
Dengan wajah lelah Andre pulang ke apartemen. Meski malam itu dia mendapatkan tips, tapi tetap hatinya tidak tenang setelah mendengar suara yang dia kenali?
Apa mungkin ada suara yang sama? Ah.. mana bisa aku berpikiran kesana? Bukankah Renata sedang hamil? Masa keluyuran malam-malam.
Andre segera menepis semua prasangka buruknya. Dia berharap apa yang didengarnya adalah salah. Setelah sampai di apartemen dia buru-buru pergi ke kamar. Malam itu tepat jam 1 malam. Pesta berakhir di setengah satu dan semua pegawai pulang setelah membereskan pekerjaannya masing-masing.
Mata Andre menangkap sosok yang dikenalinya. Dia bernafas lega. Ternyata Renata ada di atas ranjang tengah tidur terlelap. Andre segera mengganti pakaiannya dan mandi air hangat untuk membersihkan bau rokok juga alkohol yang menempel di badannya.
Dia segera menyusul Renata ke atas ranjang dan tertidur di samping tubuh istrinya itu dengan lelap.
#flash back#
Suara dentuman di klub malam mulai berisik, lagu happy birthday pun dinyanyikan oleh banyak orang layaknya paduan suara. Tak terkecuali Renata yang berdiri di samping sang punya lakon.
"Selamat ya!" Renata mengucapkan kata selamat pada Isye. Yang diberi selamat pun tersenyum sumeringah setelah mendapatkan kado spesial dari sahabat karib. Lalu satu persatu tamu pun mengucapkan kata selamat pada yang punya hajat sebagai tanda ikut berbahagia bertemu tahun kelahirannya.
Giliran seseorang laki-laki yang maju melangkah mendekati orang yang mengundangnya. Tatapan mata yang saling mencuri-curi pandang pun saling berbisik.
Isye menyikut tangan Renata memberitahu bahwa teman kencannya telah datang.
"Apaaan sih?" Renata malu-malu tapi mau sambil menatap laki-laki yang baru saja menghampiri Isye.
"Selamat ya!" Ucap laki-laki itu sambil mencium pipi kiri kanan Isye.
"Ma kasih.. sudah nyempetin datang." Ucap Isye merasa senang tamu undangan spesial nya datang.
"Sama-sama." Jawabnya kembali dengan sejuta pesonanya yang pura-pura cool. Setelah itu dia melirik sebentar pada Renata lalu melangkah meninggalkan Isye.
"Sana! Jangan pura-pura!" Isye mendorong tubuh Renata agar mengikuti laki-laki tadi.
"Ish.... "Renata menyebikkan bibirnya. Lalu dia menyusul mengikuti laki-laki tadi yang sudah duduk di kursi sambil pandangannya melihat ke arah berkumpulnya pesta dari kejauhan.
"Hai.. " Ucap Renata menyapa laki-laki itu.
"Hai." Jawab laki-laki itu sambil mendongak melihat Renata.
"Duduk!" Dia menyuruh duduk di sampingnya.
"Terimakasih." Jawab Renata dengan senyuman yang sensual.
"Apa kabar? Sudah lama tidak datang ke klub ya?" Tanya laki-laki itu sambil mengubah cara duduknya. Dia menaikkan sebelah kakinya ke kaki yang satunya lagi lalu tangannya menggandeng bahu Renata.
__ADS_1
"Mmm.. " Jawab Renata mengiyakan dengan deheman.
"Kamu cantik malam ini." Laki-laki itu membisikkan pujian di telinga Renata membuat bulu kuduk Renata meremang geli.
"Minum?" Laki-laki itu menawarkan sebuah gelas berisi minuman.
"Ma kasih." Tolak Renata yang tak mau mabuk malam itu, karena dia harus pulang dalam keadaan waras. Kalau tidak, bisa ketahuan Andre jika dirinya habis pulang dari klub.
"Kangen tidak?" Tanya laki-laki itu kembali berbisik.
"Mmm.. " Dengan malu-malu Renata menjawab.
Laki-laki itu menarik pergelangan tangan Renata lalu membawanya ke lantai dua. Tak lupa dia memberitahu manajer klub bahwa ruangan itu akan disewanya.
