Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Menjadi orang lain


__ADS_3

Edward sedang menanti adegan deg-deg plus nya. Menatap silih berganti pada dua orang yang sedang berdiri saling berhadapan. Sang laki-laki sudah mengenalkan dirinya, sedangkan sang istri belum memberikan respon apapun.


"Arini." Arini berkata pelan tanpa menyambut uluran tangan dari Andre. Sakit, ya sakit. Bahkan untuk menjabat tangannya saja hatinya terluka. Arini langsung membuang muka. Andre yang mendapatkan respon seperti itu hanya bisa menarik tangannya kembali dan menahan malu karena seperti mendapatkan penolakan.


Sedangkan ada yang sedang bersorak-sorai di sana tepatnya orang yang dari tadi memperhatikan reaksi dua orang itu.


Edward merasa senang, ketika Arini bisa membalas dengan dingin perlakuan Andre. Meski dia tahu ada raut wajah sedih dan kecewa di wajah Arini.


Wajah itu menyiratkan bahwa betapa sedihnya dia harus menelan pahit bahwa suaminya tak ingin mengakuinya sebagai seseorang yang dikenalnya, apalagi diperkenalkan sebagai seorang istri. Arini tak bisa protes ataupun memberontak. Toh sebentar lagi memang dia harus mengakhiri pernikahannya dengan Andre. Percuma dia harus mempertahankan ikatan pernikahan itu, kalau suaminya sendiri tidak menginginkannya.


Nyonya Karina segera mengalihkan perhatian, agar kelakuan itu tidak terlalu lama jadi tontonan.


"Ayo sayang. Dari kemarin Edward menunggumu. Dia pasti sudah kangen ingin berjumpa dengan dokter Arini. Dokter cintanya Edward." Nyonya Karina paham betul selera anaknya. Dia tahu putra kesayangannya memang playboy. Tapi jika menyukai seseorang dia akan bersungguh-sungguh.


Arini menghampiri Edward yang sudah memasang senyum terbaiknya. Sedang Andre yang tadinya mau meninggalkan ruangan malah diam terpaku penasaran pada interaksi mereka.


Edward yang melihat sepupunya menatap inten Arini, buru-buru menegurnya.


"Kamu mau laporan kerja sama mamih? Atau mau pergi dari sini?" Tanya Edward menyadarkan Andre yang sedang menatap Arini tajam. Ada rasa tidak rela jika Arini akan jatuh ke pangkuan Edward. Dia selaku suami, tak rela jika istrinya masuk ke lubang perangkapnya Edward yang nota bene playboy itu.


"Maaf tante, aku menunggu tante. Ada yang harus kulaporkan mengenai pekerjaan di proyek." Ucap Andre memang sedari awal mau bertemu dengan nyonya Karina selaku pemilik proyek.


"Baiklah. Kita bicara di sofa." Ibunya Andre tidak mencurigai apapun tentang hubungan Andre dan Arini.


"Sayang.. mamih tinggal dulu ya! Kamu tenang aja! Kamu hanya perlu menemani Edward saja. Dia katanya pengen ditemenin kamu." Nyonya Karina mengelus bahu Arini lembut. Ibunya Edward memang sangat memanjakan Edward mengingat anaknya yang sering sakit-sakitan juga lemah. Dia tak mau membuat Edward sakit lagi. Dia ingin membahagiakan anaknya yang tidak tahu sampai kapan umurnya panjang. Mengingat setiap saat Edward selalu dihantui penyakitnya.

__ADS_1


Tadi nyonya Karina sudah bicara dengan pemilik rumah sakit agar anaknya dilayani dokter Arini sebagai dokter pribadi. Untuk memuaskan pelanggan VVIp terpaksa dokter Damar menyuruh Arini untuk memenuhi kemauan pelanggan, menjadi dokter pribadi tuan Edward.


Arini menerima hal itu, dikarenakan suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ya Andre, yang membuat hatinya sakit, bahkan terasa perih.


Sesekali mata Andre melihat ke arah ranjang Edward. Dia bukan melihat sepupunya itu tapi melihat Arini yang sejak tadi duduk di sana. Terkadang mereka tertawa dan mengobrol asik, tapi entah apa yang sedang dibicarakannya. Tapi yang jelas hatinya tidak tenang melihat pemandangan seperti itu di depannya.


