
"Inilah liburan seorang dokter. Ketika pasien memanggil, akhirnya dia pergi juga" Sebuah postingan di akun Instagram memasang foto Arini yang sedang cemberut lalu naik ke ambulan diposting seseorang.
Dokter Kris terbelalak kaget begitu melihat postingan story instagram saudara sepupunya yang kebetulan berprofesi sebagai dokter juga.
"Hah.. gue harus pergi langsung ke sana sekarang juga! Kalau tidak dia bisa kabur lagi." Dokter Kris tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang datang begitu saja.
Kalau jodoh takkan lari ke mana
Dia langsung menanggalkan pakaian tugasnya yang berwarna putih di atas besi gantungan dan segera membawa rangsel menyampingkannya di atas pundaknya langsung keluar dari ruang kerjanya.
"Hei.. kamu mau kemana?" Tuan Julio yang sedang berjalan berdampingan dengan dokter Damar menegur dokter Kris yang sedang setengah berlari menuju lift khusus.
"Eh.. aku mau mencari dokter Arini. Dia ada di Bali." Jawab dokter Kris.
Dia pun masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka. Tuan Julio melihat heran ke arah putranya yang sudah masuk ke dalam lift.
"Kamu coba suruh yang lain ikuti dia!" Tuan Julio tidak mau ketinggalan info tentang Arini.
"Baik pak." Dokter Damar sebagai kepercayaan tuan Julio patuh mengikuti perintah bis nya. Dai memutar tumit dan berjalan berlawan arah dengan tuan Julio.
Begitu sampai di pelataran rumah sakit Dokter Kris langsung naik taxi dan menyuruhnya pergi ke bandara Soekarno-hatta. Dia sengaja tidak membawa mobil agar tidak ribet harus menyetir dalam keadaan tergesa-gesa.
Setelah sampai di bandara Soekarno-hatta, dokter Kris segera membayar tagihan dan langsung berlari menuju loket penjualan tiket.
Ada jeda sekitar satu jam untuk jadwal penerbangan tercepat ke Bali. Dokter Kris duduk di kursi lobi sambil menunggu jadwal pesawat yang akan membawanya.
Dibukanya layar pipihnya dan mencari kontak sepupunya itu di daftar memori.
Dia menekan nomor yang dicarinya.
__ADS_1
"Halo.. "
"Hai.. "
"Made kamu lagi dimana sekarang? Aku sekarang mau ke Bali." Ucap dokter Kris to the point.
"Wah? Beneran abang mau kesini?" Dokter Made masih melongo mendengar sepupunya yang sudah lama tidak bertemu tiba-tiba mau datang ke Bali.
"Iya.. beneran. Sekitar 50 menit lagi berangkat. Gue lagi nunggu pesawat." Ujar dokter Kris menerangkan posisinya yang masih berada di bandara.
"Oke bang aku tunggu. Kalau mau dijemput entar aku nyuruh sopir. Sekarang aku masih nugas bang." Jawab Made melihat jam tangan yang melingkar di tangannya masih ada sekitar 3jam waktu shift nya berganti.
"Iya. Entar gue kabarin kalau sudah sampai Bali. Oh iya Made, gue mau tanya. Tadi gue baca Story elu di Instagram elu. Elu posting dokter cewek yang bawa pasien, nah sekarang dia ada dimana?" Tanya dokter Kris sangat penasaran keberadaan Arini.
"Lah.. abang kenal tuh cewek?" Tanya Made tidak menyangka bahwa saudaranya mengenali dokter yang tadi membawa pasien ke rumah sakit Bali.
"Itu dokter yang kerja di rumah sakit gue, sekarang dia ada dimana?" Tanya dokter Kris seolah mendesak. Kalaulah jarak antara Jakarta-Bali dekat ingin sekali dia berlari sekarang juga untuk menemukan dokter Arini secepatnya. Ada sesal yang dokter Kris simpan di hati, karena pembicaraan waktu itu membuat Arini tidak merasa nyaman. Ya.. dokter Kris memang orangnya tidak sabaran. Jika menginginkan sesuatu, dia ingin selalu cepat.