Keduanya masuk ke ruangan itu dengan senyum yang tak bisa diartikan.
Keduanya duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Laki-laki itu menarik tubuh Renata agar duduk di pangkuannya. Mereka memulai aksinya dengan membuat suhu tubuhnya memanas.
Setelah dirasa pasokan oksigen menipis keduanya melepaskan pa****
"Kamu mau aku pesanan makanan dan minuman?" Tanyanya pada Renata.
"Boleh, non alkohol. Malam ini aku tak mau mabuk." Jawab Renata tak menolak.
Lalu keduanya melanjutkan kegiatan saling lepas kangen dengan saling bersentuhan dan meraba.
Tak lama kemudian sebuah ketukan terdengar.
Keduanya melepaskan aksinya agar tidak kentara oleh pelayan klub.
"Masuk!" Laki-laki itu menyuruh pelayan itu masuk.
Lalu muncullah dua orang pelayan dari balik pintu. Yang satu membawa nampan dan yang satu lagi menata pesanan di meja.
"Permisi." Salah seorang pelayan pamit. Suaranya begitu jelas terdengar karena suaranya agak terdengar kencang.
Renata mengerutkan dahi. Rasanya dia mengenal suara itu.
Sepertinya aku mengenal suara itu? Atau aku sedang berhalusinasi?
Renata bicara sendiri dalam hati.
__ADS_1
Pelayan itu keluar dari ruangan itu.
Renata mendadak melepaskan tangannya dari leher laki-laki itu dan turun dari pangkuannya.
"Kenapa?" Laki-laki itu menatap heran perubahan Renata.
"Kepalaku mendadak pusing." Ucap Renata sedikit berbohong.
"Minumalah! Mungkin kamu butuh minum agar pasokan darah ke otakmu bisa lancar." Ucap laki-laki itu memberi saran.
"Baik." Renata pun membuka botol mineral dan meneguk air itu beberapa tegukan. Tenggorokan Renata pun terasa segar setelah meminum air tadi.
Laki-laki itu menarik pinggang Renata dan kembali men**** nya. Keduanya kembali beraksi sampai suara telepon terdengar nyaring dan menghentikan aksi keduanya.
Laki-laki itu merogoh benda pipih dari saku celananya.
"Halo." Laki-laki itu segera menjawab panggilan setelah dia tahu siapa yang menelponnya.
"Baik." Laki-laki itu menjawab singkat lalu menutup panggilannya.
"Aku seperti tak bisa kencan malam ini. Ayahku menelpon." Laki-laki itu menginformasikan pada Renata bahwa dirinya harus segera meninggalkan tempat itu.
"Mmm. Kebetulan aku juga mau pulang." Renata merasa beruntung laki-laki teman kencannya itu mendahului dirinya untuk pamit pulang. Sehingga hatinya bisa merasa lega. Karena sejak mendengar suara tadi hatinya merasa gelisah.
"Baiklah. Apa kamu mau diantar pulang?" Tanya laki-laki itu.
"Tidak usah. Aku bawa mobil sendiri." Jawab Renata menolak ajakan laki-laki itu.
"Baiklah.. kamu mau bareng keluar?" Tanyanya lagi.
"Oke." Renata pun berdiri dan berjalan beriringan dengan laki-laki itu untuk meninggalkan kub malam.
Keduanya pun berpisah begitu sampai di area parkir. Masing-masing mengendarai mobilnya dan melakukan mobilnya ke arah tujuan yang berbeda.
Sepanjang perjalanan, Renata berharap bahwa Andre belum pulang ke rumah.
Tak lama kemudian mobilnya sampai di area basement apartment. Renata dengan langkah buru-buru ingin segera sampai di ruang apartemen Andre.
Renata bisa bernafas lega begitu dia sampai di dalam dan tak mendapati Andre.
Dia segera mandi dan membersihkan diri, lalu mengganti pakaian dengan pakaian tidur. Dia segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Malam ini beruntung, Andre tidak mengetahui kelakuan Renata yang sebenarnya. Keduanya bisa berdamai untuk sesaat. Meski masing-masing masih bertanya-tanya dengan suara yang tadi dikenalinya.