Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Pacar


__ADS_3

"Apa kamu tidak cemburu dok?" Tanya Dokter Kris menghentikan sendok nya. Perhatiannya kini tertuju pada Arini. Dia penasaran kenapa perempuan di depannya hanya merespon dingin dan datar saja.


"Ngapain cemburu. Toh dia istrinya." Jawab Arini santai sambil mengunyah makan siangnya.


"Kalau dia istrinya lalu dokter Arini siapa?" Dokter Kris semakin mendekatkan wajahnya sambil berbisik. Dia tak ingin orang lain mendengar pembicaraan yang cukup privasi ini.


"Mantannya." Jawab Arini sambil mendekati wajah dokter Kris.


"Apa???" Suara dokter Kris tuba-tiba naik beberapa oktaf membuat orang yang ada di kantin kaget. Semua mata tertuju pada keduanya. Mereka yang kelihatan intim pun jadi disalah artikan oleh beberapa orang. Apalagi dokter Herman yang tidak jauh dari bangku keduanya.


"Ssttt.. anda ini kenapa? Jangan jantungan gitu donk!" Arini sekarang menjauhkan wajahnya dari dokter Kris.


Dokter Kris membeku tak bergerak sedikitpun setelah menerima kekagetan barusan.


Dokter Arini mengibaskan-ngibaskan kedua tangannya du depan dokter Kris. Dokter Kris pun mengedipkan mata seolah kembali ke alam sadarnya. Lalu dia menarik diri menjadi posisi tegak di kursi.


"Apa semua itu benar dok?" Suara dokter Kris terdengar sendu. Dia seakan ikut merasakan sedih atas berita yang menimpa dokter Arini.


"Ya.. sayangnya semua itu benar. Bukan mimpi." Jawab Arini melanjutkan makannya yang tinggal sedikit lagi. Terbalik dengan dokter Kris yang malah tidak berselera makan setelah mendengar berita itu. Ada rasa kesal juga marah mewakili hati. Padahal yang mengalami kejadian adalah dokter Arini, kenapa dokter Kris ikutan melow? Ah entah apa yang terjadi dengan hatinya. Seharusnya kalau dia menyukai dokter Arini, dokter Kris harusnya bergembira bukan malah bersedih dan kesal.


"Aku sudah beres makannya." Arini memberitahu dokter Kris. Dia hendak berdiri dan menyimpan kembali wadah nampan di tempat pencucian sesuai aturan yang ada.


"Aku juga." Dokter Kris mengikuti dokter Arini.


"Lah... itu makanan tidak dihabiskan?" Tanya Arini yang melihat nampan dokter Kris masih banyak makanan yang tersisa. Bisa dikatakan bukan sisa, tapi hanya dicicipi saja.

__ADS_1


"Aku tak selera makan." Jawab dokter Kris berdiri mengikuti dokter Arini.


"Terserah kamu deh. Asal jangan pingsan waktu operasi saja. Berabe nanti." Arini tak begitu menghiraukan dokter Kris seperti yang kehilangan arah.


Sebenarnya yang patah hati itu siapa ya? Kok. jadi aku yang melow begini? Dia sepertinya malah cuek.


Dokter Kris bergumam sendiri.


Keduanya meletakkan nampan bekas makanan ditempat pencucian. Lalu pergi meninggalkan kantin.


"Aku mau shalat dulu." Ucap Arini memberitahu. dokter Kris. Dia berbelok ke arah mushola.


"Aku tunggu di ruangan." Ucap dokter Kris yang memang berbeda keyakinan dengan Arini memilih menunggu Arini di ruang kerja.


Bukan Arini yang tak mempunyai hati. Layaknya manusia normal, Arini pun merasa sakit hati, kesal, marah, juga kecewa atas pernikahannya. Tapi ada satu kelebihan Arini, dia memang bukan tipe perempuan melow. Sejak dulu orang mengenalnya datar dan dingin. Mungkin itu yang menyebabkan Arini tidak berlarut-larut dalam masalah dan kesedihannya.


