
Dokter Kris melamun di ruangannya yang telah disediakan khusus untuknya.
Bagaimana mungkin dia berstatus single padahal dia sudah menikah. Apa mereka menyembunyikan identitas mereka? Aku jadi penasaran dengan kehidupan mereka. Apa yang terjadi dengan dokter Arini?
Dokter Kris yang baru saja bertemu dengan Arini, agak kaget bahwa dia adalah seorang dokter yang bekerja di rumah sakit milik ayahnya. Tapi sejak pertemuan pertama kali dengan dokter Arini, dia sudah menyita perhatiannya. Selain dia merasa kasihan, dia juga tertarik begitu saja dengan Arini. Apakah ini yang disebut cinta pada pandangan pertama?
Sekarang pikirannya sedang menerawang jauh sedang memikirkan dokter Arini. Tertera di data rumah sakit bahwa statusnya single. Tapi setahu dia, dia tinggal dengan seorang pria. Dan pria itu malah mempunyai kekasih. Apa yang terjadi dengan mereka. Sungguh kehidupan dokter Arini sangat sulit ditebak.
Pagi ini dokter Kris tidak bertemu Arini juga Andre. Tapi setelah membaca profil Arini, dia menjadi begitu penasaran terhadap kehidupannya.
Apa nanti sore aku bertamu saja mungkin? Untuk membuktikan siapa dirinya. Jika dia seorang dokter terkenal, pasti pernikahannya akan diketahui banyak orang. Tapi lain lagi ceritanya jika dia mempunyai rahasia yang harus ditutupinya. Melihat kelakuan laki-laki itu, aku jadi merasa terpanggil untuk membawa keluar Arini dari jerat laki-laki itu. Kalau benar dia suaminya, kenapa juga harus menikah dengan laki-laki hidung belang sepertinya. Atau jangan-jangan cedera yang sekarang, adalah ulah dia? Terakhir ketemu, dia tidak apa-apa kan?
Dilain tempat.
Arini dengan baju jubah mandinya sedang mencari makanan dan minuman untuk mengisi perutnya. Dia tak mungkin membangunkan Andre yang masih terlelap tidur.
Perutku perih.
Arini naik ke atas kursi untuk membawa biskuit yang sudah tertata rapih di rak kitchen untuk mengisi perutnya. Baru juga kakinya menapak di kursi suara seseorang sedang menekan belt pintu apartemen terdengar.
Ting tong, Tong tong
Arini menghentikan niatnya akan mengambil biskuit. Dia menoleh ke arah pintu.
Ada tamu. Siapa dia? Apa. ada hubungannya dengan mas Andre?
Arini turun dari kursi lalu melangkah ke dalam kamar Andre.
"Mas.. bangun. Mas Andre bangun! Ada tamu di luar." Arini membangunkan Andre.
Andre melenguh lalu mengucek matanya.
"Apa Arini?" Dia menoleh ke arah Arini.
"Ada yang menekan belt apartment kita. Kayanya ada tamu. Mas Andre bangun dulu!" Arini memaksa Andre untuk bangkit dari tempat tidurnya.
"Iya.. iya aku bangun." Andre bangkit lalu melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka terlebih dahulu.
"Kamu diam dulu disitu!" Ucap Andre sambil membuka pintu kamarnya lalu melangkah untuk membuka pintu apartemennya.
Klek
Pintu apartemen pun terbuka.
"Kamu.. Gery. Masuk!" Andre menyuruhnya masuk.
"Lah.. si bos lama banget buka pintunya. Masih tidur?" Gery yang melihat penampilan bosnya masih stelan tidur.
__ADS_1
"Mmm.. Duduk!" Andre mengajak Gery duduk di sofa.
"Ini aku sudah bawakan kerjaan kantor." Beberapa tumpukan dokumen di taruh di atas meja.
"Ini sudah semuanya?" Tanya Andre.
"Sudah."
"Ya sudah.. aku mandi dulu. Kamu tunggu dulu!' Andre berdiri dari kursi sofa.
"Eh.. pak Andre.. aku boleh minta minum gak?" Gery tahu bosnya tak akan menyuguhinya. Dia harus kreatif mengambil sendiri.
"Ambil aja!" Sudah biasa Gery mengambil sendiri setelah bosnya memberi izin.
