Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
pilihan


__ADS_3

"Kamu jadi anak gak sopan banget ya sama mama!" Ibunya Andre agak kesal melihat sikap anaknya.


"Habis mama ngebahas itu melulu! Telinga Andre sudah bosen ma denger mama ceramah soal Arini. Bisa tidak mama biarin Andre hidup tenang?" Andre pusing dengan semua masalah yang sekarang menderanya.


"Baiklah. Mama cuman titip pesan saja sama kamu Ndre! Jadilah suami yang baik! Jaga Arini jangan sampai hatinya tersakiti sama kamu. Mama tidak bakal ngomong lagi tentang Arini, kalau kamu sudah benar-benar jadi suami yang baik." Ucap ibunya Andre yang mengkhawatirkan anaknya tidak memperlakukan istrinya dengan tidak baik.


"Iya ma. Sudah dulu ya ma! Andre pengen tiduran dulu!" pelipis Andre terasa berdenyut setelah bicara dengan ibunya. Rasa tertekannya mulai muncul, Andre tak mau ibunya terus-terusan menekan dirinya, apalagi sekarang dirinya sudah menikah.


"Iya. Cepat sembuh! Salam buat Arini dari mama. assalamu'alaikum." Ucap mama Andre menutup pembicaraan.


"Waalaikumsalam." Andre melemparkan benda pipih di atas kasur. Andre pun berbaring di atas ranjang Arini dengan tidak sadar masih memegang baju pengantin yang tadi diambilnya. Andre terlelap di atas bantal yang pernah dipakai Arini. Sedikit demi sedikit Andre melupakan kebiasaan lamanya yang tak bisa tidur di bantal bekas orang lain. Tapi entahlah malam itu dia merasa ranjang dan banyak bekas Arini adalah tempat yang ternyaman yang pernah dia tempati.


Tak ada mimpi juga gundah. Biasanya Andre akan gelisah jika bukan tidur di atas ranjangnya sendiri. Tapi malam itu dia seperti terhipnotis sampai seluruh tubuhnya tertidur lelap dengan tenang. Andre menggeliat dari tidur nya, lalu dia mengucek matanya mempertegas penglihatannya.


"Apa ini? Aku tertidur dengan memeluk baju ini?" Dia heran sendiri melihat sikapnya yang di luar kebiasaannya. Perlahan dia mengambil benda pipih yang dilempar asal di atas ranjang.


"Ya ampun.. ada 5 kali panggilan. Aku kok bisa tidak dengar sih?" Andre melihat panggilan Gery yang sudah menunggunya di depan pintu apartemen.


Andre buru-buru bangkit dan mencuci muka di wastafel kamar Arini. Setelah selesai dia berlari menuju pintu.


Klek


Pintu kamar di apartemen nya terbuka begitu Andre membuka pintu.


"Lama banget sih bukanya? Gue sampai pegel begini!" Gery menggeruru karena hampir satu jam dia berdiri di depan pintu apartemen bosnya.

__ADS_1


"Sorry gue ketiduran!" Andre santai menjawab kekesalan Gery.


"Aku tadi disuruh tuan besar buat membangunkan pak Andre. Katanya suruh masuk ke kantor hari ini!" Gery duduk di sofa sambil melihat tumpukan kertas yang masih utuh seperti semula dia menyimpannya.


"Ini dokumen belum bapak periksa?" Gery menoleh ke arah Andre yang sedang membawa air di pantry.


"Belum." Andre menjawab jujur.


"Duh gimana bapak ini? Ini ada beberapa laporan yang mesti beres hari iniini, bapak dari kemarin ngapain aja?" Gery kesal sekali melihat bosnya mengabaikan pekerjaan.


"Jangan bilang sama mama dan papa ya! Istri aku kabur Ger.. aku bingung mencarinya kemana? Sudah ditelepon tapi nadanya tak aktif. Aku jadi gak fokus mau mengerjakan kerjaan." Wajah Andre kembali seperti putus asa.


"Ya salah bos sendiri sih. Bawa-bawa Renata ke sini." Ujar Gery menyesalkan sikap bosnya.


