Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Kata ampuh yang membuat jatuh


__ADS_3

"Saya duluan ya pak Andre." Sang mandor pun pulang tepat waktu karena waktu sudah menunjukkan jam 4 sore.


"Iya pak. Hati-hati di jalan." Ucap Andre yang masih duduk di depan komputer membuat laporan harian untuk Sang bos yang notabene adalah bibinya sendiri.


"Pak Andre juga. Jangan lupa makan dan minum kalau lembur! Jangan sampai perut kosong gara-gara kerja!" Pak Asep menyampingkan tas ranselnya di bahu sebelah kanan setelah memakai jaket.


"Iya pak. Kalau ingat." Andre terkekeh. Karena beberapa hari ini dia lembur hanya kopi saja yang masuk ke dalam perutnya. Dia tidak membeli makanan untuk mengirit pengeluaran. Dia lebih memilih makan di apartemen dengan stok makanan melimpah yang dibeli Arini.


"Ya udah jangan lupa kunci ya! Nanti cadangannya titip di securiry!" Pak Asep mengingatkan Andre khawatir lupa.


"Iya baik pak." Andre melanjutkan bekerja membuat laporan. Rencananya malam ini dia tidak akan pulang terlalu larut. Karena harus mampir ke rumah mertuanya.


Ada perasaan tenang setelah tadi ibunya mengabari bahwa Arini, sudah datang.


Hhhmmm.. ternyata dia pergi ke Bali toh. Apa dia pergi sendiri atau bersama yang lain? Atau jangan-jangan dia pergi dengan dokter gadungan itu.


Terbersit dalam pikiran Andre pikiran buruk tentang kepergian Arini ke Bali.


Tapi Andre tak mau melanjutkan prasangkanya. Dia melanjutkan membereskan laporan agar cepat selesai. Malam ini tenaganya seperti mendapatkan suntikan, bahkan mengerjakan laporan pun serasa mudah dan cepat.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Andre pun segera mengirimkan filenya melalui emailnya. Tak lupa membuat laporan di print sebagai dokumentasi dan audit. Setelah selesai semuanya, Andre segera mematikan komputer dan membereskan mejanya.


Dia segerakan mematikan AC juga listrik di ruangannya agar rapih dan aman. Setelah beres dia mengambil jaket juga tasnya hendak pulang.


Kring

__ADS_1


Kring


Kring


Suara panggilan masuk ke handphonenya. Tertera nama Sang kekasih di layar handphone. Dalam beberapa hari ini Andre tidak menghubungi Renata pastinya dia akan cemberut dan marah jika sehari saja tak menghubungi.


Andre mengangkat panggilan. Karena dia pun merasa rindu untuk mendengarkan suaranya, bahkan lebih.


"Halo sayang.. " Andre mengangkat telepon sambil melangkah pergi dari ruangan sambil mengunci pintu.


"Kemana saja sih kamu Ndre? Aku pergi ke kantor mu malah diusir. Kamu sengaja ya meninggalkan pesan di security agar mengusirku?" Renata berapi-api karena kesal ketika datang ke kantor Andre diusir oleh security, katanya atas perintah dari yang punya perusahaan.


"Maafin aku sayang... aku.. " Andre ragu untuk berkata sebenarnya.


"Bukan begitu. Ayahku yang melarang security itu. Aku tak bisa berbuat apapun." Andre mencoba membuat Renata mengerti akan keadaan.


"Kenapa? Kamu kan bisa menemui aku jangan sampai aku datang ke kantor kamu. Aku datang ke apartemen kamu, kamu juga tidak ada. Kamu sebenarnya sedang menghindar atau serius dengan istri kamu?" Renata takut kehilangan Andre, meski selama Andre tidak ada dia selalu mengisi kesepiannya dengan pergi klubing.


"Bukan begitu sayang... aku sedang dihukum sama ayah aku. Aku kerja lembur dan tak boleh menemui kamu. Jadi untuk sementara kamu sabar aja dulu! Bisa kan?" Tanya Andre sambil berjalan ke area parkir.


