Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Pe de ka te


__ADS_3

Arini berkeliling visit ke ruang pasien bersama dokter Kris. Banyak diantara para petugas media saling berbisik-bisik begitu keduanya melewati mereka ataupun berpapasan. Entah sedang bergosip apa diantara mereka, yang jelas Arini tak memperdulikannya seperti biasa.


Berbeda dengan dokter Kris. Dia berjalan dengan penuh bangga memperlihatkan kedekatannya dengan Arini. Semakin banyak orang bergosip tentang dirinya, semakin semangat dia mendekati Arini. Dua manusia yang sedang tranding topic di rumah sakit. Antara anak pembesar rumah sakit dan dokter paling top diantara semua dokter. Sebenarnya sih cocok juga mereka jika bersama. Karena keduanya mempunyai nama sama-sama terkenal.


"Aku sudah selesai. Sekarang aku akan pulang." Ucap Arini memberikan laporan hasil kunjungannya pada dokter Kris. Dokter Kris hanya melongo menerima lembaran-lembaran yang baru disodorkan Arini.


"Kamu beneran pulang ke rumah? Apa boleh aku mengantarkan mu?" Dokter Kris yang kebetulan hari itu tidak ada jadwal operasi ingin mengantarkan Arini sambil ingin melanjutkan berbincang-bincang lebih dekat lagi dengan Arini. Ini kesempatan yang baik untuk dokter agar bisa mengenal lebih dekat lagi dengan Arini. Sekarang mungkin dokter Kris lebih leluasa mendekati Arini, meski dia belum tahu kejelasan status nya Arini sekarang. Apakah dia sudah menjadi janda? Atau bagaimana? Itu yang ingin dia tanyakan saat ini. Dokter Kris tak bisa lepas dari keinginan tahunnya.


"Gak usah. Aku bawa mobil sendiri." Arini menolak tawaran dokter Kris.


"Atau kita jalan keluar bagaimana?" Ajak dokter Kris tak putus harap mencari celah pendekatan. Kalau tidak sekarang kapan lagi bisa mendekati. Arini. Itu pikirnya.


"Boleh. Mau kemana kita?" Dokter Arini tidak menolak. Mulai sekarang dia akan membuka diri pada siapapun. Cocok atau tidak, bagaimana nanti saja. Ada rasa sesal yang dokter Arini rasakan. Kenapa tidak sejak dulu Arini membuka hubungan dengan banyak orang? Akhirnya dia hanya terpaku dengan seorang laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuanya.


"Kafe xxx.. bagaimana?" Tanya dokter Kris meminta persetujuan.


"Baik." Arini menyetujuinya. Dia segera meninggalkan dokter Kris yang masih berdiri mematung.


Dokter Kris hanya menggelengkan kepala, melihat datarnya sikap dokter Arini. Ya.. ini tantangan bagi dirinya untuk menaklukkan hati perempuan itu. Kalaulah dokter Kris mau, dia bisa mendapatkan perempuan manapun tanpa harus mengemis seperti sekarang. Kalau dari wajah dia juga laki-laki tampan, dilihat dari financial jangan diragukan. Ahli waris pemilik rumah sakit mewah plus pabrik obat itu takkan habis tujuh turunan.


Dokter Arini membuka jas putih yang menjadi kebesarannya lalu menggantung di tiang besi di samping kursi kerjanya. Dia duduk sejenak di kursi sambil memejamkan mata.


Mari memulai hidup baru.


Dokter Arini menyemangati dirinya sendiri. Beruntung saat ini dokter Arini masih perawan meski seorang janda. Dan dia pun merasa beruntung pernikahannya di gelar sederhana jadi tidak banyak orang yang tahu kecuali tetangga dekat dan saudara-saudara dekat saja.


"Dokter mau pulang?" Tanya asisten dokter Arini yang melihat jam yang menempel di dinding. Dia sedang menunggu atasannya keluar terlebih dahulu sebelum dirinya meninggalkan ruangan dan menguncinya.

__ADS_1


"Ya." Arini pun bangkit dari kursi dan membawa tas tangan yang pernah dibelinya dari uang Andre. Tas itu lumayan mahal. Semua yang pernah dibelinya untung nya bisa dibawa. Kalau tidak mungkin jadi milik Sherly.


