
"Kenapa kamu menghalangi aku dari dia?" Arini melayangkan protes.
"Aku tidak menghalangi kamu. Aku hanya menjagamu saja. Jangan sampai kamu ribut di rumah sakit. Kalau mau sayang-sayangan dan mau perang-perangan kamu nanti di rumah. Jangan disini!" Ucap Kris tak mau banyak berdebat banyak, yang nantinya bisa membuat Arini kabur lagi.
Arini terdiam. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Kris. Dia melanjutkan langkah nya mengikuti dokter Kris yang akan menuju ruangan ayahnya.
"Selamat siang." Dokter Kris membuka pintu setelah tadi bertanya lebih dahulu pada seorang sekertaris ayahnya yang berada di meja luar. Di Sana hanya ada dokter Damar dan ayahnya, makanya dokter Kris berani membuka pintu langsung.
"Selamat siang." Jawab dokter Damar mengalihkan pandangan pada arah pintu. Kedua orang yang cukup berumur itu langsung seperti tersihir melihat sosok yang berada di belakang dokter Kris.
"Dokter Arini... " Keduanya kompak menyeru satu nama yang sama.
"Selamat siang Pak direktur, juga dokter Damar. Apa kabar?" Arini sedikit membungkuk sambil mengucapkan salam.
"Selamat siang." Jawab dokter Damar sambil membetulkan kacamatanya sambil melihat dokter Arini. Dia tak percaya ternyata dokter Kris berhasil membawa dokter Arini lagi ke rumah sakit ini.
"Silahkan duduk!" Ayahnya dokter Kris, tuan Julio mempersilahkan dokter Arini duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Apa kabarnya dokter Arini?" Tuan Julio terlihat sangat senang melihat kedatangan dokter Arini kembali. Rupanya angin segar sedang bertiup ke arahnya membawa kebahagiaan tersendiri.
"Baik. Alhamdulillah baik." Jawab dokter Arini sambil mengangguk.
"Mmm.. tolong perintahkan pada sekertaris untuk membawa jamuan ke ruangan ini. Sepertinya dokter Arini kehausan juga." Tuan Julio memerintahkan dokter Damar untuk menghubungi sekertaris tuan Julio agar menyuguhi tamunya.
"Tak usah repot-repot. Saya hanya mampir sebentar sebelum saya kembali ke rumah." Jawab Arini tak mau disambut berlebihan.
__ADS_1
"Tak apa. Kita juga sedang santai kok! Malah saya senang melihat dokter Arini baik-baik saja. Bagaimana dengan liburannya?" Tuan Julio tak mau membahas langsung ke pekerjaan.
Wajah Arini nampak masih gugup. "Alhamdulillah baik." Jawab Arini bingung harus menjawab apa. Karena beberapa hari di Bali tak jauh beda dengan dirinya di Jakarta yang selalu saja disibukkan dengan pasien.
"Bahkan saking baiknya dia di sana berlibur merawat pasien. Benar-benar dokter teladan." Dokter Kris yang berada di samping dokter Damar menimpali.
"Wah.. jadi dokter Arini di sana merawat pasien?" Dokter Damar menoleh ke arah dokter Kris.
"Ya begitulah." Jawab dokter Kris singkat.
Arini agak melebarkan matanya memelototi dokter Kris yang terlalu jujur mengatakan apa yang dikerjakannya selama di Bali.
"Wah.. marah." Dokter Kris membuang muka ke sembarang arah melihat dokter Arini memelototinya. Dokter Damar dan tuan Julio tertawa melihat tingkah dokter Kris dan dokter Arini. Mereka senang melihat keakraban dari keduanya.
"Maaf tuan Julio. Kedatangan saya sebenarnya kesini ingin meminta maaf pada anda. Karena saya sudah tidak sopan mengajukan resign tanpa persetujuan anda terlebih dahulu." Arini memasang wajah serius berbicara pada tuan Julio selaku direktur utama sekaligus pemilik rumah sakit besar ini.
"Tidak apa-apa dokter Arini. Anda berhak mengambil cuti atau liburan. Justru saya yang merasa bersalah selama ini terlalu memforsir anda di rumah sakit ini. Ya salah satunya karena permintaan pasien yang nyaman dengan pelayanan anda." Dokter Julio berusaha membuat dokter Arini nyaman dengan keadaannya.
