Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Mencari bukti


__ADS_3

Entah kenapa perasaan gelisah Andre semakin menjadi ketika dia berangkat kerja di clubing. Pasalnya banyak teman-teman sekerjanya bergosip tentang acara ulang tahun kemarin.


"Wah... kerjaan horang kaya memang buang-buang duit disini. Kamu kemarin dapat tips berapa?" Tanya pelayan bar tender pada pelayan yang biasa.


"Ya.. lumayanlah dapat 300." Jawab rekan Andre yang sama seprofesi sebagai pelayan bukan bar tender.


"Kalau lu?" Tanya balik rekan Andre pada bagian bar tender.


"Kalau gue sih 500 an. Soalnya kemarin gue promosi minuman racikan gue sendiri. Eh teman-teman mereka pada antusias." Jawabannya sumringah mendapatkan uang lebih dari partynya anak-anak orang kaya yang kemarin sempat memboking club malam itu untuk gelar pesta ulang tahun.


"Wah.. lumayan tuh." Komentar rekan Andre agak kagum dengan tips yang lebih besar darinya.


"Itu tuh udah bagi-bagi sama temen gue yang lain. Ya.. lumayanlah buat nambah-nambah." Dia terlihat senang dengan tips-tips dari pengunjung kemarin.


"Kalau kamu ndre?" Andre yang masih duduk sambil elap-elap tidak merespon apapun. Dia hanya jadi pendengar saja sejak obrolan itu dimulai.


"Nihil." Jawab Andre singkat.


"Masa? Bukannya kamu mengantarkan pesanan ke ruang VIp? Biasanya mereka loyal lho... buat acara sewa menyewa ruang Vip." Tanya pelayan bar tender agak heran mendengar nasib Andre yang tidak beruntung.


"Ya.. begitulah... " Andre meneruskan kerjaannya mengangkat bangku satu persatu sebelum pengunjung datang karena tempat harus dibersihkan. Biasanya pengunjung mulai berdatangan sekitar jam 9 ke atas.


"Wah... sial betul kamu Ndre. Biasanya mereka memberikan tips lebih lho... apalagi kalau mereka meminta mengotak-ngatik CCTV bonusnya suka gak kira-kira." Terang rekan Andre yang telah pengalaman bekerja lebih lama di sana.

__ADS_1


"Ya.. biasanya mereka memesan CCTV-nya dimatikan sekalian. Dan mereka berani bayar mahal untuk jasa itu." Rekan Andre agak heran dengan pelanggan kemarin yang tidak memberikan tips sedikitpun pada Andre.


"Kali aja penyewanya kere." Lengos Andre meninggalkan keduanya dan melanjutkan pekerjaan yang sudah jadi tugas Andre malam ini menyiapkan beberapa stok minuman di gudang.


"Ah... gue jadi penasaran. Kalau CCTV-nya tidak dimatikan, jadi masih ada rekamannya. Apa. mesti gue cek penyewanya siapa?" Terbersit dalam pikiran Andre untuk membuktikan sebenarnya suara kemarin milik siapa?


"Andre.. " Panggil seseorang dari balik pintu memanggil Andre untuk mendekatinya. Tak lain adalah ketua tim security club malam dimana dia bekerja.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanyanya pada Andre.


"Hampir pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Andre sopan. Sekarang Andre yang kedudukannya sebagai pekerja mencoba merendahkan diri di hadapan atasannya agar pekerjaannya bisa bertahan lama demi bisa membiayai rumah tangganya.


"Aku butuh seseorang untuk membersihkan ruangan di atas sana. Kalau kamu tidak keberatan setelah selesai tolong dibersihkan! Aku akan keluar dulu ada perlu." Ucap kepala security memerintahkan pada Andre.


Padahal dengan gaji di perusahaan Edward pun lebih dari cukup, tapi karena gaya hidup Renata yang tinggi Andre terpaksa mencari uang tambahan meski dia harus lembur di malam hari. Hidup adalah sebuah pilihan. Dia lebih memilih Renata dan hidup susah daripada hidup bersama Arini yang berkecukupan.


