi televisi menyala. Sekarang televisi lah yang sedang menonton nya.


Tanpa terasa Alarm jamnya menyala tepat jam 5 pagi. Andre memijat tombol alarm agar tidak terus menyala.


"Hoam." Andre menggeliat.


"Loh.. aku tidur disini?" Di kaget sendiri melihat dirinya tidur di sofa.

__ADS_1


"Duh ternyata aku ketiduran sampai pagi." Andre melihat televisi masih menyala. Padahal dulu dia paling tidak bisa tidur dimana saja apalagi tidur dalam keadaan ada suara-suara. Tapi sekarang dia malah tidur di sofa dengan televisi menyala.


Setelah mematikan televisi Andre bergegas ke kamar mandi lalu membersihkan tubuhnya. Dia segera bersiap-siap berangkat ke proyek. Tak lupa dia membuat sarapan pagi segelas kopi dan roti bakar.


Sejak dia jatuh miskin dia tak pernah makan di cafe lagi. Bahkan pembagian nasi di proyek saja terasa nikmat. Padahal dulu dia sangat anti sekali makan-makanan seperti itu. Katanya makan tidak higenis.


Kring


Kring


Kring


Suara handphone nya berbunyi.


"Halo bro.. " Andre mengangkat panggilan telepon dari Edward.


"Lah.. gue kan harus ke proyek bro.. pengawal elu kan banyak. Bibi juga koneksinya juga luas. Kenapa harus gue?" Andre yang mempunyai pekerjaan menumpuk agak berat harus mencari rumah sakit buat Edward. Dia tahu selera sepupunya itu tak bisa sembarangan. Apalagi soal kesehatan dirinya.


"Elu.. masih mau kerja kan? Atau mau resign?" Ancam Edward yang tak mau dibantah. Sekarang gilirannya dia membalas perlakuan Andre yang selama ini selalu manja dan tak mau dibantah juga.


"Iya.. iya. Gue siapin! Dasar pemaksa!" Andre menggerutu.


"Nah gitu dong kalau mau jadi pegawai teladan!" Diseberang sana Edward sedang terkekeh menertawakan sepupunya itu.


"Lah.. gue jadi bos juga teladan apalagi jadi karyawan kacangan pastinya lebih teladan dong!" Keangkuhan nya memang tidak pernah berubah. Dia selalu saja membanggakan dirinya.


"Ya... udah miskin aja masih angkuh! Ya udah bentar lagi gue terbang nih. Pokoknya rumah sakit harus sudah siap pas gue datang." Edward terpaksa pindah rumah sakit karena tadi pagi dia diberitahu bahwa Arini sudah pergi ke Jakarta.

__ADS_1


"Iya.. iya bawel banget sih lo! Eh... sebentar! Elu gak lupa kan buat nyari orang yang waktu itu gue kirim?" Andre bertanya tentang Arini pada Edward.


"Sorry bro. Anak buah gue gak berhasil buat nyari dia." Bohong Edward.


"Ya elah.. masa iya sih?" Andre menggaruk kepalanya.


"Memang dia siapa sih? Dia penting banget buat elu?" Saatnya Edward ingin mengetahui siapa Arini.


"Ya udah.. kalau elu gak bisa gak pa-pa. Udah dulu gue mau siap-siap nih keburu macet." Ucap Andre.


"Iya. Tkhans bro!" Edward menutup teleponnya.


Andre segera menghabiskan sarapannya lalu mencuci bekas gelas juga piring bekas roti. Dia tidak membiarkan apartemennya bertumpuk wadah kotor meski dia sibuk bekerja.


Di lain tempat Arini dan dokter Kris sudah siap-siap landing di bandara Soekarno-hatta. Keduanya dijemput oleh supir pribadi dokter Kris. Sesuai kesepakatan Arini akan langsung pergi ke rumah sakit dan akan menemui kepala rumah sakit sebagai permohonan maafnya telah resign dadakan.


Tak lama kemudian dokter Arini dan dokter Kris sampai di rumah sakit. Mereka berjalan berdampingan masuk ke rumah sakit. Dari arah berlawanan seorang laki-laki yang fokus menelpon berjalan ke arah pintu.


Karena tidak fokus Andre tidak melihat siapa yang baru datang dari arah pintu kedatangan sehingga dia tidak melihat Arini.


Kris yang mengenali Andre langsung berjalan menyamping di depan Arini sehingga tubuhnya menghalangi pandangan Arini.


"Halo.. bro. Gue sudah siapin rumah sakitnya. Entar gue sherlock lokasinya sama elu!" Andre berbicara dengan Edward di telepon.


Arini yang mengenali suara itu langsung memutar tumitnya. Tapi Kris buru-buru menarik bahu Arini dari depan agar tidak jadi melihat keberadaan Andre.


"Fokus jalan ke depan!" Ucap dokter Kris.

__ADS_1


__ADS_2