Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Rasa


__ADS_3

Kedua orang beda jenis kelamin sedang duduk saling berhadapan. Sejak mereka bertemu, hanya beberapa kata saja yang baru terlontar dari masing-masing bibir mereka. Itu pun hanya memesan menu makan siang yang ada di lestoran itu.


Keduanya saling menunggu siapa yang akan memulai untuk bicara. Setelah mereka bercerai, sikap keduanya semakin terasa kaku.


"Ehem.. ehem.. " Dokter Arini sengaja berdehem. Dia tidak bisa diam, dan juga tak bisa menunggu terlalu lama. Itu Isyarat dia pada Andre untuk bicara terlebih dahulu. Karena menurutnya, karena Andre lebih dahulu mengajaknya bertemu makan siang. Jadi tidak salah kalau Andre harus memulai pembicaraan. Tentu bukan hanya sekedar makan siang, pasti ada yang ingin dibicarakannya.


"Maaf.. " Hanya itu yang keluar pertama kali dari bibir Andre. Sebenarnya dia sedang bingung, darimana dia harus memulai bicara pada dokter Arini, yang nota bene mantan istrinya itu. Padahal kalaulah bisa dibuka isi kepalanya, semua masalah dan rasa penasaran sedang berkumpul menunggu jawabannya.


"Maaf.. sudah mengganggu waktumu. Aku... aku.." Lidah Andre mendadak kelu.


"Tidak apa-apa. Kebetulan pekerjaan ku juga tidak terlalu sibuk." Dokter Arini berusaha sebaik mungkin agar Andre merasa nyaman. Sesekali dokter melihat ke arah Andre yang dengan pandangan seorang dokter Andre terlihat kurang sehat. Terlihat banyak keringat di keningnya yang keluar, juga wajahnya yang agak pucat.


"Aku sebenarnya belum sempat meminta maaf atas kesalahan ku padamu!" Andre mengutarakan isi hatinya pada dokter Arini. Sejak perceraiannya memang Andre belum dengan sungguh-sunguh meminta maaf pada mantan istrinya karena sikapnya yang sedikit banyak menyakiti perasaan dokter Arini.


"Tenang saja. Aku sudah memaafkannya meski kamu tidak memintanya. Bukan karena aku lemah, tapi semata-mata aku butuh berdamai dengan hatiku sendiri." Jawab Arini lugas. Terus terang meskipun pernikahan yang seumur jagung itu dilandasi karena perjodohan, tapi dokter Arini tulus ingun mencintai Andre pada awalnya. Tapi, kenyataan memang tidak berpihak. Semuanya seolah menjadi sia-sia jika orang yang dihadapanya memang berbanding terbalik.


"Terima kasih." Ucap Andre agak sungkan.


"Sebenarnya... ada yang ingin aku tanyakan kepadamu perihal laki-laki yang waktu itu pernah bersamamu." Meski sudah berpisah Andre ingin memastikan apakah mantan istrinya itu menjalin hubungan dengan dokter Kris atau tidak sebelum mereka menikah.

__ADS_1


"Maksudnya laki-laki yang mana?" Dokter Arini agak sedikit tudak nyaman dengan pertanyaan Andre.


"Mmm... yang tinggal di depan apartemenku. Aku melihat dia juga dekat denganmu." Andre memberitahu laki-laki yang dimaksudkan nya.


Dokter Arini mengerutkan dahi. Mengingat laki-laki yang tinggal di depan apartemen mantan suaminya juga yang dekat dengannya. Tak banyak lelaki yang dekat dengan dokter Arini. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Tapi yang tinggal di depan apartemen mantan suaminya? Dokter Arini sedang mengingat siapa kira-kira yang dimaksud Andre.


"Maksumu dokter Kris? Yang tinggal di depan apartemen mu itu, namanya dokter Kris." Jawab Dokter Arini heran. Kenapa mantan suaminya bertanya tentang dokter Kris.


"Sejak kapan kalian saling mengenal?" Tanya Andre sangat tak sabar mendengar jawabannya.


"Mmm... aku baru kenal sejak dia bertugas di rumah sakit tempat aku bekerja. Dan itu belum lama ini. Sebelumnya aku tidak mengenalnya. Memangnya ada apa kamu menanyakan dia?" Sekarang giliran dokter Arini yang penasaran. Kenapa Andre menanyakan dokter Kris.


