
"Arini... " Andre bergumam lirih melihat mantan istrinya sedang duduk bersama laki-laki yang Andre tahu dia adalah tetangganya. Ya.. beberapa kali Andre berpapasan dengan dokter Kris yang kebetulan apartemennya ada di posisi depan pintu apartemen miliknya.
"Gila.. apa mereka sudah berselingkuh sebelum aku.. " Andre menggantung kalimatnya menatap curiga pada dua orang yang terlihat akrab itu.
"Jadi.. apa. selama ini Arini pura-pura polos di hadapanku padahal nyatanya dia sendiri yang telah berkhianat." Ucap Andre tidak bisa menerima pengkhianatan Arini meski Andre sendiri melakukan hal yang diduganya itu salah.
"Aku.. tak bisa terima. Ternyata kamu lebih busuk dari aku. Kamu berselingkuh lebih dulu, lalu menikah denganku untuk menyembunyikan semua keburukan mu. Enak saja kamu menuduhkan semuanya padaku. Nyatanya semua orang menatap kotor aku, dan kamu bisa menikmati kebusukan kamu sekarang." Andre menggeram tidak bisa menerima sikap Arini yang dituduhnya telah berselingkuh karena melihat kedekatan Arini dengan dokter Kris tanpa canggung. Apalagi mereka baru saja bercerai. Tak terlihat di wajah Arini rasa sedih ataupun trauma. Itu yang dilihat oleh Andre sekarang ini.
Andre lalu melengos dengan membawa kedongkolan ke arah toilet. Karena sejak awal, dia ingin membuang hajat. Karena melihat Arini dan dokter Kris berduaan jadi perhatiannya teralihkan sementara.
Sesampainya Andre di toilet dan selesai membuang hajat. Andre masih menyandarkan diri di pinggiran wastafel.
"Kenapa nasibku bisa dipermainkan seperti ini? Sekarang aku menjadi laki-laki miskin tanpa waris juga pekerjaan kuli yang sedang kujalani nyaris membuatku menderita. Itu semuanya gara-gara kamu Arini. Kamu menipuku!" Andre setengah depresi menghadapi kenyataan harus bekerja banting tulang memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dia menyugar rambutnya dengan kasar agak prustasi setelah melihat Arini begitu tenang nya setelah mereka bercerai.
Dan di lain tempat Edward melihat jam tangannya yang agak heran menunggu Andre begitu lama keluar dari ruangan meeting nya.
"Katanya mau ke toilet, apa toiletnya ada di gurun pasir!" Edward agak menggerutu melihat sikap. Andre yang melalaikan tugasnya di saat bertemu dengan kolega bisnisnya.
Tak lama kemudian pintu pun diketuk dan muncul orang yang sedang ditunggu Edward.
"Maaf.. " Andre melirik pad Edward yang sudah memasang wajah kesal.
"Mari kita akhiri rapat ini. Pak Andre sudah datang dan kita simpulkan akhir pertemuan ini dengan kesepakatan yang telah kita buat tadi." Edward harus menutup pertemuan meetingnya.
Semua orang mengangguk setuju. Setelah penandatanganan kontrak bisnis kedua belah pihak berjabat tangan. Setelah acara selesai kedua belah pihak pun sama-sama pergi dari tempat meeting.
__ADS_1
"Kamu.. kemana aja sih? Katanya ke toilet tapi seabad." Edward melayangkan protes sambil berjalan keluar dari ruang meeting.
"Aku... ada perlu dulu. Andre masih dengan muka berlipat menjawab pertanyaan Edward.
"Lain kali jangan diulang! Jangan sampai image buruk ditangkap kolega kita." Edward memperingati Andre.
"Mmm." Andre menjawab singkat. Pikiran nya akhir-akhir ini agak runyam. Entah lelah bekerja dan pusing memikirkan istri barunya yang banyak menuntutnya untuk selalu memenuhi kebutuhan materinya seperti dulu.
"Eh... bukannya itu dokter Arini." Edward melihat Arini masih duduk di cafe itu. Dia berjalan mendekati Arini hendak menyapanya. Tapi tangan Andre malah menarik baju kemejanya dan menahan Edward untuk melangkahkan kakinya untuk mendekati dokter Arini yang bersama dokter Kris.
