
"Lalu kenapa kamu menjanjikan Andre dengan jabatan? Apa kamu mau menyuap Andre agar melepaskan Arini?" Tanya nyonya Karina. Dia tak mau Edward mencampur adukan masalah bisnis dan pribadi. Apalagi ini ada sangkut pautnya dengan saudara. Nyonya Karina menjungjung tinggi perdamaian. Dia tak mau ada perselisihan antara keluarga yang membuat hidupnya tak nyaman. Makanya dia lebih memilih membangun bisnisnya sendiri dengan suaminya ketimbang berharap banyak dari warisan leluhur orang tuanya.
"Mih.. ini kesempatan aku menolong Arini. Andre pasti butuh uang banyak untuk membiayai istrinya yang sekarang. Gaya hidup nya berbeda dengan dokter Arini. Kalau aku tidak menolongnya, Arini akan terus terikat dengan Andre. Om dan tante juga takkan membiarkan Arini lepas begitu saja. Aku ingin Andre secepatnya menceraikan Arini tanpa sepengetahuan om dan tante. Urusannya bakal ribet kalau Arini tidak bisa cerai dari Andre apalagi kalau sampai mereka punya anak. Om dan tante pasti memilih Arini sebagai menantu dan jadi pewaris perusahaan. Mamih tolong mengerti Ed!" Edward yang lebih dahulu tahu persoalan meraka meminta ibunya ikut menolong masalah Arini.
Nyonya Karina masih terdiam. Dia sedang memikirkan masalah itu secara matang agar tidak salah langkah.
"Mamih tidak tahu apa harus menolong Andre atau bagaimana? Soal perceraian kalau kita ikut menekannya malah akan berujung akan menyalahkan kita. Mamih tidak mau disalahkan. Mending Arini tahu pernikahan mereka, dan Arini sendiri yang akan menyelesaikan masalah pernikahannya dengan Andre tanpa penekan kita. Mamih tidak mau kamu salah langkah Ed! Nanti ujung-ujungnya bukan mendapatkan Arini malah Arini menjauh dari kamu." Nyonya Karina sebagai orang tua harus memberi saran bijak pada Edward agar tidak salah mengambil keputusan.
"Iya mih. Tapi bagaimana caranya? Masa iya aku harus terus terang pada Arini tentang pernikahan Andre. Nanti aku dibilang cowok comel lah." Edward tak mau kalau Arini menganggap dirinya cowok rendah dikarenakan mengambil jalan pintas.
"Kenapa kamu harus menyukai dokter Arini dari sekian banyak perempuan Ed? Mamih gak suka kalau hubungan kekeluargaan ini jadi pecah gara-gara kamu menyukai istri sepupu kamu." Nyonya Karina berusaha menyadarkan anaknya agar tidak terlibat jauh dengan masalah Andre.
"Mamih.. kan dulu suka sama Arini? Kenapa malah sekarang mempertanyakan kenapa Edward menyukai Arini? Ya suka saja lah mih.. Pertama kali lihat Edward sudah jatuh hati sama dokter Arini." Edward jadi pusing harus banyak berdebat dengan ibunya. Biasanya ibunya ini jarang sekali menolak permintaannya. Tapi kali ini nyonya Karina tidak akan mudah memberi keinginan putranya itu.
__ADS_1
Rasa kekhawatiran Edward sangat besar kalau Andre tidak secepatnya menceraikan Arini. Apalagi kalau sampai Arini hamil, itu akan menyulitkan Edward untuk menikahinya. Jadi Edward akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan Arini meski tidak akan mendapatkan bantuan ibunya.
"Ya sudah kalau mamih tidak mau bantu aku. Aku akan bekerja sendiri mendapatkan Arini." Ucap Edward sambil mengusap kasar wajahnya. Dia tahu ibunya ini orang yang sangat hati-hati dalam mengambil keputusan.
"Sabar dulu Ed! Jangan ceroboh! Mamih bukan tidak mau bantu kamu. Tapi bagaimana caranya Andre bisa melepaskan Arini tanpa penekanan kita. Jika semakin ditekan dia malah akan semakin mengekang Arini. Apalagi dia tahu kamu menyukai istrinya itu." Jawab nyonya Karina.