"Terima kasih atas pengertian anda. Sekali lagi saya mohon maaf." Dokter Arini sedikit membungkukkan badan menghormati atasannya sekaligus bos besarnya.
"Sama-sama. Saya juga secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas dedikasinya dokter Arini selama ini. Tanpa anda rumah sakit ini jadi sepi. Bahkan beberapa selama anda tidak ada saya kewalahan dengan banyaknya telepon menanyakan kabar kapan anda datang kembali. Sekarang saya sudah tenang, dokter Arini kini sudah kembali." Ucap Tuan Julio membicarakan kondisi selama tidak adanya dokter Arini di rumah sakit.
Tak lama kemudian sang sekertaris dibantu OB membawa nampan berisi air teh juga aneka cemilan ke dalam ruangan direktur. Dia menata gelas-gelas cantik berisi air teh juga cemilan di atas meja.
"Ayo diminum dokter Arini!" Tuan Julio mempersilahkan semuanya untuk mencicipi suguhan sang sekertaris yang sudah tertata rapih di atas meja.
__ADS_1
"Terimakasih." Dokter Arini dan yang lainnya pun mengambil gelas dan mulai menyeruput teh wangi lembut itu dengan perlahan. Ada rasa relaks ditubuhnya.
"Teh nya wangi sekali ya!" Puji dokter Arini.
"Ini teh khusus dipesan direktur. Teh ini teh aroma terapi. Dengan menyeruput teh ini pikiran kita menjadi sedikit relaks." Jawab dokter Damar yang banyak tahu kegemaran sang bosnya.
"Oh.. begitu." Jawab dokter Arini yang baru tahu mengenai kesukaan tuan Julio.
"Kapan-kapan kita akan dokter Arini ke rumah untuk makan-makan santai. Bagaimana?" Tuan Julio sepertinya menemukan celah untuk pendekatan pada keluarga Arini.
"Mmm.. InsyaAllah." Jawab Arini singkat.
"Nanti dokter Arini akan tahu, banyak makanan herbal yang dikoleksi tuan Julio di rumahnya. Juga minuman-minuman herbal ada di rumahnya. Bukan begitu tuan Julio?" Dokter Damar mempromosikan koleksi bos besarnya itu di depan dokter Arini.
"Yah ada beberapa. Kebetulan kalau lagi jalan-jalan saya senang bawa oleh-oleh nya yang seperti itu. Bahkan saya punya ginseng ratusan tahun hadiah kolega waktu itu. Kalau dokter Arini nanti ke rumah, saya akan seduhkan untuk anda. Katanya bagus untuk awet muda." Tuan Julio menawarkan salah satu koleksi gingseng tertuanya pada dokter Arini.
"Wah.. satu kehormatan bagi saya jika tuan Julio bisa menyuguhi saya seperti itu. Tapi saya malu, saya tidak mempunyai apa-apa untuk dihadiahkan untuk anda." Ucap Arini merendah.
"Jangan begitu dokter Arini. Dengan datangnya dokter Arini di sini saja sudah buat saya adalah kehormatan besar." Ucap dokter Julio.
Arini tersenyum senang mendapatkan pujian dari bos besarnya itu. Dia tidak melihat di mata bos besarnya itu kekecewaan atas sikapnya yang kemarin. Bahkan dia terlihat ramah dan baik menyambutnya kembali.
Setelah dirasa cukup obrolan mereka. Arini pun pamit untuk pulang. Tuan Julio memberikan waktu pada dokter Arini sampai dirinya siap kembali bergabung di rumah sakit. Kedatangan dokter Arini di rumah sakit membawa kesegaran tersendiri di mata tuan Julio. Selain menstabilkan pemasukan financial, dia pun ingin dokter Arini lebih dekat lagi dengan keluarganya. Ada niat terselubung dibalik keramahtamahan tuan Julio
Dia hendak menjodohkan Arini dengan dokter Kris. Sampai sejauh ini tuan Julio belum mengetahui bahwa Dokter Arini sudah menikah.
__ADS_1