
Setelah beberapa waktu Arini sudah tertidur dengan dengkuran halus.
Berbeda dengan Andre, dia masih gelisah tak bisa langsung tidur memejamkan matanya.
ada apa denganku? Tadi aku mengantuk sekali. Sekarang malah hilang.
Keluh Andre sambil membolak-balikan badannya seperti ikan di atas wajan.
Andre lalu menoleh. Melihat Arini yang tertidur pulas di atas ranjangnya. Entah apa yang sedang dipikirkan Andre begitu melihat Arini di sana.
"Daripada aku tak bisa tidur, mending aku pindah saja ke sana. Apalagi aku besok harus bekerja. Bagaimana kalau tidurku terganggu dan besok aku malah pusing." Andre membawa bantal dan selimutnya melangkah mendekati ranjang.
Setelah menyimpan bantal di atas kasur Andre pun naik ke atas ranjang lalu menyelimuti dirinya dengan selimut. Suhu AC di dalam kamar yang sejuk kini terasa dingin karena malam terus beranjak.
Andre pun mencoba memejamkan matanya tanpa sadar dia tidur miring menghadap Arini. Wangi khas minyak wanginya tercium dengan jelas di hidung Andre. Wangi yang sama ketika dia tidur di ranjang Arini yang berada di apartemen nya. Itu seperti candu dan obat tidur bagi Andre. Tanpa menunggu lama, Andre pun tertidur dengan nyaman di sisi Arini. Padahal sebelumnya Andre jarang-jarang bisa tidur secepat itu jika bukan di kasur miliknya.
Malam pun bergeser, menjadi subuh. Arini yang sudah terbiasa bangun sebelum adzan subuh menggeliat.
"Eh.. apa ini?" Tangan kekar nan kuat itu sedang melingkar di pinggangnya. Dan kepala laki-laki itu tepat berada di belakang ceruk lehernya.
"Ya ampun... modus. Dia akhirnya nempel kaya perangko." Arini bergumam lirih tapi tak didengar Andre yang masih tidur terlelap.
Perlahan Arini mengangkat tangan besar itu agar lepas dari pinggangnya. Bukannya lepas dia malah semakin memeluk erat seperti tak mau kehilangan gulingnya.
"Mas.. Aku mau bangun." Ucap Arini tak nyaman dengan posisi seperti itu. Bisa-bisa dia terkena serangan pajar kalau dibiarkan.
"Ini belum subuh. Aku masih mau tidur sama kamu." Andre menjawab dengan jelas.
__ADS_1
"Tapi.. sebentar lagi subuh." Arini agak memaksa.
"Sebentar lagi. Aku masih mau meluk kamu. Kalau kamu gak mau, aku maksa nih!" Andre. menarik badan Arini untuk lebih dekat ke dadanya. Andre memeluk Arini begitu erat sampai Arini agak kesusahan bergerak. Entah apa yang dirasakan Andre saat ini, yang jelas dia merasa nyaman berada di sisinya. Meski dia bilang tidak mencintai, tapi malah tubuhnya merasa candu dan nyaman. Arini membuka mata dengan jantung bertebaran tak karuan.
"Rin.. aku.. boleh tidak?" Andre berbisik di telinga Arini. Ada perasaan yang menuntut lebih ketika Andre berdekatan seperti itu. Apalagi mereka sudah cukup umur untuk melakukannya.
"Boleh apa?" Tanya Arini dengan perasaan tak menentu. Jangan-jangan suaminya menuntut haknya sekarang.
Menafkahi batin kamu" Andre malu jika harus meminta jatah pada Arini. Padahal dia istrinya sendiri. Dia berhak atas segala yang ada pada Arini. Dan dengan tahu malunya Andre mengatakan hal itu padahal jelas-jelas dia tadi malam mengatakan belum bisa menerima Arini.
Deg
Bener kan kata gue? Namanya laki-laki, gak bisa dipercaya. Katanya gak cinta.. katanya belum bisa menerima. Giliran minta jatah, lupa segalanya. Apa yang harus gue lakuin sekarang? Menolak atau menerima?
Arini bermonolog.