"Tapi mih.. kalau dia minta jabatan, berarti dia setuju dengan permintaan ku." Ucap Edward mengingatkan itu.
"Mamih rasa tidak begitu, dia sedang menekan kamu agar memberi pekerjaan. Karena dia tahu kamu menginginkan istrinya. Mamih pikir dia kan memerasmu malah." Jawab nyonya Karina yang membaca gelagat Andre.
"Ya.. makanya kamu harus banyak belajar menilai orang! Bukan mainin banyak wanita! Kerja yang bener! Biar pintar juga mencari jodoh bukan merebut jodoh!" Nyonya Karina berdiri hendak meninggalkan putranya. Dia sangat menyayangi putranya semata wayangnya yang lemah ini. Setiap orang mempunyai ujiannya masing-masing. Ada yang diuji pasangan, diuji anak, diuji kekayaan dan keluarga nyonya Karina kebagian diuji dengan kesehatan anaknya. Tapi dia tak pernah terlihat mengeluh apalagi menyerah, dia selalu berusaha dan bersyukur dikaruniakan putra dan menikmati keluarga bahagianya meski memang tidak sempurna.
"Eh.. mih mau kemana?" Edward mendongak melihat ibunya yang hendak meninggalkan ruangan. Edward masih ingin tahu, apakah ibunya akan membantunya atau tidak.
__ADS_1
"Mamih mau meneruskan bekerja. Papih kamu kasihan tidak temannya." Ucap nyonya Karina melangkah pergi.
"Aish... kalian selalu saja romantis. Kapan giliran aku seperti kalian?" Keluh Edward iri melihat kedua orang tuanya selalu romantis meski usianya tidak muda lagi.
*****
Di lain tempat Andre pulang lebih awal ke apartemen. Setelah menikah tidak ada tempat lain lagi untuk tinggal selain apartemen yang pernah ditempati dengan Arini. Tak ada bulan madu setelah pernikahan. Karena Andre tidak mempunyai uang. Untuk mas kawinnya saja Andre terpaksa menjual beberapa barang branded nya. Untungnya biaya pernikahan gedung dan lain-lain ya ditanggung oleh kedua orang tuanya.
Tadi setelah menemui bibinya, dia belum bisa mendapatkan hasil kenaikan jabatan. Padahal di waktu sekarang dia membutuhkan pekerjaan yang lebih tinggi dan gaji yang lebih besar untuk membiayai hidupnya bersama Renata. Dia tidak ingin terlihat kekurangan di mata Renata.
"Kenapa pulang lagi?" Tanya Renata melihat Andre lesu. Kemarin-kemarin Andre mengenakan baju kemeja dan kaos oblong jika berangkat. Tapi hari ini Andre kembali berpakaian jas dan kemeja tak lupa dasi yang terpasang rapi di kerah kemejanya. Dia tak mau Renata tahu kalau dia sekarang bekerja sebagai buruh di proyek, meski jabatannya paling tinggi.
"Iya.. aku agak kurang enak badan. Tadi sengaja izin pulang." Jawab Andre sambil menoleh pada Renata yang duduk di sampingnya sambil mengunyah buah-buahan. Renata mengenakan baju santai yang seksi yang membuat Andre menelan salivanya
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu istirahat saja!" Jawab Renata santai.
"Kita istirahat bareng di kamar yuk! Aku lagi naik nih!" Andre mengajak Renata untuk masuk ke kamar. Sejak pernikahannya di kota Medan mereka belum sempat menghabiskan malam pertama. Selain lelah, mereka juga banyak acara adat yang harus dijalani sesuai adat istiadat daerah setempat. Ini kesempatan Andre untuk menikmati pengantin baru bersama Renata. Hasratnya yang menggebu tak bisa ditahan lagi. Sebagai laki-laki normal dia butuh pelepasan. Apalagi dia telah merasakan surga dunia bersama Renata di malam pertama menikah dengan Arini.