Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Gercep


__ADS_3

Pandangan Edward terpaku melihat Arini di depannya.


Dimana aku melihat wanita ini ya?


Pikiran Edward seperti sedang mencerna sesuatu. Sepertinya dia pernah bertemu, tapi dia lupa dimana.


"Ayo silahkan duduk dokter!" Ibunya Edward menarik kursi di samping ranjang Edward yang melihat Arini hanya berdiri mematung begitupun dengan Edward melihatnya lekat.


"Oh iya Terima kasih nyonya." Ucap Arini tersenyum tipis seperti bingung melihat orang yang di depannya melihat dirinya lekat.


Mohon maaf bisa tidak itu mata ditertibkan?


Sayangnya Arini hanya bisa bergumam dalam hati.


"Perkenalkan nama saya Arini.' Arini menakjubkan tangannya di atas dada pada Edward. Arini memulai memperkenalkan diri pada Edward.


"Saya Edward." Edward menjawab dengan gugup.


Kenapa harus gugup ya?


Edward bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa dokter Arini tinggal di Bali?" Ibunya Edward ikut mengobrol karena terlihat dokter Arini maupun Edward terlihat kaku dan gugup. Lah kenapa juga mereka harus gugup. Apa karena tatapan Edward yang tajam pada Arini sehingga Arini gugup. Jangan salah ya, Edward ini meski lemah, dia adalah laki-laki playboy yang punya banyak pacar. Itulah senjata andalan Edward untuk menundukkan para wanita.


"Saya tinggal di Jakarta nyonya." Jawab Arini sambil mengangguk-angguk. Entah kenapa dia tiba-tiba seperti burung pelatuk yang sedang mematuk-matuk pohon, terlihat lucu dan menggemaskan.


"Oh.. Jakarta. Disini liburan?" Ibunya Edward aktif bertanya layaknya seorang wartawan. Sedangkan Edward menyimak pembicaraan.


'Iya nonya." Jawab Arini masih mengangguk-anguk kepala.


"Itu kenapa dok tangannya kok pake dililit perban?" Tangan Arini yang sudah beberapa hari dililit perban menyita perhatian ibunya Edward.

__ADS_1


"Hhmm.. cedera nyonya." Jawab Arini langsung menunduk.


"Cedera? Apa sudah diperiksa?Atau diperiksa? Biar saya panggilkan dokter spesialis kesini?" Ibunya Edward ikut khawatir ketika mendengar kata cedera.


"Mih.. " Edward seperti mengingatkan ibunya yang terlalu overprotective. Edward khawatir menyinggung gengsi Arini sebagai dokter.


"He he.. iya nyonya. Kebetulan sejak kedatangan ke Bali saya belum sempat memeriksakannya." Arini sembari menyembunyikan kedua telapak tangannya.


"Mumpung disini ayo mamih anter periksa! Dokter juga harus sehat. Bagaiamana nanti menolong pasien kalau tangannya kaya gini." Ibunya Edward begitu perhatian.


"Gak pa-pa nyonya. Mungkin habis ini saya akn foto rongsen. Selama tidak berat-berat sih, oke!" Tolak Arini halus.


"Oke kalau begitu. Kita ngobrol aja kali ya?" Ibunya Edward lebih dominan berbicara. Maklumlah emak-emak dimana-dimana suka sekali bicara. Jarang ada perempuan yang pendiam. Apalagi memang ibunya Edward jago bisnis, keturunan pebisnisnya lebih kuat.


"Iya nyonya." Arini tersenyum tipis.


"Sebenarnya kami ingin mengucapkan banyak Terima kasih sama dokter yang telah membantu anak saya waktu itu. Untung dokter sigap melakukan pertolongan. Kalau tidak mungkin nyawa Edward tak tertolong." Ucap ibunya Edward.


"Ih.. dokter merendah begitu. Mamih jadi pengen dokter jadi menantu mamih." Celetuk ibunya Edward tiba-tiba terkesan dengan kerendahan Arini.


"Mmm.. mamih. Penyakitnya kambuh." Ayahnya Edward menggelengkan kepala melihat sikap istrinya yang suka menjodohkan anaknya Edward. Entahlah wanita itu suka sekali menjodohkan anaknya dengan pilihannya. Dan sebanyak itu juga anaknya menolak pilihan ibunya. Makanya dia memilih playboy agar menghindari perjodohan ibunya.