Geri berdiri dari sofa lalu melangkah ke arah kitcehe. Matanya langsung kering.
"Amazing.. kapan si bos nambah kulkas nih? Isinya lengkap lagi. Bikin aku betah ini mah." Gery yang sudah sering bolak-balik apartment Andre merasa heran isi dapurnya benar-benar komplit.
Gery menyalakan mesin pembuat kopi juga memanggang beberapa roti tawar. Andre yang kebetulan suka dengan roti slai, Gery juga membuatkan roti slai kacang.
"Mmm.. wangi." NumbeGern si bos belanja kaya supermarket. Gery membuka tutup rak-rak yang ada di kitchen.
"Lengkap banget nih dapur. Kaya nyetok musim perang saja." Gery kagum dengan penuhnya isi dapur Andre yang tiba-tiba.
"Hei.. udah bikin kopinya?" Andre keluar dari kamar nya dengan wajah segar. Wangi parfumnya langsung menyeruak. Meski sedang di dalam rumah Andre selalu wangi dan rapih.
"Sudah. Sudah saya buatkan juga buat bapak kok. Roti slai." Andre duduk manis di meja makan.
"Maksud bapak?" Gery tak mengerti maksud perkataan bisnyat.
"Elu.. makan di cafe saja!" Andre mendorong badan Gery keluar dari kursi.
"Ih.. bapak kenapa juga menyuruh saya makan di luar. Ini makanan banyak gini. Sayang atuh pak!" Gery menyayangkan semua makanan yang telah dibuatnya.
"Pokoknya elu makan disana! Rese banget sih lu!" Andre terus mendorong Gery keluar apartemen nya.
"Ih.. dasar ya bos. Semaunya aja!" Gery mengalah keluar dari apartemen.
"Arini keluar! Tuh makanan sudah siap di meja!" Tadi Arini mengeluh lapar ketika Andre masuk ke dalam kamar. Untung asistennya baik hati membuatkan makanan dan minuman.
Arini keluar dari kamar sambil mengendap
"Orangnya mana mas?" Arini khawatir tamu Andre masih ada di dalam apartemen.
"Dia keluar. Nyari makan." Andre duduk juga di kursi meja makan.
"Oh.. ini yang buatkan siapa mas?" Arini penasaran.
__ADS_1
"Sudah gak usah tanya. Makan saja! Bawel banget kamu!" Andre menyeruput kopi buatan Gery dan juga makan roti slai buatan asistennya.
"Iya Mas." Arini duduk didepan Andre.
"Mas.. "
"Apa?"
"Aku mau minum air putih." Arini memelas.
Andre berdiri membawa gelas dan menuangkan air putih lalu menyodorkannya ke depan Arini.
"Yang tadi itu siapa mas?" Tanya Arini.
"Asisten gue." Andre asik mengunyah roti.
"Oh.. "
"Mas."
"Apa lagi?"
"Aku mau makan di kamar aku sendiri. Nanti bagaimana kalau dia datang lagi."
"Sudah.. kamu makan disini! Nanti kamar kamu bau! Jangan dibiasakan makan sembarangan!" Protes Andre yang melarang Arini membawa makanan ke dalam kamar.
"Mas.. "
"Apalagi.. Arini... " Andre melotot.
"He he.. aku mau makan nasi juga. Ini sudah siang. Aku gak kenyang kalau makan roti." Pinta Arini.
"Ishh... kamu... "
"Ya udah aku pesenin! Nanti aku bawakan." Andre berdiri lalu keluar dari apartemen menyusul Gery ke cafe bawah apartemen.
"Lah.. si bos.. ngikut juga!" Gery yang dari kejauhan melihat Andre berjalan mendekatinya.
"Pesenin gue!" Andre memerintah Gery.
"Lah.. bukannya tadi sudah saya buatkan roti bos?" Gery agak mengernyitkan dahinya.
"Buat take way." Jawab Andre.
"Oh.. " Gery segera memesan makanan yang biasa dimakan bosnya.
"Nih bos!"
__ADS_1
"Mm.. sekalian bayar sama punye elu! Nih duitnya!" Andre melengos sesudah memberikan uang pada Gery sambil menjunjung makanan pesanannya.
"Dasar bos! Seenaknya nyuruh!"