Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Ingin abai


__ADS_3

Tanpa diduga Andre langsung merebut handphone Edward.


"Eh.. apa-apa an lu?" Edward melebarkan matanya, marah karena tanpa diduga Andre tidak sopan mengambil handphone miliknya.


Andre mengacuhkan Edward yang tidak menerima perlakuannya yang merebut handphone miliknya. Dia langsung membuka layar yang tadi sedang dilihat Edward dengan cepat. Andre nampak mengerutkan dahi dan matanya menajam dada nya ikut bergemuruh melihat foto-foto yang ada di layar itu.


Edward tak bisa diam, dia berusaha mengambil handphone nya. Tapi tangan Andre menghalau Edward agar dia tidak bisa mengambilnya dengan mudah. Bahkan tubuh Andre saling sikut untuk melakukan perlawanan demi menyelesaikan apa yang ingin dilihatnya.


Sungguh kata-kata Edward barusan memicu sikap Andre menjadi kasar dan arogan. Bukan salahnya juga dia berbuat nekad. Tapi emosinya seolah terpantik dengan pancingan Edward.


"Heh.. kembalikan handphone gue! Atau gue panggil security untuk mengamankan elu!" Edward tak kalah marah melihat Andre bersikap tak sopan seperti itu. Dia tetap berusaha untuk meraih miliknya dengan saling baku hantam. Tapi pada dasarnya Edward secara fisik lemah dan gampang lelah, jadi kalah kuat dengan Andre.


"Apa maksud lo mengawasi istri gue dan mantan istri gue hah?" Andre berteriak setelah selesai melihat foto-foto dalam layar handphone Edward. Dengan mata merah dan wajah garang Andre menunjukkan layar itu pada Edward.


Edward langsung merebut handphone nya begitu kesempatan ada di depan mata.


"Serah gue. Kenapa? Elu merasa terusik? Gue dari awal memang menyukai mantan istri lo! Gue perlu bukti yang real bahwa dia sedang tidak berhubungan dengan siapapun." Ucap Edward sambil memegang dadanya yang sedikit terasa sakit.


Andre yang sedang dirundung marah pun mengurungkan niatnya melihat sepupunya agak kepayahan. Dia takut karena kejadian barusan, dia nanti disalahkan. Andre menarik rambutnya kasar sambil membalikkan badan.


"Kenapa harus dia? Dari sekian banyak perempuan kenapa harus dia?" Andre tak mampu menahan lagi apa yang kini hampir meledak dalam kepalanya. Kekecewaan, marah, kesal bercampur menjadi satu yang hampir membuatnya gila.

__ADS_1


"Karena kamu bodoh Dre! Kamu melepaskan berlian demi baru kerikil yang tak berharga itu!" Edward duduk di sofa kembali sambil mengambil nafas teratur untuk mengembalikan ritme jantungnya yang barusan terasa sakit.


Andre menoleh ke belakang dengan mata menyipit. Dia mengernyit, sedang menilai apa yang dipikirkan Edward.


"Sebegitu cintanya kamu pada mantan istriku? Sejak kapan kamu jatuh cinta padanya?" Tanya Andre yang penasaran. Setahu dia Edward dan Arini sebelumnya tidak saling mengenal. Bahkan dia tak pernah tahu kapan Edward jatuh cinta pada mantan istrinya itu. Apakah dia diam-diam memang sudah mengenali mantan istrinya itu. Ada rasa yang terselip tak ikhlas, jika mantan istrinya kini banyak yang menginginkan. Andre belum menyadari perasaan apa yang sedang bergejolak dalam dirinya kini.


"Kalau iya, kamu mau apa? Cemburu? Atau menyesal telah melepaskan?" Edward tertawa sinis. Seharusnya kamu tak usah marah ataupun kecewa. Bahkan dokter Arini telah kau buang begitu saja dan kamu lebih memungut perempuan yang kerikil yang kamu cintai itu. Hanya laki-laki bodoh yang mau bersama perempuan seperti dia." Edward duduk bertumpang kaki sambil mengamati Andre.


