
"Apa yang kalian lakukan?" Dokter Kris sudah dua kali memergoki tetangganya membawa selingkuhannya di apartemen. Kalau bukan karena dokter Arini, dokter Kris malas sekali ikut campur kehidupan tetangganya.
Dia merasa kesal juga marah pada dua orang yang berbeda jenis kelamin itu karena tanpa canggung melakukan perselingkuhan di depan matanya.
"Heh.. apa. urusan kamu harus mencampuri urusan kami?" Andre maju ke depan mendekatkan wajahnya pada dokter Kris yang dianggapnya terlalu mencampuri urusan keduanya. Dengan mata menyorot tajam Andre hendak menyerang dokter Kris karena dianggap terlalu kepo.
"Apa yang menjadi urusan dokter Arini, akan berurusan dengan aku." Jawab dokter Kris sambil menyorot tajam wajah Andre menyerangnya kembali. Dua laki-laki ini sedang saling menyerang lewat mata.
"Apa? Kenapa kamu menjadi harus repot mengurusi istri aku dan apa yang terjadi dengan kami? Apa urusanmu dengan istriku? Kamu berselingkuh dengan istriku?" Andre membalas dokter Kris dengan menaikan intonasi bicaranya. Dia heran kenapa tetangganya bisa tahu bahwa istrinya seorang dokter, dan kapan dia bisa tahu nama istrinya.
"Dia seorang dokter profesional. Akibat kamu dia tak bisa jadi bekerja menjadi dokter lagi. Rumah sakit kami akan kerugian banyak karena kehilangan dokter Arini. Ini semua gara-gara kamu mendorongnya di lift waktu itu. Dan sekarang dokter Arini mengundurkan diri jadi dokter gara-gara kelakuan suaminya yang bejat yang membuat konsentrasinya menjadi dokter pun menjadi rusak. Apa itu tidak cukup buat aku untuk ikut campur dengan apa yang kalian lakukan? Hah?" Dokter Kris mendorong dada Andre sampai terjengakang ke belakang beberapa langkah. Untung kaki Andre cukup seimbang menahan badannya sehingga tak jadi jatuh ke lantai. Kalau tidak, mungkin pinggangnya akan patah atau keseleo.
"Jangan mencari-cari alasan kamu ya? Aku tidak ngapain-ngapain dia. Dia sendiri yang jatuh. Dan darimana kamu tahu kalau dia bekerja di rumah sakit?" Andre maju ke depan ingin melawan dokter Kris.
"Apa mesti aku keluarkan rekaman CCTV-nya? Baru kamu sadar? Oh.. iya.. kamu memang tidak akan sadar kan? Makanya dengan terang-terangan membawa seorang pelakor ke sini. Kalau kamu laki-laki waras mana mungkin membawa seorang pelakor ke hadapan istrinya sendiri. Sungguh amazing... " Dokter Kris dengan sinis menyindir kelakuan Andre yang di luar batas.
"Diam kamu! Jangan campuri urusanku! Kalau tidak.. "
"Kalau tidak? Kenapa? Mau menuntut? Atau mau kutuntut balik?" Dokter Kris memotong bicara Andre.
Andre tidak melanjutkan bicaranya dia merasa terdesak. Apalagi setelah mendengar bahwa orang yang di depannya menyebut camera CCTV.
"Beraninya hanya selingkuh! Jangan menyesal jika kamu akan kehilangan istrimu! Kamu memang laki-laki buta yang tidak bisa membedakan mana berlian dan kerikil. Hanya laki-laki seperti kamu yang akan jatuh karena memilih baru kerikil sebagai pilihan." Dokter Kris langsung melengos masuk ke dalam apartemennya yang sebelumnya menatap sinis pada Renata.
Dada kedua laki-laki itu sama-sama bergemuruh karena marah.
__ADS_1
"Sudah Ndre.. ngapain kamu melayani laki-laki tak berguna itu. Mending kamu sekarang mencari cara agar istri kamu bisa kamu ceraikan secepatnya daripada mengurus hal-hal tak penting." Renata malah memprovokasi Andre yang labil.