"Ya udah kayanya gue mau langsung ke sana deh. Elu ada akses gak buat bantu gue ke sana?" Dokter Kris tak bisa sembarangan masuk ke rumah sakit asing dia membutuhkan bantuan seseorang yang ada di sana untuk menemukan dokter Arini.
"Tadi sih aku sudah menghubungi temen aku yang ada di rumah sakit itu. Tapi katanya dokter itu sudah tidak ada di rumah sakit entah pergi kemana.. Terakhir melihat katanya dia tertidur di lobi rumah sakit." Terang Made.
"Yah.. gue kehilangan jejak lagi deh." Kris terdengar nada kecewa.
"Kenapa sih bang? Jangan-jangan dia cewek abang ya? Terus kabur dari Jakarta?" Goda Made.
"Baru calon sih. Belum deal. Dia susah banget dideketin." Ucap Kris begitu saja curhat mengenai perasaannya.
"Wah? Ada kesempatan dong buat aku pedekate." Made terkekeh di seberang telepon.
__ADS_1
"Ih.. dasar adik gak ada akhlak, maunya merebut calon orang." Dokter Kris agak kesal mendengar candaan dari dokter Made.
"Lagian.. sampai kabur gitu! Pasti abangnya suka maksa-maksa ya? Jadi dia takut dideketin abang." Dokter Made yang tahu banyak mengenai watak abang sepupunya itu menebak hubungan mereka.
"Ah.. elu. Sudah ah.. gue tutup teleponnya. Lama-lama gue emosi sama elu." Dokter Kris sudah mulai kesal.
"Oke.. abang ganteng. Jangan mudah emosian begitu! Nanti ditinggalin pacar lagi nyesel kan?" Dokter Made masih saja kekeh menggoda dokter Kris.
"Ya udah. Elu jemput gue! Terus bantu gue semampu elu!" Ucap dokter Kris memaksa seperti biasa.
"Widih... datanga-datang maksa. Okelah asal gue minta tambahan alat nih kalau ceweknya nanti ketemu!" Made tak mau membuang kesempatan besar menekan Kris. Dia tahu meski Kris orangnya begitu, tapi dia juga loyal.
"Iya.. iya. Sodara apa sodagar sih elu?" Dokter Kris menggelengkan kepala tak habis pikir dengan Made yang kalau ketemu pasti ada aja permintaan padanya.
"Nah gitu dong! Jadi semangat nih nyarinya. Gue tutup duluan ya! Ada pasien." Dokter Made terpaksa menutup telepon karena ada pasien yang datang ke kliniknya.
Kris menghela nafas panjang sambil menyandarkan kepalanya di kursi. Tak lupa kakinya di selonjorkan ke depan untuk sekadar merilekskan badannya.
Aku harap kamu jangan pergi lagi Arini. Maafin aku ya.. memang benar aku orangnya gak sabaran... pemaksa dan kasar. Semoga kamu bisa ketemu Arini
Dokter Kris menunggu jadwal pesawat sambil memejamkan matanya sejenak.
Dan di lain tempat.
"Hoam." Arini menggeliat merentangkan tubuhnya yang agak pegal.
"Aku harus memastikan dulu bagaimana kondisi pasien tadi. Setelah itu aku akan pergi mencari penginapan yang sederhana untuk kutinggali sementara." Arini bergumam dalam hati.
Lantas dia berdiri menanyakan pada salah satu perawat yang ada di depan ruang operasi.
__ADS_1
"Maaf Sus. Operasinya sudah beres apa belum ya?" Tanya Arini pada perawat yang sedang berjaga di meja tugasnya.
"Belum nona. Tapi jangan khawatir mungkin sebentar lagi nona." Jawab Perawat.