Andre yang tak ingin lama terhina dengan sindiran-sindiran Edward menarik nafas kasar. Dia bisa saja meninju mulut sepupunya itu. Tapi sekuat mungkin dia tak mau emosi. Selain sepupunya yang punya penyakit jantung, dia pun masih butuh pekerjaan.


Dengan langkah kaki yang terhentak Andre meninggalkan ruangan kerja Edward. Pagi-pagi yang panas. Selain sikap sepupunya yang mengesalkan dia pun harus menyaksikan foto-foto istrinya yang sedang bersama laki-laki lain. Tepatnya laki-laki yang persis sama dengan rekaman CCTV itu. Hati Andre benar-benar sesak. Kini bukan hanya dirinya yang tahu perselingkuhan Renata, tapi sepupunya itu pun seolah menjadikan istrinya sebagai bahan senjata.


Dengan pikiran carut marut Andre melangkahkan kaki ke tempat parkir. Lalu masuk ke dalam mobilnya yang sejak kedatangannya sudah terparkir. Andre tak pantas menyalakan mesin mobil dia hanya memegang setir dengan membenamkan wajahnya di atas stir.


"Ah.. Aku harus mempercayai dia. Bukankah sejak dulu dia sudah aku cintai? Apa yang aku lihat, akan aku abaikan." Andre menarik diri dari stir lalu menyalakan mesin mobilnya. Dia bertekad untuk menutup diri dari semuanya. Dia akan menulikan diri agara dirinya tak dipengaruhi oleh pikiran-pikiran buruk. Dia melajukan mobil itu setelah memotivasi diri. Dia akan mengabaikan dirinya yang dianggap bodoh. Karena apapun yang terjadi semuanya adalah pilihan hidupnya.


Di lain tempat Arini sedang memeriksa pasien di rumah sakit. Tiba-tiba handphone nya berdering.


"Mmm iya halo." Arini segera mengangkat telepon dan bicara perlahan.


"Apakah kamu sedang sibuk?" Tanya orang yang berada di balik telepon.

__ADS_1


"Mmm.. ya. Ada apa?" Tanya Arini memelankan suaranya.


"Bisakah kita bicara berdua nanti pas kamu istirahat makan siang?"


"Baik." Arini tak banyak bicara. Selain ada orang yang ada didepannya, diapun ingin segera menyudahi pembicaraan agar tidak terlalu lama membiarkan pasiennya menunggu.


"Baik. Nanti aku akan jemput kamu ke rumah sakit." Telepon pun ditutup setelah pembicaraan singkat barusan dianggap selesai.


"Maaf.. " Arini tersenyum pada pasien yang ada di depannya. Dan kembali melanjutkan pemeriksaan yang tertunda karena panggilan tersebut.


Tanpa terasa waktu pun berlalu. Pasien-pasien dokter Arini pun selesai satu persatu diperiksanya. Dan istirahat makan siang pun datang sesuai jadwal.


"Dokter.. maaf ini ada kiriman makan siang." Salah satu asistennya masuk ke dalam ruangan dokter Arini yang sudah tak ada pasien.


Sejenak dokter Arini memindai bingkisan makan siang yang baru saja disodorkan asistennya di atas meja. Di lihat dari luarnya saja, ini pasti dari lestoran yang mahal.


"Siapa pengiriman nya?" Dokter Arini mendongak melihat pada asistennya.


"Mmm.. mungkin di dalam bingkisan itu ada namanya dok. Tadi kurir tidak menyebutnya." Asisten itu tak bisa tahu, karena memang sikurir tak menyebutkan nama pengirimannya.


Arini pun membuka kemasan cantik yang membungkus paket makan siangnya. Benar saja, nama pengirimannya ada di dalam kotak paket dan sepertinya memang sengaja ditaruh di dalam sana.

__ADS_1


Satu nama yang sama yang selama satu minggu ini sudah rutin mengirimkan paket-paket untuknya. Selain makan siang satu bunga di pagi hari pun selalu datang ke ruangan nya. Siapa lagi kalau Edward.


__ADS_2