Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Kejelasan


__ADS_3

Ting tong


Ting tong


Suara bel itu jelas terdengar sampai dalam. Tapi dua manusia yang sedang mereguk madu tapi menggubris suara itu. Mereka tengah asik dengan lahan yang sedang dicangkul sehingga angan mereka naik ke atas langit.


"Apa aku masuk saja ya?" Arini tengah berpikir untuk membuka pintu apartemen tanpa memijit lagi belt. Bukankah dia tahu pasword nya dan dia pun sudah menganggap itu adalah rumahnya juga.


Arini sengaja menyusul Andre ke apartemen karena hampir satu minggu ini dia tidak ada menghubungi apalagi datang ke rumahnya. Mungkin saja Andre sedang sakit, itu yang dipikirkan Arini saat ini dengan prasangka nya.


Tit.. tit. tit..


Arini menekan angka pasword pada pintu apartemen yang masih di anggapnya sebagai suami.


Klek


Suara kunci pun terbuka. Arini segera mendorong pintu lalu masuk ke dalam apartemen tanpa lupa mengucapkan salam.


"Arini.. " Gumam Andre dalam hati. Dia mendengar suara salam dengan jelas karena pintu kamar nya terbuka.


Sepasang sejoli memang jarang menutup pintu kamar karena merasa aman bahwa hanya ada mereka berdua di apartemen nya tanpa menyangka akan ada orang yang akan masuk ke apartemen nya.


Untungnya pergulatan panas sudah mencapai puncak, sehingga Andre dan Renata sudah kembali normal.


Andre buru-buru mencari pakaian lalu dengan tergesa-gesa memakainya.


"Apa ada orang masuk ke dalam apartemen kita?" Tanya Renata menatap heran pada Andre.


"Sebaiknya kamu cepat berpakaian!" Andre menyuruh Renata berpakaian yang pantas, karena dia tak ingin Arini melihat keduanya kembali dalam kondisi yang sama seperti waktu itu. Andre segera melangkah dan keluar dari kamar dan menutup pintu agar Renata bisa memakai pakaian nya dengan leluasa.


Arini yang baru masuk dari kejauhan melihat bahwa di kamar Andre ada seseorang. Meski dia tidak jelas melihat nya tapi dia menduga pastinya dia adalah kekasih sang suami.

__ADS_1


Oksigen di ruangan itu seolah menipis membuat dada Arini terasa sesak. Dia sedang mengatur emosinya agar tak terlampau sakit melihat kenyataan.


Beberapa kali menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan perlahan. "Aku baik-baik saja! Jangan lemah wahai hati!" Arini memejamkan mata sambil memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Arini.. " Panggil Andre yang sudah berada dekat dengan Arini yang masih mematung tak jauh dari pintu.


Arini membuka mata. Memaksakan dirinya tersenyum. "Apa aku tidak menganggu?" Tanya Arini ingin terlihat senormal mungkin.


"Mmm... tidak. Duduklah!" Andre masih merasa bingung. Bagaimana dia harus menghadapi kenyataan menghadapi dua istrinya sekarang.


"Mmm." Arini mengikuti Andre duduk di sofa seperti orang asing yang sedang bertamu.


Begitupun Andre. Dengan rambut yang masih acak-acakan bekas pergulatan dan baju-bajunya yang terlihat kusut menandakan dia sedang terburu-buru ketika memakainya. Bahkan beberapa kancing kemejanya agak berantakan tak beraturan dipasang sesuai pasangannya.


Arini hanya tertunduk karena merasa malu sendiri dengan penampilan Andre yang seperti itu. Ini kali ketiga dia harus memergoki Andre dalam keadaan sesudah bergulat.


"Kamu.. Mmm... baik?" Andre gugup seolah dirinya sedang ketahuan berdosa. Dia bingung apa yang harus ditanyakan pada istri pertamanya ini. Dia pun seperti orang asing ketika kembali bertemu dengan Arini.


Krekkk


"Oh.. ada tamu tak diundang rupanya." Renata tersenyum sinis melihat Arini yang duduk di sofa. Lalu dia berjalan dan duduk di samping Andre dengan bergelayut manja.


