
"Oh.. iya ga pa-pa. Tetap semangat." Arini mengangkat sebelah tangannya sambil mengepal, menyemangati Andre layaknya cheerleader.
"Terima kasih. Kita masuk aja ke kamar! Kayanya mending lanjut sambil santai di dalam." Andre mengajak Arini masuk, khawatir terlalu lama di luar malah masuk angin.
Arini pun berdiri lalu mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Aku mau gosok gigi dulu Rin." Andre yang sudah agak kelihatan ngantuk memilih untuk menggosok giginya sebelum ketiduran. Mungkin efek bekerja di lapangan yang lelah, Andre lebih cepat ingin tidur dari biasanya.
"Oh.. baik. Sikat giginya sudah aku siapin yang warna biru di atas wastafel kamar." Arini berjalan masuk ke kamarnya diikuti Andre.
"Wah.. kamu ternyata siaga juga." Ucap Andre memuji Arini sambil tersenyum.
"Ya kan.. ada stok juga di rumah. Kalau ada tamu menginap, kasihan gak ada sikat gigi harus ke luar dulu beli." Ucap Arini merendah. Sikap Arini yang memang baik dan juga tidak sombong banyak disukai banyak orang. Tapi bagi orang yang baru mengenalnya dia terbilang dingin dan kaku.
Andre lebih dulu menggosok giginya, Arini merapihkan ranjang king size nya yang sedari tadi juga sudah rapih. Maklum kebiasaan Andre yang harus serba bersih dan wangi membuat Arini ekstra lebih dalam membersihkan dari biasanya.
"Loh.. kok kamu membawa bantal ke sofa?" Andre melihat Arini membawa bantal juga selimut ke sofa yang ada di kamarnya begitu ke luar dari kamar mandi seusai menggosok gigi.
"Iya. Aku tidur di sofa aja, kamu tidur di ranjang!" Arini agak kurang nyaman satu kasur dengan Andre.
"Lah.. kan waktu di apartemen juga kita satu kasur. Gak pa-pa kan?" Andre agak mengerutkan dahi melihat Arini yang merona merah pipinya. Karena waktu di apartemen dia terpaksa harus tidur di ranjang satu kamar karena sakit. Kalau sekarang Arini merasa canggung karena tidak alasan untuk satu kasur dengan Andre.
"Aku mau menggosok gigi dulu." Ucap Arini menghindari jawaban dari pertanyaan Andre.
Andre melihat Arini yang bergelagat aneh.
"Bukannya menjawab, malah pergi." Guman Andre pelan.
Arini menarik nafas dan meraba dadanya di depan wastafel sambil bercermin. Ada debaran aneh yang dirasakan Arini saat ini. Canggung, malu, juga nervous. Itu yang sedang dirasakan Arini saat ini.
__ADS_1
Berbeda ketika sewaktu di apartemen, karena waktu itu posisi Arini sedang sakit, dan tak mungkin Andre macam-macam dengannya. Tapi entahlah sekarang dia merasa jantungnya bertebaran tidak karuan.
Setelah agak tenang Arini mengambil sikat giginya lalu menggosok gigi. Kegiatan menggosok gigi pun seperti menjadi agak lama karena diselingi dengan lamunan.
Setelah beres menggosok gigi, dia melanjutkan dengan mencuci muka juga mengoleskan cream malam sebagai perawatan wajah.
Kenapa aku jadi bingung begini ya? Kalaupun Andre meminta haknya malam ini, ya wajar karena dia masih berstatus suami. Tapi kok aku kaya yang tidak siap begitu?
Arini bermonolog. Masih mematung di depan wastafel.
Diciumnya ketiak sebelah kiri dan kanan bergantian. Dia khawatir ketiaknya mengeluarkan bau-bau aneh karena dia sedang tegang.
Ah.. kenapa ketegangan aku melebih operasi. Ini benar-benar tak masuk akal.
Gumam Arini masih betah berdiri di depan wastafel sambil memastikan penampilannya.
Andre yang sudah berbaring di atas kasur dengan memejamkan matanya yang belum juga tertidur agak merasa aneh dengan Arini.
