Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Janda tapi perawan


__ADS_3

"Maksud paman?" Edward pura-pura tak mengerti. Dia hanya ingin ayahnya Edward menjelaskannya dengan detail agar tidak salah paham.


"Bukankah Andre tadi malam ke rumah mu?" Ayahnya Andre mengulang kembali pertanyaannya dengan detail.


"Oh.. iya paman. Tadi malam aku agak terkantuk-kantuk, jadi membiarkan Andre tidur diantar pelayan. Aku agak lupa paman. Tadi pagi pun dia masih tertidur. Jadi aku tak ingat bahwa dia menginap di rumahku." Edward tak mau bil pusing dengan sepupunya itu. Kehidupannya yang sedang kacau, tak mau memperngaruhi dirinya sebagai pebisnis. Prinsip Edward memang untung rugi. Dimana yang menguntungkan dia akan fokus, dan dimana yang akan merugikan dia akan abai.


"Apa dia tidak cerita apapun sama kamu?" Tanya ayahnya Edward menelisik. Meski dia ingin sekali abai, tapi di belakang dia sebagai orang tua tak bisa begitu saja cuek.


"Cerita yang mana paman? Aku dan dia jarang bertemu, kalaupun bertemu hanya masalah pekerjaan. Jadi apa yang ingin tahu dariku paman?" Edward melihat serius ayah Edward.


"Ya.. kali dia curhat sama kamu masalah pribadinya. Terutama masalah mantan istrinya atau tentang istrinya yang sekarang." Ayah Andre menjelaskan apa yang diinginkan dari Edward mengenai informasi tentang anaknya, Andre.


"Gak banyak. Dia pernah meminta pekerjaan dengan gaji lebih baik, untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya itu. Dan untuk yang lainnya Ed tak tahu paman." Edward menjelaskan apa yang perlunya saja. Meski dia mengetahui tentang Arini, dia tidak bicara hal itu pada ayahnya Edward.


"Mmm.. begitu ya?" Ayahnya Edward menopang dagu sambil berfikir. Bisa jadi memang Edward tidak tahu menahu soal masalah Andre, tapi dia pun tak yakin kalau keponakannya yang satu ini gampang untuk berbicara. Dia tipekal orang yang bukan gampang terbuka.


"Mmm... kenapa paman tidak menyewa orang untuk menyelidiki Andre? Jadi paman bisa tahu lebih banyak tentang mereka." Edward juga heran, sekelas pamannya tidak menyewa orang untuk mencari tahu. Karena pamannya pun adalah tipekal orang yang teliti. Jadi gak mungkin dia hanya mengandalkan informasi dari dirinya.


"Mmm... sudah. Tapi paman ingin tahu darimu. Ya sesama anak muda mungkin lebih bebas saling bercerita. Apalagi Andre sekarang sedang susah. Hanya kamu yang bisa dimintai tolong boleh Andre saat ini." Ayahnya Andre masih ingin menelisik apa yang perlu diketahui nya dari Edward.


"Ya.. mungkin Andre sendiri bisa menangani masalah paman. Aku kira Andre bukan tipe laki-laki cengeng meski dia sedang paman embargo. Buktinya dia mau bekerja dilapangan, padahal selama ini dia bekerja kantoran." Ucap Edward yang tak ingin lebih panjang lagi membahas masalah sepupunya itu.


"Mmm... baiklah. Tapi paman mohon, jika kamu tentang Andre tolong kasih tahu paman! Paman yakin suatu saat dia akan bercerita padamu." Ayah Andre menganjingkan jasnya pertanda dia seperti nya akan siap-siap pergi dari ruangan Edward.


"Baik paman." Jawab Edward menyanggupi.


"Baiklah. Paman pergi dulu. Maaf kalau pagi-pagi paman sudah menyita waktu kerjamu." Ucap Ayahnya Andre sambil berdiri.


"Gak apa-apa paman. Aku santai kok." Jawab Edward ikut berdiri akan mengantarkan ayahnya Andre sampai ke pintu.

__ADS_1


Keduanya pun berjalan ke arah pintu, lalu sebagai kesopanan Edward membukakan pintu untuk ayahnya Andre. Setelah ayahnya Andre keluar, pintu pun ditutup kembali.


"Hah... dasar bodoh! Mau saja dibodohi perempuan tak berguna." Edward mendengus. Dia merogoh benda pipih yang ada di dalam sakunya. Lalu menelpon seseorang.


