
"Untuk apa dokter menemuiku?" Tanya Arini. ketika keduanya sudah duduk santai sambil menikmati pesanan kue dan minumannya.
"Aku.. hanya ingin minta maaf. Karena sikapku yang tak sopan, anda jadi pergi meninggalkan rumah sakit." Dokter Kris terpaksa merendahkan dirinya di hadapan Arini demi tujuannya tercapai mengajak Arini kembali bekerja di rumah sakitnya.
"Mmm... syukurlah kalau. dokter sadar diri. Tapi saya tidak akan kembali ke rumah sakit itu." Jawab Arini datar.
Kris terdiam begitu mendengar Arini mengatakan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Sebenarnya aku datang kesini karena merasa bertanggung jawab atas perbuatan ku. Jika anda tak berminat datang kembali ke rumah sakit, sedikitnya anda pikirkan bagaimana perasaan ibu anda ketika anaknya sudah tidak bekerja lagi." Ucap dokter Kris yang tahu kemarin dokter Damar menemui ibunya dokter Arini di rumahnya.
"Maksud anda?" Arini tidak mengerti apa yang dikatakan dokter Kris.
"Beberapa hari yang lalu dokter Damar datang ke rumahmu menemui ibumu. Dan dia mengatakan yang sebenarnya pada ibumu, bahwa anda telah resign dari rumah sakit." Terang dokter Kris memberitahu dokter Arini.
Mata dokter Arini melebar dan dia menutup mulutnya. Seketika itu juga nafasnya seperti tercekat.
"A.. apa?" Dokter Arini terbata-bata.
"Iya. Ibu anda sudah tahu bahwa anda sudah tidak bekerja sejak anda kecelakaan lalu sekarang keluar. Dan anda mengatakan bahwa anda masih bekerja disana. Apa. menurut anda ibu anda tidak curiga dengan kebohongan anda?" Dokter Kris bukan mau membuat dokter Arini terpojok, tapi dia pun ingin memanfaatkan keadaan ini agar dokter Arini bisa kembali pulang ke Jakarta.
Mata Arini mengembun. Hatinya terasa sedih telah ketahuan berbohong oleh ibunya. Ibunya pasti merasa sangat sedih, putrinya berani membohonginya.
"Sebelum terlambat sebaiknya diperbaiki. Jangan sampai ibumu juga tahu apa yang dilakukan suamimu." Dokter Kris yang jugasudah mengetahui kondisi perselingkuhan suaminya ingin melindungi Arini dari rasa keterpurukannya.
"Baik. Aku pulang. Setidaknya aku akan menyelesaikan urusanku disini." Arini tak bisa lagi menghindar dari dokter Kris. Rahasianya sudah ada ditangannya sekarang. Yang harus dia lakukan bagaimana agar ibunya tidak kecewa. Ya terpaksa dia harus kembali melanjutkan kerjanya di rumah sakit itu demi menutupi kekisruhan rumah tangganya.
"Baik. Aku akan menunggu mu. Selesai apa yang perlu jangan sampai kamu terjebak di dalamnya." Tak semata-mata dokter Kris mengatakan itu. Dia sudah tahu kalau dokter Arini kini sedang merawat pasien orang penting. Semua informasi Arini lengkap karena adanya orang dalam yang notabene temannya Made yang memberitahukan nya.
__ADS_1
"Baik. Sekarang aku pergi dulu." Arini bangkit dari kursinya dan hendak meninggalkan dokter Kris di kantin untuk pergi ke ruangan Edward.
Kepergian Arini yang lumayan lama membuat ibunya Andre cemas. Dia telah memerintahkan pengawalnya untuk mencari keberadaan Arini di rumah sakit. Sang pengawal melaporkan semua yang dilakukan Arini dengan dokter Kris di kantin. Itu membuat ibunya Edward agak gelisah. Dia tahu anaknya seperti menyukai Arini. Bagaimana kalau dia tahu bahwa perempuan itu sudah memiliki kekasih atau teman dekat.
"Assalamu'alaikum." Ucap Arini memberi salam.
"Waalaikumsalam." Ibunya Edward juga yang lainnya melihat ke arah pintu.
"Eh dokter.. sudah shalatnya?" Ibunya Edward pura-pura tidak tahu.
"Sudah nyonya." Arini agak malu mungkin dia telah lama meninggalkan ruangan itu. Tadi dia meminta izin untuk shalat saja.