"Tidak. Bahkan waktu aku tinggal di apartemenmu, aku tidak mengenalnya. Aku baru tahu bahwa di seorang dokter, ketika dia diperkenalkan di rumah sakit di hari pertama dia bekerja. Dan itupun saat kita sudah menikah. Memangnya kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu. Apa dia ada hubungan denganmu?" Kini dokter Arini balik bertanya.


"Mmm... tidak.. tidak. Aku hanya ingin bertanya saja." Jawab Andre sedang mencari kejujuran di mata dokter Arini. Dia tak melihat dokter Arini menyembunyikan sesuatu. Bahkan dia terlihat lebih tenang.


"Aku kira ada hal penting." Dokter Arini menyeruput jus pesanannya yang kini sudah ada di atas meja. Setelah barusan pelayan mengantarkan semua menu yang telah dipesan oleh keduanya.


Andre pun terdiam. Dia mengikuti dokter Arini, dengan mengambil minuman yang telah dipesannya lalu menyeruput perlahan agar kegugupannya bisa berkurang. Saat ini justru dokter Arinilah yang terlihat lebih tenang ketimbang dirinya yang merasakan derasnya kucuran keringat dingin yang dirasakannya tidak normal.

__ADS_1


Andre menaruh gelas yang berisi kopi itu diatas piring kecil dimana gelas itu tadi disimpan dengan cantik. Sedangkan dokter Arini dengan santainya menikmati jus yang sedang disesapnya lewat sedotan yang tersedia di dalam gelas jus itu.


Sejenak Andre menarik nafas. Dia ingin melanjutkan pembicaraannya dengan dokter Arini. Mumpung ada kesempatan dan suasana dokter Arini pun terlihat baij-baij saja.


"Mmm... sebenarnya kemarin sewaktu kalian sedang bersama di restoran xxxx aku ada disana. Aku melihat kalian nampak akrab. Aku kira kalian sudah dekat lama." Ungkap Andre pada dokter Arini untuk memancing agar dokter Arini bisa berbicara lebih.


"Oh.. ya?" Dokter Arini menanggapi biasa saja. Tidak terkejut bahkan ekspresi nya sangat santai. Dia berpikir kenapa harus dilebih-lebihkan? Toh dia sekarang sudah berstatus bebas dan dia bebas bisa berdampingan dengan siapa saja dia ingin.


"Aku melihat kalian begitu akrab. Apa kalian menjalin hubungan?" Telisik Andre ingin tahu.


"Mmm.. hubungan? Maksudnya hubungan apa? Kalau sekadar berteman sih, iya. Tapi kalau lebih sih, tidak." Dokter Arini menjawab begitu santai. Karena tak ada yang harus dia tutupi saat ini. Toh dia tidak melakukan kesalahan. Kalaupun dia ada hubungan dengan dokter Kris, semua itu ya wajar dan normal.


"Teman ya? Apa kamu menyukainya?" Andre lagi-lagi memancing ingin tahu lebih banyak tentang perasaan dokter Arini.


"Maaf... sepertinya kok arah pembicaraan kita lebih ke aku ya? Apa kamu merasa terganggu dengan sikap aku yang dekat dengan laki-laki? Aku rasa, jika tujuan kamu ingin menginterogasi aku, kayanya kita sudahi saja pembicaraan kita." Lama-lama dokter Arini merasakan ketidaknyamanannya. Meski tadi dia sudah berusaha santai. Tapi semakin lama Andre seperti ingin tahu banyak tentang privasinya.


"Maaf.. Rin.. maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku... hanya ingin tahu saja. Aku hanya ingin tahu apakah keadaan kamu baik-baik saja setelah bercerai denganku. Aku bersyukur jika kamu baik-baik saja. Aku... ikut bahagia jika menemukan laki-laki yang baik padamu. Aku.. minta maaf. Karena aku.. kamu jadi susah." Ada rasa sakit yang kini menggores di hatinya. Entah itu rasa penyesalan atau rasa cemburu. Yang jelas, Andre sedang tidak baik-baik saja. Hatinya sekarang sedang dipenuhi rasa yang tidak dimengerti oleh dirinya.


"Ya aku baik-baik saja. Dan aku harus seperti itu. Terlepas aku sudah disakiti ataupun tidak. Aku tetap harus melanjutkan hidup aku. Aku tak mau meratapi apa yang sudah terjadi. Aku harap pembicaraan kita sudahi sampai disini. Dan ke depannya mari jangan saling peduli!" Mata dokter Arini terlihat berair. Wanita mana yang baik-baik saja setelah diselingkuhi oleh suaminya. Dia hanya menyembunyikan luka agar tidak terlalu terlihat lemah.

__ADS_1


__ADS_2