
Sepasang mata dari tadi mengawasi gerak-gerik Andre. Dia bersembunyi di belakang banner yang terpasang di lantai satu lobi rumah sakit. Setelah melihat Andre keluar dari rumah sakit barulah Arini keluar dari persembunyiannya.
Arini dengan langkah terburu-buru mendekati lift sambil tertunduk.
Ting
Suara pintu lift terbuka.
Arini masuk ke dalam lift lalu menekan nomor lantai yang diinginkannya. Tak lama kemudian pintu lift terbuka.
Arini melangkah keluar dengan kembali menundukkan pandangan. Saat ini rumah sakit adalah tempat ternyaman untuk Arini bersembunyi dari Andre. Rasa sakit di hatinya juga sedih sedang menyelimuti Arini.
"Dokter Arini." Seseorang memanggil Arini begitu melihat sosok Arini keluar dari pintu lift.
Arini mengangkat wajahnya yang masih menyisakan air mata. Dia buru-buru menyeka air matanya lalu menoleh ke arah asal suara.
Mata dokter Herman langsung menatap inten wajah Arini, lalu turun ke bawah melihat kedua tangannya.
"Kamu ikut denganku! Dokter Herman segera menggandeng bahu Arini agar mengikutinya. Arini tidak menolak. Dia mengikuti langkah dokter Herman.
Dia ternyata membawa ke ruang ronsen untuk memeriksakan kondisi tangan Arini. Seharusnya gift yang kemarin dipasang dibuka 2hari lagi. Ini malah sudah terlepas. Entah apa yang terjadi dengan Arini. Dokter Herman belum mau bertanya masalahnya.
Tanpa banyak bicara dokter Herman membimbing kedua lengan Arini untuk masuk ke dalam alat agar dia bisa memfoto bagian tangannya.
Arini mengikuti apa yang diarahkan dokter Herman.
Tak lama kemudian dia sudah bisa membaca laporan di layar komputer setelah memfoto bagian lengan yang cedera.
Dokter Herman melepaskan alat itu dan membimbing Arini untuk duduk di kursi yang ada di satu ruangan. Sepertinya dokter Herman sudah membaca kondisi hati Arini. Dari raut wajahnya saja sudah bisa ditebak bahwa Arini sudah menangis. Dia sekarang terlihat sedih.
"Tangan kamu terlalu berharga Arini. Jangan kau lukai sedikitpun! Apa jadinya jika tangan kamu tak bisa mengoperasi banyak pasien? Tentu akan banyak kesedihan yang datang." Dokter Herman duduk berhadapan di depan Arini memberi dorongan positif pada Arini. Arini tertunduk tak berani mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Kamu tahu itu kan dokter Arini?" Dokter Herman menatap inten wajah Arini yang sedang murung.
"Aku coba pake perban saja ya, agar retakan tangan kamu bisa cepat pulih." Dokter Herman membawa kain khusus untuk melilit bagian lengan Arini agar retakan di tangannya tidak mudah goyang.
"Ingat Arini! Siapapun tak boleh menyakiti kita. Termasuk kita. Kamu harus jaga hati kamu agar tangan kamu cepat sembuh! Jangan biarkan tangan ini mengeluarkan banyak air mata." Ucap dokter Herman.
Arini terisak dadanya serasa sesak. Apa salahnya selama ini? Bahkan dia merasa telah banyak menolong orang lain. Tapi nyatanya, suaminya malah dengan tega menyakiti perasaannya. Menyia-nyiakan pengorbanannya selama ini, lalu dengan mudah dia bersenang-senang dengan kekasihnya tanpa mau mengambil konsekuensi dari pilihannya sendiri. Arini merasa dia menjadi korban keegoisan Andre.
Arini tak mampu berbicara sedikitpun mengenai apa yang telah terjadi. Dan dokter Herman pun tak mau memaksa Arini untuk menceritakannya.
"Sekarang kamu istirahat!" Jangan menangis! Cari tempat yang menurut kamu nyaman untuk beristirahat. Kamu sekarang mau kemana? Biar tasnya aku pegang!" Tanya Dokter Herman memastikan Arini nyaman dengan hati dan pisiknya.