Andre yang merasa malu melepaskan tangan Renata darinya agar tidak terlalu kentara dilihat Arini. Dalam lubuk hatinya dia masih merasa ada rasa kemanusiaan, yang tak mau menyakiti perasaan Arini yang masih berstatus istrinya itu.


"Maaf kalau aku menganggu kalian. Aku tidak bermaksud merusak acara kalian saat ini. Cuman aku merasa perlu harus datang kesini untuk sebuah kepastian. Untung nya kalian sedang ada, jadi aku bisa bicara pada kalian berdua." Ucap Arini yang tak mau lagi nasibnya dipermainkan oleh Andre.


"Kebetulan aku juga ingin memberitahu kamu. Agar kamu tidak lagi berharap lagi pada suamiku." Renata tak mau kalah dengan Arini. Ini kesempatannya untuk mendepak Arini dengan mudah dari kehidupan Andre.


Andre menoleh pada Renata dengan tatapan tajam. Meski dia mencintai Renata tapi dia tidak suka dengan nada Renata berbicara di hadapan Arini.


Renata yang sedang ditatap suaminya seperti itu langsung melayangkan protes.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu tidak suka memberitahu dia tentang pernikahan kita?" Tanya Renata pada Andre.


Deg


Hati Arini terasa sakit mendengar kenyataan yang di luar dugaannya. Dia tidak menyangka bahwa Andre diam-diam telah menikah lagi dengan Renata.


Andre mengusap kasar wajahnya yang kini berubah gelisah.


"Apa itu benar?" Tanya Arini melihat ke arah Andre. Dia ingin mendengar langsung dari mulut Andre tentang berita pernikahannya itu.


"Memaafkan aku.. Arini." Andre hanya bisa mengucapkan maaf ketika semuanya sudah terbongkar seperti ini.


"Baiklah. Aku bersyukur kalian menikah. Daripada kalian terus-menerus dalam lingkaran dosa itu. Dan sekarang aku meminta kamu untuk mengurusi perceraian kita Andre." Arini tak lagi memakai kata mas di depan nama Andre. Menurutnya dia tak lagi ada kewajiban untuk menghormati laki-laki di hadapannya setelah perlakuannya yang begitu menyakitinya.


Andre hanya diam. Entah dia bingung atau masih belum rela melepaskan Arini begitu saja.


"Baik. Sebaiknya kamu segera menyelesaikan perceraian dengan dia mas. Jangan sampai bayi kita tidak jelas statusnya nanti." Renata seolah ingin memperdalam Arini untuk sakit hati.


"Baik. Kalau begitu aku akan mengemasi barang-barang ku dulu yang masih tertinggal. Aku tak ingin meninggalkan jejak di sini agar kalian bisa nyaman kedepannya." Arini berdiri dan meninggalkan keduanya melangkah ke kamar yang dahulu pernah di tempatinya.


Arini masuk ke kamar itu dan mencari kopor yang masih tersimpan di dalam lemari. Setelah mengeluarkan kopor. Arini mengambil baju-baju miliknya dan mengemasi barang itu ke dalam kopor. Saat ini dia tidak mau menangis ataupun bersedih. Dia tak ingin memperlihatkan kesedihannya di hadapan mereka.


Satu persatu barang Arini sudah masuk dalam kopor. Tinggal ada barang yang masih ditatapnya ragu.


Brakk


Pintu kamar Arini dibuka paksa. Renata masuk. menerobos kamar Arini diikuti langkah Andre.


"Aku ingin memastikan bahwa kamu akan mengambil barang kamu." Renata berkacak pinggang dengan angkuhnya sambil melihat Arini yang sedang memegang sesuatu.


"Apa ini?" Renata langsung merebut satu kotak perhiasan yang sedang dipegang Arini.

__ADS_1


"Lepaskan Ta!" Andre membentak Renata yang mengambil paksa barang Arini.


"Hah? Apa ini milik kamu? Atau pemberian dia?" Renata tersenyum sinis setelah melihat isi kotak perhiasan yang lumayan mahal yang baru saja diambilnya dari tangan Arini.


__ADS_2