Andre bermonolog.
Karena merasa khawatir, Andre memanggil Arini sambil berbaring di atas kasur.
"Arini.. kamu masih di kamar mandi? Lagi ngapain?" Tanya Andre sambil menajamkan telinganya. Dengan perasaan was-was takut terjadi apa-apa dengan Arini di dalam sana, Andre bangkit dari kasur dan mencoba duduk bersandar ke bantal.
Arini yang mendengar panggilan Ande, terkejut. Dia meraba dadanya yang hampir saja melonjak.
"Iy.. iya. Aku sudah selesai kok." Arini pura-pura membenarkan rambutnya yang asal ikat dengan ******* satu karet khusus rambut lalu bergerak melangkah ke luar kamar dengan nafas agak tidak teratur.
Krekkk
__ADS_1
Andre melihat ke arah pintu, muncul Arini dengan wajah yang seperti tegang.
"Kamu.. tidak mandi kan?" Tanya Andre menyangka Arini mandi karena lamanya di dalam kamar mandi.
"Apa? Mandi? Apa aku harus mandi?" Kentara sekali Arini terlihat gugup.
"Oh.. jadi kamu tidak mandi? Dikira aku kamu mandi." Tanya Andre kembali membaringkan tubuhnya rileks di atas kasur.
"Mmm.. apa aku harus mandi sekarang?" Tanya Arini dengan mata melebar melihat Andre. Arini menyangka Andre kecewa karena Arini tidak melakukan mandi dulu sebelum tidur. Mungkin malam ini Andre menginginkan dirinya dalam keadaan mandi terlebih dahulu sebelum menyentuhnya.
Andre malah kembali menoleh ke arah Arini. Melihat keanehan dengan sikap Arini yang terlihat tidak tenang dan gugup.
"Kamu kenapa sih Rin? Kalau kamu sudah mandi, kenapa harus mandi lagi? Aku cuman bertanya saja sama kamu. Karena kamu barusan lama banget di kamar mandi. Bukan menyuruh kamu mandi lagi. Kamu jangan salah paham!" Ucap Andre menetralkan suasana kesalahpahaman nya.
"Oh.. iy iya." Jawab Arini masih gugup. Dia terlihat seperti orang bodoh yang ketahuan berbuat salah. Arini lalu berjalan melewati Andre dan duduk di depan cermin meja rias dan menyemprotkan parfum ke beberapa tubuhnya. Andre yang masih melihat Arini, mengerutkan dahi.
"Kamu mau kemana Rin? Kok menyemprotkan parfum sebanyak itu?" Tanya Andre masih mengamati Arini.
"Ya?" Arini melihat Andre dari cermin dengan melebarkan mata.
"Kamu terlihat aneh, tidak seperti kemarin-kemarin. Apa kamu tidak nyaman denganku?" Tanya Andre menebak-nebak perasaan Arini.
"Oh.. enggak. Biasa aja. Aku.. cuman mengikuti kebiasaan kamu. Khawatir kamu tidak nyaman denganku." Jawab Arini dengan dada terasa deg-deg an seperti sedang diinterogasi.
"Sini duduk!" Ande menyuruh Arini duduk di samping nya di kasur yang masih kosong.
Arini berdiri dengan ragu. Lalu melangkah mendekati ranjang dan duduk di tepian kasur. Andre masih lekat melihat Arini.
"Kamu kaya yang aneh gitu? Kaya bukan kamu sebelumnya. Apa semenjak pergi ke Bali kamu jadi berubah?" Andre melihat wajah Arini dengan tajam. Arini yang sedang dilihat Andre seperti itu bertambah nervous.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak berubah. Kenapa harus berubah?" Jawab Arini membohongi dirinya sendiri.
"Tapi aku rasa kamu seperti berubah. Apa kamu sudah menemukan seseorang selama di sana?" Tanya Andre penasaran dengan perubahan Arini, yang semu takut-takut mendekati dirinya menjelang tidur. Padahal tadi biasa saja ketika makan dan mengobrol. Tapi begitu menjelang tidur Arini seperti terlihat canggung.