"Tapi aku benar-benar kangen sama Ndre.. Kamu bisa kan malam ini datang ke apartemen aku. Aku sedang naik nih.. " Suara manja Renata membuat buku kuduk Andre meremang.


Tentu Andre pun sama halnya seperti Renata yang sudah pernah mencicipi manisnya madu sangat menginginkan kehangatan bersama Renata. Tapi lagi-lagi keadaan tidak memungkinkan. Dia sudah berjanji akan menikahi Renata kalau uangnya sudah cukup. Dan di tak mau Renata kecewa dengan keadaannya sekarang yang menjadi seorang pegawai.


"Maaf sayang.. aku diawasi sama ayahku. Tunggu ya sampai hukuman aku selesai. Nanti aku nyamperin deh ke apartemen kamu." Ucap Andre membuat alasan.

__ADS_1


"Tapi Ndre... please.. Aku kangen banget. Masa iya kamu tega sih?" Renata memelas ingin didatangi Andre.


"Aku juga ingin sayang... tapi.. situasinya tidak mungkin. Kalau aku memaksakan, kita nanti akan kesusahan. Apa kamu mau kesulitan karena ayahku membuat perhitungan dengan kita. Aku saja sekarang sedang sulit karena sedang dihukum. Apalagi kalau melanggar. Bagaimana nasib kita ke depan." Ucap Andre agar Renata mau mengerti keadaannya dan bisa bersabar.


"Kenapa kamu tidak mengikuti saran aku saja sih Ndre? Aku kan sudah ngasih tau kamu waktu itu. Kita bisa kabur ke luar negeri dan bisnis di sana." Renata tak mau Andre diam saja atas keputusan ayahnya itu.


"Aku sudah mencobanya sayang.. justru karena aku ketahuan, makanya sekarang aku sedang dihukum." Jawab Andre menjelaskan alasan kenapa dia sampai dihukum.


"Ah.. kamunya saja terlalu bodoh Ndre.. masa melakukan kaya gitu saja sampai bisa ketahuan. Kamu tuh jadi laki-laki terlalu lemah jadi bisa dikendalikan sama orang tua kamu. Coba kalau kamu punya posisi tawar, kamu bisa dipertahankan di perusahaan meski keadaan kamu bagaimana pun." Renata kesal sampai lupa dia mengatakan Andre bodoh.


Deh


Rasanya dada Andre terasa sakit setelah mendengar Renata mengatai dirinya bodoh. Kata itu selalu membuat Andre jatuh selama ini. Ayahnya dari dulu selalu menghinanya dengan kata-kata itu sehingga, Andre selalu minder dan tak percaya diri karena dikatai dengan kata-kata 'bodoh'


"Maaf Ta.. gue tutup dulu teleponnya. Gue agak pusing sama lelah dengan pekerjaan." Suara Andre terdengar tak bersemangat setelah Renata berbicara seperti itu padanya. Kecewa Andre tak bisa diukur setelah dia pun dicap bodoh oleh kekasihnya sendiri. Padahal selama ini Renata lah yang membuat hati dan semangat Andre meningkat. Dia yang selalu menghibur hatinya dikala jatuh. Tapi malam ini, Sang kekasih pun dengan teganya mengatakan dirinya bodoh.


"Eh.. Ndre.. kok kamu kaya gitu sih? Aku kan kangen sama kamu. Kamu malah mau menutup telepon. Gimana sih kamu!?" Renata mendumel karena kesal. Malam itu gairah nya sedang naik, tapi Andre tak mau melayani Renata. Jadi emosi Renata menjadi labil sehingga tak sadar dirinya sudah membuat Andre kecewa besar pada dirinya.


"Iya maaf aku ini lagi nyetir Ta. Nanti gue telepon lagi." Andre langsung menutup sambungan telepon dan melajukan mobilnya keluar proyek.


"Eh.. pak Andre sudah mau pulang?" Security di depan gerbang membuka pagar.


"Iya pak. Ini kunci kantor pak. Saya pulang dulu." Andre kurang semangat memberikan kunci itu pada security.


"Oh baik pak. Hati-hati di jalan!" Ucap security sambil memberi hormat.

__ADS_1


__ADS_2