Tapi kali ini berbeda apa yang dirasakan Edward. Begitu ibunya berkata seperti itu ada rasa senang jika dokter dewi penolongnya itu akan mau menerima tawaran ibunya.


"Gak pa-pa pih.. mamih selalu antusias melihat perempuan baik. Kali saja dokter Arini mau berjodoh dengan Edward." Ibunya Edward ini memang tipe perempuan gercep dalam segala bidang. Tak heran bisnisnya cepat maju meski dia meniti dari awal, berbeda dengan kakaknya yang melanjutkan usaha ayahnya.


Arini tersenyum simpul, karena malu. Pipinya merah merona.


Waduh.. ini mamih... semangat empat lima buat menjodohkan anaknya. Gak tau gue udah ada yang punya.


Arini tertunduk malu.

__ADS_1


"Oh.. iya. Sekarang dokter Arini tinggal dimana?" Ibunya Edward yang tahu Arini malu, mengalihkan sejenak pembicaraannya.


"Saya menyewa vila. Kebetulan pasien yang saya tadi bawa adalah pengurus vila yang saya sewa." Jawab Arini, jadi teringat janjinya pada pak Surya dan istrinya.


"Oh.. begitu. Daerah mana ya vilanya?" Ibunya Edward ingin tahu dimana keberadaan alamat vila yang sedang ditempati Arini.


"Mmm.. saya harus menanyakan dulu nyonya, kebetulan saya kurang hafal. Mmm... kalau tidak keberatan saya juga harus pergi nyonya, tadi saya janji akan menemani pasien." Arini agak gusar.


"Tenang aja dokter! Pasien bu dokter sudah ada yang menemani, pengawal saya. Semua pengobatannya akan saya tanggung. Dokter disini saja temani kami. Kalau dokter tidak keberatan bagaimana kalau dokter jadi dokter pribadi anak saya saja?" Tawar ibunya Edward yang benar-benar agresif.


Ya ampun... ibu yang satu ini benar-benar pejuang empat lima kali. Dulunya apa. lahir di tujuh belas Agustus?


Arini bergumam dalam hatinya heran melihat ada perempuan yang segercep ini.


"Bagaimana dokter?" Tanya ibunya Edward menunggu jawaban Arini.


"Mmm.. duh gimana ya? Saya kesini mau liburan bukan untuk bekerja. Mohon maaf nyonya, saya masih bingung dengan tawaran nyonya yang begitu cepat. Sehabis ini rencananya saya tidak akan mengambil job dulu." Tolak Arini.


"Wah... bagus itu. Mamih dukung. Tapi tawaran mamih berlaku ya jika dokter nanti berubah pikiran. Mamih tunggu jawaban dokter secepatnya. Sekarang bu dokter saya tinggal dulu ya! Maaf saya banyak bicara ya! Bu dokter duduk aja dulu sama anak saya. Mungkin anak saya mau ngobrol sama dokter Arini." Ibunya Edward berdiri lalu mengedipkan mata pada suaminya. Mereka berdua keluar dari ruangan meninggalkan Arini dan Edward.


"Lho kok ditinggal?" Arini tanpa sadar berbicara begitu.


"Kenapa bu dokter takut?" Edward melihat kegelisahan Arini yang tak biasa di tempat asing. Apalagi mereka baru kenal.


"Eh.. iya. Saya juga mau pergi, kan masih punya janji di luar." Arini mengambil kesempatan untuk pergi dari ruangan itu. Dia seperti terjebak di tempat asing.


"Dokter tenang aja! Mamih pergi pastinya ngurusin pasien dokter. Kenapa kalau dokter tinggal disini? Takut?" Edward semakin memojokkan Arini dengan pertanyaannya.


"Eh bukan takut. Kan tadi saya dibawa kesini hanya untuk mendengar kalian berterima kasih. Saya juga masih ada urusan dengan yang lain." Tolak Arini ingin sekali berlari dari sana.


"Tapi saya ingin ditemani dokter disini! Bisa kan dokter menemani saya? Saya juga takut sendiri!" Terang Edward.

__ADS_1


__ADS_2