Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Gugup


__ADS_3

"Kenapa kamu gak dekat-dekat? Apa karena sekarang aku bukan bos lagi?" Andre malah berpikiran negatif tatkala Arini masih duduk di tepian kasur belum juga berbaring di sisinya.


"Bukan begitu.. Aku.. " Arini menggantung kalimatnya.


"Aku tahu Rin. Semua orang sekarang melihatku sebelah mata. Aku kan sekarang cuman buruh, dekil, dan tak punya uang banyak. Mungkin kamu akan merasa malu dekat sama aku." Andre tiba-tiba melow, dan minder. Karena sekarang dirinya bukanlah siapa-siapa dibanding sebelumnya, anak orang kaya yang mempunyai perusahaan besar milik ayahnya.


"Eh.. kok jadi begini. Aku tak bermaksud menyinggung. Malah aku senang sekarang kamu bisa bekerja di atas kaki kamu sendiri. Gak pa-pa. Yang penting halal. Bukan besar kecilnya yang dihasilkan, tapi apa yang diperjuangkan suami, jalan dan caranya halal. InsyaAllah barakah." Ucap Arini tak mau Andre merasa minder.


"Emang kamu tidak malu gitu kalau aku seorang buruh?" Tanya Andre melirik pada Arini.


"Gak pa-pa. Buruh juga kalau halal. Aku juga buruh, buruh disuruh-suruh orang." Jawab Arini. menyamakan diri.


"Tapi kan.. kamu kantoran. Kalau aku asli buruh dekil. Kamu bisa tahu wajah aku jadi gosong gini.. Seharian terkena kotor debu dan panas terik matahari." Andre merasa nyaman bercerita pada Arini. Berbeda dengan pada Renata, dia tak mau terlihat lemah dan miskin. Makanya dia belum bisa bertemu dengannya.


"Tapi aku suka pria maco. Kamu malah lebih terlihat seksi kalau hitam begitu." Arini tersenyum. Dia berkata jujur menilai Andre apa adanya.


"Ish.. kenapa tidak menikah saja dengan orang negro, kalau menurut kamu laki-laki seksi itu yang kulitnya hitam." Desis Andre kembali menatap kembali ke depan.


"Ya.. bagaimana lagi. Dapat jodohnya kamu. Ya Terima saja. Karena sayang kalau menolak pria tampan seperti kamu." Arini menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menselonjorkan tubuhnya.


"Ish... kamu. Aneh. Apa kamu tidak punya pacar selama ini? Ya secara pisik kamu juga gak kurang, malah yang lainnya banyak lebihnya. Kenapa harus menerima perjodohan ini sih?" Andre menoleh ke arah Arini yang kini sedang menatap ke depan.


Sekarang ibarat dua orang teman yang sedang mengobrol, mereka merasa nyaman satu sama lainnya. Mungkin hati keduanya sudah menerima kekurangan masing-masing dan kelebihannya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku juga pingin seperti yang lain. Mencari pacar tampan lalu pacaran. Sayangnya waktu aku dijodohkan calon suamiku sudah tampan, jadi kenapa harus mencari yang lain. Mending yang halal aja kan?" Arini menoleh melihat Andre yang sedang menatapnya.


Netra keduannya bersitatap. Andre buru-buru membuang muka. Dia tidak ingin Arini melihat rona wajahnya yang sedang tersanjung.


"Bagaimana kalau aku tak menyukaimu?" Tanya Andre tak ingin Arini terlalu berharap banyak padanya yang hatinya sudah terisi nama yang lain.


"Ya.. bagaimana lagi. Aku tidak bisa memaksakan kamu untuk menyukaiku. Itu hak kamu. Mau bagaimana pun, kalau kamu berjanji akan menceraikan aku setelah satu bulan. Aku harus melanjutkan hidup dan mencari pengganti kamu." Ada rasa sakit yang menggores hati Arini mengingat janji Andre waktu itu.


Deg


Andre terkejut. Dia malah lupa pernah mengatakan itu.


"Apakah benar aku berjanji akan menceraikan dia dalam satu bulan?"