"Boleh. Dengan syarat harus jadi suami seumur hidup. Mas kan mau berpisah sebentar lagi. Jadi.. aku juga bingung mau ngasihnya gimana." Tolak Arini. Dia harus tegas dan jelas dalam pernikahannya ini. Dia tidak mau dengan alasan nafkah, jadi pelampiasan hasrat Andre saja.Dia harus sadar bahwa pernikahan ini bukan main-main. Sedangkan Andre bisa seenaknya berselingkuh dan tidak mempunyai komitmen jelas dalam. pernikahan.
Andre merenggangkan pelukannya. Lalu membuka mata.
"Mmm... maafin aku ya Rin." Andre ingin memperbaiki hubungan dengan Arini tapi tak semudah yang dia bayangkan. Dia tahu, Arini mungkin belum bisa memaafkan perbuatannya. Apalagi setelah mengatakan dia akan menceraikan Arini dalam satu bulan. Berarti secara tidak langsung dia telah mentalak istrinya dalam kurun waktu satu bulan. Dan dalam beberapa hari lagi usia pernikahannya akan habis. Bukankah itu berarti dia harus berpisah? Kalaupun ingin melanjutkan, dia harus mengulang akad kembali untuk melanjutkan pernikahannya. Andre terdiam memikirkan perkataan dan perbuatannya yang membuat dirinya sendiri jatuh.
Andre bergerak lalu mengubah tidurnya jadi terlentang. Dia terlihat bingung.
Arini yang sudah terlepas dari pelukan Andre lantas bangkit hendak pergi ke kamar mandi.
"Saya pergi wudlu dulu mas. Mas mau shalat bareng?" Arini menoleh melihat Andre yang sedang melamun memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Mmm.. kamu duluan. Nanti aku pergi menyusul." Ucap Andre yang agak malu, karena sudah meninggalkan kewajibannya itu sejak lama.
Arini ke kamar mandi langsung membersihkan tubuhnya. Dia terbiasa mandi pagi sebelum subuh.
Tak lama kemudian adzan subuh datang. Arini segera menggelar sajadah sesudah tadi berganti pakaian. Tak lupa dia menggelar sajadah buat Andre sebagai imam di depannya. Meski waktu pernikahannya tinggal beberapa hari dia tetap harus melakukan yang terbaik, tapi tidak dengan melakukan hubungan badan.
Arini melakukan shalat qobla subuh sambil menunggu Andre di kamar mandi. Tak lupa dia telah menyiapkan baju Andre di atas kasur.
"Hayuu.. " Arini mengajak Andre yang kini sudah rapih menggunakan koko juga sarung. Dia nampak tampan dan bersih dengan pakaiannya itu.
"Maaf ya jika aku nanti banyak salah." Andre berbasi-basi pada Arini takutnya ketika nanti jadi imam dia banyak melakukan kesalahan. Maklum. dia sudah lama tidak melakukannya.
"Iya. Tenang aja." Arini memberikan dukungan.
Shalat pun dimulai. Rasanya dua rakaat yang biasa Arini lakukan, kini sekarang terasa lama. Selain Andre banyak menjeda bacaan shalat karena ada beberapa yang lupa, Andre pun begitu nervous.
Akhirnya shalat dua rakaat subuh pun selesai. Arini mengambil punggung tangan Andre mencium dengan takzim. Lalu di balas Andre dengan mencium kening Arini. Ada rasa damai yang dirasakan keduanya. Andaikan Andre dan Arini tidak terlibat perasaan yang rumit, mungkin keadaan ini akan menjadi sebuah awal yang baik.
Secara nurani keduanya merasakan kedamaian. Namun rasa itu menjadi berkurang karena di dalam hati keduanya ada penghalang.
Andre menatap wajah Arini dengan sendu. Arini terlihat cantik juga menyejukkan. Hanya satu yang menghalangi dirinya tidak mengakui itu. Dia terlalu egois.
Arini melipat mukena lalu menyimpan di tempat asalnya.
"Mas Andre mau berangkat kerja jam berapa?" Tanya Arini melihat Andre.
"Mm.. biasa. jam 7.Tapi hari ini aku mau ke rumah sakit menjenguk sepupuku dulu sambil mengantar kamu ke rumah sakit." Jawab Andre duduk di tepian kasur.
__ADS_1