Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Prasangka


__ADS_3

Andre lebih awal pulang ke apartemen nya. Selain lelah fisik, hatinya juga pikiran nya sedang tak baik-baik saja setelah melihat dokter Arini berdua dengan dokter Kris. Padahal secara hukum, Andre sudah tak mempunyai hak cemburu bahkan marah pada mantan istrinya itu. Mau bersama siapapun dokter Arini bebas menentukan.


Andre membuka pintu apartemen tanpa diketahui oleh Renata yang sedang bertelepon ria di dalam kamar. Andre duduk di sofa sambil menyandarkan badannya dan memijat pelipis.


Saking asiknya Renata dengan tenang berbicara dengan lawan bicaranya tanpa merendahkan nada suaranya. Andre yang sedang duduk di sofa pun bisa mendengar jelas pembicaraan Renata yang membuat keningnya berkerut.


Nada-nada manja yang dilontarkan Renata tentu itu bukan nada bicara yang lumrah. Itu mirip nada orang yang sedang pacaran.


"Ah.. sayang.. aku jadi terbayang-bayang terus sentuhanmu. Kalau tidak, mana mungkin aku selalu merindukan itu." Renata dengan suara manjanya berbicara tanpa filter.


Itu membuat bulu kuduk Andre berdiri. Telinganya sengaja ditajamkan agar tak salah dengar. Dia yang baru saja duduk dan mendengarkan pembicaraan Renata hatinya memanas mendengar Renata berkata seperti itu.


Tapi Andre tak mau buru-buru memergoki Renata. Dia menahan diri meski dia cemburu agar dia tak salah paham.


Andre mengambil benda pipih nya dan memasang aplikasi rekaman. Dia mengendap-endap ke arah pintu kamar agar Renata tidak curiga. Andre menaruh benda pipih itu di dekat pintu. Hal itu dia lakukan agar Renata tak curiga akan kedatangan nya dan hendak merekam pembicaraannya.


Andre duduk di belakang pintu yang kebetulan pintu itu sedikit terbuka. Telinganya dipasang baik-baik. Dia membiarkan Renata menyelesaikan pembicaraan sampai selesai dan dia ingin sekali memergoki apa yang sedang dibicarakannya dengan lawan bicaranya itu.


Dehhh


Ketika Renata menyebut satu nama laki-laki dalam pembicaraan. Dadanya terasa sesak dan kepalanya semakin berdenyut, ketika kenyataannya Renata tidak setia dengannya.


Andre langsung berdiri dan membawa handphonenya. Raganya terasa melayang tak tahu harus berbuat apa. Hari ini dia melihat kenyataan pahit dari dua wanita yang telah mampir di kehidupannya.


"Apa ini karma?" Lirih Andre sambil berjalan ke dapur untuk mengambil air dalam kulkas. Diambilnya sebotol air mineral dingin lalu dia meneguknya sampai tandas. Dia berharap, dadanya yang sesak dan emosinya yang panas bisa dingin.

__ADS_1


Dada Andre terlihat naik turun. Beberapa kali dia menarik nafas dan mengeluarkan nya dengan kasar. Dia bingung sendiri. Apa yang harus dilakukan nya sekarang dengan kehidupannya.


"Apa aku harus menyelidiki apa yang dilakukan Renata? Tapi caranya bagaimana? Sedangkan aku harus bekerja siang malam. Bahkan aku tidak punya uang untuk menyewa seseorang." Andre mematung di kursi yang berada di dapur. Dia bingung dengan semua masalahnya. Terlebih ekonomi nya sekarang morat-marit.


Andre yang sedang bingung dikejutkan dengan suara pintu kamar yang dibuka lebar dan munculah Renata.


Mata Andre bertemu dengan Renata. Bukan hanya dia saja kaget Renata pun matanya membelalak. Dia terlihat kaget dengan keberadaan Andre yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam apartemen tanpa diketahui nya.


"Kapan kamu pulang?" Tanya Renata menyembunyikan kekagetannya.


"Barusan." Jawab Andre pelan. Tidak dipungkiri hatinya kecewa tapi Andre tak mau buru-buru memarahi Renata sebelum ada bukti nyata. Dia berusaha untuk bersikap biasa-biasa.


