Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Suara yang sama


__ADS_3

Setelah pertemuan antara orang tua Andre dan ibunya Arini, semuanya kini telah jelas. Umi Syarifah maupun Arini tidak mau berlarut-larut dalam kecewa. Untungnya anak gadisnya masih perawan, meski dia seorang janda, mereka masih punya harga diri yang bisa dipertahankan. Namanya juga jodoh, kalau Tuhan berkenan meraka akan bersatu, tapi sebaliknya jika Tuhan tidak berkenan mereka pasti berpisah.


Lain Arini lain Andre, setelah surat cerai resmi keluar, Andre malah merasa gelisah. Dia tak mendapatkan sedikitpun bantuan dari orang tuanya dan Edward pun kesannya mengabaikan permintaan dirinya yang waktu itu pernah Edward tawarkan. Tentu, Edward bukan tak ingin membantu Andre lebih banyak, tapi dia lebih patuh pada ibunya, yaitu nyonya Karina.


Karena terdesak kebutuhan, Andre melamar kerja di malam hari sebagai pelayan di sebuah diskotik. Selepas bekerja di proyek dia langsung pergi ke sana untuk bekerja. Apapun akan dilakukannya untuk memenuhi dan menyenangkan Renata. Padahal gajinya saat ini menjadi kepala proyek lumayan besar, tapi gaya hidup Renata membuat Andre kelimpungan mencari uang tambahan.


Lelah dan capek, dia abaikan demi perempuan yang dia cintai. Setiap malam dia selalu pulang larut dan akan pergi lagi pada jam 8 pagi. Itulah sekarang kegiatan rutinitas Andre sehari-hari.


Renata yang notabene mengaku hamil, lebih banyak senang-senang. Bahkan setiap hari dia akan hangout bersama teman-teman sosialitanya. Dia tidak tahu sama sekali kerja keras Andre setiap hari demi mencukupi kebutuhannya. Selain tiap hari Andre tidak ada di rumah, perempuan itu memang tidak betah diam di rumah apalagi kegiatan pemotretannya sekarang berhenti.


Sampai saat malam minggu tiba. Teman-teman Renata yang biasa nongkrong di klub malam mengajak Renata untuk datang. Selain itu memang mereka rutin datang, malam itu salah satu temannya ada yang ulang tahun. Jadi memaksa Renata untuk datang di malam itu.


Renata yang tahu kebiasaan suaminya yang selalu pulang larut, merasa tenang. Ketika salah satu temannya mengajaknya ke pesat ulang tahun, tanpa menunggu lama dia langsung mengiyakan ajakan itu.


Malam itu klub malam telah di booking. Beberapa tamu umum di larangan masuk. Hanya tamu undangan yang punya hajat saja yang bisa masuk malam itu, termasuk Renata.


"Akhirnya kau datang juga setelah beberapa minggu ini absen." Salah satu teman Renata berkomentar begitu Renata datang.


"Datang dong, demi lah!" Jawab Renata sambil mendudukkan pantat di sebuah sofa.


"Beda dong yang sudah menikah.. " Salah satu teman Renata menimpali.


"Iya, tiap malam ada yang garap. Jadi gak butuh lagi pencarian." Ucap teman yang lainnya yang tahu kebiasaan Renata.


"Ssst... malam ini kayanya gue lagi butuh nih! Habis suami gue sibuk terus sampai lembur pagi." Setelah Andre bekerja sampingan memang keduanya hampir tidak pernah melakukan hubungan suami istri.


"Wei.. Wei.. kamu kekeringan ya? Ck.. Ck.. kasian.. kasian. Tapi jangan khawatir! Aku juga mengundang salah satu cowok ganteng yang pernah kencan sama kamu lho Ta!" Jawab Isye.. sang punya hajat.


"Oh ya? Mana?" Renata begitu antusias ketika teman spesialnya mengundang pria yang pernah kencan satu malam dengan dirinya.

__ADS_1


"Mmm... kayanya dia berkesan banget ya Ta?" Tanya Isye begitu penasaran.


"Jangan bilang-bilang Ta! Nanti diembat sang punya hajat deh." Teman Renata mengingatkan Renata meski dalam bentuk candaan.