Seperti sekarang ini. Dokter Kris yang baru mengenal Arini, satu persatu sifat Arini pun bermunculan di depannya. Dia wanita yang cukup tangguh, kuat, juga pintar. Tapi bukan berarti dia tidak seperti perempuan-perempuan lainnya yang lemah, sering menangis dan manja. Dia pun sama. Cuman Arini pandai menempatkan dirinya dalam situasi.


"Kamu setia menunggu rupanya?" Arini masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dan di sana dokter Kris sedang duduk santai sambil memejamkan matanya untuk. mengistirahatkan tubuhnya dari lelah bekerja.


"Ya iya lah. Setia menunggu janda." Jawab dokter Kris sambil mengubah cara duduknya.


"Ish... kaya tidak ada gadis saja!" Arini santai menanggapi candaan dokter Kris padanya.


"Serius lho dok! Aku sekarang menunggu kamu membuka hati." Gaya dokter Kris yang blak-blakan membuat Arini terkadang agak kurang nyaman juga.

__ADS_1


"Kalau begitu tunggu sampai aku sakit hati. Kamu boleh membuka hati aku lewat jalan operasi." Dokter Arini menyiapkan beberapa file untuk visit sebelum pulang ke rumahnya. Dia masih cuti dari operasi.


"Oh my God. Masa iya begitu. Aku tidak mau ah. Sejak sekarang mau tidak mau kamu harus jadi pacar aku dok." Dokter Kris dengan kesan memaksa menginginkan Arini menjadi pacar.


"Boleh. Janji hanya pacar. Tidak lebih." Arini yang pintar dengan mudah mengunci perkataan dokter Kris.


"Beneran? Kamu mau jadi pacar aku?" Tanya dokter Kris yang mulai termakan dengan omongan nya sendiri.


"Iya. Serius hanya pacar bukan suami." Arini menoleh ke arah dokter Kris. Bukan hanya sekedar mengucapkan Arini mengatakan hal itu. Ada pesan di balik kalimat yang sedang diucapkannya. Mulai sekarang Arini akan selektif memilih calon suami. Menerima dokter jadi pacarnya bukan berarti dia menerima laki-laki itu menjadi suaminya. Karena sampai saat ini Arini belum merasakan hatinya jatuh cinta.


"Ya ampun.. gue salah ngomong." Dokter Kris baru menyadari kesalahannya dalam berbicara.


"Makanya jangan kebanyakan memaksa. Bagaimana kalau yang diajak pacaran dia juga banyak pacar nya dan memutuskan untuk menikah dengan pria lain?" Arini memberi nasehat pada dokter Kris agar tidak gegabah dalam mendekati perempuan dan menjadikannya pacar.


"Ya aku percaya.. kamu tidak seperti itu. Sepertinya kita harus menjalani pacaran. Meski kita tidak tahu apakah hubungan kita akan berlangsung ke pelaminan." Ucap dokter Kris yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


Setidaknya berpacaran dulu baru ke depannya baru bisa dipikirkan daripada sama sekali tidak bisa mendekati dokter Arini.


"Kamu mau disini? Atau mau pacaran?" Tanya Arini yang sudah siap visit. Dia akan mengunjungi beberapa pasien yang sudah dioperasi oleh dokter Kris. Jadi dokter Kris harus mau ikut dengannya untuk visit pasien.


"Itu sih bukan pacaran.. tapi kerja." Dengus dokter Kris lalu berdiri dari kursi yang sedang di dudukinya.


"Ya... mau-mau aku lah. Mau silahkan tidak mau juga gak pa-pa." Ucap Arini hendak melangkah ke luar dari ruang kerjanya. Arini sengaja memberikan kejelasan atas hubungannya dengan dokter Kris. Dia tidak mau dokter Kris berharap banyak padanya. Dengan memperlakukannya seperti itu, Arini berharap dokter Kris tidak berharap banyak padanya. Karena kegagalan pernikahannya meninggalkan bekas yang lumayan membekas di hati Arini.


"Ya udah.. aku ikut. Daripada sama sekali tidak." Dokter Kris oun mengikuti Arini. Keduanya pun keluar dari ruangan lalu berjalan dengan santainya.

__ADS_1


__ADS_2