Kedua mobil. pun terparkir di depan sebuah kafe. Kafe ini jadi pilihan dokter Kris, karena suasananya adem dengan pepohonan. dan tidak terlalu ramai dengan kebisingan. Cukup adem buat hiburan apalagi yang membutuhkan healing.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya dokter Kris sambil menatap perempuan yang sudah masuk dalam hatinya.


"Aku green tea dan banana cheese." Jawab dokter Arini memilih menu yang cocok dengan lidahnya.


Seorang pelayan menuliskan pesanan keduanya lalu pergi untuk menyiapkan pesanan pelanggan.


"Rin.. aku boleh tanya gak?"


"Tanya aja!" Dokter Arini menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menikmati sepoi-sepoi angin yang berhembus.


"Sebenarnya kamu sudah bercerai dengan suaminya kamu?" Tanya dokter Kris to the point.


"Ya." Jawab dokter Arini singkat.


"Kalau iya kenapa? Ragu? Apa perlu bukti?" Jawab Arini dengan santai.


"Ya enggak lah.. aku cuman tanya. Terus kenapa kok bisa?" Tanya dokter Kris yang memang ingin tahu banyak mendadak kepo.


"Ya bisa lah. Namanya juga takdir."


"Maksudnya aku tuh pasti ada sebab, kenapa kalian berpisah?" Tanya dokter Kris kembali mengorek ingin tahu.


"Ya kan kamu tahu sendiri dia sudah punya istri lagi. Ngapain juga aku harus bertahan dalam satu perahu. Lagian memang dari awal kita dijodohkan. Dan dia memang tidak mencintaiku." Jawab Arini apa adanya.

__ADS_1


"Oh begitu ya?" Dokter Kris terdiam. Jawaban dokter Arini singkat dan padat tanpa bertele-tele sudah menjawab semua kepanasan dokter Kris.


"Kamu.. berniat menikah lagi?" Tanya dokter Kris penasaran.


"Ya niatlah. Masa tidak? Rugi dong aku hidup harus menyendiri." Arini tak keberatan menjawab pertanyaan dokter Kris.


yesss.. aku bisa pe. de ka te dong


Teriak dokter Kris dalam hati. Dia senang dokter Arini tidak trauma atas pernikahan.


Padahal jauh di lubuk hati dokter Arini dia menyimpan rasa sakit, juga trauma juga. Dia memang berniat menikah kembali tapi tidak dalam waktu dekat ini. Dia ingin mencintai dan cintai selayaknya manusia normal. Jangan sampai dia bertepuk tangan sebelah.


"Kamu.. tidak keberatan kalau aku mendekati kamu?" Tanya dokter Kris lebih hati-hati.


"Tidak. Selama tahu batasana dan tak banyk menuntut." Jawab Arini melihat wajah dokter Kris. Tapi anehnya hati Arini tidak merasa bergetar sedikit pun ketika dekat dengan dokter Kris. Entah karena dokter Arini belum pernah pengalaman berpacaran ataupun dekat dengan laki-laki.


"Ya.. aku ingin mengenal kamu lebih jauh Rin. Aku.. " Dokter Kris menggantung bicaranya. Belum saatnya dia mengatakan suka.


"Makanannya sudah datang." Jawab Arini begitu tergiur dengan tampilan makanan yang sedang dihidangkan. Tak terlihat respon Arini yang berlebihan mengenai hubungannya tentang seorang lelaki. Perempuan yang lain biasanya kalau ditanya seperti itu akan menunjukkan respon. Ini malah terlihat santai dan datar.


"Mmm." Dokter Kris terdiam.


Perasaan cuman aku saja yang ke ge eran


Dokter Kris bergumam melihat sikap Arini datar-datar saja. Apa memang itu pembawaan Arini? Yang jelas dokter Kris ingin mengenal lebih jauh tentang dokter Arini.


Dan sementara itu di kafe yang sama, Edward sedang meeting dengan koleganya ditemani Andre sebagai mandor lapangan. Mereka telah tiba lebih dulu ditempat itu sebelum dokter Arini tiba.

__ADS_1


Mereka telah menyelesaikan pembicaraan dengan kolega dan ditutup dengan acara makan-makan.


Andre meminta izin untuk pergi ke toilet. Dia berjalan keluar dari ruangan yang sudah di booking dan melangkah menuju toilet yang ada di kafe itu.


__ADS_2