
"Apa kabar bang? Kok tambah ganteng aja?" Made langsung menyalami dan saling berpelukan begitu ketemu dokter Kris.
"Ah elu modus. Gue ganteng sejak lahir." Dokter Kris sudah tidak canggung bicara dengan sepupunya ini yang sama-sama dokter.
"Wah.. abang suka negatifan begitu, aku tulus bang muji abang." Made cengengehan menghadapi dokter Kris yang kadang suka emosian.
"Iya gue juga tau, elu tulus dengan segala modus nya, dan gue juga tulus meminta elu hutang budi." Jawab dokter Kris mereka bergandengan layaknya seorang sahabat yang lama gak bertemu.
"Abang mau kemana dulu nih?" Tanya dokter Made melirik ke arah dokter Kris.
"Antar gue ke rumah sakit yang waktu itu elu rujuk. Cepetan! Keburu orangnya kabur lagi!" Jawab dokter Kris dengan nada menekan.
"Baik abang bos! Siap laksanakan!" Berdebat dengan sepupu yang satu ini gak bakal menang, jadi lebih baik patuh dan menurut saja. Jika keinginannya terpenuhi biasa dia suka sangat loyal.
Dokter Made pun langsung melakukan mobilnya sesuai permintaan dokter Kris. Dimana rumah sakit pasien itu dibawa. Dia berharap dokter Arini masih di sana. Menurut teman dokter Made yang kebetulan jaga di UGD, katanya dokter Arini sempat tidur di lobi rumah sakit. Tapi setelah itu dia tak melihatnya lagi. Karena teman dokter Made sibuk melayani pasien-pasien darurat tidak sempat mengawasi lebih lama keberadaan Arini.
Tak lama kemudian, dokter Kris dan dokter Made sampai di area parkir rumah sakit.
"Sebentar bang, aku telepon temanku dulu!" Made berdiri sambil menelpon temannya yang pernah diceritakannya waktu itu.
"Bang kita ke dalam! Katanya ditunggu di ruang kerjanya. Tapi.. abang jangan kecewa ya! Soalnya orang yang abang cari susah tidak ada. Nanti dia akan tanya-tanya ke security buat bantu abang."
"Ya udah, kita usaha dulu aja. Nanti kita tunggu kali aja ada petunjuk." Jawab Kris optimis.
Keduanya masuk ke gedung rumah sakit menemui temannya Made.
Dokter Made dan dokter Kris masuk ke ruangan kerja milik temannya. Mereka pun saling memperkenalkan diri satu sama lain.
"Maaf saya tidak bisa bantu banyak, waktu saya jaga di UGD saya langsung sibuk menyiapkan untuk operasi pasien. Jadi tidak sempat mengawasi lama. Tapi kelihatannya sih dia menunggu di depan ruang operasi saya lihat terakhir. Mari saya anatar ke ruang CCTV mungkin orang yang anda cari masih berada di rumah sakit ini." Temannya made bernama Riki mengantar Made juga Kris ke ruang security.
__ADS_1
Ketiga orang itu melihat layar rekaman CCTV.
"Nah itu orangnya!" Ucap Riki pada Made juga Kris.
"Tolong pak diawasi kemana selanjutnya perempuan itu pergi!" Ucap Riki meminta bantuan pada salah satu teknisi yang sedang berjaga di ruang CCTV.
"Wah... ini.. sudah keluar dok! Ini terakhir kelihatan dia menuju keluar halaman rumah sakit." Ketiga orang itu mengamati pergerakan Arini dari satu tempat ke tempat lainnya sampai berakhir di pintu keluar rumah sakit.
"Bagaimana bang? Kayanya orangnya sudah pergi." Made menoleh ke arah Kris yang masih mengamati layar CCTV.
"Kalau diluar ada CCTV gak?" Tanya Kris.
"Ada, tapi tak ada rekaman yang menunjukkan orang yang dicari tertangkap kamera." Jawab security itu menerangkan.