"Tidak. Aku tidak bisa menerima penghinaan dia. Memangnya dia itu siapa?Akau tak bisa diam diperlakukan begitu." Andre tak bisa menerima perlakuan dari Kris yang baru saja terjadi.
"Ya sudah terserah kamu aja Ndre.. aku pulang dulu." Ucap Renata pamit. Dia sudah tahu sikap Andre yang kadang plin plan. Tapi buat Renata, yang penting Andre jangan sampai lepas darinya. Kapan lagi dia akan mendapatkan laki-laki tajir seperti Andre, pewaris tunggal satu perusahaan dari Hendri corporation.
"Mmm." Jawab Andre singkat.
Begitu dia melangkah akan masuk, Andre menghentikan langkahnya. Terbersit untuk mengunjungi tetangganya itu untuk mengorek informasi tentang Arini. Karena dia juga bingung kepada siapa lagi dia harus menanyakan tentang Arini.
Ting tong, ting tong
Jari-jarinya bergerak menekan belt yang ada di pintu tetangganya.
Klek
"Hei.. ngapain kamu masuk ke dalam apartemen ku?" Teriak dokter Kris menarik kerah baju Andre dari belakang dengan kasar.
"Tenang bro... tenang! Ngapain panik? Takut? Kenapa takut? Apa kamu menyembunyikan istriku disini?" Andre mengedarkan pandangan di dalam apartemen dokter Kris.
"Keluar kamu! Atau kalau tidak, aku panggilkan security kesini untuk mengusirmu!" Dada dokter Kris terlihat naik turun karena menahan marah.
Andre yang telah melepaskan tangan dokter Kris dari kerah bajunya, Andre melenggang menuju sofa yang ada di dalam apartemen dokter Kris. Lalu duduk bersilang kaki dengan santai. Matanya sedang meneliti ke setiap sudut, barangkali Arini ada di dalam apartemen tetangganya itu.
Dokter Kris akhirnya mengalah dia duduk di seberang Andre.
__ADS_1
"Kamu tidak akan menyuguhi tamu?" Andre menatap dokter Kris.
"Kamu bukan tamu. Ngapain aku harus menyuguhi
kamu." Ketus dokter Kris tak mau repot-repot menyuguhi tamu tak diundang.
"Hei.. apa. salahnya kita mulai mengakrabkan diri, bukankah kita tetangga? Tak baik kita bermusuhan. Apalagi kamu mengenal istriku. Berarti kamu teman istriku kan?" Andre sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan tetangganya yang tadi sempat bersiteru demi mendapatkan info tentang Arini.
"Justru karena aku temannya Arini, aku tidak suka sama kamu." Jawab dokter Kris tak mau berbaik hati pada laki-laki yang sudah menyakiti Arini.
"Teman apa penggemar? Sejauh mana kalian berhubungan? Atau jangan-jangan kamu menyembunyikan dia di sini?" Andre memancing dokter Kris agar mau menceritakan tentang Arini.
"Mau teman atau penggemar apa urusanmu? Aku tidak seperti kamu yang memasukan sembarangan perempuan ke apartemen. Apalagi. perempuan yang statusnya bersuami." Jawab Kris.
"Mmm... baguslah! Aku jadi tenang kalau istriku tidak main fair." Ucap Andre sambil menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Sebaiknya kamu segera keluar dari apartemen ku sebelum kesabaranku habis!" Dokter Kris berdiri melangkah ke arah pintu.
"Baik. Aku akan keluar dari sini. Jangan khawatir tetangga, aku tidak akan menganggumu terlalu lama. Aku hanya ingin berbaikan dengan kamu." Andre bangkit dari duduknya, dan melangkah ke arah pintu keluar dari apartemen dokter Kris.
Brak.
Dokter Kris menutup pintu agak keras sampai Andre melonjak kaget.
"Ish.. benar-benar menyebalkan. Kalau bukan Arini, aku tak mau kenal sama kamu laki-laki sombong!" Andre mendumel.
__ADS_1
Lantas dia masuk ke apartemennya. Dia berdiri di belakang pintu sambil menghela nafas panjang.
"Kemana lagi aku mencarimu?"