
"Iya nanti papih sama mamih suruh orang untuk mencari dia. Kata dokter yang menangani kamu, dia sempet menunggu di depan ruang operasi sebelum mamih sama papih datang." Ucap ibunya Edward menjelaskan.
"Aku merasa hutang nyawa sama dia." Edward yang mendengar cerita dari kedua orang tuanya, merasa ada perasaan hutang budi pada orang yang telah menolongnya.
"Mmm.. katanya sih dia juga seorang dokter juga. Tadi mamih sempet ngobrol sama dokter kamu. Selain membawamu sampai rumah sakit dia juga sudah melakukan pertolongan pertama dengan tepat sewaktu di hotel. Jadi ketika operasi jantung, kamu bisa tertolong." Jelas ibunya Edward menyampaikan kembali berita dari dokter yang menanganinya.
Ah.. aku penasaran sekali sama dia.
Kring
kring
kring
Satu panggilan datang di layar handphone Edward.
"Halo bro.. " Edward langsung berbicara akrab membuat kedua pasang mata menatap serius pada Edward.
"Eh apa kabar Ed?"
"Wah...feel elu baik banget. Kabar gue lagi di rumah sakit. Elu mau jenguk gue?"
"Wah.. gue boke Ed, gak bisa jenguk elu cuma bisa nelpon doang."
"Apa? Elu jatuh miskin Ndre? Gak percaya anak uncle tersayang sampai boke gitu! Kenapa. elu disita Ndre?"
"Hooh lah. Jangan ngece gue lah Ed! Gue butuh kerja nih! Gue ngelamar di perusahaan elu lah, gue maksa nih!"
"Wduh...waduh..Sampai ngelamar pekerjaan ke gue." Edward menertawakan permintaan orang di seberang telepon.
"Gue serius nih Ed!"
"Iya.. iya. Ntar gue omongin sama nyokap sama bokap. Gue rekomendasikan elu jadi office boy
Oke. Ha ha ha... " Edward yang sudah lama akrab dengan Andre tak tanggung-tangung bercanda.
__ADS_1
"Ya elah.. elu niat banget ngece gue. Masa iya lulusan luar negeri jadi office boy?" Keluh Andre.
"Hooh lah. Ntar gue bilang ke nyokap
Kali aja uncle ngelarang nyokap gue buat nerima elu Ndre." Terang Edward pada Andre.
"Iya lah gue tunggu kabar baiknya! Sama elu cepet sembuh! Sorry gue gak bisa jenguk elu. Aslinya gue bangkar nih. Semua aset ditarik bokap." Keluh Andre.
"Duh.. kasian.. cup. cup.. jangan nangis ya!" Edward kembali tertawa.
"Ya elah elu tertawa dalam penderitaan gue! Ya udah salam ya buat bibi sama paman." Andre pamitan.
"Oke!" Edward pun menutup. panggilan.
"Siapa Ed?" Ibunya Edward yang nota bene adik dari ayahnya Andre bertanya.
"Andre mih. Katanya minta pekerjaan." Jawab Edward melihat ibunya.
"Lah apalagi yang dilakukan anak itu. Bukannya kemarin baru nikah? Masa sudah jadi pengangguran." Ibunya Edward agak mengerutkan dahinya.
"Tau, kayanya masalah mungkin." Ibunya Edward tahu Andre yang dijodohkan oleh kakaknya tidak mau ikut pusing memikirkan masalah mereka. Keadaan anaknya saja yang penyakitan sudah menyita perhatian dirinya. Edward yang sejak kecil sudah punya penyakit jantung bawaan, memang hidupnya tergantung dengan obat dan alat. Terkadang Edward pun sudah merasa bosan di cap lemah. Bahkan tak sedikit pacar-pacarnya mundur teratur karena tidak mau hubungan mereka berlanjut ke jenjang lebih serius, yaitu pernikahan. Siapa yang mau menikah dengan laki-laki yang diprediksi mempunyai umur pendek itu. Semua perempuan tak ada yang mau menjanda lebih cepat bukan?
"Gimana mih? Mamih mau tampung Andre?" Edward menanyakan tentang permintaan lowongan kerja Andre pada ibunya.
