Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Pulang ke rumah


__ADS_3

Sampai di halaman rumah sakit Arini hanya berdiri mematung. Dia bingung apakah dia akan pergi ke apartemen atau ke rumah ibunya. Dia sedang memikirkan resiko yang akan ditanggungnya nanti. Tapi akhirnya dia menjatuhkan pilihan untuk pulang ke rumah ibunya. Dia akan merasa lebih nyaman pulang ke pangkuan ibunya ketimbang pulang ke rumah laki-laki asing yang baru dikenalinya dengan sebutan suami.


"Mi.. sepertinya aku kan pulang. Mudah-mudahan umi tidak kecewa." Lirih Arini yang memutuskan dia akan pulang ke rumah ibunya. Ketika ibunya menelpon baru-baru ini, dia menyuruh pulang pada Arini. Ditambah ibunya pun sudah tahu bahwa dirinya sudah keluar dari kerja, jadi beban mentalnya mungkin sedikit berkurang yang dirasakan Arini. Ya dalam waktu dekat ini, Arini membutuhkan belaian kasih sayang ibunya untuk menguatkan mentalnya menghadapi ujian pernikahannya.


Arini masuk ke dalam taxi yang sudah ada di sekitar parkiran rumah sakit. Banyak taxi yang sengaja parkir di sana untuk menarik penumpang. Ada juga yang hanya menurunkannya. Jadi itu memudahkan para penumpang untuk mengendarai taxi tanpa harus memesan lewat aplikasi.


Arini pun mengarahkan sang sopir taxi ke alamat rumah ibunya, umi Syarifah. Sambil duduk di kursi penumpang pikiran Arini mengedar ke mana-mana, memikirkan resiko yang akan dihadapi ke depannya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ibunya mengetahui kondisi pernikahannya. Dia tak bisa lari dari masalah.


Arini menatap ke luar jendela mobil tanpa tahu apa yang sedang dilihatnya. Dia hanya berbicara dengan pikiran nya sendiri tanpa melihat jalanan yang sedang dilalui nya.


"Maaf nona sudah sampai." Sang sopir berhenti di depan rumah ibunya. Tak terasa taxi sudah sampai di alamat rumahnya. Entah karena asik melamun, sehingga perasaan naik taxi terasa begitu cepat.


"Oh ya.. " Arini buru-buru mengambil dompetnya dan mengambil uang untuk diserahkan pada sopir taxi.


"Terima kasih pak. Kembaliannya untuk bapak saja!" Ucap Arini memberikan tips untuk sopir taxi.


"Terima kasih nona. Semoga rejekinya bertambah banyak." Sang sopir senang ketika mendapatkan uang lebih sebagai tips. Tak lupa dia menambahkan doa untuk Arini setelah menerima kelebihan uang ongkos itu sebagai tipsnya.


"Aamiin." Jawab Arini sambil turun dari taxi.


Taxi pun berlalu dari hadapannya bergabung ke jalanan yang lebih besar.

__ADS_1


Rumah ibunya Arini terletak di sebuah komplek yang lumayan agak besar. Komplek ini dihuni oleh orang-orang yang sama seperti orang tuanya. Meski di lingkungan komplek mereka sesama tetangga begitu akrab. Karena kebanyakan penghuni komplek adalah pensiunan pekerja. Ya hanya sebagian kecil saja yang penghuninya adalah anak muda atau orang yang masih kantoran. Jadi komplek ini lebih kental rasa kekeluargaannya di bandingkan dengan komplek baru yang dihuni anak muda atau para pekerja kantoran.


Sepasang netra Arini melihat mobil yang terparkir di depan rumahnya. Dia melihat mobil mewah mercedes-benz keluaran terbaru milik mertuanya yang sedang terparkir di halaman rumahnya.


"Apakah mama dan papa sedang ada disini?" Gumam Arini tak langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia hanya berdiri sambil mengamati mobil itu. Ternyata mobil itu tanpa sopir kemungkinan sang pemilik membawa mobilnya sendiri.