"Kalau dia bawa mobil sih masih bisa terlihat di area parkir. Tapi kalau dia naik taxi paling harus bertanya pada salah satu sopir yang suka mangkal di dekat rumah sakit. Biasanya dalam taxi suka ada kamera juga atau ya setidaknya sopir bisa mengenali wajah penumpangnya kalau masih baru." Security memberi ide pada ketiga orang yang sedang mencari jejak Arini.
"Oh iya sama-sama. Mohon maaf tidak bisa mbantu banyak." Ucap security itu basa-basi.
"Paling kita ke tempat taxi mangkal bang." Made mengajak Kris untuk datang ke tempat mangkal para sopir taxi.
"Iya, kita kesana sekarang." Kris setuju dengan ide security tadi.
"Aku ucapin Terima kasih ya Rik! Maaf aku sama Made sudah mengganggu waktu kerja kamu." Ucap Kris mengucapkan terimakasih pada Riki atas informasinya dan bantuannya.
"Iya gak pa-pa. Mohon maaf juga saya tidak bisa membantu banyak. Semoga orang yang dicari segera ketemu." Riki ikut mendoakan.
"Iya ma kasih Rik. Aku nganter abang aku dulu ya! Ma kasih ya bro udah mau direpotin!" Made menepuk bahu temannya.
"Ha.. ga pa-pa. Kamu udah biasa bikin repot kok!" Jawab Riki sambil tertawa.
__ADS_1
"He he iya. Aku pergi dulu ya keluar." Made berpelukan sebagai salam perpisahan dengan Riki. Dan Kris pun tak lupa menjabat tangan Riki sebagai perpisahan pertemuan mereka.
Kris dan Made pun keluar dari pintu yang sama dengan Arini dan menuju basecamp para sopir taxi nongkrong.
Benar saja, tak jauh dari pagar rumah sakit ada berjajar taxi. Para pengemudinya biasa menunggu di warung yang tak jauh dari pagar rumah sakit.
"Maaf bapak-bapak kami mengganggu waktu istirahat bapak." Ucap Made pada kumpulan bapak-bapak yang berbaju seragam biru. Semua orang langsung menatap ke arak Kris dan Made. Mereka melihat dari atas sampai bawah memindai orang yang baru saja datang. Sepertinya mereka bukan seorang yang minat akan naik taxi.
"Iya ada apa?" Salah satu dari bapak-bapak yang berseragam biru maju mendekati Kris dan Made.
"Maaf Pak. Saya mau bertanya, mungkin bapak-bapak di sini ada yang pernah melihat orang ini? Atau orang ini naik taxi bapak-bapak?" Kris menyodorkan sebuah foto dari layar galeri handphonenya.
Laki-laki itu melihat wajah yang sedang ditunjukkan. Matanya mengedip-ngedip.
"Hei... tadi Si Surya narik gadis berkerudung kan?" Laki-laki itu menoleh ke arah belakang melihat teman-temannya.
"Mmm.. " Bapak-bapak yang sedang makan pisang goreng langsung mengiyakan karena tadi seharusnya bagian dia narik. Berhubung temannya yang bernama Surya lebih butuh uang bensin dia mengalah.
"Sini dulu, apa benar ceweknya ini?" Bapak-bapak yang menghampiri Kris mengajak temannya untuk mendekat.
Bapak yang sedang makan pisang goreng dengan malas bangkit dari bangku reyot menghampiri Kris lalu melihat wajah perempuan yang sedang ditunjukkan Kris.
"Kayanya mirip." Dengan santai dia menjawab.
"Kok kayanya?" si laki-laki pertama protes.
"Habis.. kan kalau sama akwat-akwat harus gudul bashar! Jadi gue tadi gak sempet lihat mukanya dengan jelas, takut durhaka." Jawab laki-laki ke dua dengan sok alimnya.
"Lah.. giliran bule aja melotot! Bapak nyari dia?"
__ADS_1