"Entar mamih tanyain dulu sama uncle kamu. Takutnya nanti mamih nanti disalahin." Ibunya Edward tak mau gegabah mengambil keputusan. Perusahaan kontruksi milik ayahnya Andre memang lebih besar dari perusahaan Edward. Tapi perusahaan Edward pun tak kalah saing dengan perusahaan milik pamannya itu, apalagi koneksi dari ayahnya Edward sampai luar negeri. Jadi secara pemasaran memang lebih terkenal perusahaan Edward.
"Maaf nyonya, orang yang anda cari ternyata ada di rumah sakit. Dia sedang mengantarkan pasien di bagian UGD." Salah satu orang suruhan ibunya Edward langsung memberitahu kedatangan Arini untuk ke dua kali di rumah sakit itu.
"Apa? Dimana dia sekarang? Aku mau lihat mih!" Edward langsung senang orang yang dicarinya sudah ketemu.
"Kamu tenang dulu Ed! Biar mamih yang bertemu dengannya." Ibunya Edward melarang Edward untuk turun dari ranjang. Dia begitu antusias mendengar penolongnya datang.
Ibunya Edward bersama suami pergi meninggalkan ruangan untuk menemui Arini. Sesampainya di ruang UGD, ibunya Edward menunggu di luar sampai dokter Arini selesai dengan urusannya.
"Maaf.. nona. Ada yang mencari anda, salah satu perawat menyampaikan pesan pada Arini yang sedang menemani istrinya pak Surya.
__ADS_1
"Iya, siapa?" Tanya Arini heran. Perasaan tidak ada yang kenal di rumah sakit ini.
"Itu keluarga pasien, yang kemarin anda tolong." Jawab perawat. Arini melihat ke arah luar ruang UGD ada dua orang yang melihat ke arahnya dengan tersenyum. Arini pun mengangguk sembari tersenyum ke arah keduanya.
"Maaf Pak Surya saya keluar dulu sebentar ya!" Ucap Arini meninggalkan istri pak Surya yang sedang diperiksa dokter.
"Maaf anda mencari saya?" Tanya Arini pada sepasang suami istri itu.
"Iya bu dokter, maaf saya ingin bicara dengan anda." Jawab ibunya Edward terlihat ramah.
Arini mengernyitkan dahinya, Kenapa mereka bisa tahu aku dokter ya? Apa ada yang tahu identitas ku disini?"
"Mari kita bicara di ruangan!" Ajak ibunya Edward ingin mengajak Arini ke ruangan anaknya.
"Maaf anda siapa ya?" Arini tak lantas menerima ajakan perempuan itu.
"Oh iya kenalkan saya Karina dan ini suami saya Thomas, kami orang tua pasien yang kemarin anda tolong." Ibunya Edward memperkenalkan diri pada Arini.
"Oh, iya. perkenalkan saya Arini." Arini pun menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Maaf dokter, boleh ikut saya? Putra saya ingin sekali bertemu dengan anda. Dia ingin mengucapkan terimakasih pada anda." Ucap ibunya Edward berharap Arini mau ikut dengannya.
"Baik nyonya. Tapi saya tidak bisa lama. Karena saya janji akan menemani pasien tadi." Ucap Arini tak bisa lama-lama meninggalkan pak Surya dan istrinya.
"Baik dokter. Biar nanti orang saya yang menemani pasien anda jika mereka membutuhkan bantuan anda." Ibunya Edward langsung mengedipkan matanya pada salah satu pengawalnya
Wah.. dia pasti orang penting. Sekali kedip langsung diturut
Arini bicara di dalam hati.
"Mati dok!" Ibunya Edward berjalan terlebih dahulu diikuti langkah Arini di belakangnya.
Pintu terbuka dibuka begitu majikannya hendak masuk. Dua penjaga sudah bersiap di depan pintu ruangan Edward.
"Halo sayang... nih mamih bawakan orang yang telah menolong kamu!" Ibunya Edward begitu senang bisa membawakan Arini ke hadapan anaknya, Edward.
__ADS_1
Kedua mata saling beradu.