"Maaf tante. Untuk hari ini aku tidak akan pergi ke proyek dulu. Ada pekerjaan yang harus kulakukan." Hati Andre tiba-tiba gelisah. Dia terpaksa meminta izin pada bibinya untuk tidak masuk kerja hari itu. Suasana hatinya kacau tidak karuan. Dia khawatir tidak akan fokus bekerja jika pikirannya seperti itu. Apalagi di proyek kalau tidak hati-hati dia akan terkena celaka.


"Baik. Tapi hari ini kita akan melakukan meeting dengan divisi desain. Untuk memeriksa hasil kerja di lapangan seperti apa. Tentunya kamu harus ikut dong!" Ibunya Edward tak pantas mengabulkan begitu saja permintaan Andre. Meski dia keponakannya sendiri, dia harus profesional dalam bekerja.


"Baik. Tapi setelah itu aku mohon izin dulu bi. Kepalaku agak sedikit sakit." Pinta Andre dengan wajah memelas.


"Kamu sakit? Biar diperiksa dokter Arini saja ya! Dia dokter spesialis loh di sini." Nyonya Karina begitu antusias mempromosikan Arini. Dia terlihat bangga dengan profesi Arini saat ini.


"Dokter Arini.. " Panggil nyonya Karina pada Arini yang sedang mengobrol dengan Edward.


Arini menoleh ke arah nyonya Karina.


"Iya ada apa nyonya?" Tanya Arini datar.


"Maaf ini ponakan saya katanya sakit. Bisa tolong periksa dia?" Nyonya Karina meminta Arini untuk memeriksa Andre yang mengeluhkan sakit kepala. Padahal tadi dia terlihat baik-baik saja. Tapi semenjak melihat pemandangan keakraban antara Edward dan Arini dadanya seperti terasa sakit lalu kepalanya mulai berdenyut. Selain pikiran dan hatinya tidak karu-karuan sekarang malah pisiknya ada yang terasa.


"Mmm.. baik." Arini berdiri dari kursi.


"Maaf tuan Edward. Nanti saya akan kembali. Saya harus memeriksa saudara anda dulu." Arini meminta izin pada Edward selaku pelanggan ViP yang telah menyewanya untuk melakukan pemeriksaan pada Andre.

__ADS_1


"Iya silahkan.' Edward mempersilahkan pada Arini untuk melakukan tugasnya sebagai dokter.


"Maaf Pak Andre kita pergi ke ruang kerja saya. Kebetulan saya tidak membawa alat-alat." Ajak Arini mengajak Andre untuk melakukan pemeriksaan di ruang kerjanya secara profesional.


"Baik." Jawab Andre patuh.


"Maaf nyonya, saya tinggal dulu." Arini meminta izin untuk meninggalkan ruangan itu.


" Ya silahkan." Nyonya Karina mengizinkan Arini begitu saja.


Arini keluar dari ruangan itu Andre mengikuti langkah Arini di belakangnya. Keduanya hanya terdiam sampai langkahnya terhenti di satu ruangan.


"Masuk!" Ucap Arini dengan dingin.


Andre masuk ke ruangan kerja Arini. Matanya mengedar melihat area ruang kerja Arini yang tidak terlalu besar. Hanya ada meja dan satu set komputer di atasnya dan blangkar yang biasa dipakai pemeriksaan pasien.


"Naiklah ke sana!" Ucap Arini pada Andre yang sedang duduk di depan meja kerjanya.


"Apa kamu selalu judes sama semua pasien kamu Rin? Aku lihat tadi kamu begitu ramah melayani Andre. Tapi kenapa sama aku kok ketus begitu?" Andre protes pada sikap Arini yang mendadak. judes.


"Tergantung pasiennya. Kalau pasiennya baik mungkin aku bisa beramah tamah. Tapi kalau pasiennya gak baik, aku mungkin bisa membunuhnya dengan pisau bedahku." Ancam Arini sambil membawa stetoskop dari laci.


"Termasuk aku?" Tanya Andre yang sudah berbaring terlentang di atas blangkar.


"Tidak. Aku tak mau mengotori tanganku. Aku cukup memberi vonis bahwa kamu sakit parah, kamu bisa mati sendiri bukan?" Ucapan dokter yang satu ini tidak main-main.

__ADS_1


__ADS_2