Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Menjadi asing


__ADS_3

Andre nampak terlihat lebih santai. Pakaiannya yang biasa rapih memakai jas, sekarang hanya memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans.


Tapi penampilan Andre seperti itu di mata Arini menambah kesan Macho dan gentel.


"Dari tadi perasaan kamu ngeliatin aku terus?" Tanya Andre sambil melirik sebentar lalu kembali ke depan fokus menyetir.


"Mmm.. aku suka kamu penampilan seperti itu. Kesannya lebih santai dan lebih macho." Ucap Arini memberikan komentarnya.


"Kamu naksir?" Tanya Andre merasa tersanjung.


"Ya, aku naksir dari dulu. Cuman sayang yang ditaksir tak balik naksir." Jawab Arini polos dan datar.


Andre melirik sebentar melihat Arini. Andre memang bukan tipikel orang yang gampang jatuh cinta, dan playboy. Dari dulu sampai sekarang cintanya hanya pada Renata seorang.


Oh.. Renata apa kabar dirimu? Aku malah kangen sama kamu. Kalau keadaan aku tidak kaya gini, mungkin sejak kemarin aku sudah menyambangi kamu.


Andre tiba-tiba teringat Renata.


Jalanan ibukota seperti biasa penuh dengan kendaraan. Hawa panas di jalanan tak menyurutkan para pengendara untuk menjalankan aktivitas.


Mereka harus banyak bersabar untuk sampai pada tujuan karena jalanan penuh kendaraan. Tiap tahun penduduk Jakarta tidak pernah turun, begitupun kendaraan di jalanan.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit dimana Arini bekerja dan Edward dirawat.


Andre dan Arini berjalan memasuki lobi rumah sakit.


"Kamu mau langsung periksa?" Andre yang sudah berjanji mau mengantarkan Arini bertanya lebih dahulu sebelum mengunjungi sepupunya, yang tak lain adalah Edward sendiri.


"Mmm.. buka praktek jam 8.30. Jadi masih ada waktu. Kamar sepupu kamu dimana?" Arini hendak mengantarkan Andre dulu sebelum jam praktek dokter tulang buka.


"Mmm.. biar aku sendiri saja. Gak usah diantar! Kamu tunggu saja! Nanti kalau aku sudah selesai aku akan mengantarkan kamu Arini." Ada raut cemas juga gelisah di wajah Andre ketika Arini hendak mengantarkannya.


Andre enggan untu diantar, karena tak ingin siapapun tahu bahwa Arini adalah istrinya.


Arini hanya bisa menghela nafas melihat penolakan dari Andre seperti itu.


"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu." Lirih Arini tanpa menoleh pada Andre yang masih berdiri. Arini langsung melangkah pergi dari hadapan Andre dengan langkah tergesa-gesa.


Ada rasa sakit di dada Arini melihat sikap Andre yang takut ketahuan. Meski Andre tidak mengatakannya tapi gestur tubuhnya gampang terbaca.

__ADS_1


Andre melihat Arini dengan perasaan bersalah. Dia menduga bahwa Arini mungkin merasa agak tersinggung dengan penolakan Andre barusan.


Setelah punggung Arini menghilang di lorong, Andre berjalan menuju lift hendak mengunjungi sepupunya Edward.


Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka tepat di lantai dimana Edward sedang dirawat. Andre berjalan menyusuri lorong lantai itu dengan langkah panjangnya. Dia tahu selepas ini hendak mengantar Arini untuk memeriksakan kedua tangannya sesuai dengan janjinya semalam.


Srekkk


Pintu digeser.


Andre masuk ke sebuah ruangan yang mirip kamar hotel bintang lima.


"Hai bro.. sendirian?" Edward melihat wajah sepupunya yang baru datang. Dia tak melihat siapapun di belakangnya. Padahal dia sedang menunggu seseorang datang bersama dengan Andre.


Edward yang penasaran dengan keadaan Arini. Semenjak kepergiannya dia telah memerintahkan untuk mencari keberadaannya dan mencari tahu siapa sebenarnya Arini dan apa hubungannya dengan sepupunya itu.


"Sendiri. Emang lu ngarep gue datang sama siapa?" Ketus Andre langsung duduk di kursi pinggir ranjang Edward.


"Kali aja pacar elu. Elu kan biasa pamer." Edward tersenyum licik.