"Mmm.. aku khilaf Ger. Aku kalau ketemu sama Renata kaya kehipnotis gitu. Jadi aku lupa kalau di rumahku ada istriku." Andre menepuk jidatnya sendiri tak habis pikir dengan kelakuannya sendiri. Apalagi Arini melihat adegan tak senonoh yang dilakukannya bersama Renata. Sampai sekarang Andre masih merasa malu akan dirinya sendiri.


"Mmm.. " Jawab Andre malu.


"Terus kepergok istri bos?" Gery asal tebak saja.


"Mmm."


"Apa?? Gila bos!!! Gue aja gak bisa ngebayangin, apalagi istri bos. Bos benar-benar raja tega. Pasti aja istri bos kabur." Gery ikut pusing memikirkan kelakuan atasannya yang dianggap awam, tapi malah lebih kejam.


"Makanya gue malas kerja. Kemarin mama nelpon juga, aku pura-pura sakit." Andre menyampaikan pada asistennya, khawatir ibu dan ayahnya menelpon asistennya dan menanyakan kabar tentang dirinya.

__ADS_1


"Wah.. ini alamat rusuh bos. Istri kabur dan gak bakal balik lagi. Bos tinggal tunggu tanggal cerainya di pengadilan." Sudah diperkirakan rumah tangga bosnya tidak lama lagi akan qiamat sugro.


"Elu... bantuin gue cari akal. Bagaimana caranya nyari istri gue. Gue belum siap bercerai dalam waktu jangka dekat. Bisa-bisa gue keteteran Ger. Please bantuin gue...!" Andre meminta bantuan pada Gery untuk menemukan solusi atas masalahnya.


"Ah.. pak. Andre gimana? Anda yang berbuat, kenapa saya yang repot? Cukup sudah saya direpotkan sama kerjaan bapak. Saya tidak mau direpotkan sama urusan pribadi bapak." Tolak Gery yang tak mau terlibat jauh dengan urusan pribadi Andre yang terhitung sudah di luar batas.


"Please Ger... gue harus minta bantuan sama siapa lagi kalau bukan sama kamu Ger?" Andre sudah sangat putus harap mengenai pencarian istrinya.


"Saya kesini mau bantu kerjaan. Bukan untuk nyari istri bapak. Kalau urusan kerjaan tidak selesai, bakal banyak yang harus dikorbankan. Dan akhirnya bapak bisa lebih cepat diketahui sama bos besar karena bapak tidak bekerja dengan baik." Gery tahu konsekuensi dari kelalaian kerja atasannya, malah akan mempercepat terbongkarnya kekacauan dalam pernikahan bosnya itu.


"Oke! Kita selesaikan saja dulu kerjaan. Setelah ini beres, kamu janji bantu aku mencari istriku!" Andre langsung mengambil dokumen yanga ada di atas meja untuk diperiksa.


Pusing... pusing... gimana si bos ini? Selingkuh sampai ketahuan jelas sama istri. Dasar ceroboh!


Gery menggerutu dalam hatinya.


Andre dan Gery fokus mengerjakan pekerjaan di dalam apartemen yang sempat kemarin tertunda.


Sementara di tempat lain Kris dikagetkan dengan pemberitahuan pengunduran diri dokter Arini di rumah sakit ayahnya.


"Apa.yang sebenarnya kalian bicarakan kemarin?" Tuan Julio sedang mendakwa dokter Kris. Karena menurut laporan, dokter Kris yang terakhir bertemu dokter Arini waktu itu.


Gosip keluarnya dokter Arini sangat cepat tersebar di lingkungan rumah sakit. Sampai-sampai tuan Julio kebanjiran pertanyaan dari beberapa pasien pelanggan Arini yang terus saja menelponnya.


"Tak ada yang penting. Pada hakekatnya dia kemarin mengungkapkan ingin keluar dari rumah sakit karena kondisi tangannya. Aku kira dia hanya bercanda. Tahunya serius." Jawab dokter Kris yang menutupi apa yang terjadi sebenarnya. Dia pribadi sangat kaget dengan berita itu. Tapi apa boleh buat, kalau dia jujur, pastinya ayahnya akan marah besar.

__ADS_1


"Itu bukan tipe dokter Arini. Dia sangat menyukai profesi nya sebagai dokter. Kecuali dia ada sebab."


__ADS_2