"Gila kamu, pacar gue mau dikemanain?" Isye langsung menimpali. Dia tak enak kalau pacarnya sampai mendengar kata-kata itu. Bisa kacau pestanya malam ini. Bahkan pesta malam ini adalah hadiah dari sang pacar.


"Ha ha.. ha ha.. " Mereka kompak tertawa membuat orang sekeliling tertuju pada mereka.


Dan di salah satu dapur klub malam, semua pegawai sudah di briefing terlebih dahulu agar mereka jangan membuat kesalahan. Apalagi ini pesta spesial dari pelanggan klub. Semua pegawai mengangguk patuh tanda mereka mengerti apa yang sudah diarahkan manajer klub.


Andre yang bertugas sebagai pelayang yang menyediakan minuman ke pelanggan dengan sigap melayani para tamu. Meski gengsi dan lelah, dia tetap bersemangat bekerja demi menafkahi sang istri kesayangannya.


"Kamu antarkan minuman cemilan ini ke ruangan ViP bagian atas!" Salah satu kepala pelayan mengarahkan Andre untuk mengantarkan pesanan ke lantai dua. Itu ruangan yang biasa disewa pelanggan untuk area privasi.


Andre pun mengangguk patuh. Dia membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk dibawa ke lantai dua. Andre yang terbiasa memakai masker untuk menghindari tamu yang dikenalinya, mulai berjalan melangkah ke tempat yang dituju.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Suara laki-laki terdengar menjawab dari dalam. Teman Andre pun membuka pintu itu lalu mengangguk hormat pada penghuni ruangan.


Terlihat ada dua orang yang saling berpelukan di sofa tanpa terlihat wajahnya. Mereka asik dengan kegiatan panasnya tanpa mengindahkan pelayan diskotik yang sudah biasa disuguhi pemandangan seperti itu.


Andre yang ke bagian membawa nampan, berdiri mematung sambil menunggu rekannya menurunkan pesanan.


"Ah.. geli." Seorang wanita itu tertawa pelan begitu tangan laki-laki dibawahnya meraba ke bagian bawah roknya.

__ADS_1


Deg


Andre mengerutkan dahi.


Tak mungkin dia. Tapi suaranya begitu mirip.


"Aku suka gayamu itu lho.." Laki-laki itu semakin menggoda perempuan yang sedang ada dipangkuannya. Dia duduk membelakangi pelayan yang sedang menurunkan pesanan.


"Tak mungkin kita melakukan itu di sini. Bagaimana kalau kita pergi ke apartemen?" Ajak sang wanita pada pria yang sedang menggodanya.


Perasaan Andre semakin tidak karuan. Meski dia tidak melihat wajah perempuan itu, tapi suaranya begitu mirip dengan seseorang yang dikenalinya.


"Mmm.. apa tidak tanggung?" Laki-laki itu yang sudah berkabut nafsu rasanya tidak bisa menunda keinginannya.


"Permisi." Andre sengaja mengeraskan suaranya pamit untuk undur diri dari ruangan itu.


Deg


Si wanita itu duduk mematung tanpa menjawab pertanyaan laki-laki yang sedang menggodanya.


Andre dan kedua rekannya keluar dari ruangan itu.


"Kenapa kamu tadi mengeraskan suaramu ketika permisi?" Rekan kerja Andre seolah menegur Andre yang terlihat tidak sopan.


"Oh.. apa tadi suaraku begitu keras?" Andre pura-pura tidak merasa bersalah.


"Sekalian bawa toa. Kalau kamu ingin cepat dikeluarkan dari pekerjaan. Katanya kamu butuh uang? Disini kita bekerja dan mencari uang, bukan mencari gara-gara." Rekan kerja Andre mengingatkan Andre akan kesalahannya.


"Oh.. maaf. Mungkin telingaku agak terganggu. Jadi menurutku tadi aku bicara pelan." Andre mencari alasan.

__ADS_1


"Lain kali. Biar aku saja yang permisi. Kamu cukup membawa nampan, agar tidak salah paham." Ucap rekan kerja Andre memberitahu Andre agar berhati-hati saat bekerja.


__ADS_2