"Maaf aku kayanya... tak bisa tidur di kasur. Sangat sulit bagiku untuk tidak mengingat hal yang telah aku lihat." Arini memutuskan untuk tidur di sofa saja. Karena meski dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Andre, hatinya masih enggan untuk bisa seakrab sebelumnya. Dulu ketika Andre berselingkuh di luar, Perasaan Arini mungkin tak begitu sakit. Tapi setelah melihat Andre selingkuh di depan matanya, bayangan kejadian itu sampai sekarang masih saja seperti irisan cabe jika diingat.


"Biar aku saja yang di sofa." Andre menggeser tubunya hendak turun dari ranjang. Rasanya tidak etis juga kalau dia harus tidur di ranjang sedangkan yang punya kamar malah tidur di sofa.


"Gak pa-pa, aku sudah biasa tidur dimana aja. Beda sama kamu nanti malah gak bisa tidur lagi kaya waktu itu." Arini masih ingat ketika Andre pindah dari sofa ke ranjang waktu masih di apartemen. Dia memang terbiasa tidur tertib di kasur dan tak biasa tidur dimana saja.


Ada hal yang tidak diketahui Arini setelah meninggalkan Andre dari apartemen. Andre malah sering tidur di kamar Arini dan dia sudah nyaman dengan wangi khasnya. Bahkan kemarin saja Andre tertidur di sofa dengan lelap. Padahal seumur-umur baru kali itu Andre tidur di sofa.


"Mm.. jangan begitu. Malah semenjak kamu tidak ada, aku tidur di kamar kamu. Aku sudah nyaman sekarang tidur dimana pun." Jawab Andre sambil. turun dari kasur dan melangkah mendekati sofa.

__ADS_1


Arini mengerutkan dahinya. Merasa tidak percaya.


"Makanya kamu pindah sana! Biar aku tidur disini!" Ucap Andre sambil menarik selimut yang sudah dipakai Arini.


Tanpa di duga Andre langsung mengangkat tubuh Arini melayang ke udara. Tangannya yang kekar mudah sekali mengangkat Arini yang berbadan ramping dan tidak terlalu tinggi di bandingkan Renata.


"Ih.. apa-apa an sih kamu!?" Arini menolak untuk diangkat Andre.


"Perempuan itu mesti dipaksa. Kalau tidak mana mau." Ucap Andre sambil menahan tawa. Dia sedang menggoda Arini saat ini. Andre tahu istrinya pasti sangat ketakutan saat ini mengingat wajahnya saja berubah pucat.


Andre melangkah lalu menidurkan Arini perlahan di kasur. Kedua wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja. Sampai deru nafas mereka berdua saling menerpa.


Andre dan juga Arini merasa gugup. Detak jantungnya seolah berlarian menghadapi kedekatan keduanya seperti itu. Padahal sebelumnya. Andre sudah lebih intim ketika Arini cedera waktu itu. Mungkin sekarang perasaan mereka berbeda, sehingga entah apa yang membuat keduanya begitu tegang.


Arini memejamkan matanya lalu bicara. "Aku.. agak sesak." Ucap Arini merasa tubuhnya tertindih Andre.


"Eh ya.. maaf." Andre buru-buru sadar dari lamunannya. Meski dia tidak mencintai Arini tapi perangkat tubuhnya selalu otomatis, jika bersentuhan sedekat itu.


Gila.. hampir saja aku menyentuhnya.


Gumam Andre yang sadar junior nya kini menegang meminta pelampiasan. Dan darahnya berdesir hebat tersengat ribuan volt begitu badan mereka menempel dalam keadaan intim.


Andre segera berdiri tegak sambil menggelengkan kepalanya menetralisir pikirannya yang sempat berfantasi.

__ADS_1


Dia melangkah pergi ke sofa agar tidak terlalu dekat dengan Arini.


Keduanya sekarang sedang sibuk dengan lamunan dan pikirannya masing-masing. Tak bisa dipungkiri bahwa keduanya merasa gugup dan terangsang. Dan kini mereka harus menetralkan pikirannya kembali menjadi normal agar bisa tidur dengan nyaman.


__ADS_2