"Aku.. ingin istirahat di ruangan ku saja!" Jawab Arini.
"Baik. Aku antar ke sana!" Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan khusus Arini.
"Dokter Arini.. " Suara dokter Damar terdengar jelas di telinga keduanya begitu akan memasuki pintu.
"Eh.. selamat siang dok." Keduanya memutar tumit melihat pada dokter Damar yang sedang melintas di depan ruangan dokter Arini.
"Siang. Dikira kamu masih ambil cuti." Keduanya melihat inten pada wajah Arini yang sembab.
"Iya dok. Saya masih mau ambil cuti. Tapi ingin melihat beberapa pekerjaan saya dulu." Jawab Arini mencari alasan.
Dokter Kris mengamati Arini dari atas sampai bawah. Lalu beralih ke dokter Herman yang sedang membawakan sebuah tas ransel.
Ada rasa cemburu dari dalam hati dokter Kris melihat dokter Arini dan dokter Herman berduaan. Bahkan setelah melihat mata Arini yang sembab, dokter Kris merasa ada yang terjadi diantara mereka.
"Oh iya, Kenalkan ini dokternya Kris.. ini dokter Arini." Dokter Damar mengenalkan keduanya karena waktu penyambutan dokter Arini tidak hadir di tempat.
"Mmm.. bukankah kita sudah saling mengenal? Bukankah begitu dokter Arini?" Dokter Kris tidak menyodorkan tangannya. Dia melihat inten pada dokter Arini.
__ADS_1
Dokter Damar sekaligus dokter Herman mengerutkan dahi. Heran dokter Kris dan dokter Arini sudah saling mengenal.
"Iy.. iya." Dokter Arini terpaksa tersenyum tipis menanggapi pembicaraan dokter Kris.
"Baguslah kalau begitu. Kalian bisa berkoordinasi sejak sekarang." Dokter Damar masih tidak percaya dengan pembicaraan dokter Kris yang mengenal dokter Arini.
Bukannya kemarin dia mengatakan perawan tua pada dokter Arini? Kok sekarang tiba-tiba kenal? Aneh
"Betul. Kalau anda tidak keberatan saya ingin bicara dengan anda sekarang." Dokter Kris tidak mau dokter Herman terlalu dekat dengan dokter Arini. Makanya dia membuat alasan agar dokter Herman saudara tirinya itu menyingkir dari dokter Arini.
"Kalau dokter Kris ada yang mau dibicarakan dengan dokter Arini silahkan! Saya mau melanjutkan pekerjaan saya." Dokter Damar izin pamit.
"Mmm..baik. Masuklah!" Dokter Arini membuka handle pintu ruangannya.
Dokter Damar lantas pergi meninggalkan ketiga dokter itu.
"Awww... " Arini meringis. Tangannya masih terasa ngilu. Dengan cepat dokter Herman membukakan pintu.
"Silahkan masuk!"
Arini mempersilahkan masuk keduanya.
"Aku.. hanya menyimpan tas saja ya Rin. Nanti aku kesini lagi!" Dokter Herman kurang nyaman dengan keberadaan dokter Kris diantara mereka.
"Oh.. iya. Terima kasih dok!" Ucap Arini.
"Sama-sama." Dokter Herman keluar tanpa pamit pada dokter Kris. Terlihat wajah keduanya seperti menunjukkan tak ramah.
Tinggallah mereka berdua di ruangan. Arini dan dokter Kris duduk saling berhadapan yang terhalang oleh meja kerjanya.
"Wah.. tak menyangka kita malah satu profesi. Mmm... jodoh tidak lari kemana." Dokter Kris memulai pembicaraan.
__ADS_1
Arini belum berbicara. Dia masih bingung dengan topik yang akan dibicarakan dengan dokter Kris.
"Kamu tahu siapa yang menggantikanmu selama kamu cuti?" Tanya dokter Kris sambil memandang wajah perempuan yang akan dijodohkan padanya. Dia menatap detail setiap inchi wajah Arini. Arini yang merasa ditatap seperti itu membuang muka dan tak mau bersitatap dengan laki-laki asing di depannya.