"Eh.. kenapa kamu?" Delik Edward pada Andre yang merasa Andre menahan tujuannya.
"Apa yang akan kamu lakukan? Dia sedang kencan dengan pacarnya. Jangan bikin keributan disini!" Andre beralasan.
"Maksudnya? Arini sedang kencan? Darimana kamu tahu?" Edward seperti disengat api cemburu begitu mendengar informasi dari Andre.
Keduanya masuk ke dalam mobil.
"Ceritakan! Aku tak sabar mendengar cerita kamu. Apa benar dokter Arini sedang kencan dengan laki-laki itu?" Edward tak sabar ingin segera menagih janji Andre.
"Kenapa? Kamu berminat ingin mendekati mantan istriku?" Andre menatap tajam wajah Edward.
"Ya... kalau iya memang salah? Lagian dia kan sudah cerai dengan kamu." Edward dengan santai menjawab Andre yang menunjukkan wajah marah.
"Sebaiknya jauhi dia! Kamu dan dia sama-sama tidak pantas bersanding. Kalau kamu tak ingin tertipu seperti aku." Jawab Andre sambil menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
"Tertipu? Ha ha... maksudnya bagaimana ini? Aku tak percaya kalau kamu tertipu oleh mantan istrimu? Apa tidak salah?" Edward dengan wajah mencemooh menertawakan apa yang baru saja Andre katakan.
"Hei... " Andre membentak tidak menerima Edward merendahkan dirinya. Kali ini Andre benar-benar tak bisa menahan amarahnya. Antara kesal, marah juga kecewa ditambah sekelumit masalah yang sedang dihadapinya menjadi satu dan itu seperti bom yang akan meledak.
"Kenapa? Kamu aneh sekali Andre? Kamu mau marah sama aku? Silahkan saja marah! Atau kamu... mau jadi pengangguran?" Ancam Edward yang melihat sepupunya aneh.
"Sudahlah.. aku harap kamu jangan memancing emosiku. Aku sedang banyak pikiran." Andre buru-buru menetralkan kondisi emosinya. Dia takut kalau dirinya tidak bisa menguasai lagi kesabaran.
"Ih.. " Edward membuang muka. Dia merasa kesal juga melihat Andre bersikap aneh.
Apa salahku? Apa kamu merasa cemburu melihat mantan istrimu bersama-sama laki-laki lain? Cih.. dasar otak licik. Selingkuh saja bisa.. giliran mantan ngedate aja galau...
Edward menggerutu di dalam hati. Kalau tadi dia tidak ditahan Andre mungkin dia sudah tahu identitas laki-laki yang sedang bersama dokter Arini. Bisa saja dokter Arini sedang berbicara dengan teamnya. Kenapa harus cemburu kalau benar mereka tidak berkencan. Itu yang ada dalam pikiran Edward saat ini.
Tak lama kemudian Edward dan Andre telah sampai di kantor perusahaan milik keluarga Edward. Keduanya masuk ke perusahaan tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Bolehkah aku pulang duluan?" Andre meminta izin pulang padahal jam kerjanya belum selesai.
Edward menatap aneh sambil. menopang dagu melihat detail wajah Andre.
"Kenapa? Galau?" Edward menebak kondisi emosi Andre saat ini.
"Badanku agak tidak enak. Aku butuh istirahat agar besok bisa kali bekerja." Jawab Andre yang sepertinya dia tak bisa melanjutkan bekerja dalam kondisi emosi tidak stabil. Dia berharap dengan istirahat di apartemen nya akan memulihkan kembali kondisinya yang sedang kacau. Setidaknya dia bisa menghindari masalah.
"Baiklah.. pulanglah! Jika itu akan membuatmu besok bekerja lebih baik lagi." Edward beralih melihat handphone nya yang menyala.
__ADS_1
Andre pun keluar dari ruangan Edward. Sedangkan Edward sibuk bicara dengan seseorang setelah panggilan masuk ke handphonenya.