Setelah selesai Andre pun naik ke lantai dua dimana ruangan keamanan berada.


"Wah... ternyata disini rupanya CCTV bisa diawasai." Ucap Andre begitu memasuki ruangan itu yang terdapat banyak monitor juga alat-alat elektronik lainnya. Andre mulai menyapu dan melap ruangan itu dengan melihat dimana letak CCTV-nya ruangan itu berada. Terbersit begitu saja dalam pikiran Andre untuk mencuri data kejadian malam itu. Ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk membuktikan kebenaran, siapa yang waktu itu menyewa ruangan VIp. Sejak malam itu memang hati Andre masih tidak tenang. Apalagi ditambah suara Renata yang sangat mirip terdengar di telinganya.


Andre mencari jalur CCTV-nya lalu memadamkan sementara CCTV yang ada diruangan itu untuk menyembunyikan identitas dirinya sementara. Lalu dilihatnya di layar monitor CCTV ruangan Vip. Setelah mendapatkan kode dan nomor seri nya, Andre langsung membuka komputer dan mencari data. Jantung Andre kian berpacu, dia harus cepat juga karena takut kepala security segera datang ke ruangan itu.


"Hah dapat." Andre segera memindahkan data ke handphonenya sambil melirik mengawasi pintu.

__ADS_1


"Ku mohon cepatlah!" Andre bergumam sendiri. Beginilah rasanya seorang pencuri ketika melakukan aksi. Ya seperti di film-film action pada umumnya. Rasa dag-dig- dug tidak tenang Andre rasakan.


"Yes.. selesai." Andre segera mengembalikan ke mode awal semua setingan dalam komputer agar tidak dicurigai. Setelah selesai Andre pun memulihkan CCTV ruangan kembali pada semula. Dan Andre pun menyelesaikan pekerjaannya. dengan cepat agar bisa keluar dari sana lebih cepat juga.


"Gila... jantungku hampir copot." Andre mengusap dadanya di balik pintu dekat gudang setelah turun dari lantai 2.


"Hei.. lagi ngapain kamu?" Rekan Andre menegur Andre.


"Ya ampun... kamu ngagetin aja!" Belum lepas ketakutan nya sekarang malah dikagetkan oleh rekan sekerjanya.


"Ih.. kamu.. kaya pucet gitu! Sakit?" Kebetulan memang wajah Andre terlihat pucat. Setelah badannya kurang fit ditambah barusan olahraga jantung karena harus mencuri data dari kantor security.


"Mmm.. sedikit." Jawab Andre mengiyakan tebakan rekan sekerjanya.


"Ya udah.. kamu izin saja malam ini kalau dirasa badanmu sakit. Aku rasa si bos mau mengizinkan karyawannya kalau memang sakit. Jangan dipaksakan!" Rekan Andre tak mau berisiko kalau nantinya saat melayani pelanggan ada masalah.


"Aku karyawan baru, tidak enak kalau harus izin." Andre yang masih baru bekerja di sana merasa sungkan untuk meminta izin bolos bekerja malam ini.


"Ya sudah terserah kamu. Kalau kamu tidak mau, kamu tukeran shift saja dengan bagian pelayan di bagian lain agar kerja kamu lebih ringan." Rekan kerja Andre memberi ide.


"Baiklah. Terima kasih. Akan aku coba." Andre akan melakukan usaha dengan menukar pekerjaan dengan rekan lain agar pekerjaannya malam ini tidak terlalu berat.


Di lain tempat Renata sudah keluar dari apartemen untuk menemui seseorang. Begitu Andre berangkat kerja, dia pun langsung siap-siap untuk menemui seseorang yang terakhir-terakhir ini sering berhubungan dengannya.

__ADS_1


"Oh.. beby.. akhirnya kamu datang juga. Ayo masuk! Aku sudah tak tahan menunggumu." Laki-laki yang sering berkencan dengan Renata itu pun langsung menyambar bibir Renata yang sensual.


__ADS_2