"Kalau gue bawa kesini. Lu embat juga. Gawat." Andre tahu Edward playboy dan mudah sekali dia merayu perempuan manapun. Untuk urusan merayu Edward adalah jagonya. Tak ada perempuan yang tidak jatuh dalam rayuan maut Edward.


"Sial. Sedang lemah aja masih ingat mainan ya!" Ucap Andre menyindir Edward.


"Wah.. mainan paling mengasikkan bukan? Aku tak percaya kalau kamu tidak suka." Edward sedang memancing Andre untuk bercerita.


"Gue gak bilang gak suka." Jawab Andre sambil melihat sepupunya yang suka jahil itu.


"Jangan-jangan pacar elu jelek ya? Makanya kamu gak berani bawa dia. Atau jangan-jangan kamu tidak pede?" Goda Edward ingin Andre terus terang.


"Sembarangan. Cewek gue model. Nggak bisa dibandingkan dengan cewek-cewek elu yang selalu dijajahi laki-laki." Andre sepertinya sedang membanggakan Renata.


"Oh.. ya? Kalau begitu Arini buatku saja! Boleh?" Edward melihat Andre serius.


Deg


Andre yang tadi santai langsung saja diam. Jantungnya seolah berhenti dari berdenyut.


"Kenapa diam? Ceraikan dia untukku dan kamu bisa segera naik jabatan di kantor ku agar bisa menikahi Renata.

__ADS_1


Andre langsung menatap tajam seolah pandangannya akan menusuk Edward.


"Jangan campuri urusan kerja dengan urusan pribadi!" Nada bicara Andre tiba-tiba menjadi sinis. Dia tak mau sepupunya itu mengambil apa yanga dia miliki.


"Aku tidak mencampuri urusan kamu. Malah aku sedang membantu kamu." Kilah Edward menjawab perkataan Andre.


"Sekali lagi kamu campuri urusanku! Jangan harap kamu bisa berdiri di kaki kamu sendiri!" Andre berdiri dengan wajah memerah karena menahan marah.


"O O oh.. kenapa tersinggung? Bukankah kamu rela melepas semuanya demi wanita itu. Apa. bedanya dengan membuang Arini untukku? Bukankah sejak awal kamu sudah tidak menginginkannya?" Edward memprovokasi Andre.


Andre membalikkan tubuhnya.


Srekkk


Pintu terbuka. Muncul dari balik pintu orang yang sedang dibicarakan dua pria itu. Keduanya sontak melihat pintu.


Dua orang perempuan beda umur sedang berjalan masuk mendekati ranjang pasien. Arini menghentikan langkahnya begitu netranya menangkap sosok yang dikenalnya di ruangan itu. Netra Andre dan Arini saling menabrak. Keduanya kaget, dan saling bertanya-tanya, kenapa bisa ada di ruangan itu.


"Ayo sayang.. " Nyonya Karina menggandeng bahu Arini menarik maju ke arah dimana Edward sedang berbaring karena melihat Arini menghentikan langkahnya.


"Sayang?" Lirih Andre pelan. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa bibinya begitu terlihat akrab dan tak segan-segan pada Arini. Sejak kapan mereka mengenal Arini?


*ah pantas saja ketika dimintai bantuan Edward tak ada kelanjutannya. Ternyata mereka sudah mengenalnya.


Andre bermonolog*.


Edward tersenyum licik melihat Andre yang mematung tak berdaya melihat Arini di ruangan itu secara tiba-tiba.


"Sudah lama Andre?" Tanya Nyonya Karina menyapa lebih dahulu. Ibunya Andre melihat Andre aneh. Dia melihat Arini tanpa berkedip.


"Eh.. bibi." Andre segera mencium pipi kiri kanan adik dari ayahnya.


"Oh.. iya kenalin ini dokter Arini." Nyonya Karina yang tidak tahu menahu mengenalkan Arini pada Andre.


Keduanya bingung, terutama Arini. Dia tak tahu harus bicara apa, karena Andre sejak masuk rumah sakit seperti keberatan kalau dirinya dikenal oleh saudara-saudaranya.


"Andre." Andre langsung mendahului memperkenalkan diri seolah tak mengenal Arini.


Debb. Dadanya seperti tertonjok sakit. Arini melihat suaminya sendiri pura-pura menjadi orang asing, tak mengenal dirinya sedikitpun di hadapan saudaranya.

__ADS_1


__ADS_2