"Kok.. kamu pulang awal? Biasanya tidak jam segini?" Tanya Renata sambil melirik jam dinding yanga ada di ruang tamu.


"Aku agak enak badan." Jawab Andre jujur.


Andre terdiam. Tidak menolak tawaran Renata.


Renata segera mengeluarkan daging cepat saji dan nasi instan untuk Andre. Itu yang hanya dia bisa. Karena selama ini Renata terbiasa dimanjakan dengan makanan cepat saji dan makanan dari restoran.


"Ini minumnya!" Renata menyuguhi Andre secangkir kopi sambil menyiapkan piring untuk menumpahkan daging steak yang tersedia di lemari pendingin yang sudah dipanggang nya lalu dia pun menumpahkan nasi instan ke dalam piring dan menyodorkan pada Andre begitu nasi itu sudah siap santap.


"Terimakasih." Ucap Andre tidak menarik piring lalu perlahan menyuapkannya ke dalam mulut. Semua makanan terasa hambar. Tapi Andre berusaha menelannya meski terpaksa demi menutupi kekesalan dan ingin menyembunyikan kecurigaan nya pada Renata.


"Biar aku cuci." Renata yang sejak tadi duduk di depan Andre langsung menyambar piring kosong itu setelah melihat Andre telah selesai menghabiskan isi piring nya.

__ADS_1


Renata langsung berdiri mencuci piring sambil memunggungi Andre. Andre masih diam di kursi lalu meneguk air yang tadi disuguhkan Renata. Tak lama kemudian dia berdiri hendak meninggalkan Renata.


"Kamu mau kemana?" Tanya Renata yang menyadari Andre hendak meninggalkan meja makan.


"Aku mau mandi dan ingin tidur dulu sebelum berangkat bekerja lagi." Jawab Andre melangkah dari meja makan.


"Katanya tidak badan, kok masih mau berangkat kerja?" Tanya Renata pura-pura peduli. Padahal dalam hatinya dia bersorak kalau Andre tidak ada dia bisa bebas melakukan apa saja yang dia mau.


"Ya.. aku hanya ingin istirahat sebentar. Pekerjaan ku banyak dan belum selesai." Andre melengos dari meja makan menuju kamar.


Andre menutup pintu kamar dan berdiri di belakang pintu. Dia menyugar rambutnya kasar.


"Bagaimana kalau benar Renata bermain di belakang ku? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Andre pada dirinya sendiri. Sekarang kepalanya seakan berdenyut keras menghadapi masalah. Bukan hanya masalah pekerjaan saja, tapi yang lebih menyesakkan adalah masalah rumah tangganya.


Andre berjalan melangkah menuju kamar mandi. Dibuka kancing baju kemeja nya satu persatu dan kini dia mengguyur badannya di bawah kucuran shower. Dia berharap sakit kepalanya akan berkurang seiring air yang pergi menuju pembuangan.


Andre pun menyudahi acara mandinya. Lalu dia meraih baju handuk kimononya menuju wardrobe. Dipilah-pilah baju santai yang menurutnya cocok untuk tidur. Setelah mendapatkan stelan baju santai Andre pun memakainya. Lalu keluar dari kamarnya menuju kamar yang satunya lagi bekas kamar Arini dulu.


"Mau kemana kamu?" Suara Renata kembali mengejutkan Andre.


"Aku mau tidur di kamar sebelah. Aku bingung tidur tanpa diganggu. Kepalaku benar-benar sakit." Jawab Andre.


"Kamu butuh obat?" Tanya Renata yang tiba-tiba sok peduli.


"Aku hanya butuh istirahat." Andre yang tidak membiasakan diri minum obat kalau sakitnya tidak parah, menolak tawaran Renata.

__ADS_1


"Ya sudah. Kalau mau kamu begitu." Renata yang hanya pura-pura menawarkan kembali pada mode semula. Dia pun pergi ke kamar nya dengan hati senang karena Andre tak tidur di kamar yang sama. Itu menjadi kesempatan Renata melakukan apapun yang dia inginkan.


__ADS_2