"Halo.. tuan." Suara di seberang telepon terdengar menyahut.


"Kamu sudah dapatkan bukti? Tentang perselingkuhan perempuan murahan itu?" Tanya Edward pada orang yang ada di seberang telepon.


"Sudah tuan. Apa tuan ingin melihatnya?" Orang yang diseberang telepon balik bertanya.


"Mmm.. boleh. Sekalian foto-foto dokter itu juga! Aku ingin melihat sejauh apa mereka berhubungan." Edward diam-diam telah menyewa orang bayaran untuk membuntuti.


"Baik tuan. Segera akan saya kirimkan." Jawabannya lalu telepon pun tak lama ditutup.


Edward menggigit jarinya, bukan sedang memikirkan pekerjaan. Tetapi tepatnya bagaimana dia bisa mendekati dokter Arini. Sejauh ini dia sudah memberikan perhatian pada dokter pujaaanya itu, tapi tidak berhasil.


Di tengah lamunannya, pintu diketuk. Ada seseorang yang akan bertamu ke ruangannya.


"Masuk." Edward menyuruhnya masuk.


Klek


Pintu terbuka. Ternyata Andre datang ke ruangan Edward pagi itu. Untungnya tidak bertemu dengan ayahnya. Tadi setelah Andre bangun kesiangan, dia menerima pesan sesuai amanat Edward yang dititipkan pada pelayanannya.


"Maaf.. gue kesiangan." Ucap Andre lalu duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya dengan santai di belakang sofa.


"Masih pusing?" Edward menghampiri Andre yang masih terlihat kurang fit.


"Sedikit." Jawab Andre menoleh ke arah Edward.

__ADS_1


"Mau kupanggilkan dokter?" Edward menawarkan pada Andre untuk memanggil dokter.


"Gak usah. Aku hanya butuh istirahat saja." Tolak Andre yang merasa sakitnya bukan karena fisik semata, tapi lebih ke pikiran nya yang sedang runyam.


"Mmm... ya sudah. Tadinya akan kupanggilkan dokter Arini kesini. Kalau kamu tidak mau, ya sudahlah." Pancing Edward yang sengaja ingin melihat reaksi sepupunya.


Andre langsung menatap tajam pada Edward.


"Kenapa? Tersinggung?" Edward malah balik menatap Andre karena penasaran ingun tahu apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu tentang mantannya.


Andre hanya diam. Meski kepalanya ingin meledak menampung banyak masalah, tapi dia hanya ingin diam.


Edward pun diam. Dia malah membuka pesan-peaan yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Andre melihat ke arah Edward yang sedang menatap serius layar handphonenya.


"Apa yang sedang kau lihat?" Andre balik bertanya karena penasaran.


"Foto mantan istrimu. Kian hari dia kian menarik saja. Pantas banyak lelaki yang mendekati nya. Hanya lelaki bodoh yang tidak tertarik dengan dia." Edward sengaja memanasi Andre dan menyindirnya.


Tanpa disangka Andre melemparkan majalah yang ada di atas meja ke arah Edward. Ada rasa kesal juga marah yang tak bisa ditahannya ketika mendengar Edward bicara tentang mantan istrinya.


"Woow.. marah nih?" Edward segera menangkis lemparan Andre.


"Semua perempuan sama saja! Semua adalah penipu." Bibir Andre akhirnya mengeluarkan hujatan.


"Itu menurutmu. Tidak menurutku. Menuruku dokter Arini adalah perempuan yang jujur, bukan penipu. Dimana dia menipumu? Apa yang dia tipu darimu? Apa.. ketika malam pertama dia sudah tidak perawan?" Bisik Edward sengaja memancing emosi Andre.


"Lu... !" Mata Andre memerah. Kemarahannya tak bisa dibendung mendengar sepupunya yang palyboy itu melontarkan kata-kata yang tak seharusnya dia dengar.


"Ha ha... Jangan-jangan kamu belum menyentuhnya? Dia masih perawan kan? Pantes saja, begitu pisah darimu dia seperti merdeka layaknya seorang perawan. Ah... rasanya aku jadi tambah penasaran ingin menikahinya sesegera mungkin. Bukankah janda perawan tak ada batasan iddah?" Edward semakin gila memancing Andre.

__ADS_1


__ADS_2