Dada Arini terasa agak berat. Mungkin jantungnya berdegub agak kencang karena gugup. Hatinya belum siap jika mereka bertanya-tanya tentang kepergiannya juga kondisi pernikahannya. Apa yang harus dijawabnya nanti jika mereka sampai bertanya sampai sana? Arini sedang berperang dengan pikirannya. Sekarang dia sedang menyiapkan beberapa jawaban untuk beberapa pertanyaan yang mungkin akan ada ketika dirinya bertemu dengan orang yang ada di dalamnya. Perasaan Arini kini lebih tegang daripada menghadapi ujian. Seperti yang mau ujian akhir saja.


Arini memutar tumit hendak meninggalkan rumahnya begitu dirinya ragu. Tapi tak disangka seseorang malah keburu memanggil namanya.


"Neng Arini... " Salah satu Art memanggil Arini ketika dia hendak mengambil sesuatu di halaman rumahnya. Dia melihat Arini sejak keluar dari pintu rumahnya lalu menghampirinya. Dia tidak curiga Arini akan meninggalkan rumahnya. Disangkanya Arini baru datang.


"Eh.. bi." Arini gugup menyapa salah satu Art nya yang sudah lama menemani keluarga nya sejak ayah ibunya menikah dulu. Bahkan sebelum dia lahir, Art nya ini sudah ada di rumah itu. Makanya ibunya sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.


"Mmm.. " Jawab Arini singkat.


"Wah.. kebetulan mertua neng Arini juga baru datang. Kaya yang janjian." Dia tersenyum menyambut anak majikannya seperti biasa, ramah dan baik.


"Oh ya? Mama sama papa?" Tanya Arini meyakinkan siapa saja yang datang?"


"Mama mertua saja. Mama mertua neng sangat perhatian. Tiap dua hari sekali dia selalu datang kesini. menjenguk umi." Terang artnya lancar melaporkan.

__ADS_1


"Hayuu.. masuk neng Arini. Kok jadi sungkan begini?" Protes artnya yang agak aneh melihat perubahan Arini.


"He he iya bi." Arini terpaksa masuk karena sudah ketahuan basah oleh Art nya.


"Ayo.. pasti umi sama mama neng kaget. Soalnya mereka gak bicara neng Arini akan datang kesini." Terang Art nya bercerita sambil memeluk bahu Arini menuntun masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum. Umi..nih siapa yang datang?" Sang Art bicara agak keras memberi kejutan pada kedua wanita yang sedang asik bicara.


"Ya Allah.. nak.. " Umi Syarifah langsung berdiri begitu melihat anaknya datang. Dan mertuanya langsung memutar bola matanya melihat ke asal suara.


"Arini.. sayang.. " Sang mertua tak kalah terkejut melihat sang menantu kesayangannya ada di depannya. Setelah menikah mereka berdua memang belum pernah bertemu lagi dengan Arini. Rasanya seperti sudah lama mereka berpisah.


"Assalamu'alaikum, mi.. ma.. apa kabar?" Arini mencium takzim punggung umi Syarifah lalu memeluknya. Lalu beralih melangkah mendekati mertuanya mencium tangannya lalu memeluk erat sang mertua.


"Ayoo duduk sayang! Wah.. mama senang sekali bisa ketemu sama kamu. Rasanya seperti sudah lama berpisah. Padahal baru.. " Sang mertua mengerutkan dahinya mengingat lamanya tidak bertemu.


"Baru dia minggu lebih jeng." Sang besan menimpali.


"Iya ya.. tuh.. sampai mama gak inget begini sayang." Mama Andre kembali memeluk Arini dengan sayang. Sejak dulu memang mamanya Andre ingin sekali punya anak perempuan. Tapi setelah kelahiran Andre, dia tidak dipercaya untuk hamil lagi. Jadilah Andre anak satu-satunya yang ada di keluarganya.


"Mama.. kemarin-kemarin sempet datang ke rumah sakit lho!" Tiba-tiba sang mertua melepaskan pelukannya lalu menatap ke arah Arini.

__ADS_1


Deg


Jantung Arini seolah berhenti sejenak.


__ADS_2