"Mari kita makan. Kita sedang menunggu anada datang lho! Pastinya perut kita sudah keroncongan." Ucap ibunya Edward sejak tadi menunggu kedatangan Arini hanya untuk makan bersama.
"Maaf.. kenapa tidak duluan saja? Jangan menunggu saya!" Ucap Arini jadi tidak enak hati, karena mereka menunggu lama kedatangannya.
"Ih.. mamih.. " Edward agak malu ketika ibunya terlalu terus terang. Edward meluhat ke arah Arini dan begitupun Arini melihat ke arah Edward Kedua netra beradu. Arini cepat-cepat membuang pandangannya dari Edward lalu mengalihkan pandangannya melihat makanan yang sudah siap sedia di atas meja di depan sofa.
"Baik. Apa kita bisa mulai?" Ajak ibunya Edward meminta persetujuan Arini.
"Boleh." Arini mengangguk.
"Mari kita duduk!" Ibunya Edward mengajak Arini yang masih berdiri untuk duduk di sampingnya.
Arini pun melangkah mendekati sofa lalu duduk di samping ibunya Edward.
"Ed.. kamu mau disuapin mamih sayang?" Tanya ibunya yang sudah siap dengan nasi dan beserta lauk pauknya.
__ADS_1
"Biar sama saya saja nyonya." Arini menawarkan diri untuk menyuapi Edward.
Ibunya Edward seperti bermimpi, begitu pun dengan Edward. Hatinya senang bukan kepalang mendengar Arini menawari dirinya untuk disuapi nya. Entah ada apa dengan hatinya Edward. Biasanya dia hanya sebatas suka-suka saja mendekati perempuan, tapi begitu melihat Arini selain dia merasa berhutang budi hatinya begitu tak ingin lepas darinya.
"Aduh.. nanti bagaimana dokter Arini? Gak enak mamih harus merepotkan dokter." Ucap nyonya Karina pura-pura.
"Tidak apa-apa nyonya. Tadi saya sudah mengganjal perut saya di kantin. Kebetulan tadi bertemu dengan teman dan mengajak makan." Ucap Arini memberikan prolog. Tidak semata-mata Arini mau menyuapi Edward, tapi ada yang ingin dikatakannya nanti pada keluarga pasien. Dia ingin membeli hatinya dulu agar tidak syok. Ini pun dia berikan sebagai sebagai perpisahan. Karena Arini berniat besok akan meninggalkan Bali.
"Oh begitu ya? Duh Terima kasih ya dok." Nyonya Karina tersenyum sumeringah. Upaya mendekatkan anaknya dengan Arini seperti menemukan jalan. Dia tidak tahu padahal ini malam terakhir dia bisa membersamai Edward.
Arini membawa piring itu lalu duduk di dekat ranjang Edward. Dia mulai menyuapi Edward. Pandangan Edward tak mau lepas menatap Arini. Ada perasaan senang juga bahagia dia bisa dekat dengan Arini. Kalaulah tidak malu, ingin sekali dia membawa Arininke dalam dekapannya.
Nasi yang di dalam piring tinggal beberapa suap tapi Edward sudah merasa kenyang. "Sudah! Aku sudah kekenyangan." Ucap Edward.
Arini menyimpan piring lalu membawa tisu juga minum.
"Apa ada sisa makanan di mukutku?" Tanya Edward pada Arini.
Arini mengangguk.
"Tolong dimana?" Edward sengaja memancing Arini untuk membantu mengelapnya.
Nih modus banget bayi besar. Di kasih jantung minta hati
Gerutu Arini di dalam hati.
Tapi Arini akhirnya membawa tisu dan membantunya mengelap sisi mulut Edward. Dia tidak mau meninggalkan kesan buruk. Apalagi Edward mempunyai riwayat jantung, dia mesti berhati-hati dalam bersikap jangan sampai dia membuat Edward kaget. Keduanya saling bersitatap membuat Arini gerogi. Arini belum pernah sedekat ini dengan pria asing kecuali Andre sebagai suaminya yang sah untuk menyentuhnya. Tapi dengan pria yang bukan muhrim, ini adalah kali pertamanya.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Edward. Jauh dalam hatinya dia merasa gugup juga sudah sedekat ini dengan Arini. Padahal dia sering dekat dengan banyak perempuan bahkan lebih, tapi hatinya belum pernah berdesir sehebat sekarang.